My Secret With CEO

My Secret With CEO
25


__ADS_3

Waktu demi waktu terus saja berlalu, tidak terasa kini usia kandungan Lila sudah memasuki trimester ketiga lebih tepatnya sudah usia 38 minggu. Lila masih saja menjaga toko tapi kakek Parker dan nenek Saraswati membatasinya untuk tidak bekerja sampai malam.


Lila pun menuruti hal itu. Lila menikmati kehamilannya itu dengan senang hati. Kehamilan yang dua kali lebih besar dari orang lain itu karena dia memang mengandung kembar. Yah, hal kehamilan kembarnya itu di ketahui saat dia melakukan USG kedua kalinya saat usia kandungannya lima bulan.


Kakek Parker dan Nenek Saraswati tentu saja menyambut dengan senang kehamilan kembar Lila itu. Mereka selalu menjaganya dengan baik dan tidak mereka biarkan Lila mengangkat yang berat. Tapi walaupun begitu Lila tidak dengan semerta-merta tidak lagi bekerja. Dia menabung untuk kehamilannya itu. Proses persalinan yang akan dia lakukan nanti.


Lila memang membawa ATM-nya walaupun tak dia pakai karena tidak ingin di lacak melalui ATM. Dia juga punya uang tunai yang lumayan banyak dia bawa saat dia berangkat dan itu masih ada hingga saat ini karena biaya hidupnya selama ini menumpang dengan nenek Saraswati dan kakek Parker yang memang tidak mengizinkannya untuk belanja sendiri.


Satu hal yang Lila patut syukuri dengan kehamilannya itu karena sepanjang kehamilannya dia tidak pernah di dera mual sedikit pun. Hal itu sangat dia syukuri karena tidak semua orang tidak mengalami gejala itu.


Sementara di Negara N, justru sangat jauh berbeda karena Melvin selama dua bulan belakangan ini sampai harus bolak balik rumah sakit pengaruh mual dan muntah yang parah yang dia alami. Sungguh, tubuhnya saat ini sudah turun drastis. Mana di tambah lagi dia pusing karena belum juga menemukan di mana Lila berada.


“Nak, makanlah ini. Ini dapat meredakan mualmu itu. Papimu memang mengalami mual juga saat mami mengandungmu tapi yang kamu alami ini sangat lah parah bahkan sampai membuat mami khawatir.” Ucap mami Elea menyuapi putranya itu yang terbaring lemah.


Melvin mencoba tersenyum ke arah maminya itu, “Gak apa-apa mih yang penting dia tidak mengalaminya. Dia harus melahirkan anakku dengan baik.” ucap Melvin.


Mami Elea pun meringis mendengar jawaban putranya itu, “Apa masih belum ada kabar sedikit pun tentang dirinya?” tanya mami Elea.


Melvin menggeleng, “Dia sangat hebat mih bersembunyi. Aku mengaku kalah.” Ujar Melvin.


“Lalu bagaimana sekarang?” tanya mami Elea.


Melvin menggeleng, “Entahlah. Aku juga pusing memikirkannya. Mungkin yang bisa ku lakukan menunggu saja.” ucap Melvin.


“Mami akan berdoa agar dia segera kembali. Tapi untuk saat ini kamu sembuh dulu nak. Mami tidak senang melihatmu lemah seperti ini. Putra mami itu kuat dan gagah. Saat ini bahkan membantah perintah mami pun kau tidak bisa.” Ucap mami Elea.


Melvin tersenyum mendengar ucapan maminya itu. Maminya tidak marah sedikit pun akan apa yang dia lakukan walaupun dia tahu maminya itu tetap menyimpan rasa kecewa di hatinya hanya saja rasa sayangnya itu mengalahkan semuanya.


“Mami, aku minta maaf kepadamu. Jika selama ini aku selalu mengecewakanmu. Aku selalu membantah perintahmu. Aku bahkan melakukan sesuatu hal yang sangat kau benci.” Ucap Melvin menggenggam tangan maminya itu.


