
“Bagaimana” tanya papi Emran begitu asistennya itu selesai memeriksa.
Nugraha menggeleng, “Kita kalah cepat tuan. Dia sudah pergi. Saya sudah memeriksa CCTV di apartemennya dan juga parkiran mobilnya. Dia bahkan melambaikan tangan ke arah CCTV saat dia meninggalkan parkiran begitu naik mobilnya. Seolah dia tahu bahwa kita akan mencarinya.” Jelas Nugraha.
“Damn, apa kita berhasil di bodohi oleh gadis itu lagi. Harus ku akui calon menantuku itu sangat cerdik. Dia bahkan bisa mengetahui orang suruhanmu.” Ucap papi Emran kesal bercampur bangga karena calon menantu masa depannya itu bukan orang sembarangan yang mudah di tindas begitu saja.
“Tenang saja tuan. Kami sudah menyuruh seseorang untuk melacak mobil yang dia pakai.” Ujar Nugraha.
Papi Emran pun mengangguk, “Lalu bagaimana dengan bandara?” tanya papi Emran.
“Saya juga sudah meminta seseorang untuk melacaknya kesana.” Jawab Nugraha.
“Ya sudah jika memang begitu. Kita pergi dari sini. Kita harus menemukannya. Aku tidak ingin dia berhasil pergi dari jangkauanku. Bisa kacau nanti bila musuhku tahu aku kalah dengan gadis kecil.” Ucap papi Emran tertawa karena di saat genting begini dia masih saja mengkhawatirkan musuhnya.
Mereka segera naik ke mobil dan segera meninggalkan apartemen itu, “Ohiya apa yang putraku lakukan?” tanya Papi Emran saat mereka dalam perjalanan.
__ADS_1
“Saya tidak tahu tuan. Tapi tuan muda dan asistennya itu memang sedang berusaha memulihkan CCTV.” Jawab Nugraha.
“Kita kesana saja. Temui dirinya.” Ucap papi Emran.
Nugraha pun segera mengangguk dan segera melajukan mobilnya menuju perusahaan Melvin. Sekitar 15 menit saja dalam perjalanan mereka akhirnya tiba. Papi Emran dan Nugraha pun segera turun dari mobil yang langsung jadi pusat perhatian karena datang ke perusahaan pusat padahal sudah tidak bekerja lagi di sana. Mereka penasaran apa tujuan tuan besar dan asistennya itu datang ke sini sementara perusahaan pusat ini sudah di serahkan kepada Melvin.
Papi Emran dan Nugraha mengaikan pandangan orang-orang itu dan justru segera menuju lift khusus presdir. Di dalam lift anak buah yang di minta melacak mobil Lila dan yang melacak bandara menelpon dan mengatakan bahwa tidak menemukan Lila sama sekali.
“Apa? Ulang sekali lagi? Bagaimana bisa itu terjadi?” teriak Papi Emran memijat pelipisnya karena mendadak dia pusing memikirkan apa yang sedang terjadi. Apa dia sudah benar-benar kalah dengan gadis kecil yang sayangnya ingin dia jadikan menantu dan kini sudah mengandung calon cucunya. Semoga saja gadis itu tidak menggugurkan kandungannya. Itu saja yang dia inginkan untuk saat ini jika memang tidak bisa menemukan keberadaan gadis itu.
“Tenang saja tuan. Jika dia tidak di dapatkan di bandara catatan kepergiannya. Bukankah itu berita bagus. Berarti dia masih ada di Negara ini dan kita pasti akan dengan mudah menemukannya.” Ujar Nugraha.
Sementara Melvin yang berada di ruangannya kini terdiam melihat rekaman CCTV yang berhasil mereka buka setelah berusaha selama ini, “Jadi dia?” tanya Melvin tidak percaya bahwa gadis yang dia tiduri adalah gadis yang menangis di makam sebulan lalu.
Deo pun terdiam melihat tuannya itu yang sepertinya syok melihat kebenarannya, “Deo, aku merusak gadis yatim piatu? Bagaimana mungkin aku menambah penderitaannya?” tanya Melvin masih saja syok dengan apa yang dia ketahui.
__ADS_1
Deo hanya bisa diam dan tiba-tiba ponselnya berbunyi yang mengatakan bahwa laporan kedatangan papi Emran, “Tuan, anda bisa melanjutkan kesedihan anda ini nanti. Papi anda anda di sini.” Ucap Deo bersamaan dengan papi Emran yang di luar hendak masuk ke ruangan putranya itu.
Melvin yang belum sempat memperbaiki dirinya yang acak-acakkan pun hanya bisa menatap sendu kedatangan papinya itu, “Selamat datang pih di ruangan putramu ini. Silahkan duduk.” Ucap Melvin berdiri menyambut papinya dan asistennya itu itu dengan penampilan acak-acakannya.
Papi Emran pun menarik nafas kasar melihat kondisi putranya yang sangat miris itu di pandangannya. Sungguh ini bukan putranya yang tampil selalu rapi dan tampan. Sungguh dia hampir tidak mengenali putranya itu karena penampilan Melvin sangat acak-acakan dengan kantung mata yang besar dan hitam sudah hampir mirip mata panda lalu jangan lupakan tubuhnya juga yang terlihat kurus.
Papi Emran duduk di sofa yang ada di ruangan itu berhadapan dengan Melvin, “Aku tahu papi datang ke sini untuk menagih janjiku kan? Aku tahu waktunya masih ada dua hari lagi. Tapi aku akan mengakui kesalahanku. Papi bisa memukulku atau pun menghukumku lagi. Aku memang berdosa. Aku sudah merusak gadis yang yatim piatu. Aku bahkan merusaknya di saat dia kehilangan ayahnya. Aku memang laki-laki brengsek pih.” Ucap Melvin menunduk.
Papi Emran mendesis melihat keadaan putranya yang sangat memprihatinkan itu. Sungguh sangat miris. Entah bagaimana jika putranya itu tahu bahwa saat ini gadis itu sudah menghilang.
Papi Emran semakin mengerang melihat putranya itu yang kini sudah duduk bersimpuh di kakinya, “Aku minta maaf padamu pih. Aku sangat berdosa. Aku ingin mempertanggung jawabkan perbuatanku tapi aku takut dia menolaknya. Tolong pukul aku pih. Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan.” Ucap Melvin mencium kaki papinya itu. Sungguh, dia sangat terpukul begitu mengetahui siapa gadis itu.
Papi Emran pun berdiri dan mengangkat wajah putranya itu dan langsung melayangkan dua pukulan pada putranya itu yang langsung membuat Melvin terjatuh ke belakang, “Aku datang ke sini untuk melayangkan pukulan itu padamu. Hanya saja aku tidak menduga bahwa aku memiliki putra selemah dirimu ini. Sungguh aku tidak menyangka bahwa kau akan selemah ini. Berdiri dan angkat wajahmu itu. Lalu perbaiki penampilanmu yang sangat memprihatinkan ini.” ucap papi Emran tegas.
“Kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu. Dia sedang hamil benihmu saat ini.” ucap papi Emran mengerang karena mengingat kelakuan bejat putranya yang justru dengan bangga mengatakan dan mengakui bahwa dia mengeluarkan benihnya berulang kali di rahim gadis itu.
__ADS_1
Melvin hampir terjatuh ke belakang lagi tapi untunglah ada Deo yang menahannya begitu mendengar ucapan papinya itu, “Apa pih? Dia hamil? Aku akan mencarinya dan menikahinya.” Ucap Melvin mencoba berdiri dan segera menuju pintu.
“Mau kemana kau?” tanya papi Emran.