
Aku tak peduli dengan kabut yang tebal..
Aku tak peduli dengan cuaca yang dingin..
Aku bahkan tak peduli dengan segala bentuk rasa sepi yang singgah..
Satu-satunya yang ku inginkan hanyalah membuatmu tau, apa itu sebuah kehilangan..
.
.
.
“My Possessive Husband”
©ByunRa93_
.
.
.
Taehyun’s House – Gangnam District [South Korea]
Saturday, Oktober 12th 2019, 08.00 AM
.
.
Gadis itu sedang berdiri di bawah guyuran shower yang sedari tadi terus menghujami seluruh bagian tubuhnya dengan air hangat. Sudah hampir 30 menit ia meghabiskan waktunya dengan mengurung dirinya dalam kamar mandi berdesign minimalis yang terletak dalam kamarnya. Sesekali ia terlihat meringis menahan perih ketika guyuran air hangat itu menyentuh titik leher hingga bahunya. Seperti ada banyak goresan luka yang kini menghiasi titik-titik itu.
Tangan pucat Nara mematikan shower, hingga kini air tak lagi menguyur tubuh putihnya. Di raihnya sebuah handuk kuning yang tadi ia letakkan tak jauh dari jangkauanya, kemudian ia lilitkan handuk itu pada tubuhnya. Ia berjalan sedikit perlahan ke arah kaca besar pada sudut kanan ruangan itu. Di tatapnya pantulan bayangan dirinya dengan teliti.
Nara mengernyit, ketika dengan jelas matanya bisa menangkap bercak-bercak berwarna merah keunguan yang terlukis di sepanjang tulang lehernya. Sebuah lebam akibat ulah bibir tipis Taehyun yang menyerangnya secara membabi buta beberapa saat yang lalu. Masih tergambar jelas di ingatan Nara bagaimana Taehyun kehilangan kendalinya. Bahkan, ia seolah masih bisa mendengar kata-kata yang tadi Taehyun ucapkan di telinganya.
“Kau istriku! Kau wanitaku! Harus berapa kali ku katakan hal ini padamu!”
“Sial! Kenapa kau membiarkannya menyentuhmu!”
Kalimat-kalimat itu secara terus menerus Taehyun ucapkan berulang-ulang sambil mendorong tubuh Nara, menghimpitnya di atas ranjangnya yang mengah dan mulai membuat tanda-tanda kepemilikannya pada tubuh gadis itu.
Sebenarnya Nara tak sebegitu menyadari akan ucapan Taehyun. Sampai beberapa detik yang lalu, barulah Nara mulai menyadari akan apa yang terjadi. Taehyun bertindak demikian, menghukumnya, hanya karena sesuatu sepele yang Nara sendiri masih belum menyadari dimana letak kesalahannya.
Hal ini berawal kerena kejadian pagi tadi. Nara bangun sedikit lebih awal, karena merasa bosan akan kegiatannya yang terus berada di dalam kamar megah milik Taehyun. Gadis itu akhirnya memutuskan untuk menghabiskan paginya untuk berada di taman, menyirami bunga-bunga mawar putih favorit nya dengan air yang ia salurkan melalui sebuah slang panjang yang memang telah di siapkan disana.
Di saat itulah Jaehyun datang dan menghampirinya. Berawal dari sapaan singkat antara kedua teman kecil itu, kemudian mereka mulai terlihat begitu dekat mana kala Jaehyun membahas masa lalu mereka. Saat-saat dimana Nara dan dirinya sering menghabiskan waktu berdua. Mulai dari pergi ke sekolah bersama, bahkan mereka sering menghabiskan waktu panjang mereka untuk duduk di taman sambil memandangi hamparan bunga-bunga mawar yang sedang bermekaran.
Saat itu dengan sedikit iseng, Jaehyun sengaja menginjak slang air yang sedang Nara pegang. Membuat air tak lagi mengalir dari sana. Nara menatapi slang di tangannya heran. Dan tepat di saat itulah, Jaehyun melepaskan injakannya yang sontak membuat air mengalir dengan deras dan membasahi tubuh Nara.
Alhasil terjadilah sedikit adegan kejar-kejaran dimana Nara dengan begitu kekanakan mengejar Jaehyun sambil membawa slang di tangannya. Ia hanya bermaksud ingin membuatnya ikut basah kuyup seperti dirinya. Namun, sialnya Jaehyun terlihat jauh lebih gesit untuk menghindar. Dengan sigap ia menarik pinggang Nara dan memeluknya dari belakang.
