My Secret With CEO

My Secret With CEO
178


__ADS_3

Sambungan telepon abtara Luke dan Lila segera terputus. Luke meletakkan ponsel nya dan menatap asisten nya yang masih berdiri di hadapan nya dengan menundukkan kepala nya.


"Lanjutkan pekerjaanmu. Aku akan menghubungimu jika adikku sudah menilai sekretaris yang kalian ajukan padaku. Maaf juga sudah berkata keras kepadamu." ucap Luke.


Rendi segera menatap Luke dan menggeleng begitu mendeteksi kata maaf dari Luke, "Jangan mengatakan itu, tuan. Anda tidak perlu meminta maaf karena memang anda tidak bersalah. Saya lah yang salah karena tidak memperhatikan poin itu." ucap Rendi.


"Tetap saja aku bersalah. Aku yakin kau pasti sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan sekretaris dengan kualifikasi yang sesuai dengan yang ku minta dan mungkin pilihan satu-satu nya hanya dia saja." ucap Luke.


Rendi pun mengangguk, "Itu benar, tuan. Dia adalah orang terakhir." jawab Rendi jujur.

__ADS_1


Luke yang mendengar itu pun mengangguk, "Baiklah. Kau lanjutkan pekerjaanmu. Nanti akan aku hubungi jika Lila sudah memutuskan nya." ucap Luke kembali.


Rendi mengangguk dan segera pamit keluar menuju ruangan nya untuk melanjutkan pekerjaan nya yang juga menumpuk sama dengan milik Luke.


Sementara Luke, dia kembali membuka dokumen di hadapan nya dan menatap pas foto yang ada di sana.


"Kenapa aku merasa bahwa kau terikat dengan Lila? Apa itu hanya firasatku saja atau mungkin itu adalah kebenaran nya. Hanya melihat dari pas fotomu saja, aku merasa kau orang yang misterius sama seperti Lila." ucap Luke menghela nafas dan segera menutup dokumen itu dan menyingkirkan nya. Dia tidak ingin hal itu mengganggu pekerjaan nya. Pikiran dan dugaan itu pun mencoba dia hilangkan dan dia alihkan ke pekerjaan yang sudah menanti nya agar di selesaikan.


Sementara Lila di seberang sana berada di ruangan suami nya setelah Melvin mengajak Lila kembali ke ruangan nya. Melvin tentu tidak akan meninggalkan Lila di ruangan pemantauan hanya sendiri saja. Sedangkan diri nya harus menyelesaikan banyak tumpukan dokumen. Akhirnya Lila yang mengalah dan ikut ke ruangan suami nya. Lalu kini dia sedang berkutat dengan komputer di hadapan nya mencari identitas calon sekretaris kakak nya.

__ADS_1


"Yura Natalie Christie!" gumam Lila menatap layar monitor di hadapan nya yang menampilkan semua identitas Yura dengan lengkap tanpa ada noda sedikit pun.


Melvin yang mendengar gumaman sang istri menoleh menatap Lila, "Ada apa, dear?" tanya Melvin yang memang tahu istri nya itu sedang mengerjakan tugas dari Luke.


Lila menoleh dan menatap Melvin kemudian menggelenhkan kepala nya, "Bukan apa-apa. Hanya saja aku merasa identitas yang di tampilkan di sini terlalu sempurna. Mana ada seorang manusia yang tanpa cela sedikit pun. Tidak ada catatan kriminal sedikit pun yang di temukan. Mungkin dia memang bersih tapi apa iya dia tidak pernah melanggar aturan sedikit pun." jelas Lila.


Melvin pun tersenyum mendengar ucapan istri nya itu, "Bukan kah akan sangat baik jika memang dia tidak punya catatan kriminal atau pun pelanggaran sedikit pun. Itu membuktikan dia adalah kandidat terbaik untuk jadi sekretaris Luke." ucap Melvin.


"Yah aku juga tahu hal itu. Hanya saja ini terlalu sempurna untukku. Aku saja punya catatan pelanggaran akan lalu lintas." ucap Lila.

__ADS_1


Melvin terkekeh mendengar kejujuran istri nya itu, "Mungkin dia memang sangat menaati peraturan." ucap Melvin. Lila pun mengangguk saja walaupun dia tidak sepenuh nya percaya akan hal itu.


"Ini pasti ada alasan nya. Tidak ada yang kebetulan. Semua punya alasan nya masing-masing. Aku hanya berharap semoga saja bukan hal buruk yang akan terjadi. Semoga ini membawa kabar baik." batin Lila.


__ADS_2