
Senja sore hari di taman belakang keluarga Han adalah salah satu pemandangan yang tak tergantikan indahnya. Hamparan rumput hijau terpangkas rapi, membentuk sebuah pijakan nyaman dengan bunga-bunga indah disepanjang mata memandang. Deretan bunga tulip terletak di paling ujung taman, bersanding dengan pohon sakura yang berbatasan langsung dengan dinding pagar belakang yang menjulang tinggi.
Disudut lain tampak sebuah kolam ikan jernih dengan air terjun kecil yang mengalir apik di bebatuan padas yang memang sengaja di letakkan disana. Sedang di bagian tengah taman, perpaduan bunga mawar dengan berbagai warna saling berseling membentuk sebuah poros yang seolah menjadi ikon dan titk pusat keindahan taman itu. Dari semua pemandangan yang tersuguh, Nara lebih memilih untuk duduk di kursi taman yang letaknya tepat berada disamping mawar-mawar putih favoritenya yang sedang bermekaran.
Ia duduk pada kursi taman, bergerak pelan dan mengatur letak posisi punggungnya agar benar-benar menempel pada punggung kursi. Ia menghembuskan nafasnya perlahan melalui bibir ranumnya, saat merasakan perut buncitnya kembali kram. Wajahnya jelas terlihat meringis, sedang tangannya dengan begitu refleks langsung bergerak mengelus kandungannya yang kian membesar. Tak ada amarah di wajah cantik itu, hanya kesabaran seorang ibu yang terpancar.
Nara merasakan tendangan kecil di dinding perut sebelah kanannya. Tendangan-tendangan itu terus berulang dengan kekuatan yang kian melemah sebelum akhirnya menghilang ketika permukaan halus jari tangan Nara menyentuhnya, membelai tanpa henti.
"Anak pintar.." gumam Nara ketika merasakan Airin telah berhenti bergerak di dalamnya. Wanita itu tersenyum, gurat rona bahagia kembali terpancar jelas di matanya. Kenyataan bahwa dia akan segera menjadi ibu. Tendangan-tendangan dan pergerakan Airin di dalam sana adalah sebuah bukti nyata akan kehidupan lain yang sedang ia bawa. Nara bahagia, tak ada yang bisa menandingi kebahagiaannya saat ini.
"Sabarlah sayang, dokter bilang 2 minggu lagi kau sudah bisa melihat betapa indah dunia ini.." Nara bermonolog, seolah Airin di dalam sana bisa mengerti dan mendengar ucapannya. Tapi bayi itu memang begitu pintar. Seperti tau akan apa yang diharapkan ibunya, Airin kembali memberikan sebuah tendangan kecil, seolah ingin memberikan respon akan ucapan sang ibu.
Nara lagi\-lagi tersenyum, ia memejamkan matanya sambil menselanjarkan kakinya pada kursi di depannya santai. Kedua kakinya tampak membengkak, tubuhnya berubah dengan drastis seiring dengan pertumbuhan Airin di dalam sana. Dan yang membuat Nara sering merasa tersiksa dari perubahan bentuk tubuhnya itu adalah sakit yang hampir selalu terasa di pinggangnya.
Dokter bilang itu adalah sesuatu yang wajar ketika masa kehamilannya semakin dekat dengan hari melahirkan. Nara pribadi sebenarnya tak terlalu mempermasalahkan hal itu, terlebih Taehyun selalu ada disampingnya. Menemani saat ia terbangun di malam hari karena merasa terusik akan posisi tidurnya, memijit punggungnya saat ia merasa kram di tengah malam dan pria itu juga bersedia terjaga sepanjang malam hanya demi membuatnya merasa nyaman.
Tapi disaat seperti ini, disaat laki-laki itu harus pergi meninggalkannya untuk berkerja, semua terasa berat bagi Nara. Terpaan nafas lelah kembali terhembus melewati paru-parunya. Ia menyalakan alat pemutar musik yang tadi ia bawa, memainkan sebuah alunan musik klasik milik bethoven yang membuat Airin tenang. Musik itu mengalun merdu dengan tempo yang nyaris berubah-ubah. Kadang terdengar begitu lembut, namun di detik berikutnya menghentak keras. Tapi irama itu membuat Nara dan bayinya merasa tenang.
Harum mawar yang menguar juga turut andil dalam memberikan ketenangan bagi ibu dan anak itu. Namun nyatanya dunia ini tak selalu indah. Ketenangan itu segera terengut oleh deringan ponsel Nara yang memekik keras. Nara terpaksa membuka kedua matanya, meraih ponsel putih miliknya dan tersenyum saat mendapati nama itu disana.