Untuk sejenak waktu seolah terhenti di titik itu. Baik Nara maupun Jaehyun terlihat kaget dengan hal yang memang tidak terprediksi sebelumnya. Tak bisa di pungkiri keduanya tengah sama-sama merasakan kerinduan dalam diri mereka. Hingga pelukan itu bertahan dalam waktu yang cukup lama.
Tapi sepertinya nasib buruk tengah mengintai Nara. Sungguh sial nasib gadis itu. Karena tanpa ia tau, Taehyun tengah memperhatikannya dari atas balkon kamarnya yang menghadap langsung ke arah taman belakang kediaman keluarga Han.
Sesaat setelah kejadian itu, Nara memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Meninggalkan Jaehyun dengan keadaan yang begitu canggung.
Disanalah semuanya dimulai. Nara membuka pintu kamarnya secara perlahan. Ia berjinjit dan menghampiri pintu almari dinding untuk menggesernya pelan. Mencari baju untuk menggantikan bajunya yang memang sedikit basah.
Sekilas Nara menatapi Taehyun yang terlihat sedang berbaring. Ia pikir namja itu masih tertidur, namun nyatanya Nara salah. Taehyun segera bangun dari posisinya saat Nara mulai menggeser pintu almari yang berada di sudut kanan ruangan itu.
“Darimana saja kau?” tanya Taehyun mengintimidasi.
“Eh..”
“Kau sedang berfikir untuk menghianatiku, Nara?” Sentak Taehyun dengan nada dingin khasnya.
“T-Taehyun-ah aku—“
“Kau istriku, Kim Nara! Kau wanitaku! Sejak perjanjian itu, kau milikku!” hardik Taehyun keras. Perlahan ia berjalan mendekati Nara, mencengkeram lengan gadis itu kuat-kuat dan menghempaskannya ke atas ranjang.
“T-Tae..” ujar Nara dengan nada suaranya yang terdengar bergetar ketakutan.
“Ku peringatkan padamu, kau hanya milikku! Kau istriku!” tegas Taehyun keras.
__ADS_1
“Aku tau, tapi bukan berarti kau-”
Belum sempat Nara menggumamkan pembelaan dari bibirnya, tapi Taehyun sudah lebih dulu menyambar daun bibirnya. Ia mencium Nara tanpa memberi sedikit celah bagi gadis itu untuk bernafas. Nara berulang kali berusaha mendorong tubuh Taehyun menjauh, tapi toh hasilnya nihil. Sekeras apapun ia mencoba kekuatannya sungguh tak sebanding dengan kekuatan Taehyun. Pria itu justru semakin gila, ia memindahkan ciumannya ke leher hingga bahu Nara. Mencetak tanda kepemilikannya di atas kulit putih istrinya.
.
.
***
.
.
Kepala Nara berdenyut nyeri saat potongan kejadian itu kembali berputar dalam memori otaknya bak sebuah film yang tak bisa dihentikan.
“Han Taehyun sialan!!” umpat Nara untuk kesekian kalinya. Ia *** ujung handuknya geram. Tak tau lagi hukuman macam apa yang akan Taehyun berikan padanya setelah ini. Tapi, setidaknya Nara masih begitu bersyukur karena pria itu tak bertindak lebih.
“Hey, Kim Nara keluarlah! Kau mau melewatkan sarapanmu?” ujar Taehyun dari luar kamar mandi yang masih bisa Nara dengar dengan begitu jelas.
“Aishh..!” desah Nara seolah berbisik. Ia memegangi perutnya yang terasa meronta meminta asupan makanan.
Lapar? Tentu gadis itu merasa sangat lapar, setelah kejadian beberapa saat lalu. Bahkan paru-parunya saja belum bisa berjalan dengan normal. Seolah kehilangan begitu banyak oksigen setelah pergulatannya tadi.
Tapi apa mungkin bagi Nara untuk turun ke ruang makan dengan kondisinya sekarang. Bercak merah keunguan di sekujur lehernya itu, Nara tak yakin bisa menyembunyikannya. Kecuali ia memakai syal. Dan akan lebih terlihat bodoh ketika gadis itu memutuskan mengenakan syal di dalam rumah. Terlebih lagi, musim panas lah yang sedang mengintari Seoul hari ini. Jadi, sepertinya ia memang harus merelakan sarapannya pergi begitu saja.
