My Secret With CEO

My Secret With CEO
27


__ADS_3

Sebulan berlalu di Negara N, Melvin baru saja memenangkan tender bernilai miliaran rupiah.


“Selamat tuan Melvin semoga kerja sama kita selanjutnya akan terus berjalan lancar.” Ucap klien Melvin yang berasal dari Negara S setelah mereka menandatangani kontrak kerja sama di antara mereka.


“Deo, kita pulang.” Ucap Melvin segera berjalan cepat menuju lift. Dia ingin segera tiba di perusahaannya.


“Tuan, ada dari pihak media ingin mewancarai anda.” Ucap Deo.


“Tolak mereka. Aku tidak ingin bicara apapun atau tidak wakili saja aku. Pergilah kau bersama Selena.” Ujar Melvin.


Deo pun mengangguk dan tidak bicara lagi. Dia tahu memang selama sebulan terakhir ini tuannya itu hanya fokus dengan bekerja dan bekerja. Dia selalu lembur setiap malam jika mami Elea tidak menelpon mungkin dia akan lembur sampai pagi. Tapi dengan gila kerjanya itu banyak tender yang dia menangkan dan perusahaannya kini berada di atas semakin atas lagi.


Melvin dan Deo segera lewat pintu samping untuk menghindari media yang sudah menunggu di pintu depan hotel yang jadi tempat pertemuannya dengan klien Negara S. Deo segera melajukannya mobil meninggalkan hotel menuju perusahaan Melvin yang hanya di tempuh dalam waktu kurang 10 menit saja. Begitu tiba di perusahaan ternyata di sana sudah ada juga media yang menyambutnya. Untuk kali ini Melvin tidak bisa menghindar.


“Tuan Melvin tolong tanggapan anda terkait kemenangan anda ini?” ucap reporter.


“Saya menang dan lawan saya kalah. Hanya itu saja yang bisa saya tanggapi. Untuk pertanyaan kalian selanjutnya akan di jawab oleh asisten saya. Ohiya saya hanya ingin mengatakan satu hal kepada seseorang yang mungkin saja menonton berita ini atau tidak. Seseorang yang jauh yang hingga kini belum juga kembali. Saya ingin mengatakan bahwa saya akan menunggunya kembali selama apapun itu. satu, dua, tiga, lima atau mungkin sepuluh tahun saya akan menunggunya selama saya hidup dengan membawa buah cinta saya itu.” ucap Melvin lalu dia segera pergi masuk ke perusahaannya setelah mengatakan sesuatu yang membuat media bertanya-tanya dan penasaran akan apa yang di maksud oleh Melvin.


“Tuan Deo, apa anda bisa jelaskan apa maksud perkataan tuan Melvin itu?”


“Apa maksudnya buah cinta?”


“Apa tuan Melvin sudah menikahi seorang gadis dan memiliki anak?”


Begitulah pertanyaan yang memcecar Deo itu, “Tenang saya akan menjawab pertanyaan kalian hanya terkait kemenangan tender saja. Untuk ranah pribadi tuan Melvin itu bukan ranah kami. Dia sendiri yang mengatakannya maka kami tidak tahu menahu akan hal itu.” ucap Deo. Selena pun ikut membantu Deo menjawab akan rasa haus berita oleh media itu.


“Ck, tuan apa yang ada lakukan? Kenapa anda mengatakan itu kepada media? Kini mereka menjadi sangat haus akan berita tentang ranah kehidupan pribadi anda. Mereka akan mencari tahu semuanya tuan. Ini akan merepotkan.” Ucap Deo mendesis setelah setengah jam yang melelahkan berurusan dengan media itu.


Melvin hanya diam saja dan menatap datar asistennya itu lalu setelah itu dia mengacak rambutnya, “Aku sudah tidak tahu lagi entah cara apa lagi yang harus aku gunakan Deo untuk bisa menemukannya atau setidaknya bisa membuatnya keluar dari persembunyiannya itu. Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin bertemu dengan kedua anakku. Ini sudah sebulan. Mereka mungkin sudah lebih besar. Aku merindukan anakku Deo. Hanya dengan mengatakan itu kepada media hatiku sedikit mendapatkan ketenangan. Aku berharap media juga akan membantuku menemukannya.” Ucap Melvin frustasi.