"Yoboseo Oppa.." sapanya antusias. Ia menurunkan kakinya dari atas kursi dan menegakkan posisi duduknya.
"Kau baik-baik saja? Apa yang sedang kau lakukan, humm?" tanya suara berat itu penuh perhatian.
"Aku baik. Hanya sedang menikmati senja di taman belakang bersama Airin."
Hening terasa begitu kental setelah Nara memberikan jawabannya. Laki-laki di ujung telpon itu hanya terdiam seperti biasa. Ia memang selalu menelpon, tapi sebenarnya ia tak pernah berani untuk memulai pembicaraan. Yang ia lakukan hanyalah menunggu Nara berbicara dan kemudian mendengarkan baik-baik suara lembut yang hingga saat ini masih selalu ia rindukan.
"Jaehyun oppa, kau akan pulang bukan? Kau harus menghadiri pernikahan Baekki dan Jihyun!"
Hari ini hal itu kembali terjadi. Nara selalu menanyakan hal yang sama tiap ia memiliki kesempatan. Ia seolah tak pernah lelah untuk bertanya kapan laki-laki itu kembali. Dan Jaehyun juga selalu memberikan jawaban yang sama untuk pertanyaan itu. Hanya helaan nafas berat di ujung telpon yang selalu Nara dengar ketika pertanyaan itu ia lontarkan. Sebenarnya bukan karena laki-laki itu tak ingin kembali ke Korea. Hanya saja tiap kali mendengar nama Korea ingatan akan kekejaman ibunya kembali terbayang di benak Jaehyun. Ia malu, sangat malu terhadap Ayahnya dan ibu Taehyun. Itu membuatnya menghukum dirinya sendiri hingga saat ini.
"OPPA!!" tegur Nara saat tak kunjung mendapat jawaban yang ia tungu.
"Kau benar-benar tak ingin pulang? Dua minggu lagi dokter bilang aku akan melahirkan. Kau tak ingin berada disampingku saat itu? Bisa saja itu menjadi hari terakhirku di dunia ini. Kalau aku gagal melahirkan Airin dengan baik, aku bisa kehilangan nyawaku. Dan kau sama sekali tak ingin menemuiku sebelum aku melahirkan? Kau tak ingin melihat keponakanmu?"
"Nara, kumohon.."
"Oppa, kembalilah!!"
"Apa kau pikir aku masih memiliki alasan untuk kembali setelah semua yang ku lakukan? Sudahlah.."
"Oppa, aku baru saja memberi sebuah alasan untuk kembali. Pernikahan Baekkie dan Jihyun, kelahiran Airin keponakanmu, apa itu belum cukup untuk membuatmu kembali?"
"Nara, ini tak semudah yang kau---"
"Sebenarnya ini mudah, hanya saja kau sendiri yang mempersulit semuanya. Ayah dan Ibu mertua tak pernah marah padamu oppa. Mereka masih selalu menganggapmu sebagai anak mereka. Kumohon, tak bisakah kau kembali?"
Jaehyun hanya diam, masih tak terpengaruh akan semua ucapan Nara.
"Oppa, jeballl..."
"Aku harus menghadiri rapat. Ku hubungi lagi nanti." dan 'PHIP' sambungan telepon itu terputus begitu saja, meninggalkan Nara dalam raut wajah kecewa yang dalam.
.
.
.
This Story Begins..
“OUR SWEETEST MOMENT”
©Byunra93_
.
.
__ADS_1
.
Nara terbangun dari tidurnya ketika merasakan sentuhan hangat tangan suaminya di bahunya. Beberapa kali wanita itu mengerjap, menyadari hari sudah berubah malam dan ia tengah tertidur di halaman belakang dengan selembar selimut tebal yang melilit di tubuhnya.
"Apa yang sedang kau lakukan, humm?" tegur Taehyun sambil berjalan ke depan Nara kemudian mengecup penuh cinta kening istrinya.
Nara melirik jam di ponselnya, mengernyit saat melihat ini masih pukul 18.00 dan suaminya sudah kembali? Ini sungguh tak seperti biasanya.
"Kau sudah pulang?" tanya wanita itu setengah tersadar.
"Ya, aku melarikan diri dari rapat karena eomma menelpon dan mengatakan kau tertidur pulas di luar. Oh ayolah Nara, berhenti membuatku khawatir sayang.."
Nara merunduk sambil meremas kedua tangannya malu.
"Maaf.." gumam wanita itu lirih.
"Aku terbawa suasana nyaman tempat ini dan kemudian tertidur" paparnya singkat.
