My Secret With CEO

My Secret With CEO
09


__ADS_3

“Wah, ternyata kau memilih asisten yang sangat loyal juga putraku. Aku bangga denganmu yang bisa mendapatkan asisten seloyal ini.” ucap papi Emran sinis.


Melvin yang mendengar ucapan papinya itu pun segera berbalik dan melihat Deo yang berlutut di hadapan papinya, “Deo, berdiri kau. Jangan melakukan itu jika kau tidak ingin menerima hukuman dariku.” Teriak Melvin.


“Tidak tuan, saya akan terus berlutut di sini sampai tuan besar memaafkan anda. Saya yang pantas di hukum karena lalai melakukan tugas anda.” Ujar Deo masih saja menolak.


Melvin yang mendengar ucapan keras kepala Deo itu pun hanya bisa mendesis kesal, “Apa yang kau inginkan? Aku akan berbelas kasih pada tuanmu itu tapi dengan syarat.” Ucap papi Emran.


“Saya menyetujui syarat apapun yang akan anda katakan tuan. Tapi setidaknya jangan hukum tuan muda.” Ucap Deo cepat.


Papi Emran pun terkekeh mendengarnya, “Kau belum mendengar syarat yang ku berikan tapi kau sudah menyetujuinya. Bagaimana jika aku meminta nya--”


“Papi biarkan dia, bebaskan dia. Dia tidak tahu--”


“Sstt, jangan ikut campur dengan urusanku dengan asistenmu ini putraku. Kau tidak sedang dalam posisi bisa berkompromi denganku. Jadi diam saja.” ucap papi Emran mengangkat sebelah tangannya meminta Melvin untuk diam.


“Deo, apa kau yakin masih harus membantu tuanmu itu dari hukumannya?” tanya papi Emran kembali menatap asisten putranya itu.


Deo mengangguk yakin, “Saya menerima apapun syarat itu walaupun nyawa saya sendiri yang harus saya berikan tapi setidaknya saya sudah melakukan yang terbaik untuk membela tuan saya.” ucap Deo tidak ada keraguan sama sekali dalam setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya.


Melvin menggeleng melihat itu tapi dia tidak bisa melakukan apapun, “Pih, lepaskan dia.” Ucap Melvin masih mencoba memohon.

__ADS_1


“Aku akan meringankan hukuman tuanmu itu menjadi 40 cambukkan dan yang 10 cambukan kau yang akan menerimanya karena lalai mengawasi tuanmu itu. Pengawal bawa dia juga ke ruang hukuman.” Ucap papi Emran tegas.


Melvin segera bersimpuh kembali dengan tangan yang saling menyatu di depan dadanya, “Aku mohon pih. Jangan hukum dia. Cukup aku saja. Aku tidak butuh pengurangan hukuman. Papi bisa menghukumku dan aku menerimanya karena aku berbuat salah. Kesalahan yang ku lakukan tidak ada hubungannya dengan asistenku sama sekali. Lepaskan dia Pih. Aku yang akan menerima hukuman untuknya karena ini memang salahku sendiri.” Ucap Melvin memohon.


“Tuan jangan memohon lagi. Saya tidak keberatan berbagi hukuman dengan anda.” Ucap Deo.


“Diam Deo. Jangan bicara lagi. Sudah cukup kau bicara. Kini giliranku bicara.” Ucap Melvin tegas.


“Wah, Nugraha sangat bagus drama ini. Baiklah aku akan menghentikan drama ini. Bawa Melvin ke ruang hukuman dan segera beri dia hukuman 50 kali cambukkan.” Ucap papi Emran.


Melvin tersenyum mendengar keputusan papinya itu, “Terima kasih pih.” Ucap Melvin lalu menatap Deo yang menatapnya dengan tatapan terharu.


Melvin pun segera di hukum. Deo melihatnya. Ingin sekali dia membantu tapi tuannya itu tidak ingin di bantu sama sekali. Dia ingin menebus kesalahannya dengan cara menerima hukuman dari papinya.


“Apa kau akan diam saja melihat tuanmu di hukum?” tanya papi Emran tiba-tiba saja sudah di dekat Deo.


