My Secret With CEO

My Secret With CEO
30


__ADS_3

Sementara di Negara N, kini Melvin baru saja kembali dari kota J dari menghadiri pertemuan dengan kliennya.


“Deo, langsung ke rumah mami dan papi. Aku ingin memeluk mami.” Ucap Melvin begitu dia masuk mobil.


Deo pun mengangguk saja dan segera meninggalkan bandara menuju kediaman utama. Dia sudah sangat hafal dengan tuannya itu yang selama lima tahun terakhir ini jika setiap pulang dari jauh maka dia akan segera ke rumah utama memeluk maminya. Itu sudah jadi ritual rutinnya sehingga Deo tidak merasa aneh lagi.


“Deo, apa tetap saja belum ada petunjuk tentangnya dan juga tentang anak-anakku?” tanya Melvin kepada asistennya itu. Deo hanya diam saja. Melvin pun tidak bertanya lebih lanjut karena dia sudah mengerti jika asistennya itu diam berarti memang tidak ada petunjuk apapun.


Kurang lebih setengah jam akhirnya mereka tiba di kediaman utama. Deo segera memarkirkan mobilnya dan mereka pun segera turun.


Melvin segera menuju ruang keluarga di mana mami dan papinya berada. Melvin segera memeluk maminya itu, “Mih, aku rindu!” ujarnya manja.


Mami Elea pun tersenyum dan mengusap rambut putranya itu penuh kasih, “Bagaimana dengan pertemuanmu di kota J nak?” tanya papi Emran tidak protes putranya itu bermanja dengan istrinya itu. Dia tahu itu sudah jadi kebiasaan Melvin selama lima tahun terakhir sejak dia tidak lagi menerima pesan dari Lila.


“Semuanya berjalan dengan baik pih. Proyekku berjalan dengan sempurna. Hanya satu pekerjaanku yang tidak berhasil hingga saat ini. Papi pasti tahu apa itu.” ucap Melvin.


Mami Elea dan papi Emran pun saling memandang satu sama lain mengerti kesedihan putra mereka itu, “Apa kau ingin tetap menemukannya nak? Ini sudah hampir enam tahun dia menghilang dari kita dan sampai saat ini kita tidak juga mendapat informasi di mana dia berada.” ucap papi Emran.


“Apa kau tidak ingin menikah dengan orang lain saja dan memiliki keturunan lain?” lanjut papi Emran.


“Perkataan macam apa itu pih. Kau tahu aku akan menunggunya dan selamanya aku akan menunggu dia pulang. Selain itu dia adalah istriku pih. Selama ini dia tercatat sebagai istriku. Aku tidak ingin memiliki keturunan lain dari wanita manapun. Aku sudah memiliki anak sendiri.” Ucap Melvin.


“Hey, tenang boy. Papi pikir kau sudah bosan menunggunya dan menawarkan jalan lain untukmu.” Ucap papi Emran santai.


“Tuan, anda yang mendaftar untuk lomba yang kita adakan tuan.” Ucap Deo tiba-tiba.

__ADS_1


Melvin pun menatap asistennya itu dengan bingung, “Bukankah memang sudah banyak anak yang mendaftar untuk itu.” ucap Melvin bingung.


“Benar tuan. Memang sudah banyak anak yang mendaftar tapi ini ada dua orang anak yang mendaftar bernama Alex dan Alexa. Mereka juga memiliki tanggal lahir sama. Itu berarti--” ucap Deo terhenti karena Melvin langsung merebut tablet dari tangan asistennya itu dan melihat dua foto profil di layar tabletnya itu.


“Mih, mereka mirip denganku kan?” tanya Melvin kepada maminya.


Mami Elea pun menatap dua foto itu dan mengangguk, “Mereka sangat mirip denganmu nak.” Ucap mami Elea.


“Berarti mereka adalah anakku mih. Aku harus menemukan mereka. Di mana alamat yang dia tulis di sana Deo. Aku akan menjemput mereka.” Ucap Melvin.


“Melvin jangan terburu-buru. Putuskan dulu apa itu memang benar atau tidak. Jangan sampai ini hanya tipuan semata.” Ucap papi Melvin.


