
Tak seorang pun mampu melawan takdir yang telah Tuhan gariskan.
Bahkan terkadang kita merasa itu tak adil.
Namun, Tuhan selalu memiliki maksud lain di balik semua kejadian..
Sekalipun kita tak lagi bersama,
Sekalipun aku harus melepas semua kenangan indah yang telah kita rajut bersama.
Ada satu hal yang tak akan pernah berubah di hidup ini..
Jasad mu mungkin tak lagi mampu ku lihat,
Tapi semua kenangan kita akan selalu tumbuh dalam hatiku.
Cause You're my everything...
.
.
.
This Story Begins..
“Big Choices”
©ByunRa93_
.
.
.
"Toloooonggg...!!"
"Ya Tuhan, siapapun ku mohon tolong anakku....”
“Arrrrggghhh..."
Jerit teriak seorang wanita terdengar memekik keras dari ruang tamu kediaman megah yang nampak sepi itu. Bibi Hyo sedang berada di ruang tamu, masih membawa dua kantong plastik besar berisikan sayur\-sayuran, buah, dan berbagai belanjaan lain untuk persediaan keluarga itu selama satu minggu.
Ia baru saja berjalan masuk dan menutup pintu di ruang tamu saat mendengar suara Nara yang menjerit dan merintih. Wanita tua itu tampak panik. Ia yakin itu tadi suara Nara. Ya, suara Nara yang tengah merintih kesakitan. Cepat-cepat ia meletakkan kantung plastik belanjaannya di sembarang tempat. Rasa khawatr begitu menguasai dirinya hingga ia secara refleks berlari ke ruang tengah.
"Astaga, Nara..." teriak Bibi Hyo ketika melihat wanita itu terbaring kesakitan dengan mata yang hampir terkatup. Tangan Nara masih mendekap erat perutnya, sementara darah tak berhenti mengalir di kakinya.
"Nara.. Kim Nara! Kau mendengarku...?" panggil Bibi Hyo sambil meletakkan kepala Nara di pangkuannya dan menepuk-nepuk pelan pipi chuby wanita itu untuk mengembalikan kesadarannya yang perlahan mulai menghilang.
"Nara, ku mohon sadarlah.”
“Bangun Kim Nara, bangun..."
Bibi Hyo melihat genangan darah yang sudah mengalir banyak di bagian bawah tubuh Nara. Ia panik, bingung dan tak bisa menahan air matanya yang mengalir turun.
"JINDO!! JEON JINDO!!" teriak bibi Hyo kalut.
Ia terus memanggil-manggil nama supir pribadi Nara, yang baru saja datang bersamanya. Laki-laki bernama Jindo itu datang, ia melihat bibi Hyo dan Nara disana dan langsung berlari menghampiri keduanya.
"Apa yang terjadi bibi?" tanyanya.
"Cepat! Cepat kau telpon ambulan!"
"Y.. Ya?"
"AMBULAN, JEON JINDO!! CEPAT!!" Bibi Hyo membentak tak sabar.
Ia ribuan kali lebih panik dari Jindo. Sebelah tangannya menggenggam tangan Nara, sedang tangannya yang lain masih menepuk-nepuk pipi Nara agar wanita itu tersadar. Jindo langsung berdiri menuju dimana telpon di rumah itu di letakkan. Ia melakukan tugasnya, segera menghubungi ambulan.
Saat itu Nara mulai berusaha membuka matanya. Ia mendengar suara-suara Bibi Hyo yang terus memintanya untuk bertahan. Suara yang jelas terdengar begitu khawatir. Berhasil. Usaha wanita itu agaknya tak sia-sia. Nara berhasil membuka sedikit matanya, menatap bibi Hyo dengan mata sayu yang hampir tak memiliki tenaga.
"Bibi..." panggilnya hampir tak bersuara.
"Iya, Nara. Aku disini.." Bibi hyo bisa merasakan tangan Nara yang ia genggam terasa mengerat. Wanita itu berusaha membalas genggaman tangannya.
