My Secret With CEO

My Secret With CEO
29


__ADS_3

Kini Lila berada di kamarnya dengan memegang bingkai foto orang tuanya, “Mom … Dad … Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kenapa anak-anakku harus mendapatkan bully seperti itu? Mereka tidak bersalah. Aku yang bersalah tapi kenapa mereka yang harus menerima hinaan itu. Mereka punya daddy bahkan nanti mereka sangat hebat. Tapi bagaimana caranya aku menjelaskannya? Jika aku sendiri pun tidak yakin untuk membawa mereka menemui daddynya. Aku mohon dad … mom … tolong bantu aku menyelesaikan ini. Bantu aku mengambil keputusan yang tepat untuk masa depan mereka.” ucap Lila mengadu pada foto kedua orang tuanya itu.


“Mom … dad … aku pikir dengan kasih sayang dan materi yang tidak kekurangan yang ku berikan pada mereka akan membuat mereka lupa dengan pertanyaan di mana daddy mereka berada. Tapi ternyata aku salah. Mereka tidak melupakannya. Aku harus bagaimana? Aku lemah jika menyangkut mereka. Aku takut jika aku mempertemukan mereka dengan Melvin. Mereka akan melupakan aku dan ikut dengan Melvin atau mungkin Melvin yang akan merebut mereka dariku. Aku tidak sanggup jika harus berpisah dengan mereka. Aku harus apa sekarang.” Ucap Lila bingung.


Lila meletakkan bingkai foto kedua orang tuanya itu dan lalu dia keluar dari kamarnya dan segera membuka pintu kamar anak-anaknya.


Alex dan Alexa di dalam kamar mereka itu hanya diam saja sambil membaca buku mereka. Kedua anak itu hanya diam saja tidak bergeming akan kedatangan Lila ke kamar mereka.


“Nak!” panggil Lila tapi kedua buah hatinya tetap saja tidak bergeming.


Lila pun menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan-lahan, “Apa kalian sungguh ingin tahu di mana daddy kalian berada?” tanya Lila menatap kedua buah hatinya itu. Namun tetap saja mereka tetap diam.


Lila pun memejamkan matanya sejenak. Satu hal yang dia pahami bahwa kedua anaknya itu mewarisi sifat keras kepalanya. Wajah mereka mirip Melvin tapi sikap keras kepala mereka itu adalah warisan darinya dan menjadi satu-satunya yang dia wariskan pada kedua buah hatinya itu karena selain itu Alex dan Alexa adalah copyan Melvin semua.


“Mommy akan menjelaskan semuanya. Mommy akan menjawab semua pertanyaan yang akan kalian ajukan. Jadi sekarang kalian bebas mau menanyakan apapun itu.” ucap Lila akhirnya. Dia tidak boleh egois sekarang.


Mungkin memang sudah saatnya kedua buah hatinya itu mengetahui siapa daddy mereka dan di mana daddy mereka itu berada. Laki-laki yang menitipkan benihnya di rahim Lila yang menghasilkan dua makhluk yang menggemaskan.


Alex dan Alexa yang mendengar ucapan Lila pun segera menatap Lila, “Di mana daddy mom?” tanya Alexa. Pertanyaan yang sama yang di ajukan oleh Alex dan Alexa saat tadi di dalam mobil tapi tak dia jawab sama sekali.


Lila menatap kedua buah hatinya itu dengan tatapan sendu, “Apa kalian sangat ingin tahu di mana daddy kalian berada?” tanya Lila mengulangi pertanyaannya itu sambil berharap kedua buah hatinya itu mengubah keputusan mereka untuk tidak bertanya.

__ADS_1


Keduanya mengangguk dengan cepat, “Kami hanya ingin bertemu dengan daddy mom agar kami tidak di hina tidak memiliki daddy lagi. Alex ingin memukul Bia itu karena memukul Alexa dan menghina kami tapi Alex ingat pesan mommy. Jadi bisakah mommy mengatakan di mana daddy kami berada?” ucap Alex menatap Lila dengan tatapan memohonnya.