Mami Elea tersenyum lalu membelai kepala putranya itu, “Kamu adalah putra mami. Putra kesayangan dan kebanggaan mami. Putra yang mami lahirkan dengan mempertaruhkan nyawa mami. Sebanyak apapun kesalahan yang kamu lakukan mami akan tetap menyayangimu nak. Kau itu separuh jiwa mami.” ucap mami Elea.


“Kamu hanya perlu memastikan membawa menantu mami itu kembali dengan cucu mami ke rumah ini. Dia harus kembali.” Lanjut mami Elea.


Melvin mengangguk dan tersenyum, “Aku pasti akan membawanya kembali Mih.” Ucap Melvin. Itu adalah permintaan maminya selama ini membawa pulang Lila dan dia sampai detik ini belum juga bisa menemukan di mana gadis itu berada.


***


Seminggu kemudian, Kini Lila yang berada di kamar mandi tanpa sengaja terpeleset dan terjatuh ke lantai. Seketika Lila meringis karena perutnya sangat sakit dan darah mengalir di kedua pahanya, “Nenek, kakek!” panggil Lila.

__ADS_1


Tidak lama Nenek Saraswati berlari masuk ke kamar mandi itu dan mendapati Lila yang mencoba berdiri, “Nak, kau kenapa?” tanya nenek Saraswati.


“Sakit nek. Aku terpeleset tadi.” Ucap Lila menahan perutnya dan juga menahan rasa sakit di perutnya itu sambil melihat kakinya yang sudah ada darah.


Nenek Saraswati mengikuti arah pandangan Lila itu dan seketika dia terkejut lalu segera meminta kakek Parker untuk menyiapkan mobil yang akan membawa mereka ke rumah sakit terdekat. Yah, kakek Parket dan nenek Saraswati sudah bisa membeli mobil berkat usaha mereka yang semakin hari semakin ramai. Mereka juga bahkan sudah merekrut tiga orang karyawan untuk membantu.


“Tahan nak. Kita akan segera tiba di rumah sakit.” Ucap nenek Saraswati menenangkan Lila.


Sekitar setengah jam dalam perjalanan akhirnya mereka tiba di rumah sakit, Lila segera di bawa ke ruang bersalin dan ternyata Lila tidak bisa melahirkan normal walaupun usia kandungannya sudah bisa di katakan cukup bulan namun dia yang terpeleset tadi hal itu mempengaruhi semuanya. Akhirnya Lila pun melakukan operasi demi kebaikan kedua buah hatinya.


Sementara di Negara N, kini Melvin yang sedang berada di ruang rapat tiba-tiba saja merasakan sakit perut yang bertubi-tubi dan berdekatan. Itu bukan sakit perut ingin buang air tapi sakit perut yang membuatnya ingin pingsan saja.


Deo yang menyadari hal itu segera mendekati tuan mudanya itu, “Deo, bawa aku ke rumah sakit. Sakit sekali!” pinta Melvin lemah.


Deo pun mengangguk dan segera menyelesaikan rapat itu lalu segera membawa Melvin ke rumah sakit. Selama perjalanan Melvin meringis sakit perut. Deo sendiri tidak mengerti apa yang di alami oleh tuan mudanya itu hanya bisa mengusahakan untuk segera tiba di rumah sakit.


Begitu tiba di rumah sakit Melvin segera di bawa ke UGD dan di periksa. Tidak ada penyakit sedikit pun sudah di berikan obat tetap saja Melvin masih merasakan sakit. Melvin di pindahkan ke ruang perawatan dan di sana sudah ada mami Elea menunggu, “Deo, ada apa yang terjadi padanya? Dia baru saja tiga hari lalu tidak merasa mual dan muntah lagi walaupun tidak bisa tidur malam hari. Kini dia merasakan sakit perut yang hebat.” Ucap mami Elea kasihan melihat putranya itu yang kesakitan tanpa tahu apa penyebabnya.


“Deo, apa dia mengutuk putraku? Tidak bisakah kau segera menemukan gadis itu dan membawanya kesini. Kasihan putraku Deo. Dia menderita.” Ucap mami Elea.


