
Karena cinta tak pernah memandang harta, status ataupun tahta.
Cinta yang tulus akan selalu ada, dalam suka maupun duka.
Dan satu yang pasti, cinta tulus tak akan pernah lekang oleh waktu..
.
.
.
My Possessive Husband
©Byunra93_
.
.
.
Taehyun menggerakkan sedikit tubuhnya, membuat Nara terpaksa harus membenarkan letak duduknya dan menatap suaminya itu dalam diam. Ia tiba-tiba menekan tombol di samping kanannya dan sedetik setelahnya ada sebuah sekat yang membatasi tempat duduk pengemudi dan tempat dimana mereka duduk saat ini. Jong in dan sang supir tak akan melihat dan mendengar percakapan yang akan terjadi selanjutnya. Membuat tempat itu menjadi ruang pribadi bagi mereka.
Taehyun bergerak mendekati tubuh Nara. Raut wajah Taehyun terlihat gamang. Matanya menggelap dan ia menggigit bibir bawahnya ragu.
“Kenapa?” tanya Nara
“Aku harus memastikan satu hal. Biarkan aku bertanya.” tuntut Taehyun.
“Bertanya? Soal apa?” sahut Nara tak mengerti.
“Bagaimana jika hari ini aku kehilangan semuanya? Kau ingat tentang perjanjian yang kita buat sebelum menikah? Alasanmu menikah denganku adalah 25% harta yang ku punya, tapi jikalau hari ini aku gagal, maka aku tak akan memiliki apapun. Aku akan kehilangan semua hak ku atas perusahaan. Apa kau akan meninggalkanku setelah ini?” Taehyun mengatakan dengan begitu cepat deret kalimat itu, hingga membuat Nara mengerjap dan cukup bingung mencerna semua ucapannya.
“A-aku..” Nara menggantungkan ucapannya. Ia mencoba menimbang semua keputusan yang akan ia ambil. Sebenarnya sudah cukup jelas. Wanita itu tak akan bisa meninggalkan Taehyun, tentu tidak. Tapi Nara paling tidak harus memberikan sebuah motivasi bagi suaminya. Taehyun mulai menggeram kesal saat Nara tak kunjung menyelesaikan ucapannya.
“Apa begitu sulit untuk menjawab pertanyaan itu, huh?” gertak Taehyun.
“Aish, kau ini kenapa selalu berteriak padaku!”
“Baiklah! Kau tau apa yang membuatku setuju menikah denganmu? Karena kau adalah Direktur utama Han’s Group. Aku berfikir jika aku menikah denganmu kau akan menyelamatkan ibuku dengan membiayai operasinya kala itu. Aku juga menjaminkan masa depan cerah melalui pernikahan ini. Jadi pada intinya aku mencintai Han Taehyun yang seorang Direktur Utama..”
Taehyun mendesis dan menggeram semakin kesal. “Jadi kau akan lari dariku atau tetap berada disisiku Kim Nara?” terdapat penekanan yang begitu jelas di tiap kata yang pria itu ucapkan. Bahkan laki-laki itu tengah mati-matian menahan emosi yang kini membakarnya.
“Apa yang akan kau tawarkan untukku?” tanya Nara angkuh.
“Ya Tuhan, Kim Nara..! Kenapa kau menjadi begitu menyebalkan!”
__ADS_1
“Aku hanya sedang bernegosiasi demi masa depan anakku kelak..” tambah gadis itu yang terdengar acuh. Hembusan nafas Taehyun yang begitu besar cukup mengutarakan betapa frustasinya pria itu saat ini.
“Baiklah. Aku bisa menjamin kehidupanmu dan anak kita kelak.”
“Bagaimana caranya? Bukankah kau tak akan bekerja pada orang lain? Kau tak suka orang lain memerintahmu, mana mungkin kau bisa bertahan berkerja di perusahaan orang lain sebagai karyawan biasa? Kau juga tak punya kemampuan, selain di bidang bisnis. Pekerjaan apa yang akan kau lakukan untuk bisa mendapatkan uang dan menghidupi ku dan bayi kita?”
