
“Nara dengarkan aku. Mungkin untuk yang terakhir kalinya aku menanyakan hal ini padamu. Mau kah kau kembali padaku? Kembali menjalani hidup berdua denganku?” sorot mata Jaehyun tampak begitu serius hingga membuat Nara terlihat sulit untuk memutuskan.
“Oppa-”
“Tak perlu kau jawab sekarang. Aku memberimu waktu untuk memikirkannya. Karena mungkin jawabanmu adalah satu-satunya keputusan yang menentukan bagi masa depan Han’s Group dan juga hidup Taehyun. Jadi aku tak ingin kau tergesa dalam memutuskan..”
Nara terdiam. Sejujurnya ada perasaan takut dalam diri gadis itu mengingat ucapan yang Jaehyun lontarkan terdengar begitu sungguh-sungguh dan sangat meyakinkan. Ia masih menatap Jaehyun yang kini tersenyum manis padanya. Jujur saja, pria itu terlihat sangat tampan. Inilah Jaehyun yang dulu sempat membuatnya jatuh hati.
“Bisakah aku terbaring di pangkuanmu?” gumam Jaehyun lirih sambil menatap manik mata Nara lekat-lekat. Untuk sesaat Nara hanya terdiam ketika pikirannya menembus jauh ke masa dimana Jaehyun memang selalu tidur di atas pangkuannya ketika hatinya sedang dalam kondisi yang tak baik. Nara memposisikan kakinya untuk berselanjar, kemudian gadis itu membiarkan Jaehyun menyandarkan kepalanya di pangkuannya. Jaehyun memandangi wajah Nara penuh harap.
“Terimakasih..” gumamnya.
Nara hanya mengangguk sambil memandangi wajah laki-laki yang dulu sempat menghiasi hatinya itu. Tak bisa di pungkiri bahwa hati Nara masih begitu nyaman berada di samping Jaehyun. Setidaknya perasaan yang kini ia rasa, jauh berbeda daripada ketika ia berada di samping Taehyun suaminya. Ada perasaan lega dalam hati Nara. Ia tau Jaehyun bukanlah orang jahat yang hanya mengincar harta Taehyun tanpa alasan. Nara tau Jaehyun jauh lebih menderita dari apa yang ia pikirkan.
.
.
.
***
.
.
.
Disaat rindu itu perlahan mulai menghampiriku..
Disaat bayangan mu selalu menyusup dalam benak ku..
Haruskah aku mengungkapkan?
Atau hanya berdiam di tempatku, seperti sedia kala?
.
.
.
“My Possessive Husband”
©ByunRa93_
.
.
.
Laki-laki muda dengan stelan celana hitamnya yang dipadukan dengan kemeja putih berlengan panjang yang sengaja ia gulung hingga sebatas siku itu tengah mendorong trolly berisikan koper miliknya. Suasana bandara memang masih sangat lenggang mengingat pesawat yang ia naiki adalah penerbangan pertama dari Paris. Beberapa kali ia **** senyum sambil memandangi ponsel miliknya yang menampakkan wajah seorang wanita berbalut gaun pernikahan yang terlihat begitu cantik. Taehyun mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencari keberadaan sekretaris bermata sipit yang sedari tadi mengekor di belakangnya.
“Aku sudah menghubungi supir. Tapi sepertinya Jindo masih tertidur, meningat ini masih begitu pagi. Kalau kau tak keberatan, kau bisa menunggu 30 menit dan Jindo pasti akan menjem-”
“Aku akan naik taksi..” potong Taehyun yang sudah berjalan ke arah pintu keluar bandara sambil menggeret koper miliknya.
“Apa? Han Taehyun kau benar-benar akan naik taksi?” pria sipit itu tampak mengejar sang Direktur dengan begitu tergesa.
“Tak ada alasan untuk membuang-buang waktu disini. Aku ingin segera sampai dirumah.”
“Kau tidak sedang merindukan istrimu bukan..?”
‘Degg..’
Taehyun menghentikan langkahnya, tepat ketika Baekki mengajukan sebuah pertanyaan yang begitu mengejutkan. Ia terlihat memegangi dadanya, merasakan ada yang berubah dengan laju detak jantungnya saat ini.