Tidak lama dokter Ana datang dan segera melihat Melvin, “Tuan sakit perutnya seperti apa?” tanya dokter Ana.


Mami Elea, Melvin dan Deo yang mendengar itu pun terdiam, “Apa ada yang seperti itu dokter?” tanya mami Elea.


Dokter Ana mengangguk, “Ini sangat jarang terjadi tapi sepertinya itu lah yang terjadi. Setelah di hitung usia kandungan Lila saat ini sepertinya sudah 39 minggu dan kemungkinannya dia sedang melahirkan sekarang.” Ucap dokter Ana.


“Jika itu memang kebenarannya dokter. Aku tidak masalah merasakan sakit ini. Tidak perlu lagi memberiku obat pereda rasa sakit. Aku akan mengatasinya sendiri. Deo aku punya perintah untukmu. Segera cek seluruh rumah sakit jangan sampai ada yang terlewati dan cari tahu apa ada orang yang melahirkan.” Ucap Melvin menahan kontraksi yang kian datang. Deo segera mengangguk dan melaksanakan apa yang di minta oleh Melvin.


Mami Elea hanya bisa meringis melihat putranya itu yang menahan sakitnya karena dia sendiri tahu bagaimana rasa sakit melahirkan itu. Dia hanya bisa berdoa untuk keselamatan cucunya di mana pun berada.


***


Kembali lagi di rumah sakit di Negara Y, kini di ruang operasi Lila hanya sendiri dengan temani oleh dokter dan perawat saja di dalam demi kelahiran kedua buah hatinya yang sudah dia tunggu kehadirannya.


Sekitar setengah jam kemudian suara bayi terdengar, “Anak pertama anda sudah lahir nyonya. Berjenis kelamin laki-laki, sehat dan sempurna.” Ucap dokter itu mengangkat bayi berjenis kelamin laki-laki yang di penuhi darah dan segera di berikan kepada perawat untuk di bersihkan.


Lalu tidak lama tangis bayi kedua pun terdengar dan di angkat, “Anak kedua anda perempuan nyonya, sehat dan sempurna” ucap dokter itu dan kembali memberikannya kepada perawat untuk di bersihkan.


Lila yang mendengar kedua bayinya lahir dengan selamat dan mendengar kedua tangis bayi yang saling bersahut-sahutan itu pun meneteskan air matanya, “Anakku sudah lahir. Tuan Melvin anak-anakmu sudah lahir. Nyonya Elea, tuan Emran kedua cucu kalian sudah lahir. Mom, dad cucu kalian sudah lahir.” batin Lila senang.

__ADS_1


Walaupun dua bayi itu lahir karena kesalahannya hanya saja Lila tidak akan menyalahkan takdir kedua buah hatinya itu. Dia menyayangi mereka dengan baik dan akan dia hidupi dengan penuh cinta hingga mereka tidak akan bertanya di mana ayah mereka berada. Bukan karena tidak ingin mengakui Melvin atau membenci Melvin sebagai ayah mereka tapi dia tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya kepada kedua buah hatinya itu. Apa dia harus menjelaskan bahwa dia yang lari dan bersembunyinya.


Entahlah, untuk saat ini satu hal yang pasti dia sangat bahagia menyambut kelahiran anaknya itu. Untuk masalah kedepannya nanti biarlah itu akan jadi urusan nanti. Dia hanya ingin menyambut kedua anaknya dengan bahagia dan penuh cinta.


Lila yang terlarut dengan bahagia atas kelahiran kedua anaknya itu pun tidak sadar bahwa operasinya selesai dan dia akan segera di pindahkan.


Di luar kakek Parker dan nenek Saraswati tersenyum bahagia menyambut kelahiran dua anak Lila itu. Lila segera di pindahkan ke ruang perawatan begitu juga dengan kedua anaknya yang langsung bisa bersamanya karena semuanya normal. Kedua buah hatinya itu sehat dan memiliki berat badan normal untuk bayi kembar.


