
Terkadang apa yang yang kau lihat,
dan apa yang telinga mu dengar memang tak sejalan.
Lantas bagaimana kau harus bersikap?
Percaya pada dia yang kau cinta,
Ataukan membuka mata,
dan menatap takdir yang tergambar di hadapan kedua matamu?
Satu yang pasti, semua ini hanyalah satu perjalanan hidup
yang akan menuntunmu untuk lebih tegar dalam prosesnya..
.
.
.
“My Possessive Husband”
©ByunRa93_
.
.
.
Tae-Ra’s Room – 00.00 AM
.
.
Taehyun membuka pintu kamarnya pelan. Ia melihat ruangan itu sudah gelap dengan hanya cahaya lampu tidur yang menyinari. Langkahnya langsung menuju pada ruang kecil disudut kanan kamarnya. Perlahan Taehyun menggeser daun pintu almari dengan begitu hati-hati. Ia takut istrinya akan terbangun. Taehyun tak ingin mengganggu tidur Nara yang terlihat begitu nyenyak.
Segera Taehyun mengganti bajunya dengan sebuah piama berlengan panjang dan kemudian bergerak naik ke atas tempat tidurnya. Berbeda dari biasanya, kali ini Taehyun tak begitu saja terlelap. Ia sedikit menyempatkan waktunya untuk memandangi wajah istrinya yang tengah tertidur. Ia berbaring menghadap ke samping kiri tempat tidurnya, sambil menggunakan siku tangannya sebagai tompangan. Dibawah sinar lampu tidur yang tak terlalu terang, ia mengamati tiap titik wajah istrinya. Ia menyentuh pipi Nara yang tirus, membelainya dan sedikit menyingkirkan anak rambut yag menutupi wajah cantik itu. Pandangan Taehyun langsung berhenti pada satu titik. Pada dahi Nara yang berkerut. Sepertinya dalam tidurnya, gadis itu tengah memikirkan sesuatu dengan begitu berat hingga tidurnya tak begitu nyenyak. Taehyun menyentuh dahi Nara yang berkerut. Menekannya pelan, hingga perlahan kerutan itu tampak menghilang. Raut wajah Taehyun mendadak begitu sendu.
“Apakah hidup denganku membuatmu menderita Kim Nara? Apa aku begitu egois dengan menahanmu seperti ini? Haruskah aku melepaskanmu?” gumam Taehyun lirih. Kembali ia mengamati wajah itu perlahan dan dengan begitu teliti. Seolah tak akan ada lagi kesempatan bagi dirinya untuk memandang wajah itu dikemudian hari. Kali ini yang berhasil menyita pandangan Taehyun adalah daun bibir ranum Nara.
Percaya atau tidak, Taehyun memang tengah merindukan bagian itu. Tanpa Taehyun sadari jemari tangannya bahkan tengah menyentuh benda merah itu. Bergerak di atas permukaannya yang lembut dan kemudian terhenti di sudut bibir Nara. Tidak, hanya menyentuhnya tidaklah cukup bagi Taehyun. Ia tau pikirannya sungguh kotor dan mungkin tindakannya ini akan jauh lebih tak bermoral. Tapi ini bukan suatu dosa bukan ketika seorang suami menginginkan istrinya?
Taehyun perhalan mendekatkan wajahnya, dorongan untuk merasakan bibir istrinya terasa begitu kuat dan benar-benar menuntut. Andai saja ia tak harus memikirkan perasaan Nara. Andai saja ia hanya melihat status pernikahan mereka, mungkin saat ini Taehyun akan melakukan hal yang tidak-tidak pada istrinya.
“Aisssh!” umpat Taehyun kesal. Pria itu terduduk di atas ranjang sambil mengacak rambutnya.
“Kenapa kau begitu menyiksaku, Nara! Kau istriku. Tiap malam kau selalu tidur disisiku. Tapi aku tak boleh menyentuhmu! Kau tau ini benar-benar sulit!” rancaunya lirih. Ia kembali menatap wajah istrinya yang tengah terlelap.
“Baiklah aku tak akan melakukan hal itu. Tapi setidaknya ijinkan aku menciummu” Taehyun menggerakkan wajahnya mendekati Nara. Perlahan ia mendaratkan daun bibirnya di atas permukaan daun bibir ranum Nara.
