My Secret With CEO

My Secret With CEO
10


__ADS_3

Di sisi Lila dia saat ini sedang berada di toko bunga milik mommynya. Dia yang menjalankan usaha itu secara diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun kecuali daddynya. Dia mendirikan hobi mommynya itu yang suka merangkai bunga. Bakat itu juga menurun padanya. Dia sangat pandai merangkai bunga.


Lila menatap bunga mawar putih yang kini tengah dia rangkai pesanan pelanggannya. Lila menjalankan bisnis bunga ini hanya bersama dua pegawainya saja yang membantu. Pelanggan toko bunga itu lumayan banyak tapi tidak sampai harus membuat mereka bertiga repot.


“Nona, ini bunga yang baru saja di petik dari kebun dan sudah kami bersihkan. Kami harus meletakkannya di mana?” tanya dua pegawai Lila itu.


Lila yang melamun tidak mendengarkan perkataan dua pegawainya itu, “Nona, apa anda sakit? Anda sedikit pucat.” Ucap Emira.


Lila pun akhirnya tersadar dari lamunannya dan dia segera menggeleng, “Gak kok, aku gak sakit. Aku hanya kelelahan saja. Aku pulang ke apartemen dulu yaa. Ohiya ini pesanan yang akan di jemput jam 3 nanti.” Ucap Lila.


“Baik nona. Ohiya kami harus meletakkan ini di mana?” tanya Emira kembali.


“Letakkan saja dulu di tempatnya.” Jawab Lila lalu dia segera meraih tas dan ponselnya. Dia segera meraih kunci mobilnya dan menuju apartemennya.


Sementara dua pegawai yang dia tingggalkan itu saling menatap satu sama lain, “Sepertinya nona Lila memiliki masalah tapi dia menyembunyikannya dari kita.” Ucap Emira.


“Kau benar. Dia terlihat sendu. Jika memang dia sedih dengan kepergian ayahnya seharusnya raut wajahnya itu sedih. Tapi ini sendu.” Timpal Dira.


“Mungkin dia tidak ingin kita tahu masalahnya. Selama seminggu ini dia sering melamun.” Ucap Emira.


“Sudahlah. Kita doakan saja yang terbaik untuknya. Ayo kita lanjut bekerja sebelum pelanggan itu datang.” ajak Dira.


***

__ADS_1


Lila yang dalam perjalanan tidak langsung pulang melainkan dia ke taman kota. Taman yang sering dia datangi saat dia kecil bersama daddy dan mommynya, “Mom, dad aku rindu kalian. Aku sudah mencoba berdamai dengan apa yang terjadi padaku. Tapi kadang aku juga merasa sedih dan ingin kalian mengambilku saja. Aku ingin kembali ke dalam pangkuan kalian. Aku ingin kembali ke masa di mana aku bisa bermain lari-larian dengan kalian. Aku ingin kembali ke masa kecilku yang bahagia. Kenapa menjadi dewasa sangat melelahkan. Aku mengeluh tuhan.” Ucap Lila.


“Kakak, ini bunga untukmu.” Ucap seorang anak gadis dengan bunga di tangannya.


Lila pun menatap anak kecil itu. Dia tersenyum lalu menerima bunga dari anak gadis itu, “Terima kasih!” ucap Lila hampir menangis karena bunga yang ada di tangannya itu adalah bunga yang selalu dia petik ketika dia kecil dan menunjukkannya kepada mommy dan daddynya.


“Mom, dad, apa kalian mencoba membujukku melalui anak kecil itu? Kalian mengirimkan bunga itu untukku? Baiklah mom, dad aku tidak akan sedih lagi. Aku akan hidup bahagia.” Ujar Lila lalu segera bangkit dari tempat duduknya dan kembali ke mobilnya.


Sebelum dia masuk mobil dia tersenyum melihat gadis kecil yang bermain dengan kedua orang tuanya itu. Sungguh gambaran itu seperti dia saat kecil.


“Aku rindu!”


***


Deo meraih ponselnya dan menelpon seseorang untuk mengantarkan komputernya ke apartemen Melvin. Dia ingin menyelidiki semuanya kembali. Pasti ada yang dia lewatkan sehingga dia tidak menemukan keberadaan gadis yang di tiduri oleh tuannya itu. Tidak mungkin tuan Nugraha bisa menemukan gadis itu jika tidak ada yang di tinggalkan oleh gadis itu.