“Tuan, saya tahu apa yang anda rasakan ini. Tapi setidaknya jangan lakukan hal bodoh. Kita sudah mencari di Negara Z dan Negara Y tidak menemukan apapun di sana. Bukankah itu berarti dia sudah pindah atau memang dia tidak pernah ke sana. Tapi dengan menggunakan media kita justru mendorongnya ke lubang yang paling dalam tuan. Media akan mengkritiknya.” Ucap Deo.

__ADS_1


“Aku tidak akan biarkan media melakukan itu Deo. Aku hanya menggunakan media untuk menemukannya saja tapi tidak untuk mengkritik mereka.” ucap Melvin.


Deo pun menarik nafas panjang, “Baiklah terserah anda saja tuan. Yang terpenting saya sudah mengatakan yang terbaik untuk anda.” Ucap Deo kesal sendiri karena tuannya itu kadang-kadang melakukan sesuatu yang di luar nalar hanya untuk menemukan Lila.


***


Di Negara Y, Lila yang baru saja menyusui kedua buah hatinya segera melihat berita yang beredar di media sosial dan seketika dia melihat wawancara Melvin itu. Dia mendengar ucapan Melvin.


“Dia semakin tampan saja. Apa dia sedih? Kenapa tidak ada wajah bahagia sama sekali di wajahnya itu setelah memenangkan tender miliaran. Apa maksud perkataannya itu? Siapa yang dia tunggu? Apa aku? Ahh tidak mungkin itu aku.” Ucap Lila.


“Nak, daddy kalian semakin tampan saja. Apa kita pulang saja dan menemuinya? Ah tidak kita tetap bersembunyi saja. Mom belum siap jika harus bertemu dengannya. Belum tentu juga dia mengharapkan kedatangan kita.” Ucap Lila menatap kedua buah hatinya yang terlelap itu.


Lalu kemudian dia tersenyum dan segera memotret kedua buah hatinya yang tertidur itu, “Mari kita beri ucapan selamat kepada daddy kalian nak.” ucap Lila lalu dia segera menuju laptop yang dia punya dan memastikan semuanya berjalan lancar tanpa ada yang mencurigainya.


“Yes, selesai.” Ucap Lila setelah melaksanakan tugasnya mengirim pesan itu.


Di Negara N, Melvin yang sedang menutup matanya pun segera membuka matanya mendengar bunyi pesan di ponselnya itu. Bunyi pesan yang seolah dia tunggu entah karena apa. Setiap dia mendapat pesan dia berharap bahwa itu dari Lila tapi ternyata kadang hanya pesan operator yang menawarkan promo saja.


Melvin membaca pesan dari Lila itu, “Selamat atas kemenangan tendernya tuan Melvin. Aku turut senang untukmu. Aku penasaran siapa gadis yang kau maksud dalam wawancaramu itu. Apa dia istrimu? Aku sedikit percaya diri bahwa gadis yang kau maksud itu adalah aku tapi itu tidak mungkin bukan. Aku bukan siapa-siapa bagiku. Kita adalah orang asing. Kita tidak saling kenal. Kita berhubungan hanya karena kesalahan malam itu. Aku harap kau selalu bahagia tuan Melvin. Tersenyumlah ketika di wawancara. Mereka ingin melihat senyummu itu. Aku juga ingin melihatnya. Tuan Melvin aku ingin memberimu hadiah tapi jarak kita sangat jauh. Jadi aku hanya mengirimkan foto kedua anak kita. Mereka kembar laki-laki dan perempuan. Aku memberi mereka nama Alex dan Alexa. Semoga kau menyukai nama yang ku berikan pada mereka. Sampai jumpa lagi tuan Melvin jika memang kita punya waktu untuk saling bertemu.” Begitu lah isi pesan itu.


“Ck, Lila itu kau. Kembalilah ku mohon.” Ucap Melvin meneteskan air matanya dan membuka foto kedua anaknya itu yang ternyata adalah laki-laki dan perempuan.


