
Kembali ke sisi Lila lagi, kini pesawatnya sudah mendarat di Bandar udara internasional Negara Y. Lila pun segera mengambil kopernya dan dia juga segera keluar dari bandara lalu mencari taxi untuk membawanya ke tempat di mana mommy dan daddynya melakukan bulan madu.
Sekitar setengah jam saja perjalanan mereka sudah tiba di pedesaan yang lumayan asri dan terjaga itu. Lila segera turun dari taxi lalu dia juga mencari kos-kosan yang bisa dia tempati. Tapi sayang sekitar dua jam dia mencari kos-kosan tetap saja tidak menemukan kos yang bisa menerimanya.
“Aku harus makan dulu. Lalu setelah itu lanjut lagi mencari tempat tinggal. Kasihan anakku. Dia butuh asupan gizi dariku. Aku makan hanya kemarin di kota J. Sampai saat ini belum.” Ucap Lila mengusap perutnya. Yah, penerbangan yang Lila tempuh menghabiskan waktu 12 jam di pesawat sehingga kini sudah hari yang lain.
Lila berjalan mencari tempat makan sambil mendorong kopernya itu. Sekarang di Negara Y itu lagi musim panas sehingga pukul 09.00 mataharinya sudah terasa sangat panas saja.
Setelah berjalan sekitar beberapa menit akhirnya Lila melihat ada toko yang menjual bahan makanan, “Itu ada toko. Semoga saja aku bisa menemukan sesuatu yang bisa aku makan di sana. Tenang nak. Mommy akan mengisi perut dan kamu bisa makan di sana. Tenang saja mommy akan menjagamu dengan baik. Mommy akan menyayangimu dengan penuh cinta sehingga kau tidak akan memiliki waktu untuk bertanya di mana daddymu berada. Kita akan membuat kehidupan kita sendiri di sini. Berdua saja jauh dari urusan dunia yang pelik.” ucap Lila sambil mengusap perutnya.
Lila pun segera masuk ke dalam toko itu yang ternyata pemiliknya adalah sepasang kakek dan nenek yang berumur 60 tahunan.
Lila pun segera membeli beberapa makanan yang sekiranya bisa mengganjal perutnya itu. Lila lalu keluar dan duduk di emperan toko itu sambil menikmati roti di sana, “Maaf yaa untuk kali ini mommy hanya bisa memberimu ini dulu. Kita akan mencari tempat untuk kita tinggal dulu. Jika sudah menemukan tempat maka mommy janji akan membuatkan makanan yang enak dan lezat untukmu.” Gumam Lila mengusap perutnya itu. Jujur saja hatinya perih dengan semua ini tapi dia tetap harus kuat demi sebuah kehidupan yang sedang tumbuh di rahimnya.
Jika Lila orang yang egois maka mungkin janin itu sudah tiada dari rahimnya sejak kemarin. Bagaimana tidak Lila seminggu lalu Lila sudah berencana untuk segera masuk ke perusahaan untuk mengambil alih semua warisannya. Dia bahkan sudah memberi tahu pengacara Jay akan hal ini. Tapi kini ini lah takdir yang datang padanya. Dia berada di Negara Y dengan sebuah kehidupan dalam rahimnya. Kehidupan yang tercipta karena kesalahannya tapi tidak dia sesali itu karena itu adalah benih yang di tanamkan oleh idolanya. Tidak ada sama sekali rasa benci di hatinya untuk pria yang sudah menitipkan benihnya itu.
“Nak!” panggil nenek pemilik toko itu mendekati Lila dengan sebuah botol air mineral di tangannya.
Lila yang mendengar suara itu pun segera mendongak dan tersenyum melihat keberadaan nenek pemilik toko itu dan segera menerima air pemberian nenek itu, “Terima kasih.” Ucap Lila penuh hormat.
“Apa nenek bisa duduk di sini?” izin nenek itu.
__ADS_1
Lila pun tersenyum, “Silahkan nek. Silahkan.” Ucap Lila penuh hormat dan dia pun membersihkan tempat duduk di sisi nya itu.
