My Secret With CEO

My Secret With CEO
71


__ADS_3

Melvin yang melihat Lila diam saja hanya bisa menarik nafas nya saja, “Segitu berarti nya kah Luke di hidupmu sehingga kau bahkan tidak bisa menjawab apa alasanmu ingin berlibur bersama Luke saja.” batin Melvin.


“Maaf! Tuan Melvin saya tidak bisa menjawab pertanyaan anda.” Jawab Lila lirih.


Melvin pun hanya mengangguk saja, “Tidak masalah. Ya sudah apa kamu mau sarapan?” tanya Melvin mengalihkan pembicaraan. Jujur saja dia kembali merasa cemburu pada Lila yang terlihat begitu mengkhawatirkan Luke. Dia sangat ingin tahu apa hubungan Luke dan Lila walaupun dengan apa yang putra nya katakan dia sudah sedikit bisa menduga. Tapi jangan sampai putra nya salah menduga. Dia takut jika nanti salah.


“Sarapan? Apa sudah tiba?” tanya Lila.


“Sebentar lagi. Sudah dalam perjalanan.” Jawab Melvin. Lila pun mengangguk.


Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Kedua nya diam dan larut dalam pikiran masing-masing.


Melvin memilih duduk di sofa dan Lila yang memilih memejamkan mata nya. Dia ingin melupakan apa yang terjadi. Dia sudah bisa menduga apa yang terjadi pada nya saat ini tanpa perlu mendengar diagnosa dari dokter. Sedikit tidak nya dia bisa merasakan bahwa kaki kanan nya terasa kaku. Sudah di pastikan bahwa dia mengalami lumpuh. Tapi itu tidak masalah. Lagi pula waktu yang dia punya entah masih masih berapa lagi yang tersisa sampai racun itu akan menyeluruh ke seluruh tubuh nya dan merusak nya dan pada akhirnya membuat nya kalah.


Obat yang selama ini dia konsumsi hanya bisa mencegah gejala yang timbul saja tapi tidak dengan mengobati. Jujur saja dia ingin menolak kematian yang seperti nya sudah di depan mata nya itu. Dia ingin bahagia bersama orang-orang yang dia cintai. Luke, Alex, Alexa, dan mungkin Melvin juga masuk dalam list itu. Tapi seperti nya waktu nya tidak cukup. Entah racun apa yang di gunakan oleh ibu dan kakak tiri nya itu hingga tidak bisa di diagnosa jenis racun nya. Ada racun dalam tubuh nya tapi untung saja saat dia mendonorkan darah kepada Luke waktu itu. Racun itu belum masuk ke darah nya.


“Tuhan, ada kah kebahagiaan untukku? Kenapa aku tidak pernah bisa merasakan bahagia itu?” batin Lila meneteskan air mata nya tapi buru-buru dia hapus karena tidak ingin Melvin melihat nya menangis. Dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Melvin. Dia tetap lah Lila yang keras kepala. Dia ingin mempertahankan sifat keras nya itu hingga waktu yang dia punya berakhir. Memang benar-benar definisi keras kepala sebenar nya. Atau itu sebuah keegoisan. Entah lah.


“Dia menangis? Apa yang kau rasakan Lila? Kenapa kau selalu sok kuat seperti itu? Entah apa yang sakit sehingga dia menangis tapi menyembunyikan nya?” batin Melvin yang memang melihat Lila menghapus air mata nya itu.


Melvin memang sibuk dengan tablet nya karena harus mengurus perusahaan dari jauh. Tapi walaupun seperti itu dia tetap mengawasi Lila. Tiba-tiba saja dia jadi pria yang multi tasking saat bertemu dengan Lila. Dia yang awal nya tidak bisa mengerjakan banyak pekerjaan dalam satu waktu semenjak enam tahun itu dia bisa melakukan itu dan kini hal itu sudah jadi hal yang biasa untuk nya.