“Bagaimana itu tipuan pih. Aku mengadakan lomba ini untuk anak yang memiliki kecerdasan di atas tingkat rata-rata dan yang pasti yang memiliki kemampuan dalam pembuatan robot.” Ucap Melvin.


“Bagaimana bisa kau yakin mereka ada anak-anakmu? Apa karena nama mereka atau tanggal lahir mereka atau juga mereka yang mirip denganmu?” tanya papi Emran.


“Mih, bukan seperti itu. Hanya saja aku merasa ini aneh. Bagaimana mungkin Lila yang selama ini bersembunyi begitu mudah melakukan kecerobohan ini. Ini tidak seperti Lila bukan?” ujar papi Emran mengatakan prediksinya.


“Mungkin apa yang papi katakan memang benar. Tapi aku yakin mereka anakku pih.” Ucap Melvin.


“Deo, cari tahu semuanya.” Ucap papi Emran. Deo pun segera mengangguk dan segera mencari tahu semuanya. Dia segera mengambil laptopnya dan jari-jarinya mulai berselancar di dunia maya.


“Kita harus memastikannya semuanya dulu nak. Jangan terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan.” Ucap papi Emran.


“Tuan, orang yang melakukan pendaftaran ini berasal dari Negara Y. Akunnya terdeteksi di kota O Negara Y.” ucap Deo.

__ADS_1


“Mereka anakmu putraku. Mami yakin akan hal itu. Mereka sangat mirip denganmu. Mereka cucu mami.” Ucap mami Elea kepada putranya.


“Cari tahu lagi Deo. Aku ingin alamat yang pasti bukan secara umum begitu. Kota O itu sangat besar.” Ucap Melvin.


Deo pun mengangguk dan kembali melakukan pencariannya.


Kembali ke sisi Lila di Negara Y, kini dia menatap kedua buah hatinya yang masih tertidur. Dua jam kemudian si kembar itu terbangun dari tidur mereka dan segera selebaran yang mereka dapatkan di sekolah tadi, “Kak, apa kita tidak akan ikut ini?” tanya Alexa memegang selebaran itu.


“Kita harus menuruti mommy. Setidaknya sekarang kita sudah tahu siapa daddy kita dan kita sudah di beri izin untuk mengawasi daddy diam-diam.” Ujar Alex.


“Tapi aku tetap ingin menemui daddy kak. Kenapa kita tidak bisa hidup bersama.” Ucap Alexa.


“Mommy sudah menjelaskannya kepada kita bukan. Kemungkinan besar daddy itu sudah menikah dan memiliki istri sendiri. Jadi apa kau mau mommy jauh dari kita.” Ucap Alex.


“Kenapa kita tidak cari tahu apa daddy sudah menikah atau tidak kak. Jika daddy belum menikah maka kemungkinan besar kita bisa membuat daddy dan mommy menikah. Kita akan memiliki keluarga yang utuh kak.” Ucap Alexa.


Alex pun terdiam, “Ya sudah begini saja. Kita cari tahu kalau begitu. Untuk memastikan semuanya tapi kau harus ingat jika daddy sudah menikah maka kau tidak boleh lagi membicarakan untuk bertemu daddy.” Ujar Alex kepada adiknya itu. Alexa pun mengangguk menuruti perkataan kakaknya itu.


Mereka pun segera menuju ruangan di mana mereka melakukan eksperimen mereka itu.


Kembali ke Negara N lagi. Deo tiba-tiba mendapat telepon dari perusahaan saat dia sedang mencari tahu identitas anak yang bernama Alex dan Alexa itu. Mereka hanya mendaftar dengan nama Alex dan Alexa saja tidak ada nama tengah atau pun nama belakang.


Deo segera menjawab panggilan itu dan seketika ekspresinya berubah, “Lakukan dulu yang terbaik untuk itu. Kami akan segera kesana.” Ujar Deo.


Melvin yang menatap asistennya pun seketika bertanya, “Ada apa?”

__ADS_1


“Ada yang mengotak-atik saham perusahaan tuan.” Ucap Deo singkat.


“Apa?”


__ADS_2