Nara masih lelap dalam tidurnya. Hingga untuk beberapa saat, Taehyun seakan bebas untuk memperdalam ciumannya. Saat ia mulai menyadari kening Nara berkerut, Taehyun segera melepaskan ciumannya dan membaringkan tubuhnya membelakangi Nara. Ia berpura-pura memejamkan matanya.
“Eungggh..” lenguh Nara. Gadis itu merentangkan tangannya, sedikit menggeliat kecil ketika tidurnya terusik. Ia melihat ke arah kanan dan mendapati tubuh suaminya sudah terbaring disana. Dengan masih mengedipkan kedua matanya yang berat Nara melirik jarum jam dinding di depannya yang menunjukkan pukul setengah satu malam. Ia memutar posisi tubuhnya menghadap punggung suaminya, sejenak Nara menatap punggung itu dalam diam.
“Kapan kau pulang? Kau tau, aku menunggumu bodoh!” gumam Nara yang masih mengira Taehyun tengah tertidur dan tak mendengar ucapannya. Nara menghela nafasnya lelah. Ia terlalu lelah memang harus berperang dingin dengan pria itu.
Sejujurnya, ia sendiri tak ingin seperti ini. Tapi sikap Taehyun yang selalu membuatnya bingung. Memaksa Nara mau tak mau harus bersikap seperti ini. Ada kalanya Nara berfikir bahwa pria itu mencintainya. Setidaknya, sesekali ia merasa jika Taehyun menganggapnya sebagai istri. Tapi ketika kembali memikirkan tentang Hyeri, ia kembali merasa bahwa dirinya tak benar-benar berarti bagi suaminya.
__ADS_1
Kembali Nara memperhatikan punggung Taehyun. Perasaan rindu itu kembali menggebu. Bahkan Nara kini seperti orang bodoh yang ingin memeluk punggung itu dengan erat. Nara menggelengkan kepalanya, menepis pikiran konyol yang kini hinggap. Tapi perasaan itu semakin menguasai hingga tanpa ia sadari tangannya kini tengah menyentuh punggung Taehyun, membelainya pelan dan kemudian menyandarkan kepalanya pada bagian itu. Sedang lengan Nara menyusup di balik selimut, melingkar erat pada pinggang Taehyun.
“Maafkan aku, Taehyun-ah. Maaf, karena aku mencintaimu..” bisik Nara pelan yang nyaris tanpa suara. Gadis itu kemudian memejamkan matanya sambil masih memeluk tubuh suaminya.
Dilain sisi, Taehyun kini sedang meruntuk, saat lagi-lagi ia merasakan gelenyar yang begitu menggairahkan ketika lengan Nara melingkar dipinggangnya.
“SIAL! Gadis ini benar-benar menyiksaku!” geram batin Taehyun yang terus berpura-pura untuk tertidur dan mati-matian menahan dirinya agar tak berbalik dan membalas pelukan Nara.
.
.
.
***
.
.
.
Pagi itu Yumi sedanng bergelut dengan benda-benda dapur sambil ditemani ahjumma Hyo yang sebenarnya sedari tadi terus melarang sang Nyonya untuk melakukannya.
“Nyonya biar saya saja. Anda tak perlu memasaknya sendiri..” larang maid yang telah puluhan tahun mengabdi untuk keluarga Han itu. Ia merebut paksa panci yang tengah Yumi bawa.
“Ahjumma hari ini ulang tahun anakku. Jadi biarkan aku membuatkan sup rumput laut untuknya sebelum aku kembali ke Daegu”.
“Tapi Nyonya--”
“Sudahlah kerjakan saja pekerjaan yang lain..” ucap Yumi sambil tersenyum ramah. Wanita itu memasukkan beberapa bahan kedalam panci dan kemudian memasaknya. Sedang ahjumma Hyo masih terus berada disampingnya untuk membantu. Keduanya terlihat dekat walau hanya beberapa hari bertemu. Sikap ahjumma Hyo yang begitu baik membuat Yumi sedikit lebih tenang, ketika nanti ia harus kembali ke Daegu dan meninggalkan putrinya disini. Setidaknya ia tau Nara memiliki suami yang mencintainya. Dan seorang ahjumma yang akan menjaganya dengan baik.
