My Secret With CEO

My Secret With CEO
33


__ADS_3

Sementara di sisi Melvin, kini dia turun dari kamarnya dengan terburu-buru.


“Nak, kau mau kemana?” tanya mami Elea melihat putranya yang terburu-buru itu.


Melvin pun segera berbalik dan menatap maminya, “Mih, Melvin hanya mau keluar sebentar saja. Ada yang harus Melvin pastikan.” Ucap Melvin.


“Apa tidak bisa nanti besok pagi saja nak. Itu sudah malam.” Ucap mami Elea melihat jam.


“Gak bisa Mih. Melvin gak bisa menunggu sampai besok.” Tolak Melvin.


“Ya Sudah pergilah. Lakukan saja apa yang kau inginkan.” Ucap papi Emran.


Melvin pun mengangguk dan dia segera keluar. Tidak lama deru bunyi mobil pun terdengar meninggalkan kediaman.


“Pih, kenapa kau membiarkan dia pergi?” Protes mami Elea kepada suaminya itu.


“Lalu apa yang harus aku lakukan? Melarangnya pergi? Itu tidak mungkin aku lakukan Mih. Dia itu sudah dewasa dan seorang pria. Apa yang harus kita khawatirkan. Dia sudah tahu mana yang baik untuknya atau tidak. Biarkan saja dia memutuskan apa yang akan dia lakukan. Selain itu juga percuma kita melarangnya jika dia sudah bertekad untuk pergi karena jika dia sudah bertekad maka itu akan dia lakukan. Buktinya hampir enam tahun ini dia bisa bertahan menunggu seorang gadis yang membuatnya merasakan kenikmatan dunia ini walau hanya semalam. Jadi apa yang membuat mami khawatir. Dia tidak akan melakukan hal macam-macam karena dia adalah pria yang memiliki pendirian.” Ucap papi Emran.


Mami Elea yang mendengar penjelasan suaminya itu pun hanya bisa terdiam dan menurut saja karena setelah dia pikir-pikir pun putranya itu memang tidak pernah berbuat nakal. Hanya satu kesalahannya yaitu pergi ke club sendiri dan mabuk lalu meniduri seorang gadis. Tapi untuk kesalahannya itu putranya itu sudah menghukum dirinya sendiri selama ini.


“Aku hanya bisa berdoa semoga bahagia akan datang pada putraku. Lila aku mohon pulanglah dan bawa cucuku kembali.” Batin mami Elea sambil menutup matanya.


***

__ADS_1


Kini Melvin sudah tiba di suatu tempat yang memang sering dia kunjungi saat tahun pertama Lila pergi untuk menghilangkan rasa mualnya. Lalu di tahun kedua dia juga sering ke sini setelah tahu bahwa anaknya sudah lahir dan sangat mirip dengannya tapi tak kunjung dia temukan keberadaan mereka. Lalu setelah itu dia setiap sebulan sekali pasti menginap di sini sekedar menghirup sisa aroma tubuh gadis yang sudah dia tiduri. Yah kini Melvin sedang berada di apartemen Lila.


Melvin segera membuka pintu kamar milik Lila itu dan aroma tubuh Lila masih ada di sana walaupun sudah bertahun-tahun seolah mengingatkannya untuk tidak melupakan gadis yang sudah dia tidur itu.


Melvin segera mengambil bingkai foto milik Lila yang sedang tersenyum cantik. Senyuman manis milik Lila saat mommynya masih hidup, “Kau sangat cantik saat tersenyum seperti ini. Kenapa pertemuan kita hanya sekilas dan terjadi begitu cepat. Aku bahkan tidak mengingat wajahmu dengan jelas saat malam itu. Tapi hukuman yang kau berikan untukku membuatku gila. Anak-anak kita juga kini sudah tahu siapa aku tapi aku tetap saja tidak bisa menemukan kalian. Pria macam apa aku ini.” ucap Melvin sambil mengelus bingkai foto itu tapi entah kenapa bingkai foto itu terlepas dari genggamannya dan pecah.