Lila segera menyusui buah hatinya itu bergantian karena berhubung juga asinya sudah keluar. Itu hal yang harus dia syukuri juga karena asinya langsung mengalir lancar dan dia bisa segera menyusui kedua buah hatinya itu. Keduanya lahap meminum sumber kehidupan mereka itu.


Lila terharu dan meneteskan air matanya melihat wajah kedua anaknya yang sangat mirip dengan Melvin. Tidak ada sama sekali wajahnya di kedua anaknya itu. Dia seperti orang asing yang hanya di pinjami rahim saja. Menyebalkan memang tapi dia juga senang karena wajah kedua anaknya itu sama dengan idolanya.


“Kalian sangat mirip daddy kalian nak.” gumam Lila menatap dua buah hatinya yang berada di box bayi sedang terlelap itu habis minum asi.


“Nak, kau makanlah juga agar asimu lancar. Kau butuh energi yang banyak untuk menyusui si kembar.” Ucap nenek Saraswati yang membawakan makanan untuk Lila. Makanan yang baik untuk ASI.


Sementara di sisi Melvin, kini rasa sakit di perutnya pun mereda setelah hampir dua jam dia menderita rasa sakit itu, “Apa masih sakit nak?” tanya mami Elea.


Melvin menggeleng lalu dia meneteskan air matanya, “Mih, apa itu artinya dia sudah selesai melahirkan anakku. Apa rasa sakit yang aku derita itu memang pengaruh dia akan melahirkan. Mih dia mana dia mih. Aku ingin menemuinya.” Ucap Melvin menangis dalam pelukan maminya.


“Jangan menangis boy. Itu tidak ada gunanya. Setidaknya kini kita tahu bahwa dia sudah melahirkan. Kita tinggal mencarinya saja.” ucap papi Emran tiba-tiba masuk.


“Apa akan berhasil pih? Di mana kita harus mencarinya? Kita sudah mencarinya selama ini tapi selalu saja gagal dan gagal. Aku ingin menyerah saja tapi mengingat dia sudah melahirkan saat ini. Aku jadi ingin tahu di mana mereka. Aku ingin melihat buah hatiku itu.” ucap Melvin.


Papi Emran yang mendengar ucapan putranya itu pun mendesis karena memang baru kali ini dia kewalahan mencari seseorang. Biasanya mereka bisa dengan mudah menemukan persembunyian seseorang hanya dalam hitugan menit saja. Tapi kini entah kenapa semua terasa sulit padahal mereka sudah mengerahkan semua usaha. Seolah-olah kepergian Lila adalah teguran bahwa kekuasaan yang mereka miliki tidak akan mampu menandingi takdir tuhan.


Melvin setelah di pastikan sakit perutnya tidak ada lagi. Dia pun segera pulang untuk mencari tahu karena menurutnya ini adalah kesempatan yang baik yang tidak boleh di lewatkan karena kemungkinan besar Lila sedang ada di rumah sakit.


Kembali ke sisi Lila, “Nak, mereka sangat tampan dan cantik. Tapi tidak ada sama sekali dari mereka yang mirip denganmu.” Ujar nenek Saraswati menatap kedua buah hati Lila itu.


Lila tersenyum mendengar perkataan nenek Saraswati karena ternyata bukan hanya dia yang berpikiran seperti itu, “Mereka mirip dengan pria itu nek.” Ujar Lila.


“Apa kau sangat menyukainya nak sampai kau tidak membencinya sama sekali?” tanya nenek Saraswati.


“Dia tidak bersalah Nek. Jadi untuk apa aku harus membencinya. Kami melakukannya dalam keadaan tidak sadar. Dia adalah idolaku.” Ucap Lila.


“Sudah lah jangan bahas itu. Ini adalah hari kebahagiaan kita karena kita memiliki dua cicit yang tampan dan cantik.” Ucap kakek Parker mengalihkan pembicaraan.


“Beri tahu kami siapa nama mereka nak.” lanjut kakek Parker.

__ADS_1


__ADS_2