
Kau baru merasakan bahwa kehadirannya adalah sesuatu yang penting ketika dia berada jauh darimu. Bayangannya akan semakin terlihat nyata, dan rindu itu akan menyiksamu semakin dalam. Karena inilah yang disebut Cinta..
.
.
.
“My Possessive Husband”
©ByunRa93_
.
.
.
‘Brakk!’
Pintu itu tertutup keras, seiring dengan langkah Nara yang begitu bersemangat untuk mengejar suaminya yang lebih dulu sampai di kamar mereka. Nara memang menutupnya asal, tak memperdulikan dentuman keras atau efek suara nyaring yang ditimbulkan. Ia tak peduli. Yang ia ingin hanyalah membujuk suaminya agar mengijinkannya pergi. Membawanya ke Paris. Sebuah Kota romantis yang begitu ia sukai.
Taehyun berdiri disana, didepan meja rias mereka sambil mengenakan jas hitam yang biasa ia gunakan. Tangannya mengambil dasi yang terletak di atas meja kemudian hendak berbalik mencari ahjumma untuk membantunya menyimpul dasi berwarna gelap itu pada kerah kemejanya.
“Biar ku bantu..” tawar Nara sambil merebut paksa dasi yang sedang Taehyun pegang. Pria itu tersenyum penuh ejekan ketika memandang wajah istrinya.
“Kau akan menggodaku dengan cara yang sama Kim Nara?” sela nya sambil tersenyum geli saat mengingat cara istrinya merayunya beberapa hari yang lalu. Wajah Nara terlihat memerah.
“Sial, ternyata dia masih mengingatnya.” Batin Nara. Ia masih berusaha mengukir senyum di bibirnya. Menatap penuh keimutan pada sang suami.
“Hentikan tatapanmu! Itu jauh lebih mengerikan daripada kau menggodaku.” gertak Taehyun yang segera mendapat balasan yang setimpal dari istrinya. Nara menarik keras-keras ikatan dasi Taehyun hingga pria itu memekik kesakitan saat merasakan lehernya tercekik oleh dasinya sendiri.
“Kau ingin membunuhku atau apa, huh!” bentak Taehyun. Nara hanya menyeringai sinis. Ia melipat kedua lengannya di depan dada, dan menatap Taehyun dengan sorot mata yang sulit untuk di artikan.
“Aku akan membunuhmu kalau kau tak mengijinkanku untuk ikut..” Nara menghentikan ucapannya. Menatap sorot mata elang suaminya yang masih terlihat datar.
“Oh ayolah Han Taehyun.. Kapan kau akan sedikit menjadi suami yang baik untuk istrimu ini eoh? Kau tau bukan aku begitu menginginkan Paris. Kau tau betapa aku ingin menginjakkan kakiku di kota itu. Ku mohon..” rengeknya.
Taehyun masih tak bergeming. Tak ingin terayu oleh bualan manis istrinya yang menggoda. Ia berbalik. Berjalan menuju almari dinding di kamarnya dan sibuk mengamati satu persatu koleksi jam tangan mewah yang tengah berjajar di salah satu etalase kaca yang terletak di sudut ruangan. Nara masih terus mengekor di belakangnya. Membuat telinga Taehyun sakit dengan segala bujuk rayu yang ia keluarkan.
“Taehyun-ah, sampai kapan kau akan mengacuhkanku seperti ini..” runtuknya yang sedikit putus asa.
“Oppa..” pantaunya.
Untuk kata satu ini Taehyun rela menghentikan aktivitasnya. Ia meletakkan kembali jam tangan yang tadi sempat ia pegang. Sejenak matanya menyipit, namun tubuhnya masih memunggungi gadis itu. Ia terdiam, menajamkan indra pendengarannya dan berharap Nara akan mengulang ucapannya lagi. Memastikan bahwa ia tak salah mendengar kata yang baru saja keluar dari bibir istrinya.
“Taehyun-ah, Oppa, Sayang, ku mohon ijinkan aku ikut denganmu..” rengek Nara dengan nada frustasi yang tergambar jelas dalam nada suaranya. Tangan gadis itu menyentuh lengan Taehyun, menggoyangkannya pelan. Bak anak kecil yang merengek untuk pergi ke taman hiburan. Taehyun memutuskan berbalik. Masih dengan wajah datar dan sorot matanya yang tajam ia menatap manik mata Nara.