Sepuluh menit kemudian akhirnya orang suruhan Melvin datang dengan membawakan pesanan mereka. Melvin pun segera menghidangkan nya dan mendekatkan nya kepada Lila, “Mau di suapi?” tawar Melvin mencoba keberuntungan nya itu. Siapa tahu saja bukan Lila khilaf dan menerima tawaran dari nya itu.


Lila pun mengangguk hingga membuat Melvin kaget tapi buru-buru dia normalkan kembali ekspresi nya itu. Melvin pun segera duduk di samping ranjang milik Lila dan perlahan mengambil sarapan dan menyuapkan nya kepada Lila dengan perlahan dan sangat telaten. Padahal ini pertama kali nya dia menyuapi orang lain. Namun seperti nya skill nya itu datang dengan cepat dan tidak butuh belajar.


Lila menatap manik mata Melvin itu yang membuat hati nya bergetar. Dia mengidolakan pria di hadapan nya ini. Dia sudah di titipkan benih oleh pria ini di rahim nya. Dia juga sudah melahirkan anak untuk pria di hadapan nya ini. Jujur saja dia ingin berharap bisa memiliki kehidupan bersama pria ini sama seperti status mereka di mata hukum saat ini. Tapi sekali lagi dia takut akan tertampar dengan harapan nya itu. Dia takut akan semua nya. Banyak pikiran buruk yang muncul dalam benak nya. Dia merasa tidak pantas untuk bersanding dengan laki-laki seperti Melvin yang menjadi idola banyak wanita di luaran sana. Apalagi jika harus mengingat kondisi nya saat ini. Lumpuh dan racun di seluruh tubuh yang seperti nya sewaktu-waktu akan datang merenggut nyawa nya. Namun tidak kah dia sedikit bisa berharap. Walaupun itu terasa tidak mungkin.


Harus dia akui bahwa apa yang terjadi selama ini bukan hanya kesalahan Melvin saja. Tapi juga di pengaruhi oleh sifak keras kepala dan keegoisan nya. Dia yang ingin di perjuangkan hingga memilih jalan berliku untuk mencapai bahagia. Tapi apakah salah dia hanya ingin merasakan bagaimana di perjuangkan dan di inginkan saja. Jika dia seperti wanita lain mungkin akan menjadikan kehamilan nya itu untuk bisa menjerat Melvin dan menarik nya dalam pernikahan. Tapi apakah ada yang bisa menjamin bahwa dia bahagia setelah itu. Ada kah yang bisa menjamin bahwa dia akan di cari seperti itu dan membuat Melvin gelagapan mencari nya. Tidak ada. Mungkin dia bisa memiliki raga Melvin dan status sebagai istri atau nyonya Melvin. Tapi tanpa memiliki hati pria itu.


Di luar ruangan itu ada mami Elea, papi Emran dan kedua cucu mereka yang menunggu di sana dan duduk. Mereka tidak masuk ke dalam karena melihat Melvin yang menyuapi Lila. Mereka tidak ingin mengganggu keromantisan yang tercipta antara Lila dan Melvin.


“Kakek … apa daddy akan menyayangi mommy?” tanya Alexa tiba-tiba. Dia yang ada dalam pangkuan kakek nya itu pun melirik papi Emran.


“Tentu saja daddy menyayangi mommy kalian nak.” jawab papi Emran.


“Lalu kenapa daddy tidak mencari kami?” tanya Alexa.

__ADS_1


“Kalian tahu kan bagaimana mommy kalian itu menutup informasi tentang nya. Kami tidak bisa menembus nya nak maka nya kami tidak bisa menemukan keberadaan kalian. Bahkan untuk kali ini pun jika kalian tidak membantu mungkin kami tidak bisa menemukan keberadaan mommy kalian.” ucap papi Emran mengakui semua nya. Dia memang benar-benar merasa kalah karena hal itu. Sungguh kalah.


“Tapi bukan kah kakek dan daddy punya kekuasaan yang besar?” tanya Alexa lagi.