Nara berbalik, mengambil kimono handuk berwarna kuning dari atas gantungan dinding kamar mandinya. Perlahan ia mulai berjalan keluar dengan langkahnya yang malas.
“Cepat ganti baju dan turun. Mereka semua sudah berada di bawah.” tegur Taehyun ketika mendapati istrinya yang baru saja keluar dari kamar mandi. Nara masih diam, tak berniat menjawab. Hatinya masih begitu kesal akan perlakuan Taehyun yang selalu seenaknya.
Nara duduk pada kursi berbentuk bulat yang berhadapan langsung dengan meja rias di depannya. Dengan tenang, ia mengoleskan krim pada wajahnya tanpa memperdulikan Taehyun.
“Kau marah padaku?” tanya Taehyun yang kini sedang berdiri di belakangnya. Tangan kanan Taehyun berada pada bahu Nara, sedang mata elangnya menatapi wajah istrinya dari balik kaca meja rias.
“Bukankah ini membuatmu terlihat semakin cantik..” Taehyun menyeringai sambil memegang salah satu tanda merah pada leher Nara yang memang terihat begitu jelas.
“Aku rasa kau tak akan bisa kemanapun selama beberapa hari kedepan. Jadi cobalah menikmati harimu di dalam sini, Kim Nara. Itu hukuman dariku.”
Taehyun merunduk, ia mengecup bercak merah pada bahu kanan Nara yang sedikit terbuka.
“Han Taehyun!!” geram Nara sambil berusaha menyingkirkan lengan Taehyun dari bahunya.
ia segera berbalik, berjalan santai menuju pintu keluar sambil mendengarkan sumpah serapah yang terus Nara lontarkan untuknya.
.
.
.
***
.
.
.
“Akhirnya kau turun. Dimana istrimu, dia tak ikut makan bersama kita?” tanya Ny. Yoon yang seolah sedang mengkhawatirkan anak tirinya yang baru saja bergabung dengan mereka di ruang makan.
“Dengan kondisi seperti itu, aku rasa akan terlalu sulit baginya untuk turun.” ucap Taehyun santai sambil duduk di bangku sebelah kanan yang berhadapan dengan Ny. Yoon yang sedang duduk di sebelah Jaehyun putranya.
Masih dengan begitu santai, Taehyun membalikkan piring di hadapannya, mengambil nasi dan mulai menyantap sarapannya tanpa perlu susah payah memperdulikan tatapan heran dari seluruh pasang mata yang berada disana, termasuk pandangan Tuan Han yang kini menatapnya dalam.
“Apa yang kau lakukan pada istrimu, eoh?” tanya Tuan Kim sambil menatap putra keduanya itu dengan pandangan menelisik.
“Oh ayolah, Tuan Han. Kau seperti tidak pernah muda saja.” jawaban yang baru saja Taehyun lontarkan berhasil membuat Jaehyun menatapnya dengan dahi yang mengernyit. Ia berusaha keras mengartikan raut wajah Taehyun yang begitu mencurigakan. Namun sedetik kemudian laki-laki tampan itu mencoba menetralkan wajahnya. Membuat Taehyun menyeringai puas.
“Dia hanya sedikit kurang sehat, Appa..” jawab Taehyun puas.
Tuan Han tampak mengangguk mengerti, dan setelahnya suasana kembali hening dengan hanya menyisahkan suara tumbukan garpu dan sendok sebagai pelengkap.
Taehyun meletakkan sendok yang sedari tadi ia pegang ketika piring miliknya telah kosong. Ia kemudian mengambil sebuah piring di meja sebelahnya dan menaruh sedikit nasi berserta lauk di atasnya. Satu hal yang lagi\-lagi membuat seluruh pasang mata yang berada disana menatapnya heran. Ini sesuatu yang aneh. Ketika seorang Han Taehyun yang amat sangat dingin dan sama sekali tak peduli tehadap sekitarnya kini justru bersikap sangat peduli.
“Ahjumma..” panggil Taehyun pada salah seorang Maid yang sedang menuangkan air putih pada gelas miliknya.
“Ya, Tuan?”
__ADS_1
“Menurutmu minuman apa yang cocok untuk seseorang yang sedang tak enak badan? bagaimana dengan segelas teh?” Taehyun nampak menimbang pendapatnya.
