
“Apa?”
“Anda tidak salah kan dokter?” tanya Melvin kaget dengan suara yang sedikit keras.
Sungguh, dia tidak bisa menerima hal ini. Bagaimana mungkin Lila di racuni. Di mana Lila di racuni. Itu yang ada di pikiran nya saat ini. Tapi kini ada satu kemungkinan yang dia dapat. Melvin mengepalkan tangan nya erat.
“Ini laporan nya tuan. Di sini terdeteksi ada racun dalam darah nya. Tapi untuk memastikan nya kita akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Bisa saja hasil lab nya salah dan ada sedikit kerusakan.” Jelas dokter itu.
“Apa bisa sembuh dokter?” tanya Melvin menatap dokter itu.
“Saya belum bisa pastikan untuk hal itu tuan. Kita harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Tapi seperti nya dia mengendalikan racun itu dengan penawar nya sehingga racun itu hanya terdeteksi dalam jumlah kecil padahal sudah menyebar ke seluruh tubuh nya.” Jelas dokter.
Melvin pun kini hanya bisa menahan tangis nya itu, “Terima kasih dokter. Saya pamit!” ucap Melvin berdiri.
“Lakukan yang terbaik untuk nya dokter. Dia harus sembuh apapun yang terjadi.” Ucap Melvin sebelum pergi lalu dia mengambil dokumen pemeriksaan Lila itu.
Melvin melangkah keluar dengan langkah gontai dan rapuh seolah tulang dalam tubuh nya itu hilang sudah tidak terdeteksi sama sekali. Dia rapuh dan kehilangan semua nya.
“Tidak, kau tidak boleh mati Lila. Aku tidak mengizinkan nya. Aku akan mendapatkan dokter terbaik untukmu. Kau sudah banyak kali membuatku bersedih. Kau harus menebus setiap detik dan setiap menit kesedihanku. Aku tidak akan membiarkanmu mati. Tidak akan.” Ucap Melvin menangis.
Flash back off.
Mami Elea membaca laporan itu dan hampir saja jatuh tapi untung saja Melvin memegang tubuh mami nya itu, “Kita harus carikan dokter terbaik untuk nya nak. Dia sudah cukup menderita. Dia tidak boleh mati. Alex dan Alexa butuh mommy mereka. Mami pun butuh menantu yang bisa mami ajak shoping. Dia tidak boleh mati nak. Tidak boleh.” Ucap mami Elea ikut meneteskan air mata nya dan menatap Lila.
__ADS_1
Mami Elea mendekati Lila dan menyentuh dahi wanita yang sudah melahirkan dua cucu tampan dan cantik serta jenius untuk nya, “Melvin … jangan biarkan ibu dan kakak tiri nya itu mati dengan mudah. Mami akan menuntut balas kepada mereka. Kini mami mengerti kenapa dia sangat ingin membalaskan dendam atas kematian mommy dan daddy nya. Dia mungkin tahu bahwa kematian kedua orang tua nya itu aneh dan di racuni.” Ucap mami Elea.
“Luke … Luke … tidak jangan pergi ..” teriak Lila dan dia pun segera terbangun.
Mami Elea segera memeluk Lila yang meneteskan air mata nya, “Tenang nak. Luke baik-baik saja di ICU. Kamu hanya sedang mimpi buruk saja.” ucap mami Elea menenangkan Lila.
“Aku mau melihat nya.” Ucap Lila melepas pelukan mami Elea itu.
Melvin pun segera mendekati Lila dan segera menyingkap selimut yang menutupi tubuh Lila dan segera menggendong Lila ke kursi roda, “Ayo kita melihat nya. Sekarang hentikan tangisanmu itu. Jangan menangis!” ucap Melvin lalu segera mendorong kursi roda Lila menuju ICU di mana Luke berada.
