My Secret With CEO

My Secret With CEO
117


__ADS_3

Sementara di sisi Lila, tepat nya di halaman belakang dia menatap kolam di hadapan nya itu. Kolam yang sama dengan tempat di mana dia melihat siluet kakak nya malam itu yang berbicara dengan suami nya.


“Jadi malam itu aku tidak salah lihat. Itu memang punggung kakak. Jadi apa dia memang datang di hari yang sama dengan kedatangan kami ke sini. Apa saat melakukan video call hari itu dia sudah tiba di sini? Mungkin saja karena hubby melarangku menghubungi nya hari itu. Ah kenapa aku tidak peka juga di saat semua petunjuk yang ada. Nomor ponsel kakak yang tidak aktif dan asisten nya yang mengatakan bahwa dia selalu ikut rapat. Mana ada rapat setiap hari. Lila apa kau sudah kehilangan kepintaranmu hingga bisa di bodohi semudah itu.” gumam Lila.


Lila menatap tubuh nya dan menatap tempat di mana obat penawar racun itu di masukkan, “Apa darah kakak yang menjadi formula nya? Kenapa bisa begitu?” tanya Lila.


Lalu kemudian dia segera beranjak dari sana dan berjalan menuju suatu tempat yang sudah dia tuju. Dia ingin memastikan semua nya sendiri.


Kini Lila sudah ada di depan sebuah gedung yang dia tahu sebagai lab yang di gunakan oleh para dokter yang menangani nya itu.


Lila segera izin masuk ke dalam ruangan itu tapi dia di larang, “Saya hanya ingin bicara sebentar saja dengan dokter James. Ini penting. Saya adalah pasien yang dia rawat.” Ucap Lila.


“Maaf nona. Ini adalah laboratorium di mana tidak di izinkan siapapun masuk kecuali orang yang memang berwenang. Kami tahu anda adalah nyonya muda Al Berto dan kami juga paham anda adalah pasien dari dokter James dan beberapa dokter lain nya. Tapi tetap saja ini peraturan yang harus di patuhi. Kami harap nyonya mengerti. Kami di sini hanya menjalankan aturan dan perintah.”


Lila yang mendengar itu pun hanya bisa menghela nafas panjang dan memilih membalikkan tubuh nya. Dia tidak mungkin memaksa walaupun ingin. Dia tidak memiliki kuasa itu. Dia hanya lah seorang pasien sekarang dan ini bukan Negara nya di mana dia bisa mengandalkan kekuasaan nya. Lagi pula tempat ini bukan lah tempat yang bisa tunduk pada kuasa seseorang. Mereka punya aturan sendiri.


“Aku akan menghubungi dokter James untuk menemui nya.” ujar Melvin segera meraih ponsel nya dan segera menghubungi dokter James.


Yah, Melvin dan Luke melihat apa yang di lakukan Lila itu. Mana mungkin juga mereka akan membiarkan Lila berkeliaran tanpa pantauan dari mereka. Lila ada nyawa bagi kedua nya dan mereka tidak akan pernah membiarkan Lila tanpa pengawalan.


Luke pun hanya mendengarkan apa yang di bicarakan oleh Melvin dan dokter James itu, “Kau yakin akan melakukan ini?” tanya Luke begitu Melvin memutuskan sambungan telepon nya.


Melvin mengangguk, “Dia sudah terlanjur kecewa pada kita. Jadi untuk memperbaiki semua nya yaitu dengan menceritakan semua nya dengan jujur tanpa ada yang perlu di sembunyikan lagi. Aku yakin dia pasti akan bisa mengerti apa maksud dari kita melakukan ini. Bukan kah dia sangat hebat dalam membuat strategi maka aku yakin dia pun akan memahami hal ini dengan mudah.” Ucap Melvin.


Luke mendesis mendengar ucapan Melvin itu, “Ck, apa ini medan pertempuran? Kenapa aku merasa bahwa kalian itu saling mengadu kekuatan kalian masing-masing?” ucap Luke pusing.


