My Possessive Husband

My Possessive Husband
Please Stay With Me


__ADS_3

The ten years time I spent with you..


It is imposible to only move two steps during those time.


When I though I couldn’t protect you,


I thought I was going to go insane..


.


.


.


My Possessive Husband


©Byunra93_


.


.


.


Tubuh itu menggeliat lemah. Tangannya bergerak cepat menyentuh sudut bibirnya yang terasa perih ketika rasa dingin dari obat yang tengah Soyeon oleskan bercampur dengan perih yang menyayat kulit pucatnya. Jaehyun mengernyitkan dahinya menahan sakit, sementara matanya yang tadinya tertutup perlahan mulai terbuka dan menatap bayangan sosok gadis di hadapannya terkejut.


“Oppa, kau sudah sadar..?” tegur gadis itu sambil membantu tubuh Jaehyun untuk duduk. Kembali Soyeon mengambil obat dan mengoleskannya pelan di luka Jaehyun. Tapi laki-laki itu segera menampik lengannya. Pandangan matanya menatap Soyeon tajam. Seolah dengan begitu jelas mengatakan jika ia tengah terusik akan sikap gadis itu yang begitu saja menyentuh tubuhnya.


“Biarkan aku mengobati lukamu.” Bujuk Soyeon. Ia tak lagi menghiraukan penolakan yang Jaehyun berikan, karena kini ia tengah kembali menyentuh luka Jaehyun.


“Soyeon-ah, kenapa kau lakukan ini?” Jaehyun tak sedetikpun melepaskan pandangannya dari wajah Soyeon yang tampak takut.


“Oppa..”


“Kenapa? Kenapa kau menolongku? Kenapa tak kau tinggalkan saja aku disana? Kenapa tak kau biarkan aku mati di tengah kedinginan yang ku rasakan!” rancau Jaehyun yang jauh lebih terdengar seperti sebuah isakan.


“Oppa, apa yang kau katakan! Aku tau tau bagaimana perasaanmu. Aku tau kau merindukan Nara, tapi----”


“Tidak! Berhentilah bersikap kau tau segalanya tentangku! Kau tak tau apapun Soyeon-ah! Kau tak tau bagaimana kehidupan berlaku kejam dan tak adil padaku!”


“Kehidupan tak pernah berlaku kejam. Tuhan adalah sosok yang sangat adil dalam membagi nikmatnya.” sergah Soyeon


“Kehidupan tak pernah adil padaku Cho Soyeon. Tak pernah! Kau selalu berkata seperti itu karena kau tak pernah melalui kejamnya kehidupan dalam hidupmu! Kau tau bagaimana rasanya kehilangan kekasih yang paling kau cintai? Wanita yang sangat ku cintai justru berpaling dan meninggalkanku. Ia mencintai adikku. Apa kau tau bagaimana perasaanku ketika aku melihat mereka bersama? Sulit bagiku untuk dapat tersenyum, tapi aku harus selalu tersenyum di hadapan semua orang! Aku harus ikut tersenyum ketika wanita itu datang padaku dan berkata jika ia tengah mengandung benih dari cintanya bersama adikku. Kau tau bagaimana perasaanku? Aku terluka, aku marah, tapi tak ada yang bisa ku lakukan karena mereka saling mencintai. Adikku dan wanitaku, keduanya adalah orang yang sangat ku cintai!” Jaehyun tampak mengatur kembali laju nafasnya yang sedikit tersengal.


“Dan apa kau tau bagaimana rasa nya terlahir sebagai anak haram? Kehidupanku di dunia ini tak pernah di harapkan. Keberadaanku di dunia ini selalu menjadi masalah bagi orang lain! Kau tau bagaimana rasanya hidup tanpa sedikitpun cinta dalam dirimu? Bahkan ibumu sendiri, ibu kandungmu sampai hati dan tega melukaimu hanya demi sebuah harta dan kekuasaan. Apa kau tau bagaimana rasanya?” Jaehyun mencengkeram lengan Soyeon kasar.


“Tidak! Kau tak akan pernah tau bagaimana rasanya hidup seperti itu. Karena itu berhentilah bersikap seolah kau tau semua yang ku rasakan! Berhentilah bersikap seolah kau tau semua yang ada pada diriku!” Jaehyun menangis dalam diam yang ia miliki. Air matanya merosot turun dan hatinya terasa ribuan kali lebih sakit tatkala orang lain melihat jelas luka dalam dirinya.


“Oppa..” gumam Soyeon. Ia memeluk tubuh ringkih namja itu dalam dekapannya. Membiarkan sejenak Jaehyun menyandarkan beban tubuhnya pada dirinya.