“Mungkinkah aku benar-benar merindukannya?” batin Taehyun sambil masih berdiri membelakangi Baekki.
“Hey, kau benar-benar merindukannya, Han Taehyun?” goda Baekki sambil sedikit menyenggol bahu Taehyun.
“BODOH! Berhenti mengatakan hal konyol Lee Baekki!” teriak Taehyun geram.
“Jelas-jelas merindukannya tapi masih terus mengelak. Apa harus ku beberkan fakta yang ada?” tantang Baekkie seolah tak mau kalah.
“Fakta apa?”
“Pertama kau mempercepat urusan kita di Paris. Kau bahkan bersusah payah mencari tiket penerbangan pertama agar bisa sampai sepagi ini. Dan kau ingin cepat-cepat sampai dirumah. Bahkan kau rela membiarkan dirimu, membiarkan tubuhmu untuk naik kendaraan umum berjenis taksi. Apa kau juga sedang menyiapkan kejutan untuk istrimu? Kau ingin tidur disamping istrimu dan melihatnya terkejut karena saat ia bangun, kau sudah berada disampingnya? Memeluk tubuhnya?”
SIAL! Taehyun benar-benar mengumpat dalam hatinya. Bagaimana mungkin sekretarisnya itu begitu mengerti akan jalan pikirannya saat ini. Mungkinkah Lee Baekki benar-benar bisa membaca pikiran? Atau mungkinkah terlihat jelas dimata Taehyun bahwa ia tengah merindukan istrinya?
“Cah, lihatlah dirimu Han Taehyun, kenapa kau diam? Apa semua ucapanku itu benar? Hahaha.. Tentu saja itu benar. Kau lupa aku bahkan mengenalmu sejak kau masih anak-anak. Aku cukup mengerti dan paham akan jalan pikiranmu yang begitu kekanak-kanakan.”
Taehyun hanya menatap namja mungil itu dengan sorot matanya yang tajam tanpa berniat untuk berdebat lebih jauh dengannya.
__ADS_1
“Taehyun-ah, berhentilah bersikap dingin pada istrimu. Perlakukan dia dengan baik. Katakan kau merindukannya dan peluk dia.” ucap Baekki yang tampak menggoda.
“Ah, tapi bisakah kau memeluknya? Aku rasa Kim Nara tak akan membiarkannya begitu saja. Istrimu bukan tipe yang mudah di taklukkan Taehyun-ah. Hahaha..”
“Sialan kau! Berhenti mengguruiku Lee Baekki! Kita lihat saja nanti. Memeluknya? Aku bahkan berniat untuk menghamilinya! Jadi tutup mulutmu dan tungulah!” ucap Taehyun dengan nada kesal hingga terdapat penekanan di setiap katanya. Pria itu menarik kopernya kasar dan berjalan lurus ke arah pintu keluar tanpa berbalik lagi untuk menatap sekretarisnya yang sedang tertawa terbahak-bahak. Suara tawa Baekki bahkan terdengar seperti kikikan setan di telinga Taehyun. Suara yang lagi-lagi membuat emosinya meningkat pada batas yang membahayakan.
.
.
.
***
.
.
.
@Taehyun’s House, Gangnam-Seoul
06.00 AM
.
.
Sebuah taxi berhenti di pelataran luas kediaman keluarga Han. Sang supir tampak membuka pintu kemudi dengan tergopoh dan segera membukakan pintu penumpang di belakangnya. Taehyun terlihat turun, menapakkan kedua kakinya pada tanah yang terlihat kering. Ia berdiri di depan gerbang tinggi berdesign klasik itu dengan wajah datar. Air wajahnya tak lagi penuh emosi. Ia bahkan terlihat tersenyum kecil ketika manatap jendela kamar di lantai dua yang terlihat masih tertutup.
“Tuan ini koper anda..” ucap si supir taxi sambil menyerahkan koper berwarna hitam itu pada Taehyun. Sedang sang empunya hanya tersenyum dan segera membuka gerbang tinggi dihadapannya tanpa mau menunggu lagi.
