My Possessive Husband

My Possessive Husband
Pregnant


__ADS_3

TaeRa’s Room


20.00 KST


.


.


.


Taehyun duduk di tempat tidurnya yang nyaman. Punggungnya ia sandarkan pada headboard ranjangnya, sedang matanya terpejam. Tenang dan dingin, bukankah itu memang perangainya. Tapi ada yang berbeda disini. Kali ini, pria yang selalu bertindak sesuka hatinya itu terlihat risau. Dahinya berkerut, pertanda pikirannya tengah sangat rumit. Berkali-kali ia bahkan terlihat mengurut pilipisnya.


Taehyun membuka kedua matanya saat merasakan sentuhan di pinggangnya. Tubuh itu tengah terbaring disampingnya, menatapnya dengan sebelah tangannya yang kini melingkar di pinggang suaminya. Kondisi Nara terlihat sedikit membaik. Wajahnya tak sepucat tadi. Bahkan balutan piama pink ditubuhnya membuat Nara terlihat lebih segar.


“Taehyun-ah..” panggilnya manja. Tangannya semakin erat memeluk pinggang suaminya. Bahkan kini kepalanya ia sandarkan di dada bidang Taehyun.


“Jangan menggodaku, Nara..” ujar Taehyun datar. Namun ia sama sekali tak bergerak atau mencoba menjauhkan tubuhnya dari Nara.


“Aku tau kau masih khawatir pada aboji”


“Hari ini adalah hari yang begitu panjang. Banyak kabar buruk yang ku dengar. Kau tau, aku lelah..” Taehyun membelai lembut helaian rambut panjang Nara dan mencium puncak kepala istrinya sayang.


“Sebenarnya ada sesuatu yang juga ingin ku beritahukan padamu”


“Apa itu sebuah kabar baik? Aku tak ingin mendengar berita buruk lagi..”


Nara kembali terdiam, tak sedikitpun memberikan jawaban. Ia bangkit dari posisi tidurnya dan meraih amplop putih di atas nakasnya. Ia menatap Taehyun lagi dan kemudian tertunduk saat tangannya mengulurkan ampolop itu ke arah suaminya.


“Aku tak tau bagimu ini kabar baik atau justru sebaliknya. Aku hanya merasa aku harus memberitahumu tentang itu.” Ujar Nara lirih, syarat akan keraguan.


“Sebenarnya ada apa ini?”


“Tadi aku pergi memeriksakan tentang kesehatanku dan itulah hasilnya”


Cepat-cepat Taehyun meraih amplop putih di tangan Nara dan membukanya gusar. Ia membaca deretan kalimat disana dengan begitu hati-hati dan terus mengulang-ulang baris terakhir di selembar kertas yang tengah ia pegang.


“Dokter bilang aku sedang hamil..” jelas Nara sekali lagi ketika melihat ekspresi wajah Taehyun yang tampak terkejut saat mengetahui hasil pemeriksaannya.


“Sejak kapan?” tanya Taehyun singkat. Raut wajahnya sulit untuk diartikan. Benar-benar sangat sulit untuk sekedar dibaca dan dimengerti.


Nara masih tertunduk sambil memilin ujung selimut putihnya. “Sudah masuk minggu keenam..” gumamnya lirih


“Harusnya kau mendengarkanku saat ku suruh kau memeriksakan kesehatanmu! Kau selalu saja seperti ini! Kapan kau akan patuh dan mendengarkan ku sebagai suamimu, huh!”


“K-Kau marah? Kau tak suka aku hamil?” jawab Nara sedih.


“Bukan begitu, Nara. Kau tau ini yang selama ini ku harapkan.”


“Lalu kenapa kau membentakku?”


“Maaf. Bukan begitu maksudku. Aku hanya mengkhawatirkan kondisimu. Kalau saja aku tau kau sedang hamil, aku tak mungkin membawamu berlari seperti tadi. Kau tau itu bisa sangat berbahaya. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada kandunganmu?” terang Taehyun sambil memeluk dan membelai helaian rambut panjang istrinya yang terurai.


“Apa yang dokter katakan? Bagaimana kondisi bayi kita?”


“Baik-baik saja. Pada triwulan pertama mual adalah gejala yang wajar. Dokter Kim hanya memberiku vitamin”


“Harusnya kita pergi bersama. Kenapa tak memberitahuku?”


“Kau sedang mengkhawatirkan kondisi aboji, tak mungkin aku justru memintamu berada disampingku..”


Taehyun melepaskan pelukannya ditubuh Nara. Ia menatap wajah teduh itu tajam dan penuh peringatan.