“Harusnya kau biarkan saja aku mati. Harusnya kau tak perlu menolongku. Biarkan saja kematian membebaskan diriku dari semua sakit ini!”


Soyeon melepaskan pelukannya di tubuh Jaehyun. Ia menatap namja itu marah.


“Kenapa kau selalu mengatakan hal-hal bodoh! Kau selalu berfikir kalau kau adalah seseorang yang paling terluka disini. Kau bilang kau hidup tanpa sebuah cinta? Kalau saja kau mau berbalik dan sedikit membuka hatimu, mungkin kau akan menyadari bahwa disini ada satu cinta yang selalu menunggumu, memperhatikanmu dari kejauhan dan selalu berharap bahwa kau akan menyadari perasaanku untukmu. Kau terlampau egois oppa. Kau hanya memikirkan perasaanmu sendiri tanpa melihat dan tau bagaimana perasaan orang lain. Kau pikir akan bahagia jika kau mati? Kau pikir dengan mati semua ini akan berakhir? Kau tau itu pemikiran yang sangat bodoh!” Soyeon bergerak bangkit dari tempat duduknya di samping tempat tidur itu. Ia tak lagi bisa menahan dirinya untuk tak menangis dan marah pada pria di hadapannya. Jadi ia memutuskan untuk pergi dari sana. Tapi tidak, toh nyatanya gadis itu tak dapat berontak ketika kini Jaehyun mencekal sebelah tangannya. Ia menggenggam erat jemari tangan kanan Soyeon dan memintanya untuk tetap berada disana.


“Maafkan aku..” ujar Jaehyun pelan


“Aku mohon jangan pergi. Jangan tinggalkan aku..” lanjutnya.


Soyeon membeku di posisinya. Ia bahkan nyaris tak percaya akan indra pendengarannya. Ia tak percaya tentang apa yang baru saja ia dengar.


“Tetaplah berada di sisiku. Tetaplah memperhatikanku. Aku memberimu ijin untuk itu. Aku tak bisa menjanjikan banyak hal padamu, tapi kalau saja kau mau bersabar mungkin aku bisa menerimamu unt-----“


“Bodoh! Kau pikir aku memerlukan ijin untuk menyukaimu?” dengus Soyeon tanpa sedikitpun berbalik dan menatap ke arah Jaehyun.

__ADS_1


“Ya?”


“Aku tak memerlukan ijin darimu untuk menyukaimu! Aku sudah melakukan ini sedari dulu. Dan aku sama sekali tak peduli pada perasaanmu. Tak peduli kau marah atau bahkan membenciku, tapi yang akan ku lakukan hanyalah menyukaimu. Aku tak akan pernah berhenti sampai kau menatapku”


“So-Soyeon-ah..”


“Jangan lagi berfikir jika kehidupanmu di dunia ini sama sekali tak diharapkan. Karena seperti yang kau tau, aku selalu berharap kau terus hidup dan tersenyum walau senyum itu bukan untukku..” gadis itu berbalik. Ia menatap Jaehyun dan tersenyum kala manik mata mereka saling bertemu pandang.


.


.


.


***


.


.


.


Han’s Group, Gangnam District – South Korea


08.20 A.M


.


.


“Kami akan memberikan laporan langsung dari lokasi dimana diadakannya rapat pemegang saham Han’s Group hari ini. Rapat dijadwalkan akan di mulai pada pukul 08.30 KST. Hingga sekarang beberapa tokoh penting negeri ini satu persatu mulai terlihat berdatangan memenuhi gedung rapat, Han’s Group. Bahkan baru saja gubernur provinsi Seoul tampak hadir bersamaan dengan tuan Choi dari JR Group. Sayangnya hingga 10 menit menjelang rapat dibuka, kedua direktur muda yang akan bersaing memperebutkan kursi tertinggi dari tahta Han’s Group belum tampak di lokasi. Berdasarkan sumber yang terpercaya di perkirakan direktur Han Jaehyun akan segera tiba.”


Penggalan berita itu terdengar jelas dari layar televisi di mobil Taehyun. Pria itu masih tetap menatap layar di hadapannya dengan jengah. Buku-buku tangannya mengepal saat rasa dalam dirinya bercampur tanpa menentu. Muak, Marah, Kecewa, Resah, dan Panik, semua perasaan itu seolah bercampur dalam dirinya. Nara amat sangat tau akan hal itu. Wanita itu menyentuh jari-jari tangan suaminya dan menggenggamnya erat.


