My Secret With CEO

My Secret With CEO
105


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan panjang dan memakan waktu lama dengan hanya duduk di pesawat maupun tiduran di pesawat. Akhirnya pesawat pribadi Al Berto Group itu tiba juga di Bandar udara Negara S.


Lila pun membuka mata nya perlahan dan melihat sekeliling, “Apa kita sudah tiba?” tanya Lila kepada sang suami.


Melvin pun mengangguk, “Hum, baru saja mendarat.” Jawab Melvin.


Lila pun segera memperbaiki posisi tubuh nya dan juga memperbaiki rambut nya yang mungkin saja berantakan.


“Kita akan ke mana setelah ini By?” tanya Lila saat mereka hendak turun dan tentu saja Lila di bantu oleh suami nya itu.


“Tentu saja mencari tempat untuk kita tinggal sementara di sini sayang.” Jawab Melvin tersenyum.


“Ck, aku tahu By. Maksud nya itu kita ke daerah mana nanti? Lokasi nya di mana?” ujar Lila sedikit sebal.


Melvin pun kembali tersenyum, “Kau akan tahu nanti.” Jawab Melvin.


Lila pun menarik nafas panjang dan menghembuskan nya tanda dia kesal, “Dari tadi sebelum berangkat sampai tiba di sini jawaban nya tetap sama. Apa sebegitu rahasia nya ya.” Ucap Lila.


Melvin pun hanya tersenyum saja mendengar protes istri nya itu lalu mereka segera keluar bandara dan menuju mobil yang sudah menunggu kedatangan mereka.


Lila tidak bertanya dari mana datang nya mobil itu karena pasti percuma saja dia bertanya nanti. Lagi pula dia sudah paham tidak mungkin suami nya itu pergi tanpa persiapan. Namun hanya dia saja yang sudah ke lewat penasaran di mana tempat yang akan mereka tinggali. Biasa perempuan itu memang sangat sulit menahan rasa penasaran nya.


Sebelum mereka berangkat meninggalkan bandara, Melvin terlihat berbincang sebentar dengan seseorang yang seperti nya orang kepercayaan nya. Baru lah setelah itu selesai dia pun segera menyusul masuk ke dalam mobil dan mereka pun meninggalkan bandara.

__ADS_1


Sekitar dua puluh menit berkendara mereka sudah memasuki kawasan yang terkenal dengan laboratorium besar nya, “Apa kita akan tinggal di kawasan ini?” tanya Lila menatap suami nya.


Melvin pun mengangguk, “Bukan kah tujuan kita memang ke sini? Jadi untuk apa harus jauh-jauh mencari tempat tinggal.” Ucap Melvin.


“Tapi bagaimana bisa? Bukan kah area ini di larang untuk di masuki?” tanya Lila lagi masih kagum dengan kawasan yang memang di kelilingi oleh laboratorium tempat meneliti para ahli di bidang nya masing-masing. Lalu juga di sana ada laboratorium terbesar di antara laboratorium yang kecil.


Melvin memilih tidak menjawab pertanyaan istri nya itu karena jika dia menjawab maka semua nya akan terbongkar. Lila itu memiliki indra ke enam yang hanya dengan beberapa kata yang di ucapkan dia sudah bisa menebak apa yang kita pikirkan. Jadi biarkan saja istri nya itu penasaran sendiri dan mencari jawaban sendiri. Dia tidak ingin semua nya gagal nanti. Ini semua sudah di rencanakan untuk kesembuhan sang istri. Semoga saja tidak ada masalah nanti yang muncul. Semoga saja semua nya berjalan lancar tanpa ada drama yang berarti.


Dia ingin setelah ini menikmati hidup yang bahagia bersama wanita yang dia cintai dan juga kedua buah hati mereka yang super jenius.


“Ayo sayang kita sudah tiba.” Ujar Melvin lalu segera membuka pintu mobil dan mengambil kursi roda milik istri nya itu.