"Kau membuat kami khawatir sayang. Udara dingin tak baik untuk Airin. Eomma menelponku dan mengatakan kau tertidur di luar dan ia benar-benar tak tega jika harus membangunkanmu" Taehyun duduk di kursi yang berhadapan dengan Nara, membelai rambut istrinya lembut. Sedang Nara menyingkap pelan selimut yang membalut tubuhnya.
"Kau yang membawa ini?" Nara menunjukkan selimut coklat itu pada Taehyun. Laki-laki itu menggeleng.
"Bukan aku. Eomma memberikan bantal dan selimut itu saat kau tertidur."
Nara kembali tertunduk dan jauh merasa tak enak hati.
"Sepertinya aku harus mengucapkan terimakasih pada ibu.." lirihnya canggung.
"Kau bisa melakukannya lain kali. Eomma sedang dalam perjalanan ke Ilsan. Baru saja dia pergi bersama aboji."
"Apa terjadi sesuatu?"
"Tidak ada hal yang serius. Kau ingat sepupuku Namjoon? Dia mengalami kecelakaan mobil beberapa saat yang lalu. Sejak kematian paman, bibi hanya mengurusnya seorang diri jadi eomma memutuskan untuk pergi membantu bibi."
"Kau tak pergi dengan mereka?"
"Ayo, kau harus kembali ke kamar. Akan ku suruh bibi Hyo menyiapkan makan malam dan susu hamil mu.." Taehyun menghela Nara untuk ikut bersamanya, menggenggam tangannya dan saat itulah Taehyun langsung menarik bahu Nara untuk ia peluk.
.
.
.
***
.
.
.
Nara telah menghabiskan makan malamnya saat Taehyun baru saja keluar dari kamar mandi. Rambut pria itu masih basah dan kedua tangannya masih terlihat sibuk mengancingkan bagian depan piamanya yang terbuka.
'SIAL' refleks, Nara mengumpat dalam hatinya. Bagaimana mungkin disaat seperti ini sekalipun ia masih dapat berfikir jika suaminya itu luar biasa tampan dan menggoda. Kau benar-benar berubah menjadi gadis mesum Kim Nara. Buang pikiran bodohmu! Runtuk Nara menjerit dalam batinnya.
Saat Taehyun berjalan mendekatinya, Nara bergerak semakin mundur, menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat tidur sambil menaikkan kakinya yang tergantung.
"Kau sudah selesai?" tanya Taehyun. Ia mengambil piring kosong di pangkuan Nara dan meletakkannya di nampan diatas nakas sebelah tempat tidurnya. Taehyun mengambil segelas susu vanila Nara dan membantu istrinya untuk meminumnya.
"Berbaringlah. Aku akan memijat punggungmu agar terasa nyaman."
Saat Nara sudah berbaring sepenuhnya, Taehyun bergerak ke ranjang samping Nara dan mengoleskan minyak zaitun di punggung dan kaki Nara yang membengkak.
"Maaf.." gumam Nara penuh penyesalan.
"Maaf? Kenapa kau meminta maaf sayang?"
"Karena aku selalu merepotkanmu. Sepanjang hari kau berkerja. Kau pulang saat hari sudah malam dan aku tau kau lelah. Tapi tiap malam kau selalu begadang demi aku. Di awal kehamilanku kau bahkan harus berkeliling Seoul di tengah malam hanya demi sebuah bakso ikan. Bahkan saat kehamilanku sudah sedemikian besar aku masih harus selalu merepotkanmu. Kau terjaga sepanjang malam demi memijat punggung dan kakiku. Kau hampir tak pernah tidur nyenyak karena aku. Jadi, maafkan aku.."
__ADS_1
"Oh ayolah, apa yang sedang kau katakana, humm? Dia anakku. Di dalam sana, kau sedang mengandung putriku, Nara. Tak seharusnya kau berfikiran seperti itu. Diam dan tidurlah, atau aku akan menciummu sekarang juga!" ancamnya.
"Tapi Tae—“ belum sempat Nara melanjutkan bantahannya, Taehyun sudah terlebih dahulu merunduk di atasnya. Laki-laki itu menciumnya, menyentuhkan daun bibirnya yang basah di permukaan bibir ranum Nara dan menyesap rasa manis disana dengan penuh rasa haus.
Taehyun langsung melepaskan pangutannya saat ia sadar hal itu salah. 'Bodoh' umpatnya pada dirinya sendiri. Ia tak boleh melakukan hal itu. Itu tak akan baik bagi Airin. Tak biasanya dirinya kehilangan kendali seperti ini. Sangat sulit memang bagi seorang seperti Taehyun untuk menahan hasratnya pada Nara, istrinya. Terlebih dulu sebelum Nara mengandung, mereka bahkan hampir selalu melakukan hal\-hal di luar batas. Ciuman, Pelukan dan hubungan sebagai sepasang suami istri selalu menjadi perhiasan dalam pernikahan mereka ini.