Perlahan, Taehyun memasukkan beberapa digit kode rumah pada daun pintu. Ia menunggu knop di hadapannya terbuka dan dengan segera Taehyun memasuki rumahnya. Lantai bawah rumah itu terlihat sepi. Hanya beberapa Maid yang tengah terlihat di ruang makan. Mereka merundukkan kepalanya dengan wajah terkejut ketika menatap sang tuan muda yang harusnya baru kembali dua hari lagi, kini tampak berdiri di hadapan mereka. Taehyun masih tak peduli. Ia melangkahkan kakinya acuh untuk menaiki satu persatu anak tangga itu.
“Bukankah tuan muda harusnya kembali 2 hari lagi?” gumam salah seorang Maid yang tengah meletakkan piring di meja makan.
“Kau ini seperti tidak tau saja. Tuan muda baru saja menikah, pasti ia merindukan istrinya hingga mempercepat jadwal kepulangannya” jawab ahjumma Hyo sambil tersenyum menatapi Taehyun yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri. Mengingat sejak kecil hanya Ahjumma Hyo saja yang mengurusnya.
Taehyun telah sampai di ruang tengah lantai dua rumahnya yang masih terlihat sepi. Sekali lagi, pria itu tersenyum. Ia pikir rencananya akan berhasil karena sepertinya istrinya memang masih belum bangun dari tidurnya. Ia ingin segera masuk ke kamarnya, melepas sepatu yang sedang ia kenakan, dan tidur di samping Nara. Ia benar\-benar merindukan tubuh ramping istrinya untuk ia peluk.
Namun sayang, langkah kaki Taehyun tiba-tiba terhenti ketika kini ia melihat istrinya sedang tidur di sofa ruang tengah. Wajah Taehyun memerah padam, tangannya mengepal penuh dengan amarah ketika matanya menatap sosok Jaehyun yang tengah tertidur pulas di atas pangkuan istrinya. Bahkan sebelah tangan Nara sedang menggenggam tangan Jaehyun yang terlipat di atas perutnya.
Sungguh Taehyun benar-benar kecewa. Marah? Tentu. Suami mana yang tak marah ketika istri yang benar-benar ia rindukan, Orang pertama yang ingin ia peluk ketika ia datang. Orang pertama yang ia harapkan akan menyambut kedatangannya, justru menghianati dirinya. Terlebih saat inim Nara terlihat begitu bahagia dengan laki-laki itu.
Tentu Taehyun benar-benar marah. Bahkan kalau ia bisa, pria itu ingin menggeret tubuh Jaehyun dari sana dan menghajarnya sampai urat marahnya terputus. Tapi tidak, setidaknya Taehyun masih menghormati hubungan darah yang terpaut diantara mereka. Taehyun hanya tak ingin membuat masalah, yang akan membuat kondisi Ayahnya memburuk. Taehyun mengerang. Mati-matian ia menahan luapan emosinya. Ia berjalan menuju kamarnya, membuka daun pintu itu dan kemudian membantingnya dengan kasar. Ia tak peduli bahwa suara itu mugkin akan membangunkan keduanya. Sungguh ia tak lagi peduli dengan semua itu. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa di kamarnya sambil terus mengepalkan tangannya kesal.
“Oppa, bisakah kau bangun..?”
Jaehyun dengan segera terbangun dari posisinya. Ia menatap Nara dengan perasaan canggung. “M-Maaf..” ucap Jaehyun gugup. Nara hanya mengangguk singkat dan berdiri dari sofa.
“Aaaaw..” ringisnya. Gadis itu merasakan kram di kakinya. Rasanya benar-benar sulit untuknya berdiri dengan tegak.
“Kau baik-baik saja? Maaf..” Jaehyun memegangi bahu Nara, menahan tubuh gadis itu untuk tetap berdiri dengan tegap.
“Aku baik-baik saja, oppa. Hanya sedikit kram..” Nara tersenyum sekilas kemudian melangkahkan kakinya perlahan untuk masuk ke dalam kamarnya yang berada tak jauh dari sofa ruang tengah.