"Bibi ku mohon selamatkan putriku" katanya. Air matanya tampak mengalir, lolos melewati matanya.
"Nara, bertahanlah. Dia akan baik-baik saja!"
Nara menggeleng. Ia tau itu hanya omong kosong. Ia yang merasakan. Ia yang paham betul akan rasa sakit yang kini menderanya. Ia bahkan tak lagi bisa merasakan pergerakan Airin di dalam sana. Yang bisa ia cerna kini hanya rasa sakit. Rasa sakit yang sangat mengoyak bagian perutnya.
"Aku tak bisa bibi. Aku tak bisa..." dan saat Nara mati-matian berusaha mengatakan kalimat itu tangisanya semakin tak terbendung. Bayangan-bayangan indah akan kenangannya bersama Airin tergambar jelas di matanya. Saat-saat pertama ia bisa merasakan pergerakan anak itu, saat-saat pertama ia merasakan bagaimana menyenangkan menjadi seorang ibu. Tidak. Nara tak bisa kehilangan putrinya. Ia tak akan pernah bisa.
Dan hati wanita itu semakin teriris perih mana kala sekelebat bayangan Taehyun terbayang di benaknya. Bagaimana Taehyun selalu membelai perutnya, mencium dan membisikkan kata-kata penuh cinta pada putrinya di dalam sana. Bahkan laki-laki itu sudah banyak berkorban dan berubah hanya demi Airin. Ia tengah mempersiapkan dirinya untuk menjadi seorang ayah yang baik, tapi apa yang terjadi kini?
Bayangan buruk akan kehilangan seorang putri yang begitu didambakan menghantui Nara. Ia memang tak bisa berkata banyak. Rasa sakit menghalanginya untuk berucap. Tapi jauh dalam hatinya ada sebuah permohonan dari seorang ibu agar anaknya bergerak, agar anaknya bertahan dan kuat.
"Kumohon..." gumam Nara lirih. Ia menyentuh perutnya, mencoba membangunkan Airin di dalam sana yang benar-benar tak lagi terasa pergerakannya.
"Bibi..." panggil Nara sekali lagi. Wanita tua disampingnya itu segera membalas panggilan Nara dengan menggenggam erat tangannya.
__ADS_1
"Ya, Nara.."
"Bibi, katakan pada Taehyun untuk menyelamatkan Airin. Airin harus hidup bibi!"
"Apa yang kau katakana, Nara?"
"Ku mohon bibi. Aku sudah tak sanggup lagi..."
Nara memejamkan matanya setelah itu. Kehilangan kesadaran yang sebelumnya ia paksakan dan tak lagi mendengar suara-suara di sampingnya yang terus menggumamkan namanya.
.
.
.
Suara ambulan terdengar di luar sana. Jindo datang dengan diikuti oleh beberapa petugas medis yang membawa serta peralatan mereka. Dengan sigap kedua perawat laki-laki itu mengangkat tubuh Nara dan membaringkannya di atas bed dan segera membawa wanita itu menuju mobil putih yang terparkir di luar.
Jindo segera mengikuti, sementara bibi Hyo justru berlari ke sudut rumah dan menyambar gagang telepon yang tergantung disana dengan panik. Jari-jari tangannya yang bergetar segera menekan deret angka pada telpon yang sudah ia hafal betul dan menunggu dengan cemas nada sambung yang beberapa kali berdering nyalang.
"Ya bibi, ada apa?" saat suara itu masuk di gendang telinganya, manik mata bibi Hyo tampak benar-benar bersyukur. Namun air mata di pelupuk matanya masih tak bisa berhenti.
"Taehyun-ah..." suara isakan wanita tua itu terdengar begitu menyayat. Suaranya bergetar dan terdengar putus-putus.
"Bibi, ada apa? Apa yang terjadi?"
"Taehyun-ah, maafkan aku..."
"Bibi, katakan dengan jelas!" bentak Taehyun yang semakin panik.
"Nara.."
"ADA APA DENGAN NARA..?"
"Dia berdarah."
"Nara jatuh dari tangga. Dia berdarah dan tak sadarkan diri.."