“YAK..!! KAU BENAR-BENAR..!!” wajah Taehyun memerah marah.
Dan melihat hal itu Nara justru tertawa lebar.
“Hahahaha..” wanita itu sampai menepuk-nepukkan kedua tangannya saat tak lagi bisa menahan tawanya.
“Apa yang kau tertawakan Kim Nara! Apakah ini lucu?!”
Nara mengangguk dan masih belum bisa menghentikan tawanya. Ekspresi Taehyun yang tertekan dan ketakutan benar-benar terlihat lucu di matanya. Nara tak pernah melihat Taehyun seperti ini sebelumnya. Sampai akhirnya ia berhenti ketika Taehyun berdecah dan memalingkan wajahnya kembali menatap jendela disampingnya. Ia seperti tengah sengaja merajuk pada istrinya.
Nara berdeham kecil. Ia bergelayut manja di lengan suaminya
“Taehyun-ah, kau marah?” tanyanya yang jelas tak akan mendapatkan jawaban dari suaminya. Taehyun sudah terlanjur kesal dengan perlakuan wanita itu.
“Lagi, kau benar-benar sangat bodoh. Bagaimana bisa kau berfikir aku akan meninggalkanmu? Aku tak mungkin melakukannya. Kecuali jika aku ingin menyiksa diriku sendiri.”
Kali ini Taehyun membalas tatapan manik mata Nara, seolah memintanya untuk melanjutkan perkataannya. “Aku sudah terlanjur menyerahkan seluruh cinta, hati dan tubuhku. Kau pikir aku bisa pergi setelah kau membawa semua yang ku miliki. Aku mencintaimu. Tak peduli kau kaya atau miskin. Kau direktur ataupun seorang karyawan biasa. Kau telah berhasil menggerakkan seluruh hatiku untuk hanya menatapmu, untuk hanya mendengarmu.” Nara menghentikan sejenak ucapannya saat merasa semua terasa begitu menegangkan dan serius.
“Dan, anak ini juga membutuhkan seorang Ayah. Mana mungkin aku memisahkan dia dengan ayahnya hanya demi harta. Kita tak akan mati kelaparan walau kau bukan seorang presdir.” Nara tersenyum tulus.
“Seperti yang kau katakan. Aku tak memiliki kemampuan selain bisnis. Dan aku tak suka orang lain memerintahku. Jika aku kehilangan perusahaanku, bagaimana mungkin aku bisa bekerja?” gumam Taehyun yang jauh lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.
“Aku sudah terlanjur menyerahkan hidupku padamu. Susah dan senang, mari kita jalani bersama.”
Tak menjawab, Taehyun justru memeluk erat tubuh istrinya dalam dekapannya. “Kau sudah begitu terjerat dalam pesonaku rupanya” ujarnya penuh percaya diri. Nara sempat mengendus dan berniat memberontak, tapi Taehyun sama sekali tak mengijinkan hal itu. Ia hanya memeluk tubuh istrinya semakin erat, takut wanita itu akan berubah pikiran dan melarikan diri darinya.
“Semua itu tak akan pernah terjadi, Nara. Percayalah padaku. Hari ini aku pasti mendapatkan kembali apa yang seharusnya menjadi milikku. Tak akan ku buat kau menderita..”
Taehyun melepaskan pelukannya pada Nara saat dirasa mobil itu berhenti. Ia membuka sekat pembatas di mobil itu. Dan benar, kini mereka sampai di pelataran gedung Han’s Group. Di luar sana para wartawan tengah berjajar ketika melihat mobilnya berhenti. Semua orang-orang itu sibuk menyalakan mic masing-masing, mengarahkan kameranya pada pintu mobil yang terbuka. Tubuh Taehyun tampak menegang dan ia juga mengerang hebat saat supirnya membuka daun pintu di sampingnya.
“Percayalah semua akan baik-baik saja oppa..” Taehyun seketika menoleh saat mendengar kata ‘Oppa’ yang di lontarkan istrinya. Saat itulah Nara mencondongkan sedikit tubuhnya, meraih wajah suaminya untuk ia rengkuh dan dengan cepat bibirnya menyentuh daun bibir Taehyun. Mengecupnya singkat dan lembut kemudian tersenyum saat mengatakan,
“Aku mencintaimu. Aku akan menunggumu..” dan setelahnya Nara terlihat keluar saat Jong In membukakan pintu disampingnya.
