
“Milikmu? Sejak kapan? Jangan pernah bermimpi untuk itu? Aku bukan milik siapa pun. Jika aku memang milik seseorang maka aku hanya milik mommy dan daddyku.” Ucap Lila menahan air mata nya untuk jatuh. Walau sekuat apapun banteng yang dia bangun untuk membuat nya terlihat tegas tetap saja dia adalah seorang wanita yang butuh sandaran. Air mata nya juga bisa jatuh.
“Aku mengidolakanmu tuan Melvin. Kau adalah panutanku. Tapi apa yang kau lakukan. Kau tidak bisa menemukanku padahal kau dan papimu memiliki kekuasaan yang besar. Aku menunggumu tapi kau tidak berhasil memecahkan teka teki yang ku tinggalkan. Apakah kau sempat bertanya kenapa CCTV itu bisa kau pulihkan sementara menemukanku tidak bisa kau jangkau? Itu karena aku meminta Delon untuk menghapus CCTV itu dengan harapan kau bisa segera menyadari siapa yang tidur denganmu malam itu. Tapi apa kau terlambat lagi dan lagi. Aku meninggalkan surat untukmu di balik fotoku tapi sampai sekarang aku tidak tahu apa kau sudah menemukan nya atau tidak. Banyak kesempatan yang sudah aku berikan padamu tuan Melvin sehingga untuk memberikan kesempatan padamu pun rasa nya sudah tidak ada lagi. Hatiku sudah tertutup.”
“Hatiku tinggal tersisa dendam saja. Dendam atas kematian mommy dan daddyku. Semua orang harus bertanggung jawab untuk itu. Aku akan menuntut balas pada semua nya. Aku membencimu tuan Melvin. Melebihi kekecewaanku terhadapmu yang tidak bisa menemukanku. Aku benci padamu kau dengan tega nya memperpanjang pemberian uang kepada dua pembunuh mommy dan daddyku? Tidak kah kau sadar bahwa mereka sudah menyakitiku hingga titik terdalam lalu bagaimana bisa kau tetap melakukan itu. Ini bukan tentang uang tapi tentang perasaan. Perusahaan itu adalah hasil kerja keras mommyku. Mommyku. Lalu bagaimana mungkin aku rela hasil kerja keras mommyku menjadi bahan foya-foya wanita lain yang membuatku kehilangan mommy dan daddyku. Aku benci mereka hingga di dalam sudut relung hatiku paling dalam. Aku juga membencimu karena itu.” ucap Lila menekan kalimat nya hingga membuat siapa saja yang mendengar nya ikut merasakan.
Luke sendiri kini mengerti bagaimana perasaan Lila. Kini dia mengerti bahwa dendam Lila bukan tanpa alasan. Dia sudah mengerti semua nya. Jika dia pun yang berada di posisi Lila pasti akan melakukan hal yang sama.
“Alex dan Alexa adalah berkat untukku. Mereka adalah benih dari idolaku. Mana mungkin aku tega membenci idolaku sendiri. Apalagi mereka mewarisi wajah idolaku. Tapi ketika idola membuat kecewa fans nya. Tidak kah itu sangat mengecewakan. Aku membencimu tuan Melvin hingga melihatmu saja aku jijik.” Ucap Lila dengan air mata di pipi nya.
Melvin yang mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Lila itu bagaikan pisau tajam yang menghancurkan jantung dan hati nya sehancur-hancur nya. Dia akui dia melakukan kesalahan. Dia terima semua kebencian Lila pada nya. Tapi dia tidak akan membiarkan Lila pergi meninggalkan nya. Tidak akan pernah terima. Dia rela hidup bersama Lila yang membenci nya dari pada hidup tanpa Lila.
“Aku membencimu tuan Melvin. Pergi lah dari hadapanku.” Teriak Lila.
“Tidak, aku tidak akan pergi.” tolak Melvin bersikeras.
