
"Kalian sudah bangun?"
Luke menanyakan itu dengan santai nya dan dia segera duduk di sofa di harapan Lila dan Melvin. Tanpa dia sadari bahwa wajah Melvin dan Lila memerah karena pertanyaan nya itu.
"Aku tadi datang ke sini. Mungkin pelayan sudah memberitahu kalian hal itu. Aku datang karena ada sesuatu yang ingin aku bicara kan dengan kalian. Tapi kata pelayan kalian masih tidur jadi aku pulang lagi." jelas Luke yang kemudian menatap Lila dan Melvin.
"Ah iya tadi kami memang masih tidur. Maaf sudah membuatmu menunggu Luke." jawab Melvin.
Yah kedua pria itu sudah menemukan panggilan yang cocok untuk mereka. Kedua nya telah sepakat akan tetap mengikuti panggilan sesuai umur dari pada hubungan kekerabatan yang sudah tercipta karena akan terdengar aneh nanti nya.
"Apa yang ingin kau bicara kan dengan kami kak?" tanya Lila mencoba bersikap biasa dan mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Itu soal perusahaan. Aku baru saja mendapat kabar dari asistenku bahwa aku di butuhkan di perusahaan. Aku harus menemui klien dari kota J dan itu tidak bisa di wakili." ujar Luke.
"Kapan pertemuan nya?" Tanya Lila cepat hingga Melvin pun memilih diam dan hanya ikut mendengar kan. Dia tahu bahwa perusahaan milik mendiang keluarga istri nya itu adalah hak Lila dan Luke mengambil keputusan. Terlebih Lila karena perusahaan itu masih atas nama nya. Belum di ubah walaupun Luke yang sudah jadi direktur nya.
"Lusa dek. Kau di sini dulu. Selesaikan pengobatanmu." ucap Luke yang seperti nya sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan adik nya itu.
Lila menggeleng, "Kita pulang di hari yang sama. Bukan kah sebelum nya kita datang ke sini pada hari yang sama maka pulang pun harus pada hari yang sama." ucap Lila menatap Melvin.
Melvin pun hanya bisa diam walaupun ingin protes atas keputusan yang di ambil istri nya itu. Tapi untuk saat ini dia tahu bahwa Lila itu ingin di dengar dulu keputusan nya. Ada waktu nya untuk menyela.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan pengobatanmu dek? Kau harus menjalankan pengobatan terakhirmu." ucap Luke.
"Aku tahu." timpal Lila segera berdiri dan meninggalkan kedua pria itu menuju kamar.
"Mau apa dia?" tanya Luke.
Melvin pun mengangkat bahu nya tanda dia tidak tahu apa yang akan di lakukan istri nya itu.
Luke yang melihat Melvin mengangkat bahu nya pun menghela nafas panjang, "Kenapa dia sangat keras kepala kak?" ucap Luke kepada Melvin.
Melvin yang mendengar pertanyaan Luke pun terkekeh, "Bukan kah dia memang sudah di ciptakan seperti itu. Lila tanpa keras kepala nya maka tidak lah lengkap." balas Melvin.
Melvin menghentikan tawa di bibir nya lalu menatap Luke lekat. Melvin menggeleng, "Aku tidak akan melakukan hal itu. Mana mungkin aku akan mengabaikan kesehatan nya. Tapi aku tahu dan sudah cukup memahami nya. Dia itu saat bicara atau saat memutuskan sesuatu maka dia tidak ingin di sela, dia hanya ingin di dengarkan dulu apa pendapat nya. Akan ada waktu nya untuk kita menyela. Maka itu yang sedang aku lakukan saat ini. Kita dengarkan dulu apa yang dia inginkan baru nanti kita bertanya dan menolak apa yang tidak kita inginkan." ucap Melvin.