.
.
.
***
__ADS_1
.
.
.
Nara terus berlajan mondar-mandir di dalam ruangan Jihyun. Ia tak henti-hentinya melenguh panjang sambil terus memperhatikan layar besar televisi di hadapannya yang kini telah menayangkan proses terjadinya rapat para pemegang saham yang memang tengah berlangsung di lantai 10 gedung ini.
Nara kembali menautkan kedua jari-jari tangannya resah saat tanpa sengaja gambar suaminya terekam dalam siaran televisi. Ia bisa melihat wajah Taehyun yang pucat dan ia tau laki-laki itu sedang dalam ketakutan yang besar hingga tak sedikitpun senyum terlihat di bibir tipisnya. Lain halnya dengan Jaehyun yang sedari tadi tampak tersenyum walau jelas senyum itu terlihat di paksakan. Lebam masih begitu terlihat di wajah tampan Jaehyun dan tadi pembawa berita juga sempat mempertanyakan lebam di wajah Jaehyun ketika memberitakan perkembangan terbaru yang terjadi disana. Nara terus berdoa untuk suaminya.
“Kau akan terus mondar mandir di depanku, Nyonya Han? Duduklah! Kumohon..” tukas Jihyun yang sepertinya tengah jengah melihat tingkah sahabatnya yang sama sekali tak bisa menyembunyikan perasaan resahnya. Sebenarnya yang membuat Jihyun jengah adalah ketika Nara terus menghalangi pandangannya dari layar televisi itu. Ia juga ingin melihat jalannya rapat. Ia bahkan ingin masuk ke dalam ruangan itu dan memperhatikan satu persatu orang yang datang. Tak ada maksud lain, selain untuk menemukan dimana keberadaan kekasih yang begitu ia rindukan. Kekasih bermata sipit yang hampir selama sebulan ini menghilang tanpa kabar. Entah apa yang membuat Jihyun yakin. Tapi ia benar-benar percaya Baekki akan datang hari ini. Laki-laki itu akan kembali.
“S-Shin Jihyun, ada apa denganmu, huh?” tanya Nara saat mendapati raut wajah sahabatnya itu terlihat begitu sendu.
“Ku mohon duduklah, Nara. Aku juga ingin memperhatikan jalannya rapat. Aku hanya ingin memastikan dia disana”
“Lee Baekki..?” tebak Nara yakin. Gadis bermarga Shin itu hanya mengangguk sejenak dan kembali fokus pada gambar berjalan di hadapannya. Nara sedikit merasa bersalah saat ia begitu egois dan bahkan sama sekali tak memperhatikan keadaan sahabatnya itu. Nara duduk disamping Jihyun, menggenggam erat tangan sahabatnya dan kembali berkonsentrasi sambil mendoakan yang terbaik bagi Taehyun.
Sementara di ruang rapat suasana terasa begitu dingin. Taehyun duduk pada bangku pertama di deretan VIP sebelah kanan, sedang Jaehyun duduk di deretan sebelah kiri bersama ibunya. Ada perbedaan jumlah pendukung yang jelas terlihat disini. Entah mengapa, tapi kursi di belakang Jaehyun terlihat penuh sesak oleh para pemegang saham. Sangat berbanding terbalik dengan bangku\-bangku di belakang Taehyun yang hanya terisi 5 baris, tidak lebih. Taehyun kembali memandang kesal kondisi dan situasi itu. Ia melihat satu\-persatu wajah dari pemegang saham yang duduk di belakang Jaehyun, mencoba merekam dan menghafalkan wajah\-wajah itu dengan teliti.
“Ku pastikan aku akan menyingkirkan mereka semua begitu aku menjadi presdir!” gumamnya pelan namun masih bisa terdengar jelas oleh Jong In.
“Dasar Penghianat!” imbuh Taehyun. Tapi wajah pria muda itu terlihat tersenyum saat matanya bertemu pandang dengan beberapa pemegang saham pendukung Jaehyun yang kini memberikan hormat padanya.