__ADS_1
Lila pun menatap tajam Melvin, “Luke pistolku. Aku akan membunuh siapa pun yang tidak ingin ku lihat. Siapa pun yang tidak bisa menepati janji nya. Putraku sudah membuatmu berjanji tuan Melvin tapi kenapa kau melanggar nya. Kau mendekatiku dengan jarak tidak lebih satu meter. Bukan kah kau di larang mendekati aku dengan jarak 50 meter. Kenapa kau melanggar janji pada putramu sendiri.” Ucap Lila.
“Persetan dengan janji. Aku bisa melanggar semua janji apapun. Biarkan saja putra kita itu marah padaku tapi aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi dan melakukan hal bodoh.” Ucap Melvin tegas dan keras.
Lila yang mendengar itu kembali tertawa dan menghapus bekas air mata di pipi nya. Dia benci menjadi cengeng, “Bodoh? Aku bodoh? Baiklah aku akan tunjukkan bagaimana kebodohan yang sesungguh nya kepada kalian. Selamat menonton.”
“Luke pistol nya. Kenapa kau diam saja.” pinta Lila menatap Luke. Luke yang memegang senjata Lila itu kini bimbang dengan semua nya.
“Hebat kau tuan Melvin. Kau sudah membuat bawahanku benar-benar teralih padamu. Dia bahkan tidak menganggapku nona nya lagi. Dia tidak menuruti perintahku lagi.” Ucap Lila lalu dengan cepat dia mengambil senjata milik Melvin di saku pria itu dan segera menodongkan senjata itu pada nya.
“Baiklah. Lila aku mohon lepaskan senjata itu. Turunkan. Aku menyerah. Tapi jangan melakukan hal bodoh. Alex dan Alexa ingin bertemu denganmu. Mereka merindukanmu. Tidak kah kau merindukan mereka. Jangan melakukan ini Lila. Aku mohon.” Ucap Melvin frustasi karena Lila hanya menanggapi semua perkataan nya itu dengan tawa sinis di bibir nya.
“Jangan mengancamku atas nama Alex dan Alexa tuan Melvin. Mereka adalah anak-anakku. Jangan gunakan mereka sebagai umpan agar aku menurut. Aku orang nekat. Tidak kah kau senang jika aku tiada maka kau bisa membawa anak-anak bersamamu. Tidak ada yang akan melarangmu.” Ucap Lila masih dengan tawa di bibir nya.
“Aku mohon Lila turunkan senjata itu. Baiklah aku tidak akan menggunakan mereka untuk mengancammu. Tapi aku mohon jangan main-main dengan senjata itu.” ucap Melvin sangat khawatir. Sungguh pistol nya sangat sensitif. Di tekan sedikit saja peluru nya langsung keluar. Dia tidak akan rela melihat Lila tiada karena senjata nya itu.
__ADS_1
Luke mendekat, “Stop Luke. Tetap di tempatmu. Jangan bergerak. Tetap di sana.” Ucap Lila saat tahu Luke ingin melepaskan senjata di tangan nya itu tapi ternyata Lila bisa melihat itu. Sungguh, penilaian yang lihai.
Luke pun berhenti dan dia segera berlutut, “Nona, lepaskan senjata itu. Jenis senjata itu jika--”
“Aku tahu Luke. Tidak perlu mengajariku.” Potong Lila lalu memandangi senjata Melvin di tangan nya seperti sedang bermain-main saja.
Lalu tiba-tiba suara tembakan berbunyi.
“Lila!”
“Nona!”
Melvin dan Luke berteriak bersamaan. Sementara Lila kini sedang tertawa sinis menatap dua pria di hadapan nya itu yang menatap nya dengan tatapan pucat nya.
“Kalian mengkhawatirkan aku? Apa kalian pikir aku sebodoh itu hingga harus mati sebelum membalaskan dendamku. Tidak aku bukan orang bodoh itu.” ucap Lila lalu segera melempar pistol dan isi peluru yang dia lepaskan tadi saat Melvin dan Luke tidak memperhatikan. Lila bukan orang bodoh juga.
__ADS_1
“Hum, tuan Melvin seperti nya anda harus belajar lagi cara mengenali senjata itu sedang aktif atau tidak.”