“Tentu saja mereka akan menayangkannya. Han’s Group menyumbangkan 2,5% pendapatan negara ini. Kau tak tau akan hal itu?” balas Taehyun yang terdengar dingin dan penuh kesombongan.


Rasanya Nara ingin sekali memaki dan menarik kembali ucapan dan rasa simpati yang baru saja ia tunjukkan ketika mendengar lontaran ketamakan dari bibir suaminya. Ia menyesal sempat bersimpati pada laki-laki itu barang sedetik saja.


“Dasar Bodoh!” umpat Nara yang dengan segera mendapatkan hujaman tatapan sengit dari suaminya.


“Nara, ku mohon jangan menyulut emosiku!” ada sebuah penekanan pada ucapan Taehyun kali ini. Dan raut wajahnya yang memang terlihat tak bersahabat dan semakin membuatnya tampak menyeramkan.


“Bagaimana mungkin aku mempunyai suami dan bahkan akan melahirkan seorang anak dari laki-laki yang sama sekali tak memiliki selera humor sepertimu. Dasar menyebalkan!”


“Kau----“


“Hentikan Mobilnya!” teriak Nara pada sang supir. Mobil segera berhenti setelahnya dan gadis itu berlari keluar, menepi di tepian jalan dan terlihat merunduk sambil memegangi sebelah lututnya sebagai bentuk topangan. Ia terlihat memuntahkan isi perutnya liar. Melihat hal itu, Taehyun segera mengikutinya keluar. Ia berjalan mendekati Nara dan menepuk-nepuk pelan punggung istrinya.


“Oh tidak..” gumam Nara lirih.


“Kenapa? Kau kenapa? Kau baik-baik saja bukan? Hey Yak! Kim Nara jangan membuatku khawatir..!”


“Kenapa kau berteriak padaku?!”


“Siapa yang berteriak? Aku hanya bertanya..”


“Kau pikir aku bodoh? Jelas-jelas kau baru saja berteriak padaku, Han Taehyun..!!”


“Aku tidak berteriak, Kim Nara..” jawab Taehyun yang kini menundukkan kepalanya menyerah. Kadang ia memang masih sulit untuk bisa menahan emosinya ketika wanita itu berubah menjadi sangat sensitif. Pengaruh kehamilannya mungkin, tapi menurut Taehyun itu sedikit keterlaluan dan menyebalkan. Ia menyentuh bahu Nara dan memeluknya ringan. Wanita itu masih tetap mengedarkan pandangannya ke sekeliling sambil menggelengkan kepalanya seperti nampak heran dan menolak sesuatu yang mencuat dalam pemikirannya.


“Ada apa denganmu, huh..?” tegur Taehyun


“Ini benar-benar menyebalkan! Sepertinya bayi ini begitu menyukaimu..” ujar Nara polos.


“Maksudmu?”

__ADS_1


“Dia selalu menyuruhku untuk menciummu, memelukmu dan bertingkah manja di depanmu. Dia juga selalu saja membuatku mual tiap kali aku akan memarahi atau tiap kali aku merasa begitu kesal padamu. Tiap kali kita berdebat aku selalu saja terpaksa mengalah karena tiba-tiba aku merasa mual.”


“Apa? Apakah ada kejadian yang seperti itu?” Taehyun tersenyum penuh cibiran.


“Terserah kau percaya atau tidak Tuan Han, tapi itu benar-benar terjadi padaku..!” dan Nara melangkah lebih dulu, meninggalkan Taehyun yang masih berdiri di belakangnya sambil mendengus tak percaya akan tingkah istrinya yang kian hari semakin aneh.


“Apakah semua wanita hamil akan seperti itu?” gumam Taehyun pada dirinya sendiri. Ia tampak menggeleng heran, masih tak percaya, juga sangat lelah akan sikap Nara. Laki-laki itu kemudian bergerak menyusul istrinya. Ia kembali masuk ke dalam mobilnya sambil memperhatikan posisi istrinya melalui ekor matanya yang tampak menatap canggung.


“Jong in-ah..” seru Taehyun pada Kim Jong In yang kini duduk di bangku depan dekat supir. Entah bagaimana ceritanya, tapi laki-laki itu tengah menggantikan posisi Baekki sebagai sekretaris pribadi Taehyun semenjak pria bermata sipit itu menghilang.


“Ya, tuan..” sahut Jong In sembari sedikit membalikkan tubuhnya menatap Taehyun.


“Apa semua orang-orang kita sudah hadir dalam ruang rapat..?” tanya Taehyun yang sepertinya terlihat begitu khawatir.