Melvin pun segera berjongkok untuk mengambil foto Lila yang pecah tapi seketika dia terhenti karena melihat ada lipatan kertas di balik foto Lila itu.


Melvin segera mengambilnya dan membacanya.


Untuk : Tuan Melvin Idolaku Yang Mungkin Juga Ayah Dari Anak Yang Ku Kandung Ini


[Aku meninggalkan pesan ini untukmu walau aku tak tahu kapan kau akan menemukannya. Tapi aku berharap suatu saat nanti kau akan menemukan kertas ini walau itu entah kapan. Tapi aku akan tetap menunggumu. Jika memang kau ingin bertanggung jawab atas diriku dan juga anak yang ku kandung. Benih yang kau titipkan di rahimku atas kesalahan kita berdua maka jemputlah aku. Aku menunggumu. Aku pergi ke tempat di mana aku di buat. Aku menunggumu di sana.]


Dari : Lila Penggemarmu.


“Tempat kau di buat? Apa itu berarti tempat di mana tuan Calvin dan nyonya Dhara berbulan madu. Bisa jadi. Iya itu pasti.” Ucap Melvin setelah berpikir cukup lama memecahkan teka teki keberadaan Lila itu.


Melvin segera menghubungi pengacara Jay langsung karena dia yakin pengacara Jay pasti tahu di mana tempat bulan madu orang tuanya Lila itu berhubung pengacara Jay dan tuan Calvin bersahabat dekat.


Tuut … tuut … tuut …


“Jawablah cepat pengacara Jay sebelum aku menghancurkan karirmu.” Ucap Melvin geram karena panggilannya tak kunjung di jawab.

__ADS_1


“Halo, tuan Melvin ada apa menghubungi saya malam-malam begini? Apa ada yang bisa saya bantu?” tanya pengacara Jay dari seberang sana.


“Apa anda tahu di mana tempat tuan Calvin dan nyonya Dhara bulan madu?” tanya Melvin to the point.


“Calvin bulan madu? Mereka ke desa S di Negara Y. Ada apa tuan? Kenapa anda menanyakan ini?” tanya pengacara Jay.


“Lila pergi ke sana. Dia meninggalkan pesan untukku di balik fotonya. Baru saja aku temukan.” Ucap Melvin lalu setelah mengucapkan terima kasih sambungan telepon di antara mereka segera terputus.


Setelah itu Melvin segera pergi kembali ke kediaman utama. Dia mengendarai mobil hanya sekitar 10 menitan saja sudah tiba di kediaman utama, “Mami, papi!” panggilnya dengan suara yang lumayan tinggi.


“Ada apa nak?” sahut mami Elea keluar dari kamar di ikuti oleh papi Emran di belakangnya.


Melvin segera memeluk maminya, “Mih, aku menemukannya mih. Dia di desa S Negara Y.” ucap Melvin dalam pelukan maminya itu.


“Kamu tahu dari mana?” tanya papi Emran.


Melvin pun segera melepas pelukannya dari mami Elea, “Lihat pih, dia meninggalkan surat ini untukku.” Ucap Melvin segera memberikan kertas surat Lila itu.


Papi Emran dan mami Elea pun membaca surat itu, “Kalau begitu kita harus segera menjemputnya. Dia menunggumu nak.” ucap mami Elea ikut senang.


Melvin mengangguk dengan, “Tapi tunggu dulu kita sudah mengecek Negara Y dan tidak menemukannya sama sekali di sana.” Ucap papi Emran.


“Papi benar tapi kita tidak sampai mengecek sampai ke desa S kan? Dia di sana.” Ucap Melvin.

__ADS_1


“Tapi bagaimana dengan laporan di bandara?” tanya papi Emran.


“Pih, papi sendiri yang mengatakan bahwa dia memiliki kemampuan untuk mengelabui orang lain. Dia pasti sudah mempersiapkannya untuk ini. Jadi aku yakin kali ini dia pasti di sana. Aku mempercayai kata hatiku pih. Kita pasti melewatkan sesuatu di sana.” Ucap Melvin.


__ADS_2