Lila mencoba menahan air matanya yang hendak menetes itu, “Mommy sangat menyayangi kalian. Apapun yang terjadi kasih sayang mommy kepada kalian tidak akan berkurang. Kalian harus ingat itu dengan baik. Mommy akan mengatakan di mana daddy kalian karena itu memang hak kalian untuk tahu.” Ucap Lila.


“Kalian memiliki daddy nak. Daddy kalian itu orang hebat. Mommy mengidolakannya.” Sambung Lila.


“Apa ini daddy kami?” tanya Alexa mengeluarkan gambar di tabletnya.


Lila menatap foto itu dan seketika dia menatap kedua buah hatinya, “Kalian sudah tahu?” tanya Lila.


Alex dan Alexa mengangguk, “Kami mencari tahu sendiri mom. Maaf atas kelancangan kami. Maaf kami tidak izin dulu. Tapi kami sangat penasaran dengan daddy kami.” ucap Alexa mengaku.


Alexa mengangguk dalam pelukannya, “Apa Alex juga ingin?” tanya Lila kepada putranya.


Alex pun mengangguk, “Apa kalian yakin dengan permintaan kalian itu?” tanya Lila.


Alex dan Alexa pun mengangguk yakin, “Kami ingin bertemu daddy mom.” Ucap keduanya bersamaan.


“Itu adalah keinginan kami untuk ulang tahun kami kali ini, mom.” Ucap Alexa.


“Kami ingin meminta hadiah itu dari mom saat ulang tahun kami.” lanjut Alexa.

__ADS_1


“Mom, tidak bisakah ulang tahun kami kali ini di rayakan bersama daddy?” pinta Alex.


Lila menatap kedua buah hatinya itu dengan air mata yang mengalir di pipinya, “Apa kalian sudah sanggup berpisah dengan mommy?” tanya Lila.


“Apa maksudnya itu mom? Tidak bisakah kita tinggal bersama. Aku, Alexa, mommy dan daddy.” Ucap Alex.


“Mommy juga ingin hal itu. Tapi siapa yang tahu jika daddy kalian sudah punya istri lain.” Ucap Lila.


“Gak, kami tidak ingin berpisah dengan mommy.” Ucap Alex dan Alexa bersamaan.


“Lalu sekarang bagaimana? Apa kalian masih mau menemui daddy kalian?” tanya Lila.


Keduanya saling menatap satu sama lain lalu perlahan menggeleng, “Kami tidak akan meminta untuk bertemu daddy lagi mom. Kami akan melihat daddy dari jauh saja. Itu sudah cukup. Yang penting kami tidak berpisah dengan mommy. Kami sayang mommy.” Ucap Alexa di angguki oleh Alex.


Lila pun memeluk kedua buah hatinya itu dengat erat, “Maafkan mommy yang egois nak. Mommy belum siap jika harus kehilangan kalian. Mommy belum siap jika harus kembali ke Negara N.” batin Lila.


Setelah itu Lila pun menidurkan kedua anaknya itu dalam pelukannya. Alex dan Alexa pun menurut dan mereka akhirnya terlelap.


Setelah memastikan kedua anaknya itu sudah tidur. Lila segera bangun dan merapikan kamar kedua anaknya itu dan saat merapikan buku robot milik kedua anaknya itu. Dia mendapatkan selebaran. Lila menatap kedua buah hatinya yang sudah terlelap itu, “Apa takdir memang ingin kalian bertemu daddy kalian nak. Apa mommy sudah kalah sekarang?” gumam Lila membaca selebaran lomba pembuatan robot tingkat anak-anak itu.


Lila segera keluar dari kamar kedua anaknya dan kembali ke kamarnya sendiri. Dia segera duduk di hadapan komputer yang ada di hadapannya itu dan tangannya mulai berselancar, “Aku memang egois tapi kebahagiaan kalian adalah prioritasku.”

__ADS_1


__ADS_2