“Aku janji tuan akan segera menemukan gadis itu.” tekad Deo kembali ke kamar Melvin dan melihat tuannya itu.


“Deo, bisa bantu aku bangun.” Pinta Melvin membuka matanya perlahan.


Deo pun segera mendekati tuannya itu dan segera membantunya, “Tuan, ini obatnya. Saya sudah meminta resep dari dokter juga untuk mengobati luka anda selain obat yang di berikan oleh tuan besar.” Ujar Deo memberikan obatnya kepada Melvin yang langsung di minum oleh Melvin.


Dia ingin segera sembuh dari lukanya ini dan mencari gadis itu. Gadis yang sudah membuatnya pusing setengah mati mencari, “Deo, kita harus mengulangi penyelidikannya lagi. Setelah ku pikirkan lagi aku yakin pasti ada sesuatu yang terlewat. Tidak mungkin kita tidak bisa.” Ujar Melvin.

__ADS_1


“Saya juga berpikiran demikian tuan. Saya sudah meminta seseorang untuk mengantarkan laptop saya dan kita akan mengulangi penyelidikannya. Saya pastikan kita akan menemukan gadis itu tuan.” Ujar Deo penuh keyakinan.


Melvin pun mengangguk dan tersenyum melihat tekad dan keyakinan di mata asistennya itu, “Aku beruntung memiliki asisten seloyal dirimu Deo. Terima kasih sudah membantumu tadi di hadapan papi memohon untuk keringanan hukuman. Tapi lain kali jangan lakukan itu. Papi itu bukan orang yang suka menarik kembali perkataan yang keluar dari mulutnya. Jika dia sudah mengatakan sesuatu maka pantang baginya untuk menariknya kembali. Jadi jangan lakukan itu lagi. Aku tidak menyukainya.” ucap Melvin.


“Maaf tuan. Saya saat itu gegabah. Yang ada dalam pikiran saya hanya bagaimana anda bisa selamat dari hukuman itu.” ucap Deo menunduk.


“Sudahlah gak apa-apa. Lupakan saja apa yang sudah terjadi. Sekarang kita fokus dengan penyelidikan kita. Kita harus membuktikan dan menemukannya sebelum sebulan. Aku tidak ingin papi menganggapku lemah lagi. Dia selalu saja menguji diriku. Ohiya jangan sampai mami tahu apa yang terjadi padaku. Dia bisa pingsan jika tahu aku terluka.” Ucap Melvin. Deo pun mengangguk.


Kini Melvin tinggal sendiri di kamarnya. Dia melihat jam dinding berdetak setiap detiknya, “Aku akan menemukanmu gadis manis. Aku akan menikahimu dan tidak akan melepaskanmu lagi. Sudah cukup kau membuatku pusing dengan apa yang kau lakukan ini.” ucap Melvin.


***


Kembali ke sisi Lila, Kini dia sudah tiba di apartemen dan dia pun menatap sekeliling apartemen itu yang tidak berubah sama sekali. Hanya kesunyian yang di dapatnya. Kesunyian yang sendu.


Lila melepas sepatunya dan duduk di sofa yang ada di ruang tamu itu. Lila meraih ponselnya dan menelpon orang kepercayaannya.


Tidak lama tersambung, “Halo, apa semua baik-baik saja? Aku tidak ingin informasinya bocor sedikit pun.” Ujar Lila begitu tersambung.


“Tenang saja. Semua aman. Mereka tidak bisa mengaksesnya.” Jawab orang kepercayaan Lila itu.


“Baiklah. Aku percaya padamu. Ohiya terus bagaimana dengan dua wanita ular itu?” tanya Lila.


“Seperti dugaanmu mereka bersenang-senang. Tapi sepertinya mereka sedang merencanakan untuk mengambil alih warisanmu. Kau harus bersiap.” Ucapnya.

__ADS_1


“Aku tau. Itu memang yang mereka inginkan dari dulu. Biarkan saja tapi tetap awasi mereka untukku.” Ucap Lila lalu sambungan telepon pun terputus setelah itu.


__ADS_2