“Lain kali jangan menyembunyikan apapun lagi dariku. Apapun yang kau rasakan, apapun yang kau pikirkan, katakan semuanya padaku. Kita ini satu, Nara. Kita sudah saling mengikat diri dalam satu janji setia pernikahan. Apapun yang kau rasakan, aku juga harus merasakan hal yang sama. Apapun yang menjadi gundahmu juga akan menjadi gundah untukku. Kita sudah memutuskan untuk saling berbagi. Aku tak ingin hal semacam ini terulang kembali---”


Taehyun belum menyelesaikan ucapannya, tapi Nara buru-buru melepaskan pelukan Taehyun di tubuhnya. Ia berbalik menatap suaminya dan begitu saja merengkuh bibir tipis Taehyun untuk ia kecup. Kemudian setelahnya, ia tampak merunduk menyembunyikan rona merah di pipinya. Ini jelas bukan dirinya. Harga diri yang selama ini ia junjung tinggi begitu saja runtuh ketika ia melakukan tindakan-tindakan bodoh yang memalukan. Lain hal nya dengan Taehyun yang justru **** senyum simpul di bibirnya ketika menatap tingkah istrinya yang kian hari semakin mengejutkan.


“Jangan menatapku seperti itu” protes Nara yang mulai risih akan tatapan Taehyun yang terus melihatnya aneh.


“Kenapa kau selalu mengejutkanku seperti ini? Tiba-tiba memelukku, menciumku, apa lagi yang akan kau lakukan nanti humm..?”

__ADS_1


“Kau pikir aku suka? Jangan berfikir itu adalah keinginanku. Salahkan saja dia..” Nara menunjuk perutnya yang masih terlihat rata. Dengan bibirnya yang sudah ia majukan beberapa senti dari letak sewajarnya.


“Sepertinya dia sangat mencintaiku. Pasti dia begitu mirip denganku kelak” Taehyun menyentuh perut Nara dan mengusapnya lembut.


“Anio. Aku tak ingin anakku menjadi seorang yang dingin dan seenaknya sepertimu. Dia hanya akan menjadi seorang anak yang baik dan cantik seperti aku. Dia akan menjadi gadis lugu dan manis. Mirip dengan ibunya..”


“Ibunya? Maksudmu wanita kejam yang selalu menindas suaminya? Memelototkan matanya dan mengumpat tak jelas ketika suaminya menciumnya?” goda Taehyun lagi. Wanita itu terlihat mengerucutkan bibirnya kesal.


“Kapan aku seperti itu?” elak Nara tak mau mengalah.


“Kau lupa bagaimana sikapmu di awal pernikahan kita? Kau selalu menolak untuk ku sentuh!”


“Dan aku tak akan melakukan hal itu kalau saja kau tak bertindak seenaknya. Ah, satu lagi. Aku tak akan melakkukan hal itu kalau saja kau buang segala pikiran kotor di otakmu!” sergah Nara.


“Kalau ku lakukan apa yang baru saja kau katakan, bisa ku pastikan bayi ini tak akan berada di rahimmu sekarang Kim Nara.. Paling tidak kau harus berterima kasih dan bersyukur karena pikiran kotor ini, Tuhan memberikan sebuah anugrah terindah dalam hidup kita.”


“Cahh..” Nara semakin mengerucutkan bibirnya ketika merasa dirinya semakin tersudutkan.


“Baiklah kau menang..” sehebat apapun mereka berdebat inilah yang akan terjadi. Nara harus selalu menelan sebuah pil pahit ketika lagi dan lagi suaminya itu selalu memenangkan pertandingan adu mulut antara mereka. Keduanya tertawa bersamaan, menyadari betapa kekanakan dan bodoh sikap mereka.


“Nara..” pantau Taehyun tiba-tiba yang berhasil mengintrupsi gelak tawa yang ada. Wajah itu kembali mendingin seiring dengan kedua tangannya yang menyentuh bahu Nara.


“Kenapa?” Nara mengedipkan matanya bingung.


“Dengarkan aku baik-baik. Untuk sementara jangan beritahu siapapun tentang ini. Keadaan sedang tak dapat di prediksi sekarang. Dengan kejadian yang menimpa aboji secara tiba-tiba, kita tak akan tau apa yang akan terjadi nanti. Jadi tetap rahasiakan ini. Aku hanya tak ingin seseorang nantinya akan berniat buruk dan mencelakakan bayi kita. Dia adalah hal paling penting dalam hidupku. Aku mohon jaga dia, Nara..”


Nara mengangguk. Agaknya wanita itu cukup mengerti akan perasaan suaminya saat ini. Ia tau betapa Taehyun tengah mencoba untuk bertanggung jawab dan melindungi keluarga kecilnya.


