
Kembali lagi ke ruangan Melvin. Setelah Deo menerima telpon dari asisten papi Emran. Dia segera menatap Melvin.
“Ada apa? Kenapa menatapku begitu?” tanya Melvin.
“I-itu tuan. Anda di minta oleh tuan besar un--”
Melvin segera mengangkat tangannya tanda dia sudah mengerti apa yang di maksud oleh asistennya itu, “Sudah cukup. Aku sudah tahu. Apa aku sudah ketahuan?” tanya Melvin pada dirinya sendiri sambil tertawa meringis mengasihani dirinya. Sedikit tidaknya dia sudah bisa menduga hukuman yang akan di berikan oleh papinya itu.
Deo mengangguk. Melvin tertawa namun justru terdengar menyedihkan, “Sepertinya papi dan asistennya itu bergerak dengan cepat. Aku akui asisten papi itu masih sangat hebat walau di usianya yang sudah menginjak tua. Dalam seminggu dia sudah mendapatkan infonya.” Ujar Melvin lalu berdiri dari kursi kebesarannya dan segera menuju pintu.
“Saya ikut tuan.” Ucap Deo segera mengikuti tuan mudanya itu. Melvin diam saja. Dia tidak mengiayakan tidak juga menolak perkataan asistennya itu.
Kini mereka sedang dalam perjalanan menuju ruang rahasia papi Emran berada. Melvin menutup matanya tanda dia sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi nantinya.
“Tuan, apa setidaknya anda jangan dulu datang hari ini. Saya akan memberikan alasan bahwa anda kurang sehat.” Ucap Deo khawatir.
“Jalan saja Deo. Kita harus segera menyelesaikan masalahku dengan papi. Aku harus segera menerima hukuman darinya agar setidaknya aku sedikit merasa lega karena aku sudah di hukum. Selain itu juga percuma kau membuat alasan aku sakit karena dia pasti akan mengetahuinya yang justru akan semakin menambah hukumanku. Aku juga tidak ingin terlihat pengecut di matanya. Aku ini akan mempertanggung jawabkan kesalahan yang ku perbuat.” Ujar Melvin.
__ADS_1
“Jalan saja Deo. Gak usah ragu. Tidak perlu mengkhawatirkan aku. Aku mungkin memang akan dia hukum tapi papi tidak mungkin membunuhku karena aku adalah satu-satunya putranya. Satu-satunya keturunannya yang akan mewarisi kekayaannya itu. Jadi jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja.” ujar Melvin kemudian. Dia tahu bahwa asistennya itu mengkhawatirkan dirinya. Tapi Melvin memang harus menghadapi papinya cepat atau lambat dia harus menerima hukumannya. Dia sudah tidak punya jalan lain lagi untuk lagi. Dia tidak bisa mundur lagi.
Deo pun hanya bisa menghela nafasnya kasar dan menatap tuannya itu dengan tatapan penuh rasa khawatir. Memang benar tuan besarnya tidak akan mungkin membunuh tuan mudanya itu tapi tetap saja dia khawatir. Karena dia tahu bahwa hukuman yang akan di berikan oleh tuannya itu bukanlah hukuman sembarangan pasti hukuman yang sangat berat. Dia tahu tuan besarnya itu sangat kejam dalam menghukum seseorang yang berbuat kesalahan. Tidak pandang bulu itu siapa.
***
Setelah sekitar 15 menit mereka mengendara akhirnya mereka tiba di ruangan rahasia milik papi Emran. Melvin segera turun di ikuti Deo di belakangnya. Melvin menghentikan langkahnya dan menatap ruangan rahasia itu dalam lalu setelah itu dia segera mempercepat langkahnya dan segera masuk ke dalam ruangan itu.
Deo juga mengikuti tuan mudanya itu masuk. Dia memang tidak bisa membantu apapun tapi setidaknya dia bisa mengobati luka tuannya itu nanti.
“Duduk!” ucap papi Emran singkat meminta Melvin dan Deo untuk duduk.
Melvin segera melangkah dengan cepat mendekati papinya dan asisten papinya itu. Melvin segera bersimpuh di hadapan papinya yang justru menatapnya sinis tanpa rasa kasihan sedikit pun.