“Sudah matang. Ahjumma, bisa tolong kau pindahkan kedalam mangkuk? Aku akan membangunkan Nara sebentar” pinta Yumi yang dengan segera mendapat anggukan dari sang maid.
Dengan sedikit ragu, ia berjalan masuk ke kamar itu sambil meneriakkan nama putrinya, memintanya untuk segera bangun. Namun langkah Yumi tiba-tiba terhenti, ketika ia melihat anaknya masih tertidur disamping suaminya. Yang membuat wajah Yumi bersemu merah adalah ketika kini bisa ia lihat dengan begitu jelas, jika keduanya saling memeluk dengan erat. Bahkan hampir tak ada jarak yang tersisa diantara keduanya.
Nara menyandarkan kepalanya di dada Taehyun sedang tangan gadis itu memeluk pinggang Taehyun erat. Tangan Taehyun juga membalas pelukan istrinya. Yumi menggelengkan kepalanya.
“Dasar pengantin baru.. Sepertinya mereka sudah saling memaafkan” gumamnya yang kemudian mengurungkan niatnya membangunkan Nara dan kembali ke dapur.
Nara perlahan membuka matanya ketika mendengar suara pintu kamarnya yang tertutup. Ia mengedipkan kedua kelopak matanya, menyesuaikan kadar cahaya yang dengan begitu kejam menghujami lensa matanya. Saat itu, Nara mulai menatap bayangan sosok laki-laki dihadapannya. Ia tersenyum, tak berniat untuk terburu-buru bangun dan masih begitu nyaman dengan posisinya. Ia mengeratkan pelukannya di pinggang Taehyun dan semakin merapatkan kepalanya di dada bidang suaminya.
“Kau merindukanku, humm..?”
Nara membelalakkan matanya. Dengan segera, ia melepaskan pelukannya di pinggang Taehyun dan menarik tubuhnya untuk menjauh. Tapi dengan sigap, Taehyun justru menahannya. Ia menarik lengan Nara hingga gadis itu kembali mendekat padanya.
“Apa yang kau lakukan!” gertak Nara
“Daripada memelukku diam-diam, bukankah lebih baik seperti ini Kim Nara?” Taehyun masih memejamkan matanya sambil masih menahan tubuh gadis itu dalam dekapannya.
“Kau..?!”
“Hey, kau berhutang sesuatu padaku!” kini Taehyun membuka kedua matanya, ia melepaskan pelukannya pada tubuh Nara dan perlahan menggerakkan tubuhnya untuk sedikit **** tubuh ramping istrinya.
“Yak, Han Taehyun! Apa yang sedang kau lakukan!” Nara kembali memberontak, mendorong tubuh Taehyun menjauh.
CUP~
Taehyun mencium bibir istrinya. Membuatnya diam dan menghentikan dorongan-dorongan yang tadi sempat menghujami tubuhnya agar menjauh. Sesaat, sama sekali tak ada suara yang bisa di dengar. Sampai Taehyun akhirnya melepas tautan bibirnya. Ia tersenyum menatap wajah istrinya yang bersemu merah.
“Lain kali jangan memelukku ditengah malam. Kalau kau ulangi sekali lagi, aku tak akan bisa menjamin untuk tak berbuat macam-macam! Jangan berani menggodaku, mengerti?” pipi Nara semakin memerah malu saat tau kalau semalam Taehyun belum tiur saat ia memeluknya. Gadis itu hanya bisa mengalihkan pandangannya, saat Taehyun mulai menatapnya.
__ADS_1
Tapi Taehyun justru menyukai itu. Lagi ia mengecup singkat bibir istrinya kemudian bergerak turun dari tempat tidur untuk pergi ke kantor.
.
.
.
***
.
.
.
Han’s Group, Gangnam [South Korea]
06.00 PM
.
.