“Aku tau. Dia bukan hanya milikmu. Dia juga milikku. Aku ini ibunya, mana mungkin ku biarkan dia terluka. Aku bahkan bersedia mengorbankan nyawaku jika memang itu untuknya. Untuk bayi kita..”


Di detik yang sama Taehyun merengkuh tubuh Nara. Memeluknya erat dan seolah berterimakasih atas segala hal yang telah ia lakukan.


“Terima kasih, Nara. Terimakasih..” ucapnya berulang-ulang sambil mengelus punggung istrinya lembut.


.


.


.


.


.


.


Pagi itu ia terbangun. Matanya masih mengerjap, berusaha menyesuaikan korneanya dengan ribuan cahaya yang menghujam. Dengan dahi yang mengernyit, Nara menggeser sedikit tubuhnya, menatap tempat disampingnya yang kosong. Tanpa ia sadari tangannya seolah tergerak otomatis untuk menyentuh bagian perutnya yang masih rata dan mengelusnya penuh cinta. Nara tersenyum. Ia memang masih belum benar-benar biasa atas kehidupan lain yang kini tumbuh dalam dirinya. Tapi rasa itu. Sebuah rasa dimana ia benar-benar mengerti akan kodratnya sebagai seorang wanita sempurna, membuatnya begitu bersyukur atas semua anugerah yang Tuhan berikan.


Ya, tak ada yang lebih baik dari Tuhan. Nara tak pernah merasa dirinya layak. Ia bahkan bukan sosok istri yang baik bagi suaminya. Tapi Tuhan begitu murah hati memberinya sebuah hadiah terindah, memberinya sebuah kepercayaan untuk menjadi seorang ibu yang akan bertanggung jawab penuh atas pertumbuhan janin di kandungannya. Sungguh wanita itu bersyukur atas semua yang ia miliki. Bayangan-bayangan akan sosok kecil yang berlarian menghampirinya. Bayangan akan suara tangis yang akan menggema disana membuat naluri keibuan dalam dirinya meluap-luap. Ia bahagia, sungguh tak ada hal yang lebih membahagiakan daripada itu.


Nara refleks memegangi mulutnya saat rasa mual itu kembali menghinggapinya. Secepat yang ia bisa ia bangkit dari tidurnya dan berlari ke arah pintu kamar mandinya. Di ketuknya daun pintu itu keras dan menuntut sambil meneriakkan nama Taehyun yang memang tengah berada di dalam sana.


“Taehyun-ah, cepat..” serunya. Mual itu kian menjadi hingga ia semakin sulit untuk sekedar membuka mulutnya dan berteriak.


“Han Taehyun...!!” panggilnya lagi. Tapi masih belum ada sahutan dari Taehyun. Atau mungkin Taehyun tak mendengar suara istrinya di luar sana.


Nara yang tak lagi bisa menahan rasa mual itu. Ia butuh pelepasan secepat mungkin. Segara! Dan ia memutuskan untuk menggunakan kamar mandi lain di lantai dua. Ia berjalan cepat, sedikit berlari kecil saat keluar dari kamarnya. Satu tujuannya hanyalah berjalan sampai ke ujung tangga dan berbelok ke arah kiri, tempat kamar mandi di lantai itu. Tangannya terus membungkam bibirnya yang terasa penuh.


Jaehyun baru saja keluar dari kamarnya kala itu, dan ia cukup khawatir melihat wajah pucat adik iparnya yang terlihat tak sehat. Ia mencekal lengan Nara, memaksanya berhenti di depan kamarnya dan menatapi wajah Nara yang aneh.


“Nara, kau kenapa? Kau sakit?” tanya Jaehyun yang kini tengah menyentuh dahi Nara untuk merasakan suhu tubuhnya.


Nara tak bisa menjawab, ia tak mungkin membuka mulutnya sekarang. Jadi yang ia lakukan hanya menggelengkan kepalanya sambil melambaik-lambaikan sebelah tangannya. Ia mencoba melepaskan cekalan Jaehyun di pergelangan tangannya dan berlari ke kamar mandi, tapi lagi-lagi Jaehyun terus mencoba menahannya.


“Katakan padaku apa yang terjadi? Kenapa wajahmu terlihat pucat, Nara..?”


Jawaban yang Nara lontarkan tetap sama. Hanya sebuah gelengan kepala dan lambaian tangan yang menyatakan sebuah penolakan.


“Nara-ah, kau ini kena----“ Jaehyun belum sempat menyelesaikan ucapannya, tapi Nara sudah menarik paksa lengannya dan menerobos masuk kedalam kamar Jaehyun yang tadinya tertutup rapat. Ia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya.