“Ya, kita sudah mencoba mengumpulkan sebanyak yang kita bisa. Dan beberapa dari pemegang saham memang telah menunggu anda. Mereka bersedia memberikan suara mereka untuk anda.”


“Berapa persen yang kau dapatkan?”


Kali ini Jong In hanya merunduk tanpa berani menjawab. Ekspresi dan raut wajahnya terlihat begitu murung.


“Katakan padaku, berapa persen yang berada di pihak kita?” desak Taehyun dingin. Nada suara laki-laki itu masih terdengar begitu angkuh walaupun sebenarnya itu hanya ia gunakan untuk menyelamatkan harga dirinya.


“10 % tuan..”


Nara memutar bola matanya, menatap ke arah Taehyun dengan mata membulat yang seolah tak percaya, tidak mungkin, hanya 10%? Apa yang sebenarnya terjadi? Nara benar-benar tak mengerti sekarang. Ia hanya bisa melihat jika kini suaminya tengah tersenyum mengerikan sambil mengepalkan buku-buku jari tangannya hingga memutih.


“Aku bersumpah akan menyingkirkan mereka semua saat aku menjadi presdir nanti. Tak akan ku biarkan penghianat-penghianat itu bertahan di perusahaanku!” geram Taehyun marah.


Taehyun benar\-benar terdiam setelahnya. Ia menatap keluar jendela sembari hanyut dalam angannya. Ia takut. Kali ini ia merasa benar\-benar takut akan kehilangan semuanya. Kehilangan kedudukannya, jabatannya dan yang paling menyedihkan adalah ketika ia harus menyerahkan perusahaan milik ayah dan ibu nya itu pada wanita jalang yang amat ia benci. Ia tak akan rela melakukannya. Sampai matipun ia tak akan rela.


Kembali pria itu teringat akan kondisi ayahnya. Pagi tadi, sebelum Taehyun berangkat ke perusahaan, ia memang menyempatkan dirinya untuk mengunjungi ayahnya yang masih belum sadarkan diri di rumah sakit. Ia sempat duduk tertunduk sambil menggenggam erat tangan ayahnya saat dirinya berdoa dan berharap laki-laki tua itu akan terbangun dari komanya. Ia tak pernah begitu mengharapkan kehadiran ayahnya seperti saat ini. Ini adalah pertama kali dalam hidup Taehyun. Ia benar-benar berharap, berdoa dan memohon agar ayah nya itu terbangun dan berada disisinya.


Leher pria itu seakan tercekat. Taehyun menelan salivanya susah. Ia mengusap wajahnya dengan sebelah tangannya dan terlihat sangat pucat. Kembali, jari-jari lentik milik Nara menyusup di tangannya. Menggenggamnya dengan erat dan menyandarkan kepalanya di bahu Taehyun.


“Aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Tenanglah..” ujar wanita itu teduh. Taehyun menghembuskan nafasnya panjang. Ia membalas genggeman tangan Nara, dan keduanya kini saling menggenggam erat.


“Nara..”


“Hmm...”


Taehyun menggerakkan sedikit tubuhnya, membuat Nara terpaksa harus membenarkan letak duduknya dan menatap suaminya itu dalam diam. Ia tiba-tiba menekan tombol di samping kanannya dan sedetik setelahnya ada sebuah sekat yang membatasi tempat duduk pengemudi dan tempat dimana mereka duduk saat ini. Jong in dan sang supir tak akan melihat dan mendengar percakapan yang akan terjadi selanjutnya. Membuat tempat itu menjadi ruang pribadi bagi mereka.


Taehyun bergerak mendekati tubuh Nara. Raut wajah Taehyun terlihat gamang. Matanya menggelap dan ia menggigit bibir bawahnya ragu.


“Kenapa?” tanya Nara


“Aku harus memastikan satu hal. Biarkan aku bertanya.” tuntut Taehyun


“Bagaimana jika hari ini aku kehilangan semuanya? Kau ingat tentang perjanjian yang kita buat sebelum menikah? Alasanmu menikah denganku adalah 25% harta yang ku punya, tapi jikalau hari ini aku gagal, maka aku tak akan memiliki apapun. Aku akan kehilangan semua hak ku atas perusahaan. Apa kau akan meninggalkanku setelah ini?” Taehyun mengatakan dengan begitu cepat deret kalimat itu, hingga membuat Nara mengerjap dan cukup bingung mencerna semua ucapannya.


“A-aku..”


.


.


.


-To Be Continue-


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2