‘Glekk!’ Ssah payah Nara menelan salivanya ketika menatap sorot mata itu. perlahan, dengan sedikit bergetar ia mulai melepaskan lengannya dari tubuh suaminya. Aura buruk itu kembali Nara rasakan, ketika Taehyun perlahan berjalan mendekatinya. Pria itu menyudutkan tubuh ramping Nara pada dinding almari dan menghimpitnya. Taehyun tersenyum miring. Ia membelai pipi kiri Nara dengan sebelah tangannya yang bebas. Membuat Nara bergerdik. Setidaknya ia mulai menyadari kesalahannya, yang tanpa sengaja membangunkan singa yang tengah tertidur. Nara perlahan bergerak mundur, menjauhkan tubuhnya dari Taehyun walaupun ia tau ia tak akan selamat.
“Sudah berani merayuku Nyonya Han? Ah, kau sungguh istri yang manis, saying..” bisik Taehyun tepat di daun telinga Nara. Sedetik kemudian, ia mengarahkan wajahnya tepat di hadapan Nara, memposisikannya sedemikian rupa hingga sedikit saja gadis itu bergerak, bibir mereka akan bersentuhan tanpa ada pembatas.
“K-Kau..!”
*cup
Taehyun tak lagi memberinya celah untuk berkata. Ia tak ingin mendengar umpatan gadis itu lagi. Setidaknya tidak sekarang, dimana bibirnya baru saja mengucapkan kata-kata manis. ‘Sayang’ satu kata yang terasa hangat di telinga Taehyun.
“Sekalipun kau terus menggodaku, keputusanku tetap sama Kim Nara. Aku tak akan membiarkanmu pergi..” tegas Taehyun saat tautan mereka terlepas.
“Han Taehyun!” geram Nara yang merasa dirinya sekali lagi di permainkan.
“Apa?”
“Tsk! Ku pikir setelah menciumku kau akan mengajakku. Kau menyebalkan..!” rajuk Nara yang tengah berlari keluar tanpa mau berlama-lama dalam ruang sempit itu bersama suaminya yang punya kadar tingkat kemesuman di atas rata-rata. Itu membahayakan.
“Hey, sayang..” panggil Taehyun dengan nada dan tawa menggoda.
“JANGAN PERNAH MEMANGGILKU DENGAN KATA ITU! AKU MEMBENCIMU, BODOH!” jerit Nara sambil menghentakkan kakinya kesal dan duduk di atas ranjang king size nya sambil melipat kedua tangan.
“Bukankah kau yang lebih dulu memanggilku ‘sayang’? Kau yang memulainya Kim Nara, jadi jangan harap kau bisa mengakhirinya dengan mudah..”
__ADS_1
“Terserah Kau saja! Aku tak peduli..” gadis itu benar-benar merajuk. Baiklah, ini memang terlihat berlebihan. Tapi tidakkah Taehyun tau dan mencoba memahami hati istrinya? Apakah berlebihan bagi gadis itu jika ia begitu bersemangat, begitu mengharapkan bisa pergi bersama. Bukan untuk berbulan madu, melainkan untuk berlibur ke Perancis, negara yang begitu ia idam-idamkan.
Taehyun perlahan duduk disamping Nara. Ia menatap gadis itu. Bukan dengan tatapan tajam dan dingin yang selalu ia gunakan. Ada yang berbeda dari tatapannya kali ini. matanya terlihat teduh dan hangat. Taehyun merapatkan jarak tubuhnya dan Nara, merengkuh bahu gadis itu sedikit paksa dan menyandarkan kepala Nara di dadanya. Nara terdiam, ia tak ingin mengelak jika ia memang menyukai tubuh suaminya. Tubuh yang tiap hari selalu terbaring disampingnya, selalu memeluknya dan memberikan kehangatan di tiap malamnya yang dingin. Nara menghirup aroma mask yang menguar dari tubuh Taehyun. Aroma yang membuatnya tenang dan nyaman disaat yang bersamaan. Sedang Taehyun kini terlihat membelai rambut coklat Nara dengan lembut.
“Nara, dengarkan aku. Bukan aku tak ingin mengajak mu bersamaku. Bukan aku sengaja melewatkan bulan madu kita. Kau bahkan tau aku begitu menunggu saat itu..” ucap Taehyun yang lagi-lagi menyelipkan nada canda di suaranya yang lembut. Nara mendongak, menarik kepalanya menjauh dan menatap pria itu tajam.
“Bukan itu yang aku inginkan!” tegur Nara mengintrupsi. Taehyun hanya **** senyumnya sebagai jawaban. Ia kembali menarik tubuh ramping itu mendekat, kembali memeluknya sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran tempat tidur.
“Aku tau itu. Tapi, apa kau tak bosan terus berteriak padaku, huh?”
“Itu karena kau bodoh!” cecar Nara tak ingin kalah.
“Tsk, gadis ini! Sekarang, dengarkan aku. Kau tau bukan ayahku baru saja sembuh dari sakitnya. Tak mungkin bagiku meninggalkannya sendirian disini bersama wanita itu. Aku takut ia melakukan rencana buruknya disaat aku tak ada.” Taehyun terdengar menghela napas panjang dari bibirnya.