Gedung Han’s Group masih seperti biasanya, menjulang tinggi dan berdiri kokoh di tengah kota Seoul yang selalu padat penduduk. Sejenak Nara berhenti di depan pelataran gedung itu dan mengamati designnya yang begitu mengagumkan. Ia tersenyum simpul kemudian melanjutkan langkahnya untuk masuk kedalam, menemui suaminya yang benar-benar gila kerja. Nara sedikit meruntuk memang ketika ia menngingat betapa bodoh suaminya itu.
“Bukankah kau seharusnya pulang cepat, Han Taehyun? Hari ini ulang tahunku tapi kau masih bekerja sampai malam? Ck, dasar suami bodoh!” umpat Nara sambil melanjutkan langkahnya kasar. Tangannya masih membawa kotak berisikan sup rumput laut yang tadi eommanya buat.
Ia memang sengaja tak memakan sup itu dulu. Ia ingin merayakan ulangtahunnya kali ini bersama dengan pria itu. Dengan suaminya, Laki-laki yang berhasil merebut hatinya. Dan karena itu, Nara rela menurunkan harga dirinya pada titik terendah dan pergi ke kantor ini. Hanya untuk menemui suaminya dan mengajaknya untuk makan malam berdua.
Nara berjalan memasuki koridor lantai 10 ruang direktur yang tampak sepi. Lagkahnya terhenti pada meja sekretaris yang terletak tepat di sebelah pintu ruang direktur yang tertutup. Nara mengernyit, saat mendapati meja itu kosong. Tak biasanya Lee Baekki meninggalkan tugasnya seperti ini. Kecuali memang Taehyun memintanya untuk pergi. Dan Nara tau itu hanya akan terjadi, ketika Taehyun sedang menerima tamu penting dan tak ingin diganggu. Nara memalingkan wajahnya, ia menatap pintu ruang direktur itu dalam-dalam.
“Apa dia sedang menerima tamu penting? Apa aku kembali saja?” gumamnya. Sedetik kemudian gadis itu menggelengkan kepalanya keras. Ia melawan kata hatinya yang terus memintanya untuk kembali. Perlahan, ia menggerakkan kakinya mendekat pada pintu. Tangannya meraih ganggang pintu dan membukanya pelan.
“Eoh..” gumam Nara kaget saat menyadari pintu itu tak dikunci. Ia berniat masuk sebelum telinganya mendengar suara seorang wanita dari dalam sana. Nara menghentikan langkahnya. Ia berdiri di balik pintu yang sedikit terbuka sambil mengintip kedalam ruang kerja Taehyun.
“Lee Hyeri..” ucap Nara saat matanya menatap sosok gadis cantik itu tengah duduk sambil melipat kedua kakinya disamping Taehyun. Keduanya terlihat sangat dekat.
“Lalu apa yang akan kau lakukan?” tanya Hyeri pada Taehyun. Pria itu tampak menghembuskan nafasnya parau. Ia menautkan kedua tangannya, kemudian merunduk seperti tengah menahan beban yang begitu berat.
“Entahlah..”
“Kau tak mungkin menjalani pernikahan ini jauh lebih lama lagi. Akhiri saja disini Han Taehyun. Kemudian pergilah ke Paris. Aku akan menunggumu disana. Akan ku siapkan semuanya..”
“Tapi apakah mengakhirinya adalah jalan yang terbaik..?” tanya Taehyun yang masih terdengar ragu.
Hyeri mengerdikkan bahunya, “Aku rasa itu yang terbaik. Aku sudah cukup bersabar, untuk membantumu. Aku tak akan bertahan seperti ini jauh lebih lama. Aku akan kembali ke paris lusa!”
“Baiklah, aku akan segera mengakhirinya!”
“Deggh..” hati Nara seperti terhantam. Sakit, itulah yang ia rasakan. Mendengar dengan telinganya sendiri bahwa suaminya akan mengakhiri pernikahan ini. Pernikahan yang di jalaninya bersamanya.
“Tidak.. Tidak..” gumam Nara tanpa suara sambil terus menggelengkan kepalanya menepis pikiran itu. Kakinya terus berjalan mundur, sebelum akhirnya berlari meninggalkan tempat itu saat kotak ditangannya terjatuh di atas lantai.
“Prangggg!!!”
.
.
.
__ADS_1
-To Be Continue-