Nara memutar knop pintu kamarnya, kemudian ia berjalan masuk dalam ruangan bercat putih itu. Mata Nara membulat tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Laki-laki itu sedang duduk di sofa sambil menatap ke arahnya tajam. Rambutnya terlihat sedikit acak-acakan namun itu justru menambah kesan maskulin dari seorang Han Taehyun. Wajahnya masih tetap tampan. Wajah yang menurut Nara tengah terpahat dengan begitu sempurna. Namun Nara justru bergerdik ngeri saat tanpa sengaja manik matanya menatap sorot mata Taehyun. Ada sebuah amarah di dalamnya, Nara tau itu.
“K-kau, kapan kau kembali? Bukankah seharusnya dua hari lagi?” tanya Nara yang masih berdiri di balik pintu kamar yang tertutup. Gadis itu masih memegangi kakinya yang masih terasa berdenyut kram.
“Kenapa? Apa kau masih butuh waktu lebih, untuk berduaan dengan pria itu? Masih butuh waktu bermesraan di belakangku?!” bentak Taehyun.
Pria itu berdiri mendekati Nara. Ia mencengkeram lengan Nara dengan paksa dan menariknya untuk mendekat. Disaat itu Nara mengaduh, ketika kakinya yang kram kembali terasa sakit. Taehyun memandangi kaki Nara, mengamatinya sebelum akhirnya ia tersenyum sinis. Rahang Taehyun mengeras sementara hatinya terus mencoba menahan amarahnya yang begitu meluap.
“Kau tak ingat dengan apa yang ku katakan Kim Nara! Berapa kali lagi aku harus mengatakannya? Jangan pernah membiarkan orang lain menyentuh apa yang belum pernah ku sentuh! Aku bahkan sudah mengatakan, jangan lagi mendekati pria itu! Kenapa kau tak pernah mendengarkanku, hah!”
Taehyun menghembuskan nafasnya kasar. Ia kembali menarik lengan Nara, menyentakkannya keras hingga tubuh gadis itu merapat dalam pelukannya.
“Kau, jangan pernah menyalahkanku kalau aku tak lagi bisa menahan diriku sekarang!” sergah Taehyun yang sedetik kemudian sudah mencium bibir istrinya. Ciumannya kali ini terasa jauh berbeda. Nara merasakan hal itu. Ciuman Taehyun jauh lebih kasar dan menuntut dari biasanya. Nara berusaha mendorong tubuh Taehyun menjauh darinya.
Taehyun masih tak peduli. Amarahnya jauh lebih menguasai dirinya hingga pria itu sulit mengendalikan dirinya sendiri. Taehyun mendorong tubuh Nara hingga gadis itu jatuh pada tempat tidur dengan posisi Taehyun yang masih menindihnya.
“Han Taehyun! Apa yang kau lakukan!” teriak Nara tertahankan.
“Menyingkir dari tubuhku!” Nara terus berusaha mendorong tubuh Taehyun di atasnya.
“Han Taehyun!” bentaknya lagi ketika Taehyun mulai menciumnya lagi. Emosinya masih mendominasi hingga,
‘Plakk..!’
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Taehyun. Pria itu dengan refleks memegangi pipinya yang terasa perih. Ia berdiri dari posisinya dan masih menatap Nara tak percaya.
“Apa yang kau lakukan, Kim Nara?” ucap Taehyun dengan nada yang terdengar datar.
“Kau pikir aku ini apa. Kenapa kau terus memperlakukanku seperti ini! Han Taehyun, kau benar-benar pria gila!”
__ADS_1
“Kaulah yang memulainya Kim Nara!!” bentak Taehyun tak terima.
“Apa? Aku yang memulainya?”
“Apa yang kau lakukan dengan pria itu? Sebenarnya apa yang kalian lakukan semalam? Kau, kau bahkan berselingkuh di belakangku! Kau menghianatiku!”
“Lalu bagaimana denganmu? Kau tak lebih baik daripada aku! Apa seperti ini caramu memperlakukan seorang wanita? Apa kau juga memperlakukan mantan kekasihmu itu dengan cara seperti ini? Menciumnya dengan paksa? Kau menjijikkan Taehyun-ah!” cecar Nara. Gadis itu terisak. Hatinya menangis, merasakan sakit yang begitu dalam ketika membayangkan bagaimana suaminya mencium gadis lain yang ia cintai.