Papi Emran pun mengangguk, “Memang benar nak. Tapi hal itu tidak bisa menjamin bahwa kami bisa dengan mudah mendapatkan sesuatu atau pun menemukan sesuatu. Bukti nya mencari mommy kalian kami tidak bisa dan kalah. Jujur saja itu adalah kekalahan pertama yang kakek dan daddymu rasakan. Hingga membuat kami sadar bahwa di atas kekuasaan yang besar masih ada juga sesuatu yang tidak bisa kami dapatkan. Itu menyadarkan kami untuk tidak sombong pada apa yang sudah kami dapat.” Ucap papi Emran mengakui semua nya sekaligus menasehati kedua cucu nya itu untuk tidak sombong.


“Mommy juga mengatakan itu kepada kami. Dia mengajarkan kami untuk tidak boleh sombong dan berbangga diri hanya karena kami memiliki kemampuan lebih dari orang lain.” Timpal Alexa.


“Mommy kalian itu memang baik dan hebat nak. Dia menjadikan kalian anak-anak baik dan pintar serta tidak berkekurangan apapun walaupun tanpa seorang daddy di samping kalian. Untuk itu lah kalian harus lebih menyayangi mommy kalian. Nenek bukan tidak menyuruh kalian untuk tidak menyayangi daddy kalian. Tapi mommy kalian sudah banyak berkorban untuk kalian. Dia adalah mommy yang hebat.” Ucap mami Elea menatap kedua cucu nya itu.


“Hum, kami akan menyayangi mommy dan daddy sama rata. Tidak akan membeda-bedakan mana mommy dan daddy. Kami akan menyayangi mereka sama rata.” timpal Alexa.


“Kalian anak hebat nak karena lahir dari mommy yang hebat.” Ucap mami Elea.


“Nenek juga hebat karena sudah melahirkan daddy yang juga hebat.” Kali ini bukan Alexa yang bicara tapi Alex.


Papi Emran dan mami Elea serta Alexa tersenyum mendengar ucapan Alex itu yang setelah mengatakan itu dia mendekati pintu ruangan perawatan Lila itu.


Alex masuk karena mata nya beradu dengan tatapan Lila dan meminta nya masuk, “Mommy!” panggil Alex segera mendekati Lila yang sudah menyelesaikan sarapan nya itu.


“Tuh!” tunjuk Alex kepada Alexa yang berada di gendong papi Emran.


“Girl … kenapa di gendong. Kasihan kakek jadi lelah nanti. Ayo turun. Kamu sudah besar.” Ucap Lila sungkan kepada papi Emran.


Alexa yang mendengar itu pun segera meminta untuk di turunkan, “Tidak masalah Lila. Dia adalah cucuku.” ucap papi Emran.


“Tetap saja hal itu tidak bisa di lakukan tuan Emran. Mereka tidak boleh jadi anak manja.” Ucap Lila menatap putri nya itu.


Lila pun segera mengisyaratkan agar putri nya itu mendekati nya. Alexa pun menurut dan mendekati Lila dan memeluk Lila, “Maaf mom. Janji Alexa tidak akan mengulangi nya lagi. Alexa tidak akan jadi anak manja.” Ucap Alexa.


Lila pun tersenyum lalu memberikan kecupan penuh kelembutan di kening putri nya itu, “Boleh manja sayang. Tapi tidak boleh minta di gendong. Kamu sudah besar. Kasihan kakek yang akan keberatan menggendongmu.” Ucap Lila lembut.


Alexa pun mengangguk mengerti, “Berarti sama daddy boleh? Daddy kan masih muda.” Celetuk Alexa.


Lila yang mendengar ucapan putri nya itu pun tersenyum lalu melirik Melvin yang sudah selesai merapikan alat makan mereka, “Boleh yang penting daddy tidak keberatan.” Ucap Lila.


“Baiklah jika begitu. Mau di gendong daddy saja. Boleh kan dad?” tanya Alexa menatap Melvin.

__ADS_1


Melvin pun tersenyum lalu mengangguk, “Tentu boleh girl.” Jawab Melvin tersenyum menatap putri nya dan Lila. Kedua wanita nya itu sama-sama memiliki bulu mata yang lentik yang membuat nya jatuh cinta.