"APA?!"
"Kami akan membawanya ke rumah sakit."
"Baiklah aku tau. Aku kesana sekarang!"
Sambungan telepon itu terputus begitu saja. Taehyun panik. Wajahnya memucat dan ia segera berlari keluar dari ruangannya dengan wajah yang sulit untuk di baca. Baekki yang tadinya berdiri di samping sang presdir, ikut berlari mengejarnya walaupun laki\-laki itu tak tau apa yang tengah terjadi.
Taehyun berada di lobby, ia jelas mendengar teriakan Lee Hyeri yang sedari tadi memanggilnya. Ia juga tak peduli dengan keberadaan tuan Hwang disana. Tidak, prioritasnya saat ini bukanlah tentang bisnis dan perusahaan. Ia tak peduli. Laki-laki itu langsung masuk ke dalam mobil putih miliknya, dan duduk pada kursi pengemudi.
Saat itu Baekki sempat terlihat bingung. Ia menghalangi laju mobil Taehyun. Kemudian berlari membuka pintu penumpang dan melompat masuk ke dalam sana. Taehyun sempat berdecak kesal sejenak, tapi ia kemudian menginjak pedal gas mobilnya dalam-dalam dan melaju cepat di jalanan.
"Diamlah!!" sentak Taehyun.
"Kalau kau ingin mati, matilah dengan dirimu sendiri jangan membawaku bersamamu!"
"Kau sendiri yang masuk ke dalam mobilku!"
Baekki menghela. Ya, dia lah yang bodoh mau ikut bersama pria gila ini. Harusnya Baekki tak begitu setia dan loyal pada atasannya. Jadi ia tak perlu membahayakan nasibnya seperti ini.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Mau kemana kita?"
"Rumah sakit" satu kata singkat yang Taehyun lontarkan, namun mampu membuat sekretaris berpikiran luas itu mengerti. Baekki seketika diam. Ia sigap mengeluarkan ponselnya dan menghubungi kekasihnya.
"Jihyun-ah, kau dimana?" tanya Baekki dingin.
"Kirimkan seorang supir ke Daegu. Bawa tuan dan nyonya Kim ke Seoul. Sekarang!"
"Dan hubungi Jongin. Minta dia memberitahu tuan dan nyonya Han, jika Nara sekarang berada di rumah sakit." Baekki mendengar kesiapan dari bibir Eunra dan ia jauh lebih merasa tenang sekarang.
"Aku tau. Terimakasih, sayang.." ujarnya sebelum mengakhiri panggilannya.
Taehyun menghentikan mobilnya asal, berteriak pada Baekki untuk memarkirkan benda itu. Sementara dirinya berlarian panik masuk ke dalam rumah sakit. Baekki terdiam, mengumpat keras dalam hatinya dan terus mengoceh akan sikap atasannya yang selalu seenaknya. Laki\-laki bermata sipit itu bermonolog tak jelas dan kemudian menjalankan perintah presdirnya yang tak terbantahkan.
Dilain sisi Taehyun langsung menuju ruang gawat darurat. Ia melihat bibi hyo tengah menangis disana. Panik. Laki-laki itu menghampiri bibi Hyo. Ia mencengkeram keras kedua lengan wanita tua itu dan menatapnya marah.
"Apa yang terjadi pada Nara?" tanyanya seduktif. Namun Bibi Hyo hanya dapat menggeleng, menangis dan tanpa berani menjawab.
"BIBI!!" sentak Taehyun kalut sambil mengguncang keras tubuh bibi Hyo.
"Maafkan aku Taehyun-ah.”
“Jelaskan apa yang terjadi padaku, bibi!” bentak Taehyun tak suka.
“Nara terjatuh dari tangga. Dia mengalami pendarahan dan tak sadarkan diri.."
Di tengah penjelasan yang bibi Hyo berikan, pintu ruangan putih itu terbuka. Dokter Shin dengan jubah putih dan masker yang menutupi setengah wajahnya itu keluar dari sana dan segera menghampiri Taehyun.
"Dokter.." panggil laki-laki itu penuh kesakitan.