Tapi mengingat adanya kehidupan lain dalam tubuh Nara, Taehyun perlahan mulai belajar untuk menahan hasratnya pada sang istri. Bahkan selama kehamilan Nara, Taehyun sama sekali tak pernah menyentuhnya. Yang selalu ia berikan untuk Nara hanyalah sebuah ciuman kasih sayang, bukan ciuman penuh gairah seperti yang selama ini selalu ia lakukan.
Dan kini Taehyun sungguh menyesali apa yang baru saja dilakukannya. Pria itu memalingkan wajahnya, membuang mukanya jauh sambil menggumamkan kata maaf pada Nara. Nara tau itu sulit bagi Taehyun mengingat bagaimana tabiat Taehyun selama ini. Taehyun pastilah sedang menahan dirinya, dan Nara tau laki-laki itu tersiksa. Nara menyentuh tangan Taehyun dan menggenggam jarinya erat.
"Tidurlah, Nara.." ucap Taehyun pelan.
"Kau tidak?" balas Nara. Taehyun hanya tersenyum. Ia mengambil sebuah buku dari atas nakasnya dan menunjukkannya pada Nara. 'Panduan merawat seorang bayi' tulisan itu jelas tercetak di bagian depan cover buku yang sedang Taehyun pegang. Dan Nara bisa melihatnya dengan jelas.
"Aku harus menyelesaikan bab akhir buku ini sebelum Little Airin lahir ke dunia" terang Taehyun sambil tersenyum tulus. Hati istri mana yang tak akan tersentuh saat suami dinginnya berkata seperti itu.
Hati Nara sontak menghangat, matanya terasa memanas karena haru. Benarkah pria dihadapannya ini adalah Han Taehyun suaminya? Benarkah dia adalah laki-laki yang sama dengan Taehyun yang ia nikahi 2 tahun yang lalu? Masih begitu melekat di ingatan Nara tentang bagaimana tabiat dan sikap buruk Taehyun yang selalu memaksakan kehendaknya.
Han Taehyun, sosok dingin yang tiba-tiba datang padanya dan memaksanya menikah demi uang dan dendamnya kini berubah menjadi begitu hangat dan penuh perhatian. Ia bahkan tak lagi merasa canggung dalam menunjukkan cinta dan kasih sayangnya. Dan itu semua terjadi karena bayi di dalam kandungannya. Karena Airin yang telah berhasil merubahnya dengan caranya sendiri.
Sungguh Nara bersyukur akan hal itu. Apapun yang terjadi ia harus melahirkan Airin kedunia ini. HARUS! Karena tanpa Airin, Taehyun akan kembali pada sosoknya yang dulu, dan Nara sama sekali tak ingin hal itu terjadi. Nara tersenyum sambil menahan tangis di matanya saat Taehyun mencium perutnya dan menyentuhnya lembut. Itu pemandangan yang amat dia kagumi selama hidupnya. Saat Taehyun menyentuh, mencium dan berbisik pada putrinya.
"Airin-ah, berhentilah bergerak, ne. Biarkan eommamu beristirahat.." bisiknya di bagian perut Nara yang ditendang-tendang kecil oleh kaki Airin. Anak itu benar-benar sangat pintar. Ia berhenti menendang dan akhirnya membiarkan Nara terlelap dalam tidurnya.
.
.
.
-To Be Continue-
.
.
.
Author’s Note:
Kak Byunra, ini apa?
Hahahaha.. Hai, Hai..
Dear My Lovely Byunranation..
Kali ini aku kembali dengan membawa sebuah bonus buat kalian..
Bonus? Ya, ini adalah bonus yang khusus aku bikinin buat kalian semua.
Di baca ya..
Walaupun singkat, tapi aku harap feel nya bakal nyampai ke kalian dan kalian bisa suka sama ceritanya.
Buat yang nggak suka gimana kak?
Gampang kok. Yang nggak suka, silahkan skip aja. keluar dari cerita ini tanpa di bash..
Ikutin terus kisahnya ya..
Dan siap-siap di bikin baper pt. 2 sama Han Taehyun ku..
Terimakasih sudah singgah..
Jangan lupa like, komen dan ulasannya ya. Biar bonus selanjutnya segera menyusul. Hehe..
With Love,
ByunRa93_
__ADS_1