Taehyun masih terdiam. Ia menatapi istrinya yang tengah terisak. “Kalau kau begitu takut aku akan mencium gadis lain diluar sana, lalu kenapa kau terus menolakku Kim Nara?”
“Sudahlah, aku sudah muak dengan semua ini! Kau tak pernah benar-benar mengangapku ada! Bagimu aku ini hanyalah sebuah alat untuk membalaskan dendammu! Bagimu aku hanyalah sebuah barang yang bebas kau permainkan karena kau telah membeliku! Aku terlampau lelah terus kau perlakukan seperti ini! aku bukan sebuah barang, Han Taehyun! Aku punya perasaan. Aku capek terus kau permainkan!” Nara mencoba mengatur laju udara yang masuk ke dalam paru-parunya. Tangannya masih begitu bergetar sambil memegangi kerah atasannya yang sudah terbuka.
“Ceraikan aku!”
“Aku tak bisa lagi hidup dengan laki-laki sepertimu! Pergilah bersama gadis yang kau cintai itu! Sudah saatnya kita bercerai!” tangis Nara semakin menjadi. ‘cerai’ sebenarnya kata itu adalah sebuah kata yang begitu menyakitkan. Bahkan kini hati Nara kembali terluka karena ucapannya sendiri. Sementara Taehyun mengepalkan tangannya geram. Ia mengambil sebuah bantal disampingnya kemudian membantingnya kasar pada lantai di bawah sana. Ia berdiri memungungi Nara sambil terus menahan sesuatu yang membuncah dalam dirinya.
“Baiklah. Kalau memang itu yang kau inginkan, aku akan melakukannya. Aku akan segera mengurus perceraian kita.” Taehyun menggantung ucapannya.
“Dari awal, kau memang tak sedikitpun berusaha membuka hatimu. Kau sama sekali tak pernah menganggap pernikahan ini. Yang kau pikirkan hanyalah bercerai dariku. Baiklah, kalau itu memang sesuatu yang kau inginkan. Aku harap kau bersedia menunggu, paling tidak berusahalah untuk tetap disampingku sampai aku menyelesaikan semua berkas perceraian kita. Dan, maaf telah membuat hidupmu terasa memuakkan karena bersamaku..” nada suara Taehyun terdengar bergetar.
Ia mengambil kunci mobil dari atas nakasnya dan berjalan keluar dari kamar itu tanpa mengatakan sesuatu yang lain. Langkah kakinya terlihat gusar. Bahkan Taehyun sempat berpapasan dengan Jaehyun ketika pria itu keluar dari kamarnya. Jaehyun hanya menatap Taehyun dengan pandangan heran. Kemudian ia mengalihkan pandangannya pada pintu kamar Taehyun yang terbuka. Di dalam sana Jaehyun bisa melihat Nara yang tengah menangis tersedu.
.
.
.
_To Be Continue_
.
.
.
-Next Chapter-
.
.
“Oppa, kau dimana? jemput aku di bandara..” pinta gadis itu dengan nada manja yang sengaja ia buat semenggoda mungkin.
“Tunggulah..”
“Oppa, apa malam ini kau punya waktu? Bisakah kau datang ke apartemenku?”
“Maaf Nona Lee, tapi sepertinya malam ini suamiku tak akan punya waktu untuk menemuimu. Malam ini kami akan makan malam bersama. Bukan begitu, sayang?”
“Kalau begitu aku akan ikut dengan kalian. Kau pasti merasa tak nyaman harus makan berdua dengan gadis yang tak kau cintai. Seperti janjiku, aku akan selalu menemanimu Oppa..”
“Nara.. Kim Nara, kau baik-baik saja? Nara..” pria itu meraih tubuh Nara, membopongnya dan berlari ke arah mobilnya kemudian segera melajukannya dengan cepat menuju Rumah Sakit terdekat.
***
.
.
.
Author’s Note:
.
.
Hai, hai..
Terimakasih karena udah setia mengikuti kisah ini.
Itu aku kasih sedikit spoiler buat next bab ya..
Biar ala-ala drama korea gitu. Hahaha..
Semoga kalian masih berkenan buat membaca, semoga suka..
Kritik, saran, like dan ulasannya aku tunggu yah..
.
.
With love,
__ADS_1
ByunRa93_