Dokter Shin menggeleng. Dia menyentuh tangan Taehyun yang mencengkeram erat lengan bibi Hyo dan berusaha menghentikannya.
"Bagaimana kondisi, Nara?"
__ADS_1
"Terjadi pendarahan hebat. Benturan keras di area perutnya membuat air ketubannya pecah dan itu berakhibat buruk pada kondisi sang bayi. Bayinya mengalami distress pernafasan yang bisa berakibat fatal. Saat ini detak jantung bayinya sangat lemah dan sudah beberapa kali kami kehilangan detak jantungnya. Kita harus segera melakukan operasi untuk menyelamatkan bayimu."
"Kalau begitu apa yang kau tunggu? Cepat lakukan!"
"Tapi Nara begitu lemah. Tekanan darahnya sangat rendah, dan dia kehilangan banyak darah saat di bawah kemari. Kondisinya tak memungkinkan untuk diadakan operasi besar."
"Apa maksudmu? Apa yang sedang kau coba katakan!" Ya, Taehyun membentak. Ia tau kemana arah pembicaraan dokter ini.
"Kau harus menentukan mana yang menjadi prioritasmu. Keselamatan bayi ataukah keselamatan istrimu?"
“Apa?" laki-laki itu terlihat marah.
"Apa yang baru saja kau katakana, hah!!" bentaknya lagi.
"Tenangkan dirimu, Han Taehyun!" ujar Baekki yang baru saja tiba disana. Ia menggenggam erat bahu Taehyun dan berusaha menenangkan. Taehyun semakin marah. Ia menampik keras lengan Baekki dan menatapnya dengan tatapan yang jelas mengisyaratkan 'DIAMLAH!' dengan sangat tajam.
"Shin Yun Ae, bukankah kau seorang dokter? Tugasmu adalah menyelamatkan pasienmu! Dan sekarang kau memintaku untuk memilih? Dimana tanggung jawabmu sebagai seorang dokter, huh!"
"Ya, kau benar. Aku hanyalah seorang dokter. Aku bukan Tuhan yang mampu menyelamatkan semua pasienku. Yang ku bisa hanyalah berusaha sebaik mungkin untuk keselamatan pasien yang ku tangani!" Dokter Shin sedikit tersulut akan ucapan Taehyun kala itu.
“Dan ini adalah salah satu kewajibanku sebagai seorang dokter, Han Taehyun! Aku harus mengatakan yang sebenarnya mengenai kondisi Nara. Kemungkinannya selamat dalam operasi ini sangatlah kecil. Karena itu, sebagai teman yang sangat mengenalmu, aku memberikan opsi pilihan yang harus kau hadapi..” Dokter muda berparas cantik itu agaknya terlihat tak nyaman dengan kata-kata pria itu yang jelas menyinggungnya.
"Semakin cepat kau menentukan pilihanmu dan menyelesaikan administrasi, semakin besar pula kesempatan keduanya untuk selamat. Permisi.." dokter Shin berbalik, tampak muak karena di bentak kasar oleh Taehyun.
Saat itu Taehyun menatap nyalang ke arah pintu ruang gawat darurat yang terbuka lebar. Ia bisa melihat tubuh Nara terbaring tak sadar di atas tempat tidur rumah sakit itu dan menunggu keputusannya. Wanita itu lemah, tak berdaya dan wajahnya tampak memohon untuk di selamatkan. Di lihatnya kembali perut besar istrinya yang tertutup oleh selimut putih. Di dalam sana ada putri kecilnya. Han Airin yang mungkin juga tengah berteriak kesakitan.
Tidak. Taehyun menggeleng, menepis kenyataan menyakitkan dimana dia dihadapkan pada dua pilihan yang amat sulit. Ia tak ingin kehilangan Airin. Ia sudah menunggu sekian lama demi kehadiran putri kecilnya itu. Tapi ia juga tak akan sanggup hidup tanpa Nara, belahan jiwanya yang amat ia sayangi. Bagaimana ini? Ia harus bagaimana?
