
Sementara di sisi Lila kini dia baru saja turun dari kereta api di kota J. Lila berjalan mencari taxi untuk menuju bandara. Lila mendorong kopernya sendiri dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya mengusap perut ratanya itu dengan lembut.
Tidak lama Lila pun segera mendapatkan taxi dan dia pun segera menuju bandara, “Yang kuat ya nak. Kita harus terbang menuju Negara di mana tidak akan ada yang mempertanyakan kehadiranmu.” Batin Lila saat dia berada dalam mobil menuju bandara.
Sekitar 15 menit saja akhirnya dia tiba di bandara kota J itu. Lila yang memang sudah memesan tiket sebelumnya pun tinggal menunggu jam keberangkatan pesawat yang masih dua jam lagi. Lila dalam menunggu keberangkatannya dia pun segera menuju tempat makan untuk mengisi perutnya. Jujur saja dia kini merasa sangat lapar karena saking sedihnya dan memikirkan bagaimana dia bisa kabur tanpa ketahuan siapapun dia melupakan bahwa belum makan sama sekali sejak pulang dari rumah sakit.
Dua jam berlalu dengan sangat cepat, kini Lila sudah berada di pesawat yang sudah lepas landas beberapa menit lalu. Pesawat yang akan membawanya menuju Negara yang sudah dia pilih untuk jadi tanah kelahiran anaknya. Negara di mana tidak akan ada yang mempertanyakan kehamilannya. Negara asal mendiang sang mommy. Negara di mana mommy dan daddy-nya juga melakukan bulan madu.
***
Kini kita kembali lagi ke perusahaan Melvin.
“Bagaimana? Apa ada laporan dari stasiun dan terminal?” tanya Melvin kepada Deo yang baru saja masuk ke ruangannya.
__ADS_1
Deo menggeleng dengan perlahan, “Gak ada tuan. Semuanya nihil. Tidak ada siapapun yang melihat nona Lila sama sekali. Di stasiun dan terminal juga tidak ada laporan bahwa dia naik salah satu kenderaan di sana.” Jelas Deo.
Melvin pun mengangguk sambil menarik nafas panjang. Nafas yang dia hirup dan dia hembuskan terasa tercekat dalam dadanya karena dia tidak bisa menemukan gadis yang sudah mengandung benihnya. Percuma punya kekuasaan jika menemukan seorang gadis pun tak bisa. Percuma dia sudah mengetahui siapa gadis yang sudah dia tiduri dan gadis yang sudah memberinya kenikmatan dunia itu jika pada akhirnya dia tetap terlambat. Gadis itu pergi meninggalkannya dengan membawa sebagian dari dirinya. Sungguh, Melvin sangat terpukul saat ini.
“Ohiya di mana gadis itu?” tanya Melvin menatap Deo.
“Gadis itu. Ouh Yola? Dia sudah saya tempatkan di bidang administrasi tuan. Setelah melewati ujian ternyata dia cukup mumpuni di bidang itu.” jawab Deo.
“Jangan letakkan dia di sana. Jadikan dia sebagai sekretarismu Deo. Kita harus mengawasi pergerakannya. Aku tidak percaya padanya walaupun dia terlihat jujur dengan perkataannya itu. Tapi aku tetap meragukannya. Selama aku tidak menemukan gadisku maka dia pun harus bekerja di sini. Segera pindahkan dia jadi sekretarismu agar kita mudah mengawasinya.” Ucap Melvin.
“Lakukan saja seperti yang ku minta Deo. Kepalaku rasanya mau pecah. Aku pusing. Jadi lakukan saja seperti itu. Tidak akan ada yang berani protes dengan hal itu. Aku tidak ingin kehilangan jejak gadis itu lagi. Sudah cukup dia membodohiku dan papi. Jika memang tidak ada catatan dia terlihat di bandara, stasiun dan terminal maka itu kemungkinan nya hanya satu. Dia ada di sini. Bisa jadi dia bersembunyi di tempat yang tidak kita duga sama sekali. Bisa saja Yola bekerja sama dengannya untuk menyembunyikannya dariku. Untuk itu aku harus mengawasi Yola dan minta juga anak buah kita untuk mengawasi gadis itu dan semua aktivitas yang dia lakukan jika pulang kantor nanti.” Ujar Melvin.