Deo pun kaget dan menatap sinis kepada tuan besarnya itu, “Kau bisa menatapku seperti itu. Aku tidak keberatan. Kesalahan tetaplah kesalahan untukku dan semua kesalahan pantas di hukum. Aku hanya tidak ingin suatu saat nanti di tuntut menjadi orang tua yang tidak bertanggung jawab kepada anaknya.” Ucap Papi Emran melihat sebentar putranya itu lalu kembali meninggalkan ruang hukuman itu.


“Anda kejam tuan. Saya berjanji akan menemukan gadis itu dan membuat tuan dan gadis itu menikah. Saya janji akan mewujudkannya.” Tekad Deo sedikit berteriak karena papi Emran sudah melangkah jauh. Sementara papi Emran tersenyum mendengar teriakan asisten putranya itu.


“Kau sudah menemukan orang tepat untuk berada di sisimu putraku. Tenang saja luka yang kau dapatkan hari ini sudah sangat sepadan dengan asisten yang kau dapatkan.” Gumam papi Emran segera menuju ruangannya.

__ADS_1


Sementara di ruang hukum, 50 cambukan yang di dapat oleh Melvin sudah selesai. Melvin hanya terkulai lemah dan Deo segera mendekati tuannya itu dan membantunya bergerak. Deo segera meminta pengawal untuk membawa Melvin keluar dan di bawa ke rumah sakit.


“Tidak perlu ke rumah sakit Deo. Bawa saja aku ke apartemen. Luka ini tidak sebanding dengan rasa frutasiku tidak bisa menemukannya.” Ucap Melvin lirih.


“Jangan bicara lagi tuan.” Ucap Deo lalu memapah Melvin.


“Itu obatnya. Pastikan kau menemukan gadis itu dalam sebulan. Aku percayakan putraku itu kepadamu.” Ucap papi Emran lalu segera melemparkan sebotol obat yang di tangkap oleh Deo. Deo pun segera membawa tuan mudanya itu pergi ke apartemen seperti permintaan tuannya.


Kembali ke sisi papi Emran, “Apa lukanya parah Nugraha?” tanya papi Emran.


Nugraha pun tersenyum, “Anda mengkhawatirkannya juga? Saya pikir anda sudah menjadi ayah yang kejam. Tenang saja tuan obat yang anda berikan itu akan segera menyembuhkan lukanya dengan baik. Kami tidak mungkin melukai tuan muda dengan kejam. Kami hanya mengikuti drama yang sengaja anda ciptakan.” Ucap Nugraha.


“Ck, Sialan kau. Ini idemu yang mengusulkan untuk memberinya hukuman cambuk. Aku menjadi ayah yang kejam untuknya bahkan Deo juga menganggapku begitu. Dia meragukan kasih sayangku untuk putraku. Ini semua karena idemu itu Nugraha.” Ucap papi Emran mengerang.


Nugraha justru tertawa, “Saya hanya mengusulkannya tapi anda yang menjalankannya tuan. Anda memang sangat berbakat menciptakan drama yang terlihat bahwa tuan muda seperti di hukum dan benar-benar kesakitan hanya untuk menguji asistennya.” Ucap Nugraha.


“Tapi tetap saja dia terluka. Cambukkan itu tetap melukainya.” Ucap Papi Emran mendesis.


“Bukankah anda memang ingin dia juga tetap merasakan hukuman karena sudah menodai seorang gadis tuan. Bukankah anda juga melakukan itu untuk kebaikannya agar dia bisa sedikit merasa lega.” Ucap Nugraha.


Papi Emran pun menghela nafas, “Jangan biarkan istriku sampai tahu hal ini apalagi sampai tahu aku menghukum putraku. Dia bisa pingsan jika melihat putra kesayangannya itu terluka.” Ucap papi Emran.

__ADS_1


“Ohiya kau juga cari tahu di mana gadis itu tinggal dan suruh anak buah kita untuk mengawasinya. Aku tidak ingin kita kecolongan lagi. Awasi juga perkembangan benih putraku itu. Kurang ajar dia mengakui melakukannya berulang kali. Apa putraku itu sangat buas begitu mendapatkan hidangan lezat di hadapannya.” Ucap papi Emran mendesis sambil memijat kepalanya. Sementara asistennya itu segera melakukan apa yang di minta.


__ADS_2