“Jadi tolong, tetaplah disini. Lindungi ayah dari wanita itu. Ku mohon, Nara..” Taehyun membelai lembut rambut istrinya.
“Tak ada yang lain yang bisa ku percaya. Hanya kau, jadi tolong bantulah aku..” imbuh Taehyun. Wajahnya terlihat menyimpan banyak pikiran yang rumit. Ia tertunduk sambil menahan sesuatu dalam dirinya.
“Tae..”
“Tolong jangan lagi menolak dan membuatku tampak semakin kejam. Aku mohon. Sekalipun kau membenciku, sekalipun aku begitu memuakkan bagimu, tapi tak bisakah kau menyukai ayah ku? Tak bisakah kau mencintai ayah ku seperti kau mencintai ayah mu? Tolong jaga dan lindungi dia selagi aku tak disini..”
Taehyun melepaskan pelukannya di bahu Nara. Ia mendesah parau, dan sorot matanya syarat akan sebuah kepedihan. Hal yang membuat Nara merasakan hatinya berdesir. Kehangatan itu kembali menyelimuti hatinya. Menatap Taehyun yang seperti ini. Laki-laki itu sedang terluka dan begitu rapuh. Namun entah kenapa, hal itu justru membuat Nara menyukainya. Ia kembali merasakan sisi lain Han Taehyun yang hangat dan penuh cinta untuk keluarganya. Nara merengkuh jemari Taehyun yang bebas, menggenggamnya dan menatapnya dalam.
“Maaf. Aku begitu egois dengan hanya memikirkan diriku sendiri..” gumam Nara lirih.
“Aku tau, aku akan menjaga ayah mu selagi kau tak ada. Pergilah. Lakukan tugasmu dengan baik dan rebut posisi itu kembali..”
Taehyun mengangkat kepalanya kaget. Matanya menatap Nara penuh rasa tak percaya. Benar saja, baru kali ini kedua orang ini terlihat akur. Bahkan mereka bersedia saling memahami dan mengerti satu sama lain. Ini adalah moment langkah yang mungkin tak akan terjadi untuk kedua kalinya.
“Nara..” Taehyun kembali memeluk gadis itu. mencium puncak kepalanya. Ia kembali mendekap tubuh istrinya erat.
“Terimakasih..” gumamnya lirih.
Suasana hening begitu terasa setelahnya, sampai saat Taehyun melepaskan pelukannya dan keduanya saling menatap sejenak dalam diam.
“Nara aku janji, suatu hari nanti kita akan pergi bersama. Aku akan membawamu ke Perancis. Pasti, aku pasti akan membawamu kesana..” janji Taehyun yang terdngar tulus. Sedang Nara hanya mengangguk mengiyakan.
.
.
.
.
.
.
Keesokan Paginya…
.
.
Awan tampak menggulung di atas sana, menyembunyikan sinar mentari yang terang di balik gulungannya. Suasana memang terlihat mendung. Bahkan hawa dingin semakin menjalari tubuh Nara yang masih meringkuk diatas tempat tidurnya yang nyaman. Jari-jari tangan gadis itu perlahan mulai bergerak meraba sisi lain tempat tidurnya. Tempat dimana biasanya Taehyun terbaring sambil memeluknya.
Perlahan, Nara mengernyit saat menyadari tubuh itu tak lagi disana. Kosong, tangannya sama sekali tak bisa merasakan apapun di tempat itu. Bahkan wangi aroma Mask yang selalu ia hirup di tiap paginya. Wangi masculine khas seorang Han Taehyun yang begitu ia sukai, juga tak terdeteksi panca indranya. Nara membuka matanya perlahan dan mulai mencari sosok Taehyun. Tanpa Ia sadari, gadis itu seperti tengah merindukannya. Merindukan sosok suami yang semalam telah berangkat ke Paris bersama Baekkie, sekretarisnya.
Nara mendesah frustasi. Di liriknya jam kotak yang terletak di atas nakasnya. Pukul 08.00 AM. Ia mengambil ponsel putihnya yang semalam sempat ia taruh di atas meja kecil itu. Tak ada pesan ataupun panggilan darinya. Lagi, Nara terlihat resah.
Nara menatap pintu kamar mandi di hadapannya dengan perasaan berkecamuk. Biasanya Taehyun akan berdiri disana. Mengeringkan rambutnya yang basah sehabis keramas dan menatapnya dengan pandangan dingin dan tajam yang selalu menjadi ciri khasnya. Nara menghembuskan nafas berat dari bibirnya. Ia beralih menatap meja rias di sampingnya sambil kembali teringat pria itu. Biasanya Taehyun akan selalu berdiri disana, menunggu Ahjumma yang akan membantunya mengenakan dasi dan kemudian dia akan memberikan morning kiss untuknya.