__ADS_1


‘Hoeeekk..’ suara itu terdengar cukup jelas dari dalam kamar Jaehyun. Membuat sang pemilik kamar merasa khawatir dan kembali masuk ke dalamnya. Pintu kamar mandi itu terbuka lebar. Perlahan Jaehyun melangkahkan kakinya mendekat. Ia berhenti sejenak di pinggiran pintu, memperhatikan kondisi Nara yang terlihat semakin pucat. Jaehyun menyentuh punggung Nara, menepuk\-nepuknya pelan, membantu pelepasan wanita itu yang tampak menyiksa.


Pandangan Jaehyun mendadak menjadi begitu kosong. Pikirannya begitu cepat mencerna keadaan. Sejujurnya inilah yang selama ini selalu ia takutkan. Melihat wanitanya, melihat orang yang masih begitu ia cintai dan ia harapkan untuk menemani sisa hidupnya, telah benar-benar menjadi milik orang lain. Semakin jauh darinya dan tak mungkin lagi untuk ia kejar. Dan kalau memang prediksinya kali ini benar, maka akan ada jarak yang begitu besar yang memisahkan antara dirinya dan Nara. Sebuah jarak lebar yang membuatnya dan Nara semakin jauh hingga tak akan ada lagi kenangan diantara mereka.


Suara gemericik air yang menyala membuat Jaehyun tersadar dari lamunannya. Ia menatap Nara yang kini tengah membasuh wajahnya dengan guyuran air dingin yang mengalir ditangannya.


“Maaf. Aku mengotori kamar mandimu. Aku benar-benar minta maaf.” sesalnya tanpa berani menatap wajah Jaehyun yang masih berada dihadapannya. Jaehyun diam. Ia masih mengamati wajah Nara dalam-dalam. Hatinya bergetar ketakutan akan prediksi yang ia yakini benar.


“Nara, apa kau selalu seperti ini?” tanya Jaehyun datar. Ia masih tak merubah ekspresi dan letak tubuhnya berdiri.


“Ya. Akhir-akhir ini aku sering merasa mual dan pusing” Jawab Nara sekenanya. Wanita itu terlihat sibuk membasuh kembali bibirnya yang masih berbekas. Ia tak menyadari perubahan ekspresi yang terjadi di wajah tampan Jaehyun.


“Kau sedang hamil?!” tanya Jaehyun tegas. Nara sontak berbalik dan membelalakkan matanya terkejut. Ia baru saja menyadari bahwa dirinya sendiri baru saja membocorkan rahasia besar itu. Secara tidak langsung ia baru saja mengatakan bahwa dirinya memang sedang hamil pada Jaehyun.


“O-Op-Oppa---“


“Sudahlah, dari matamu aku tau. Kau tak pernah bisa berbohong dariku, Nara..”


Sulit bagi Jaehyun sekedar menelan salivanya. Ia begitu terpukul hingga jari-jari tangannya ikut bergetar. Sesak terasa di dadanya, membuatnya kembali tampak lemah dan marah. Cepat-cepat ia berbalik dan pergi meninggalkan Nara yang masih berdiri disana.


“Oppa..” Pangil Nara lagi. Ia berusaha mencekal lengan Jaehyun dan memintanya berhenti sejenak hanya untuk mendengar penjelasan darinya. Nara sendiri tak yakin kenapa ia merasa harus memberikan penjelasan. Ia juga tak tau kenapa seolah kini ia bisa merasakan perasaan sakit dari sorot mata Jaehyun.


“Oppa, ku mohon..” ujarnya lirih.


Ya, Jaehyun memang berhenti setelah mendengar panggilan itu. Sekalipun Jaehyun ingin terus berlalu. Sekalipun logikanya jelas menolak untuk mendengarkan, tapi nyatanya tubuhnya masih memiliki sebuah reaksi yang berlebihan akan sentuhan-sentuhan Nara. Ia menatap tangan Nara yang kini berada di lengannya.


“Kau ingin mengatakan sesuatu?”


Nara tertunduk. Ia mencoba berfikir tentang apa yang ingin ia katakan pada laki-laki itu. Sebenarnya ia sendiri juga bingung. Yang ia tau, ia hanya tak ingin melihat kemarahan di wajah Jaehyun.


Jaehyun tersenyum sinis. Ia terdengar mendesis menahan perih di ulu hatinya dan kembali mengamati wajah cantik Nara.


“Kau tak akan meminta maaf padaku bukan karena kau hamil..”


“Oppa..”