“Alex? Alexa? Daddy akan menemukan kalian.” ucap Melvin lalu menatap Deo.


“Bagaiamana? Apa tidak bisa di lacak lagi?” tanya Melvin kepada asistennya itu.


Deo pun mengangguk, “Tidak bisa tuan.” Ucap Deo.


Melvin pun mengangguk, “Sudahlah gak apa-apa Deo. Aku tidak menyalahkanmu untuk itu. Aku sudah tahu bahwa dia tidak mungkin melakukan kesalahan dengan memberi kita celah untuk menemukan keberadaannya. Entah siapa yang membantunya. Itu yang membuatku penasaran.” Ucap Melvin.


“Terus apa yang harus kita lakukan tuan?” tanya Deo.

__ADS_1


“Kita menunggu saja. Sekarang aku punya tugas untukmu. Tolong bawa gambar ini ke tukang percetakan foto dan cetak dengan baik. Aku akan menempelnya di kamarku. Kedua anakku. Mereka sangat tampan dan cantik. Alex. Alexa. Itu adalah nama mereka Deo. Aku memiliki anak sepasang. Dia menjaganya dengan baik.” ucap Melvin senang.


Deo yang melihat tuannya senang pun tersenyum dan segera melakukan perintah tuannya itu untuk mencetak gambar kedua anaknya itu. Deo bahkan memanggil tukang editor handal dan mengedit foto tuannya, Lila dan kedua anak mereka itu dan dia cetak dalam ukuran besar.


“Tuan, silahkan lihatlah.” Ucap Deo menyerahkan hasil foto.


Melvin pun segera membukanya dan dia tersenyum bercampur terharu melihat hasil foto itu, “Kamu membawanya ke tukang editor?” tanya Melvin.


Deo pun mengangguk, “Terima kasih Deo. Aku sangat menyukainya. Kini aku seperti memiliki keluarga kecilku sendiri.” Ucap Melvin senang.


Deo yang melihat tuannya itu senang pun tersenyum bahagia. Dia ikut bahagia melihat tuannya yang bahagia.


“Deo, cetak dalam ukuran kecil juga. Aku ingin meletakkannya di meja kerjaku dan juga di meja di kamarku.” Ucap Melvin.


“Ini tuan. Saya sudah mencetaknya untuk anda.” Ucap Deo memberikan dua bingkai foto di mana di sana sudah ada foto yang sama juga.


Melvin tersenyum dan mengangguk menerimanya, “Kau sangat mengenal aku Deo. Terima kasih. Aku akan memberimu bonus bulan ini 30%” ucap Melvin.


“Tidak perlu tuan. Saya senang melakukannya untuk anda. Saya senang melihat anda tersenyum bahagia seperti saat ini. Sudah lama anda tidak tersenyum seperti saat ini.” ucap Deo.


Melvin yang mendengar ucapan asistennya itu pun tersenyum, “Aku sedang bahagia Deo. Jadi biarkan aku tetap memberikan bonus itu untukmu. Anggap saja sebagai bentuk terima kasihku akan editan foto ini yang aku berdoa semoga suatu saat nanti akan jadi kenyataan. Tidak lagi editan begini. Aku berkumpul dengan keluarga kecilku.” Ucap Melvin. Deo pun akhirnya menurut saja. Dia tidak ingin merusak kebahagiaan tuannya itu.


Setelah itu Melvin segera pulang ke kediamannya karena sudah tidak sabar untuk menempel foto itu di kamarnya.


“Mami, papi lihatlah foto cucu kalian. Dia mengiriku foto lagi. Tapi seperti biasa nomornya tetap tidak bisa di lacak.” Ucap Melvin begitu tiba di kediamannya dan langsung mendekati mami dan papinya itu.


Mami Elea segera menerima ponsel putranya itu dan melihatnya, “Mereka sangat tampan nak. Mirip denganmu.” Ujar mami Elea.


“Mereka cowo dan cewe mih. Mereka sepasang. Tampan dan cantik. Alex dan Alexa itu nama mereka.” ujar Melvin tersenyum.


“Alex? Alexa? Cucuku!”

__ADS_1


__ADS_2