Nara mengendus saat otaknya kembali mengingat bagaimana Taehyun selalu menciumnya di setiap pagi. Memanjakannya dengan sentuhan-sentuhannya yang begitu intim dan menggiurkan. Ia menyentuh bibirnya yang kering. Merindukan lumatan Taehyun yang hampir tiap hari menghiasi benda merah itu.
“Kim Nara ada apa denganmu!” runtuknya yang terlihat frustasi.
“Ya Tuhan, ini sama sekali tak benar Kim Nara. Bahkan ia baru saja pergi semalam. Aissh..” ia merebahkan tubuhnya lagi. Menarik selimut tebal itu hingga menutupi seluruh badannya. Gadis itu terus mengumpat atas kebodohannya, sampai akhirnya ia menyibakkan selimutnya kasar, dan kembali duduk di tempat tidur itu. Setelah beberapa menit, Nara baru melangkahkan kakinya turun dari tempat tidur, dan berjalan gontai masuk ke kamar mandinya.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
Tuan Han, istrinya, dan Jaehyun tengah duduk di meja makan sambil berbincang hangat. Suasana hari itu benar-benar berbeda dari biasanya. Nyonya Yoon jauh lebih sering tersenyum sambil menatap penuh kasih ke arah anak dan suaminya. Sesuatu yang amat sangat berbeda ketika Taehyun disana. Biasanya bercanda pun hampir tak pernah ia lakukan dihadapan Taehyun. Yang ada hanyalah tatapan sinis dan tajam.
Nara tersenyum miring, sedikit mengumpat pada kenyataan yang kini ia lihat dengan kedua matanya. Ada rasa muak, ketika ia menatap senyum palsu yang selalu terurai dari bibir ibu Tiri Taehyun. Perlahan gadis itu mulai menuruni anak tangga hingga langkah kaki kecilnya sampai pada anak tangga terakhir. Ia menatap sekilas ke arah ketiga orang itu. Dan tepat disaat itulah Jaehyun dengan begitu antusias memanggilnya, memintanya untuk bergabung seraya menarik kursi di sebelahnya agar gadis itu duduk disana. Nara hanya tersenyum klise.
“Nara, kau baik-baik saja?” tanya tuan Han yang tampak begitu peduli terhadap menantunya.
“Ne, appa..” sahutnya lembut dengan sedikit canggung.
“Ini pertama kalinya Taehyun meninggalkan mu sendiri. Aku mengerti, kondisinya tak akan mudah bagimu untuk berada disini tanpa dia. Tapi kau harus membiasakan diri. Tak perlu canggung, karena kau sudah menjadi bagian dari kami..” Tuan Han tersenyum renyah sambil menatap hangat kearah Nara.
“Hari ini kau ada acara?” tanya Jaehyun sambil menatap Nara yang duduk di sampingnya.
“Tidak. Mungkin aku akan menghabiskan waktuku untuk berdiam diri di rumah. Kenapa?”
“Ayah, bolehkah aku membawa Nara ke kontes desain? Dia sedang mengambil jurusan design sekarang. Akan lebih baik jika ia ikut denganku. Disana dia juga bisa memberikan penilaian yang lebih objektiif terhadap design-design para peserta..” usul Jaehyun yang kemudian mendapat anggukan singkat dari tuan Han.
“Kau benar Jaehyun-ah. Itu akan lebih baik daripada Nara hanya berdiam dirumah. Pergilah bersama Jaehyun ke kontes desain yang perusahaan kita buat. Bukankah itu juga akan berguna untuk inspirasi designmu..” ujar tuan Han bersemangat.
Nara tau, tak baik baginya menolak. Tuan Han menyarankan hal itu dengan penuh semangat untuknya. Dan satu hal yang patut di pertimbangkan adalah jika ayah mertuanya itu sama sekali tak tahu menau tentang status hubungannya dan Jaehyun. Jadi, rasanya tak pantas jika Nara menolak pergi hanya karena ia harus pergi bersama dengan Jaehyun, kakak tirinya. Nara hanya mengangguk sambil tersenyum canggung saat menatap Jaehyun.
.
.
.
-To Be Continue-
.
.
.
Author’s Note:
.
.
Apa yang akan terjadi jika Nara dan Jaehyun benar-benar pergi bersama?
Bagaimana jika Taehyun tau tentang itu?
Akankah semuanya berimbas pada hubungan baik yang baru saja terjalin itu?
Simak kelanjutannya di bab selanjutnya..
Terimakasih sudah singgah dan membaca kisah ini.
Semoga kalian suka..
Komen, like dan ulasannya selalu aku tunggu.
.
.
.
With love,
__ADS_1
ByunRa93_