“Sudah ku duga akn begini akhirnya. Kau ingat dulu kita pernah berjanji untuk saling bersama. Kita telah berjanji untuk tak saling meninggalkan dan melepaskan. Kau selalu berfikir jika akulah yang melanggar janji itu, karena dulu aku meninggalkanmu dan pergi ke Amerika untuk melanjutkan kuliahku. Tapi kau lihat, pada kenyataannya bukanlah aku yang melanggar semua janji kita. Aku masih disini. Aku masih selalu mencintaimu dan menggenggam erat cintaku untukmu. Kau lah yang melepaskannya. Kau lah yang mengakhiri semuanya. Dengan cara seperti ini. Kau tak tau bagaimana perasaanku.” Jaehyun menyentuh dagu Nara. Membuatnya menatap kedua manik matanya yang kini terlihat menatap nanar.


“Kita pernah berjanji untuk saling mengerti. Untuk saling memahami. Tapi selama ini hanya aku yang selalu mencoba mengerti dan memahamimu. Kau tak pernah mencoba untuk melakukannya Nara.”


“Oppa maaf..”


“Tak ada yang perlu di maafkan. Ini adalah sebuah takdir. Apa yang terjadi antara aku, kau dan Taehyun adalah sebuah takdir dari kesalahan generasi sebelumnya. Kita terikat oleh sebuah benang kusut yang tak akan pernah berakhir. Ayah, Ibuku, dan ibu Taehyun telah memulainya, dan jika kita tak mengakhiri semua ini sekarang, mungkin kesalahan ini akan terus berlanjut pada generasi selanjutnya. Kau dan aku, kita tak boleh terikat dalam hubungan seperti ini. Cintaku padamu adalah sebuah kesalahan. Dan sulit ataupun tidak, aku mau ataupun tidak semua ini harus di akhiri..” Jaehyun menengadahkan kepalanya, hatinya kembali terasa sakit.


“Satu yang harus kau tau. Aku dulu pernah mencintaimu dengan seluruh hati yang ku punya. Bahkan hingga aku mengucapkan kata-kata ini sekarang, cintaku padamu masih lah sebuah perasaan yang tak berubah.”


“Tapi Hari ini aku melepaskanmu. Anggaplah tak pernah ada jalinan apapun diantara kita. Kita mulai semuanya dari awal. Kita mulai dari saat kita tak pernah saling mengenal. Bagiku saat ini kau hanyalah istri dari adikku. Ibu dari keponakanku” Jaehyun benar-benar melepaskan genggaman Nara di lengannya. Ia kemudian berjalan cepat meninggalkan gadis itu yang masih berdiri mematung di kamar mandinya.


“Oppa..” gumamnya lirih.


Nara berjalan keluar dari kamar mandi di kamar Jaehyun. Langkahnya terlihat berat dan gamang. Ada sesuatu yang hilang di dalam sana. Hatinya terasa hampa. Tak bisa ia pungkiri, Jaehyun adalah sosok laki\-laki yang selama ini ia cintai. Paling tidak Nara dulu pernah benar\-benar mencintai laki\-laki itu sebelum ia memutuskan untuk menikah dengan Taehyun. Jaehyun bukan hanya sosok pria bagi Nara, tapi ia sudah seperti seorang pelindung, seorang kakak yang selalu ada disampingnya. Kakak yang selalu menggenggam erat tangannya dan memberikan kekuatan baginya untuk bertahan di tengah sulitnya kehidupannya selama ini.


Jaehyun jauh seperti belahan Jiwanya, yang akan selalu ada sekalipun ia tak peranh memperhatikannya. Ketika sosok itu mengatakan ia melepaskannya, seperti ada sebuah tempat kosong yang sedikit banyak mengusik ketenangannnya.


Kini wanita itu berada di kamar Jaehyun. Ia berniat segera keluar dan kembali ke kamarnya tanpa memikirkan hal ini lebih jauh. Tapi langkah Nara terhenti ketika pandanngannya menatap nakas disamping tempat tidur Jaehyun. Disana, ia melihat foto itu terbingkai dengan indah. Fotonya bersama Jaehyun dulu. Di foto itu Jaehyun terlihat tersenyum tulus sembari memeluk bahu Nara yang juga tampak bahagia.



Hati Nara mencelos. Kenapa semua jadi seperti ini..?


“Nara..” suara panggilan Taehyun terdengar memekik di luar sana. Nara terlonjak kaget dan melepaskan bingkai foto yang berada di tangannya. Matanya membulat menatap bayangan sosok suaminya yang kini tengah mengamatinya dari ambang pintu.


“T-Tae...”


.


.


.

__ADS_1


-To Be Continue-


__ADS_2