Lila pun segera mengusap air mata di pipi nya itu dan mencoba melupakan apa yang ada di mimpi nya. Melvin juga ikut khawatir akan keadaan Luke. Dia tidak lagi memikirkan hubungan Lila dan Luke karena yang ada dalam pikiran nya saat ini adalah kesembuhan Lila. Bagaimana cara nya agar racun dalam tubuh Lila itu ternetralisir. Hanya itu saja yang dia inginkan.
Sekitar tiga menitan akhirnya mereka tiba di ruang ICU di mana dokter dan perawat berlarian ke sana kemari. Jantung Lila berdetak dengan kencang. Dia takut apa yang ada dalam mimpi nya itu terjadi. Lila melihat Luke yang saat ini sedang di tangani oleh dokter di sana. Lila meneteskan air mata nya lagi.
Melvin yang melihat itu pun hanya bisa diam, “Apa benar kau dan Luke memiliki hubungan itu? Kenapa kau sangat mengkhawatirkan nya dari pada dirimu sendiri. Padahal saat ini kau juga sedang sakit. Lumpuh bahkan di racuni.” Batin Melvin memandangi Lila yang menangis.
“Dokter bagaimana keadaan nya?” tanya Lila begitu dokter keluar. Lila terlihat sangat khawatir. Dia takut hal buruk yang akan di katakan oleh dokter itu.
“Dia baik-baik saja walaupun detak jantung nya sempat hilang tadi. Namun semua nya sudah kembali baik. Dia sudah melewati masa kritis nya. Dalam beberapa jam ke depan seperti nya dia akan segera sadar.” Jawab dokter itu.
Lila yang mendengar ucapan dokter itu pun segera mengucap syukur nya dan ucapan terima kasih sebanyak-banyak kepada dokter. Lila kembali menatap Luke dan dia pun tersenyum, “Kau harus segera sembuh. Cepat lah sadar. Aku akan mengatakan semua nya padamu nanti.” Batin Lila.
“Tuan Melvin, kita kembali. Aku ingin makan. Aku lapar.” Pinta Lila.
__ADS_1
Melvin pun mengangguk saja dan segera mendorong kembali kursi roda milik Lila kembali ke ruangan nya.
“Tuan Melvin, aku ingin makan makanan dari luar. Aku tidak menyukai makanan di sini.” Ucap Lila.
“Kau ingin makan apa? Biar aku pesankan.” Ucap Melvin.
“Apa saja aku makan. Tapi pastikan itu harus pedas.” Jawab Lila.
Melvin pun mengangguk mengerti dan segera meminta bawahan nya untuk membelikan pesanan Lila. Melvin kembali menggendong Lila ke ranjang nya.
“Anak-anak di mana?” tanya Lila karena tidak mendapati Alex dan Alexa yang saat tadi sedang tidur tapi kini sudah tidak ada.
“Mungkin mereka di ajak mami sarapan.” Jawab Melvin lalu meraih ponsel nya dan menghubungi sang mami dan menanyakan keberadaan anak-anak nya itu.
Lila setelah tahu di mana keberadaan anak-anak nya pun kini beralih menatap Melvin dan memberanikan diri bicara walaupun sebenar nya dia canggung dan sungkan, “Tuan Melvin aku punya satu permintaan kepadamu. Apa kau bisa mewujudkan nya untukku?” tanya Lila.
“Katakan saja.” ucap Melvin.
“Saat Luke sembuh nanti, aku ingin berlibur dengan nya ke kota tua di Negara J.” ucap Lila.
“Luke? Apa hanya berdua saja?” tanya Melvin memastikan. Jujur saja kini rasa cemburu nya itu kembali lagi.
Lila pun mengangguk, “Iya. Berdua saja. Aku titip anak-anak. Itu saja permintaanku.” Ucap Lila.
__ADS_1
“Kenapa harus Luke? Kenapa harus berdua juga? Katakan aku alasan nya. Alasan yang logis yang bisa di terima oleh akal sehatku.” Ucap Melvin.
Lila pun terdiam, “Itu karena aku ingin menghabiskan waktuku bersama orang yang ku sayangi!” batin Lila.