“Aku menyuruhmu duduk bukan bersimpuh.” Ucap papi Emran dingin.
Melvin tetap diam saja dan tidak bergeming dari tempat duduknya, “Nugraha sepertinya dia datang sudah menyiapkan mentalnya. Baiklah sepertinya dia sudah siap untuk menerima hukuman untuk perbuatannnya itu. Aku benci pria yang tidak bisa menghormati wanita begitu.” Ujar papi Emran sangat dingin dan tajam.
__ADS_1
“Tapi aku tidak akan menjadi ayah yang jahat yang tidak memberimu kesempatan untuk menjelaskan kesalahanmu. Cepat katakan padaku apa pembelaan yang bisa kau lakukan untuk meringankan hukuman yang kau terima nanti. Hukuman yang akan kau terima semua tergantung pada jawaban yang kau berikan. Jika aku puas dengan jawabanmu maka aku akan meringkankan hukumanmu. Itu juga berlaku untuk kebalikannya.” Ujar papi Emran tidak ada sisi seorang ayah sedikit pun terlihat.
“Aku memberimu waktu 10 menit untuk menjelaskan. Cepat jelaskan dan angkat kepalamu! Aku tidak suka melihat orang yang tidak berdaya.” ucap papi Emran.
Melvin pun mengangkat kepalanya dan menatap papinya itu, “Aku tidak ingin menjelaskan apapun karena aku yakin tanpa ku jelaskan pun kau sudah tahu apa yang sudah terjadi. Aku akui aku melakukannya kepada gadis itu. Aku harus mengakui bahwa aku menikmatinya. Aku juga mengakui bahwa aku mengeluarkan benihku dalam rahimnya berulang kali yang bisa saja membuatnya hamil jika dalam masa subur. Aku tidak menyesali apa yang ku lakukan karena dia sepertinya gadis cantik. Walau aku tidak mengenal siapa dia tapi aku berjanji akan segera menemukannya dan membawanya kepadamu sebagai menantumu. Aku memang tidak mengingat wajahnya tapi aku yakin dia adalah gadis yang minum bersamaku di bar saat malam itu. Yah dia gadis itu aku yakin. Aku tekankan sekali lagi aku tidak menyesal atas apa yang ku lakukan padanya.” ucap Melvin tanpa rasa takut sedikit pun mengakui kesalahannya itu. setidaknya dia ingin membuat pengakuan atas kesalahannya agar dia bisa sedikit merasa tenang. Papi Emran yang mendengar penuturan putranya itu yang tidak takut akan hukumannya pun langsung memberikan tendangan kepada putranya itu.
Deo yang melihat itu hanya bisa melihat dengan miris. Dia ingin membantu tapi tidak bisa, “Lalu hukuman apa yang harus aku berikan untuk kesalahanmu ini?” tanya Papi Emran.
“Aku akan menerima hukuman apapun yang kau berikan. Tapi setidaknya pastikan bahwa aku tidak mati. Aku masih ingin mempertanggung jawabkan kesalahan yang ku perbuat pada gadis itu. Setidaknya berikan aku kesempatan untuk menebus kesalahannya. Satu bulan, aku janji akan menemukannya.” Ujar Melvin tidak merasa sakit sedikit pun atas tendangan yang di berikan papinya itu.
“Baiklah, satu bulan. Kau harus menemukannya. Tapi kau harus menerima hukumanmu dulu.” Ujar papi Emran tanpa menatap putranya itu.
“Aku sudah siap menerima hukumanku.” Ujar Melvin tanpa rasa takut.
“Nugraha bawa dia dan hukum dia sebanyak 50 kali cambukan.” Ujar papi Emran.
Nugraha pun segera mengangguk lalu segera meminta bodyguard untuk membawa Melvin menuju ruangan hukum. Deo yang melihat itu segera bersimpuh di hadapan papi Emran, “Tuan, saya yang salah karena membiarkan tuan muda pergi ke club. Tolong jangan hukum tuan muda seperti itu. Kasihan tuan. Berbelas kasilah.” Ujar Deo memohon. Papi Emran tertawa melihat asisten putranya itu.
__ADS_1