“Baik tuan.” Jawab Deo akhirnya karena dia tidak bisa lagi menolak apa yang di minta oleh tuan nya itu. Tidak akan mungkin jika tuan nya itu sudah mengambil keputusan nya.
__ADS_1
“Ohiya tunggu Deo. Bagaimana dengan mobilnya yang ada di ATM?” tanya Melvin.
“Saya sudah meminta seseorang untuk mengembalikan mobil itu ke apartemennya tuan. Apa saya juga harus meminta seseorang untuk membersihkan apartemennya?” tanya Deo.
Melvin menggeleng, “Biarkan saja dulu. Aku masih harus memeriksanya. Siapa tahu aku bisa menemukan sesuatu di sana. Dia memutuskan pergi dariku. Dia juga yang menghapus CCTV itu. Hal itu sudah membuktikan bahwa dia memang mengenal diriku dan tidak ingin pertanggung jawaban dariku. Ahh aku kesal dengan hal itu. Jika saja gadis yang aku tiduri adalah gadis yang berbeda. Mungkin saja aku tidak akan sesulit ini untuk menemukannya. Tapi tidak masalah gadis itu pun yang terbaik untukku. Tidak masalah aku tidak menemukannya tapi aku yakin cepat atau lambat aku akan segera menemukannya. Aku harus memastikan hal itu.” ucap Melvin.
“Tetap minta anak buah kita untuk terus melacak keberadaannya. Jika ada kabar atau pun sesuatu yang mencurigakan minta mereka untuk mengabari kita.” Lanjut Melvin.
Deo pun mengangguk mengerti, “Deo, hari ini aku mau istirahat dulu. Aku serahkan urusan perusahaan kepadamu.” Ujar Melvin kemudian meraih jas nya dan meraih kunci mobil.
“Tuan anda akan kemana? Biar saya antar.” Tahan Deo. Dia khawatir dengan tuan mudanya itu.
Melvin mendesis mendengar asistennya itu yang sangat mengkhawatirkannya. Sungguh dia tidak suka di kasihani seperti ini tapi memang keadaannya saat ini patut untuk di kasihani. Menyebalkan memang.
__ADS_1
“Tenang saja Deo. Aku akan baik-baik saja. Aku tidak akan melakukan hal yang berbahaya untuk diriku. Aku masih tahu diri dan masih punya akal untuk tidak mengakhiri hidupku walaupun pemikiran itu sempat terpikirkan oleh otakku. Tapi aku tidak akan melakukannya. Aku harus menemukan dan bertanggung jawab pada gadis itu. Aku harus menemukan keberadaannya dan memastikan bahwa anakku tumbuh baik. Aku juga masih ingin merasakan nikmat surga dunia itu lagi dan tentu saja bersamanya. Jadi aku masih waras untuk tidak melakukan bunuh diri. Tidak perlu mengkhawatirkan aku. Kau kerjakan saja apa yang aku minta.” Ucap Melvin menepuk bahu asistennya itu lalu dia segera meninggalkan ruangan itu. Deo pun hanya bisa pasrah melihat tuan nya yang terlihat berbeda itu.
Kini Melvin segera menuju mobilnya dan tidak lama mobil itu melaju meninggalkan perusahaannya. Melvin pergi tanpa tujuan sama sekali. Dia hanya ingin mencari ketenangan yang bisa meredakan sedikit rasa frustasinya itu. Dia tidak mungkin pulang ke kediaman utama yang pastinya akan bertemu dengan maminya. Dia tidak ingin menemui maminya dalam keadaan begini. Dia sudah tidak pulang selama sebulan ini maka itu akan dia lakukan sampai dia siap bertemu dengan maminya. Dia bukan takut bertemu dengan maminya hanya saja dia malu memandang maminya itu. Maminya tidak pernah mengajarkannya untuk melakukan sesuatu yang bejat seperti ini kepada seorang gadis.