“Baiklah kami ucapkan terima kasih atas kehadian anda semua di rapat pemegang saham hari ini. Seperti yang telah di agendakan bahwa rapat hari ini akan memilih Presdir Han’s Group yang baru. Ada dua kandidat yang akan dipilih untuk mengambil alih jabatan Tuan Han Hyun Sik. Mereka berdua adalah putra Tuan Han, Han Taehyun dan Han Jaehyun. Dan untuk mempersingkat waktu marilah kita lakukan voting secara terbuka. Untuk itu silahkan mengambil kertas yang di sediakan dan silahkan menulis jumlah saham yang anda miliki dan untuk siapa suara anda di berikan.” Ujar sang moderator yang terdengar membuka voting hari itu.
Satu persatu pemegang saham mulai menuliskan nama-nama pilihan mereka dalam selembar kertas kemudian maju ke atas untuk menyerahkan hak suara mereka. Tak terkecuali Taehyun. Ia dengan sangat jelas menuliskan namanya di kertas yang ia pegang. Dan dengan rasa percaya diri yang mulai terkikis, pria itu memasukkan lembaran kertas miliknya di dalam kotak besar di atas sana.
Semua pemegang saham telah memberikan suara mereka, dan kini para pengacara tampak sibuk mengkalkulasi jumlah suara yang di dapatkan dan menuliskannya di depan sebuah papan putih yang tergantung di depan modium. Hati Taehyun mulai bergetar takut saat deretan angka disana mulai berubah dengan cepat. Hasilnya benar-benar seperti apa yang baru saja ia duga. Terjadi perbedaan yang sangat besar antara suara yang ia miliki dan Jaehyun. Bahkan jumlah suara Taehyun tak sampai setengah dari suara yang Jaehyun miliki. Ia benar-benar telah kalah telak. Ia marah, tapi terus mencoba membuat ekspresinya terlihat datar dan santai. Ia bahkan tersenyum saat sorot kamera salah satu wartawan tertuju padanya. Sang moderator kembali bersuara.
“Seperti yang kalian lihat. Di depan sini sudah terlihat jelas. Suara yang masuk pada rapat kali ini adalah sebanyak 69% dengan hasil seperti yang bisa anda lihat. Sementara bisa kami simpulkan bahwa Direktur Han Jaehyun unggul dalam voting. Bagi anda yang belum memberikan suara anda mohon untuk segera memilih karena rapat akan di tutup dalam waktu 10 menit dari sekarang.”
Sudah hampir 5 menit berlalu tapi tak seorangpun maju ke atas sana untuk memberikan suara. Itu berarti semua telah memberikan suaranya dan hasil akhirnya ia harus menyerahkan semua hak miliknya atas perusahaan pada kakak tirinya. Taehyun menghela nafas panjang dan berat. Ia semakin tertunduk pasrah. Seperti tak memiliki harapan untuk hidup.
Jam di depan sana terus bergerak mundur. Saat ini menunjukkan angka 4 menit 30 detik sebelum rapat di tutup dan hasil akhir di sahkan. Taehyun mengusap wajahnya sambil memejamkan matanya rapat. Ia terus menyebut nama ibu dan ayahnya dalam hati. Ia tak bisa melakukan apapun lagi.
“Tuhan tolong tunjukkan keajaibanmu. Ku mohon Tuhan..”
“Eomma, appa, apa yang harus ku lakukan sekarang?” itu terus terucap dari bibir Taehyun.
Kembali kenangan-kenangan indah masa kecilnya bersama kedua orang tuanya tergambar jelas dalam ingatannya kala menyebut nama itu. Ia terus mendesah saat hatinya memanggil kedua orang tuanya, berharap mereka akan datang dan menyelamatkannya. Kedua tangan Taehyun mulai bergetar resah. Sorot matanya pun mulai kehilangan fokusnya.
“BRAAAAAAKKKKK....!!” Bunyi itu memekik hebat. Taehyun terlonjak dan membuka kedua matanya terkejut.
.
.
__ADS_1
.
-To Be Continue-