“Yeay!” ucap Alexa girang lalu mengecup pipi Lila lembut.


Melvin yang melihat apa yang di lakukan putri nya itu pun sedikit meringis karena iri tentu saja, “Aku juga menginginkan nya.” Batin Melvin. Jiwa mesum dalam diri nya meronta-ronta. Kenikmatan yang dia dapat dan dia rasakan enam tahun lalu untuk pertama kali nya kini berputar dalam otak nya itu. Dia mengingat semua nya setelah enam tahun berlalu. Dia ingat bagaimana diri nya sangat menikmati penyatuan mereka itu. Melvin segera menggelengkan kepala nya untuk menghapus pikiran kotor nya itu yang mendadak muncul ke hadapan nya. Menyebalkan memang!


“Mommy … apa kau baik-baik saja?” tanya Alex menatap Lila yang terlihat pucat.


Lila pun mengangguk dan tersenyum menatap putra nya itu yang memang kadang sangat cerewet tapi sangat perhatian kepada nya selama beberapa tahun ini. Tapi kini sifat cerewet yang di miliki putra nya itu entah menghilang kemana. Dia melihat kini putra dan putri nya itu seperti bertukar jiwa saja. Putra nya yang cerewet kini jadi sosok yang dingin dan cool sementara putri nya yang dingin kini jadi orang yang paling ramai dan heboh. Apa ini sebener nya kepribadian asli kedua anak nya itu. Dia seperti melihat sosok yang berbeda dari kedua buah hati nya itu padahal hanya tiga harian saja mereka tidak bertemu.


“Mommy gak bohong kan. Mommy sangat pucat.” Ucap Alex khawatir lalu menggenggam tangan mommy itu erat.


“Mommy baik-baik saja boy. Tidak perlu khawatir.” Ucap Lila menenangkan putra nya itu.


Alex pun mengangguk, “Aku harap apa yang mommy katakan itu benar. Mommy … jangan menghilang lagi dan jangan pergi lagi. Aku tidak akan bisa hidup tanpa mommy dan juga daddy.” Ucap Alex melirik Melvin yang terharu atas ucapan putra nya itu.


Lila pun tersenyum lalu mengangguk, “Tapi mommy tidak janji boy.” Ucap Lila lirih.


“Mom!” ucap Alex memeluk Lila. Lila pun memeluk putra nya itu erat.


“Mom, apa kakimu tidak bisa merasakan apapun?” tanya Alex menyentuh kaki Lila begitu dia melepas pelukan nya.


Lila pun tersenyum, “Tenang saja boy. Tidak masalah kok.” ucap Lila.


Alex bukan nya tenang tapi dia segera menatap Melvin, “Dad … apa kondisi mommy yang di katakan dokter? Daddy pasti tahu kan?” tanya Alex.


“Boy, mommy baik-baik saja. Daddy tidak tahu apapun.” Ucap Lila.


“Mom, aku tidak bertanya padamu. Aku bertanya pada daddy. Jika dia tidak bisa menjawab maka aku akan meminta dokter untuk memeriksamu.” Ucap Alex.


Melvin menatap Lila yang terlihat menggeleng seolah mengisyaratkan untuk tidak mengatakan apapun pada putra dan putri mereka itu, “Mommy, kami adalah anak-anakmu yang berhak tahu kondisimu. Jika tidak maka jangan salahkan aku yang akan membuat uncle Luke pergi untuk selama-lama nya.” Ancam Alex.


“Boy, jangan lakukan itu. Jika kau lakukan itu maka mommy pastikan hari ini adalah hari terakhir kau melihat mommy hidup boy.” Ucap Lila.


“Maka nya mom jangan menutupi apapun dariku. Aku tahu mommy sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Mommy bohong terkait kondisi mommy yang sebenar nya. Kenapa hanya mengkhawatirkan uncle Luke saja dan mengabaikan kondisi sendiri.” Ucap Alex tidak mau kalah.


“Boy!” panggil Melvin rendah.

__ADS_1


__ADS_2