"Selamatkan Nara terlebih dahulu.." usul Baekki yang terdengar jauh seperti sebuah perintah. Taehyun masih terdiam dan nampak berfikir keras.
"Taehyun-ah.." panggil bibi Hyo dengan ragu. Taehyun menoleh kala itu, dan menatap bibi Hyo sejenak.
"Nara memintamu menyelamatkan Airin terlebih dahulu.."
Taehyun merasakan kepalanya berdenyut sakit. Rasanya jarum jam di tangannya bergerak dengan begitu cepat. Menuntutnya untuk segera memutuskan hal sulit ini. Bayangan-bayangan indah akan sosok Airin yang walaupun belum pernah ia lihat dengan kasat mata namun begitu berarti. Pergerakan lembut Airin yang ia rasakan, bahkan mampu menggerakkan hatinya. Bagaimana? Bagaimana mungkin ia merelakan anaknya? Tidak mungkin. Tapi Nara?
Demi Tuhan Taehyun akan memilih untuk mati daripada hidup sendiri tanpa wanita itu. Ia bahkan sempat berfikir untuk meneguk racun atau menabrakkan dirinya di rel kereta api kemudian mati mengenaskan kalau sampai Nara tak bisa di selamatkan. Ya, Nara paling berarti. Nara adalah hidupnya. Wanita itu adalah nafasnya. Dia harus menyelamatkan Nara terlebih dahulu walaupun ini adalah tindakan yang paling egois. Taehyun menangis. Air matanya jatuh tak terbendung, dan ini pertama kalinya sang CEO itu menangis di depan umum. Tampak lemah di hadapan orang-orang di bawahnya.
"Dokter Shin.." panggilnya pada sang dokter yang baru saja kembali dan hendak masuk ke ruang itu dengan beberapa kantong darah di tangannya. Dokter cantik itu menoleh, menatap wajah Taehyun yang basah dengan penuh rasa iba.
"Selamatkan Nara terlebih dahulu." Putusnya.
Dokter Shin hanya mengangguk. Ia kembali memasang masker di wajahnya dan berniat masuk ke dalam ruang gawat darurat.
"Tunggu!" cegah Taehyun. Ia kembali membuat sang dokter berbalik dan menatapnya.
"Ku mohon selamatkan juga bayi kami.."
Lihatlah! Seorang Han Taehyun, CEO arogan, yang selama ini bahkan tak pernah mau mengucapkan kata maaf kini bahkan sampai harus merendahkan harga dirinya, memohon pada seorang dokter umum hanya demi keselamatan putrinya. Tentu laki-laki ini begitu mencintai anaknya. Airin-nya. Benar-benar pemandangan menyedihkan yang mengiris perasaan.
.
.
.
-To Be Continue-
.
.
.
Author’s Note:
.
.
Ah ya ampun!!
Di titik ini aku sebel..
Aku tuh pengen lanjutin lebih panjang lagi. Cuma aku inget, Joylada Story punya batasan jumlah joy untuk versi story nya. Jadi mohon maaf si TBC harus muncul di situ...
Jadi gimana readers-nim? Berasa nggak feelnya kali ini? Aku pribadi sih ikut sedih typingnya walaupun pendek. Kebayang banget tuh gimana sakitnya Taehyun yang udah nungguin Airin lahir ke dunia ini sebegitu lama. Dia udah berharap, bahkan sampai belajar cara ngurus anak dari buku-buku yang dia beli. Tapi di saat anak yang di tunggu hampir lahir, dia justru di hadapkan pada dua pilihan sulit. Taehyun di tuntut untuk merelakan putri yang begitu ia sayangi pergi. Keterlaluan nggak sih..
Gimana kalau ntar Taehyun jadi balik arogan lagi tanpa Airin?
Lalu apakah Nara bisa selamat dari operasi itu?
Simak kelanjutan kisah ini ya..
Jangan lupa kasih komen, like dan ulasannya. Karena komen kalian adalah semangat terbesar buat aku berkarya..
Thankyou yang udah baca..
.
.
__ADS_1
With Love,
ByunRa93_