“Aku rasa itu cocok. Ahjumma, Tolong buatkan aku segelas teh..” titahnya
“Apa itu untuk Nara?” Tanya Jaehyun mengintrupsi yang membuat semua menatapnya.
“Ya. Kenapa?”
“Nara akan lebih menyukai Coklat panas daripada segelas teh.”
“Ahjumma, buatkan saja coklat panas dan tambahkan sedikit cream, juga jangan terlalu manis. Ia tak suka sesuatu yang terlalu manis.” tukas Jaehyun yang mendapat anggukan kecil dari sang Maid. Taehyun tersenyum miring. Ia menatap Jaehyun datar.
“Sepertinya kau mengenal istriku dengan sangat baik Hyung. Apa kalian sedekat itu?”
Taehyun sedang menikmati perubahan ekspresi Jaehyun yang mendadak terlihat gugup. Ia kemudian menyeringai tajam sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan melipat kedua tangannya di depan dada. Tuan Han diam-diam juga memperhatikan Jaehyun, menunggu penjelasan dari putra yang sangat ia cintai itu dengan sangat sabar.
“I-Itu karena aku dan dia berasal dari lingkungan yang sama. Kami bersekolah di tempat yang sama, dan Nara pernah menjadi partner ku di pementasan drama”
“Ah, baguslah. Hampir saja aku salah sangka dan berfikir mungkin di masalalu kalian mempunyai hubungan lebih dari sekedar teman. Jujur saja, itu membuatku sedikit lega..”
Sebelum perang dingin itu semakin menjadi, seorang Maid tadi datang dengan segelas coklat panas yang terlihat mengepul. Taehyun segera bangkit dari duduknya, mengambil alih nampan yang sedang Maid itu bawa dan segera melenggang menaiki satu persatu anak tangga untuk sampai di kamar miliknya.
“Hahaha.. aku rasa anak itu sudah lebih dewasa setelah menikah. Syukurlah, dia lebih terlihat seperti manusia sekarang..” Tuan Han tersenyum saat menatapi punggung Taehyun yang telah menjauh. Sedang Ny. Yoon justru menatap Taehyun dengan pandangan dingin yang selalu ia tunjukkan pada anak tirinya itu.
.
.
.
-Taehyun's Room-
‘Cklek..’ pintu kamar itu terbuka. Nara menatap ke arah pintu itu dengan malas. Ia masih pada posisinya, duduk bersandar pada punggung tempat tidurnya sambil terus memainkan layar ponselnya dengan serius.
Taehyun berjalan menghampirinya dengan membawa sebuah nampan dengan kedua tangannya. Ia meletakkan nampan itu di atas nakas sebelah Nara, sedang dirinya kini duduk pada pinggiran tempat tidur di samping istrinya sambil memperhatikan raut wajah gadis itu lekat-lekat.
“Seperti itukah sikapmu pada suami yang dengan baik hati membawakan sarapan untukmu?” pantau Taehyun.
“Aku sedang tak ingin berdebat denganmu!” Nara memajukan letak bibirnya kesal sambil masih menatap layar ponselnya tanpa memperdulikan Taehyun yang masih berada disana.
“Kau pikir aku punya banyak waktu untuk berdebat denganmu? Setidaknya makanlah. Aku hanya tak ingin melihat istriku mati kelaparan..” Taehyun tersenyum dingin. Ia mengacak pelan rambut basah Nara dan mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir pink Nara yang entah selalu bisa membuatnya tergoda untuk meraupnya.
“Tsk! Apa yang kau lakukan Han Taehyun!! Kenapa kau selalu menciumku, Bodoh!! Dasar mesum!!” bentak Nara kesal.
“Hahaha..” Taehyun justru tertawa saat menatap wajah Nara yang menurutnya terlihat amat sangat manis ketika ia sedang marah.
“Kau, tetaplah dirumah. Jangan pergi kemanapun tanpa seijinku. Aku akan menemui Baekki sebentar. Ada sesuatu yang harus ku selesaikan dengannya.” ujar Taehyun yang kemudian berjalan mendekati lemari dinding nya dan megambil sebuah tuxedo berwarna hitam untuk ia kenakan di tubuhnya.
.
.
.
_To Be Continue_
.
.
.
Author's Note:
Wish you enjoy to read this story..
don't be bash..
just go away from this story if you don't like it..
.
.
.
with love,
__ADS_1
Byunra93_💕