Luke pun mengangguk mengerti dan memilih diam sambil memikirkan apa yang harus dia lakukan agar adik nya itu mengubah keputusan nya. Tapi kemudian dia kembali menghela nafas berat karena dia sadar dan dia sangat paham bahwa sulit mengubah keputusan yang sudah di ambil oleh adik nya itu jika dia sudah memutuskan sesuatu. Tapi semoga saja bisa. Kita harus mencoba dulu bukan sebelum menyimpulkan sesuatu
Lila kembali dengan dokumen di tangan nya dan segera dia letakkan di meja di hadapan kedua pria kesayangan nya itu.
"Buka lah dan pahami apa isi nya sebelum kalian menyela atau pun membujuk ku agar mengubah keputusan yang sudah aku buat." ucap Lila lalu segera duduk kembali di samping Melvin.
Sementara Melvin dan Luke kini saling menatap satu sama lain seolah bertanya apa isi dokumen yang ada di hadapan mereka.
__ADS_1
Melvin meraih dokumen itu dan mulai membaca nya dengan teliti. Dia tidak ingin ada kesalahan dalam pemahaman nya. Sekitar satu menit akhir nya Melvin mengarahkan tatapan nya kepada Lila. Dia meletakkan dokumen itu kembali ke meja dan menatap Lila dengan terharu.
"Dear, apa maksud nya dokumen itu?" tanya Melvin dengan mata nya yang sudah berkaca-kaca.
Luke yang penasaran apa yang membuat adik ipar nya itu terharu segera mengambil dokumen di hadapan nya dan mulai membaca dan memahami nya.
"Aku yakin kau sudah lebih dari paham membaca tulisan di sana. Aku yakin suamiku ini bukan orang bodoh yang tidak bisa membaca hasil laporan laboratorium." ucap Lila.
Melvin menggeleng, "Aku tahu dan aku cukup paham. Tapi aku ingin mendengar nya sendiri darimu." ucap Melvin.
Lila pun menarik senyum di bibir nya. Dia menatap Melvin dan Luke yang seperti nya menanti jawaban dari bibir nya. Luke juga sudah paham apa yang membuat Melvin terharu. Tapi sama seperti Melvin dia juga ingin mendengar nya langsung dari Lila.
Lila tertawa pelan lalu kemudian dia mengusap air mata Melvin yang sudah hampir jatuh. Tiba-tiba dia mengecup bola mata suami nya itu dengan mengabaikan tatapan Luke yang kaget dengan apa yang di lakukan oleh adik nya itu. Dia tidak menyangka bahwa Lila memiliki akan memiliki sisi seperti ini.
Percaya lah, bukan hanya Luke saja yang kaget dengan apa yang di lakukan oleh Lila karena Melvin sendiri juga kaget dengan apa yang di lakukan oleh istri nya itu. Dia tidak menyangka Lila akan melakukan hal itu.
"Apa yang kalian pahami itu lah kebenaran nya. Itu adalah dokumen asli dari lab. Kalian bisa menanyakan keaslian nya kepada dokter James atau dokter lain nya yang selama ini bertugas merawatku. Aku melakukan tes secara diam-diam karena memang ingin tahu perkembangan kesehatanku sudah sampai di mana." jelas Lila santai seolah apa yang dia katakan itu bukan lah sesuatu yang mengagetkan.
Melvin dan Luke yang mendengar penjelasan Lila pun saling menatap satu sama lain seolah mengakui sekali lagi pengawasan yang mereka buat tidak berfungsi pada Lila. Dia masih saja bisa melakukan sesuatu secara diam-diam padahal mereka sudah yakin bahwa Lila sudah tidak punya koneksi apapun yang bisa membantu nya. Semua sudah mereka ambil alih. Namun tetap saja Lila bisa melakukan sesuatu tanpa sepengatahuan mereka.
"Apa saat ini kalian berdiskusi dan bertanya-tanya kenapa akj bisa melakukan hal itu padahal selama ini kalian melakukan pengawasan padaku?"
__ADS_1