Nenek itu menatap koper milik Lila dan dia tersenyum tipis, “Apa kau baru datang ke sini nak? Apa kau berlibur di sini?” tanya nenek itu.
Lila mengangguk, “Bisa di katakan seperti itu nek.” Jawab Lila.
“Pantas saja kau terasa asing. Kau orang baru ya di sini. Apa sudah menemukan penginapan untuk berlibur?” tanya nenek itu lagi sebut saja dia Saraswati.
Lila menggeleng, “Saya belum menemukan penginapan nek. Sebenarnya saya juga tidak datang ke sini untuk berlibur tapi memang ingin tinggal di sini. Saya sudah mencari kos tadi tapi tidak ada sama sekali yang kosong.” Cerita Lila jujur.
“Apa nenek punya saran kos yang bisa saya tempati?” tanya Lila kemudian. Dia sangat berharap nenek itu bisa membantunya.
Nenek Saraswati pun tersenyum lalu dia mengatakan kos yang dia ketahui tapi ternyata itu memang kos yang sudah Lila lihat.
Lila pun mengangguk mengerti, “Terima kasih nek. Kalau begitu saya pamit dulu. Terima kasih atas airnya.” Ucap Lila.
“Kamu mau pergi kemana nak?” tanya nenek Saraswati itu saat Lila pergi.
Lila pun menoleh dan tersenyum, “Tidak perlu mengkhawatirkan saya nek. Terima kasih.” Balas Lila.
Nenek Saraswati itu pun diam dan dia melihat kepergian Lila. Lalu tiba-tiba dia teringat sesuatu. Dia pun segera masuk dan bicara dengan suaminya.
__ADS_1
“Tenang nak. Mommy akan menemukan tempat tinggal untuk kita.” Ucap Lila mengusap perutnya itu.
“Nak … Nak …” Lila pun menoleh ke belakang mendengar suara itu. Dia melihat sepasang kakek dan nenek itu berlari kecil mengejarnya.
“Nek, Kek ada apa? Kenapa lari-lari?” tanya Lila lembut.
“Kamu tinggal bersama kami aja nak. Itu rumah kami. Di sini sulit untuk menemukan kos atau pun tempat tinggal. Kamu tinggal bersama kami saja ya nak.” ujar Nenek Saraswati.
Lila pun tersenyum, “Hum, terima kasih nek, kek atas kebaikannya hanya saja saya tidak bisa menerimanya. Saya pasti akan menemukan tempat tinggal.” Tolak Lila halus.
“Nak, terima lah. Kami tidak masalah kamu ikut tinggal bersama kami. Sulit untuk menemukan tempat tinggal di sini. Setidaknya sampai kau menemukan tempat tinggal. Kau bisa tinggal bersama kami sementara nak. Jangan menolaknya lagi. Kami bukan orang jahat.” Ucap kakek pemilik toko itu. Sebut saja dia kakek Parker suami nenek Saraswati.
“Saya juga tidak berpikiran bahwa kakek dan nenek orang jahat hanya saja saya tidak ingin merepot---”
“Tidak repot nak. Kami yang menawarkan ini kepadamu. Kami harap kau menerimanya.” Ucap nenek Saraswati tersenyum.
Lila pun menatap sepasang kakek dan nenek di hadapannya itu dengan tersenyum, “Baiklah. Saya menerimanya kek, nek. Terima kasih banyak.” Ujar Lila.
“Ya sudah kalau begitu ayo kita kesana.” Ajak nenek Saraswati langsung menggandeng Lila itu. Sementara kekek Parker segera mengambil alih membawa koper milik Lila.
“Ahh kek biar saya saja.” ucap Lila tapi kakek Parker itu menolak.
__ADS_1
“Ayo kita ke rumah dulu.” Ucap nenek Saraswati mengajak Lila ke rumah mereka yang hanya berjarak 20 meter saja dari toko.
“Tunggu sebentar nek.”