Lila pun tetap melihat dan mengamati sekeliling nya dan mencoba mencari jawaban sendiri atas pertanyaan di dalam otak nya. Dia masih penasaran dengan semua nya. Bagaimana mungkin suami nya itu bisa melakukan ini dengan waktu yang super singkat seperti itu. Dia tidak bisa membayangkan nya. Apa suami nya itu memiliki kekuasaan bawah tanah. Seperti nya iya tapi kenapa selama ini dia tidak mengetahui nya. Tahu ahh dia jadi pusing sendiri memikirkan nya. Mungkin seperti itu lah yang di rasakan oleh suami nya itu saat mencari nya yang hilang.


“Kamu mengatakan sesuatu?” tanya Melvin yang tidak mendengar jelas apa yang di ucapkan oleh istri nya itu.


Lila menggeleng lalu dia pun segera turun dari mobil dengan di bantu oleh suami nya.


Lila melihat bangunan di hadapan nya itu yang semua nya berwarna putih. Semua nuansa nya putih.


“Hubby, kenapa bangunan di sini semua nya putih?” tanya Lila.


“Itu memang sudah persyaratan nya sayang. Ini adalah kawasan laboratorium.” Jawab Melvin.

__ADS_1


Lila pun mengangguk, “Apa itu arti nya tempat ini juga bagian dari laboratorium?” tanya Lila.


Melvin mengangguk, “Bisa di katakan seperti itu. Sekarang kita masuk dulu. Nanti di dalam kamu mau menanyakan apapun akan hubby jawab. Karena mungkin saja rasa penasaranmu itu akan semakin bertambah atau mungkin terjawab jika kita sudah masuk.” Ujar Melvin.


Lila pun tersenyum lalu mengangguk. Mereka pun segera masuk ke bangunan dengan dua lantai itu terlihat seperti sebuah kediaman minimalis tapi cantik karena desain nya yang enak di pandang mata.


Begitu masuk Lila pun semakin kagum dengan apa yang dia lihat. Karena tempat itu sangat lah menarik.


“Ini cantik.” ujar Lila mengagumi dalam kediaman itu.


“Hum, kita akan tinggal di sini untuk sementara waktu sampai kau sembuh.” Ucap Melvin.


“Aku tidak sakit By.” Ucap Lila.


Melvin pun hanya mengangguk karena sudah salah bicara. Lila memang tidak suka jika di sebut sakit walaupun kenyataan nya memang begitu. Kata nya sakit itu adalah kata yang menyedihkan untuk di gunakan. Dia tidak suka jika di sebut seperti itu.


“Kita ke kamar kita dulu.” Ucap Melvin segera mendorong kursi roda milik Lila itu menuju salah satu ruangan.


“Apa di sini di sediakan kamar juga? Bukan kah ini hanya kediaman bagian dari labolatorium?” tanya Lila.


“Tentu saja. Bukan kah orang yang tinggal di labolarorium juga butuh istirahat. Jadi sudah pasti ada kamar bukan untuk mereka istirahat.” Jawab Melvin seada nya. Dia sudah menduga istri nya itu akan bertanya seperti ini. Untung saja dia sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan istri nya itu hingga dia pun tidak lagi pusing mencari kosa kata yang pas untuk menjawab pertanyaan istri nya yang kadang tidak tertebak jalan pikiran nya.


Lila yang mendengar jawaban suami nya itu pun mengangguk saja lalu mereka pun segera masuk ke dalam kamar yang ada di sana yang sama mewah nya dengan kamar yang ada di kediaman utama.

__ADS_1


Lila bahkan merasa ini seperti kediaman utama saja. Hampir semua yang ada di sini mirip dengan apa yang ada di kediaman utama seolah-olah tempai ini memang di sediakan dan di bangun khusus untuk mereka tinggali, “By, kenapa aku merasa bahwa tempat ini di desain memang seperti ini? Ini sangat mirip dengan kediaman utama. Apa sengaja di buat seperti ini agar aku merasa nyaman dan tidak begitu merindukan rumah?” tanya Lila menatap suami nya itu.


__ADS_2