“Ini adalah gaya hubungan kami. Kami di pertemukan dengan cara yang salah dan berakhir dengan sesuatu yang melelahkan sebelum kami bersatu saat ini. Dan demi mempertahankan semua ini maka apapun bisa aku lakukan.” Ujar Melvin.


Luke pun hanya bisa menggelengkan kepala nya. Dia sendiri bisa pusing dan gila jika lama-lama melihat apa yang di lakukan oleh adik nya dan juga Melvin itu. Apa seperti ini gaya cinta dari dua orang yang memiliki karakter keras dan sama-sama memiliki kuasa satu sama lain. Hum, sungguh tidak habis pikir.


Luke segera memilih duduk tapi begitu melihat Lila masuk dia segera berdiri berniat mendekati adik nya itu tapi begitu melihat Lila mengangkat tangan nya dia pun segera menghentikan niat nya itu.


Lila segera duduk di depan dua pria yang sama-sama dia sayangi itu. Lila menarik nafas panjang lalu kemudian dia lebih memilih merebahkan tubuh nya di sofa yang ada di sana dan memenjamkan mata nya.


“Jangan ganggu aku. Aku mau istirahat.” Ucap Lila.

__ADS_1


Melvin dan Luke pun hanya diam saja dan saling memandang satu sama lain tanpa menganggu sedikit pun.


Tidak lama suara nafas Lila terdengar teratur tanda dia telah terlelap dalam tidur nya.


“Dia sudah tertidur.” Ucap Luke.


Melvin mengangguk, “Mungkin dia lelah. Otak nya itu pasti lelah mendapatkan berita ini. Kita sudah membuat nya berpikir keras.” Ucap Melvin merasa bersalah.


“Tidak perlu merasa bersalah adik ipar. Dari awal kita memang sudah menyepakati ini bersama-sama. Ini adalah keputusan kita bersama demi kesembuhan nya. Kita juga sudah memikirkan kejadian ini saat itu beserta kemungkinan yang akan terjadi. Jadi jika kau merasa bersalah maka aku yang lebih merasa bersalah. Aku adalah kakak nya.” ucap Luke.


Melvin yang mendengar itu pun menarik nafas panjang, “Aku tidak menyangka bahwa kemungkinan yang akan terjadi yang kita duga sebelum nya sangat jauh berbeda dengan apa yang kini terjadi. Dia memang menolak untuk melanjutkan pengobatan seperti yang sudah kita duga tapi lihat lah dia hanya tidak mau bicara dengan kita. Padahal aku jauh lebih tenang jika dia melampiaskan semua emosi nya itu kepada kita dari pada memendam nya sendiri. Itu sangat berbahaya untuk nya.” ucap Melvin. Luke pun mengangguk setuju dengan ucapan Melvin.


Pada akhirnya kedua pria itu pun hanya bisa menyesali keputusan yang mereka ambil dengan sambil memandangi Lila yang terlelap di sofa. Ingin rasa nya mereka memindahkan Lila ke kamar agar bisa istirahat dengan tenang tapi mereka ragu melakukan nya karena takut jika hal itu akan menambah kemarahan Lila. Jadi demi kebaikan semua nya maka mereka lebih memilih menunggui Lila saja di sana.


***


Setelah dua jam tertidur, Lila baru saja bangun dari tidur nya itu. Dia membuka kelopak mata nya dan menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke mata nya. Dia melihat sekeling dan menyadari bahwa dia tidak berada di kamar. Dia pun akhirnya ingat semua nya.


“Apa yang kalian lakukan?” tanya Lila kaget karena suami dan kakak nya itu yang menjaga nya.


“Kami tidak ingin kau jatuh.” Jawab Melvin yang di angguki oleh Luke.


“Berdiri lah dan duduk lah. Aku ingin bicara serius.” Ucap Lila dengan wajah serius nya.


Lila sudah memutuskan untuk menyelesaikan masalah ini. Dia tidak ingin masalah ini akan berlarut tanpa penyelesaian dengan jelas. Jadi mari mulai dengan penjelasan mereka atau mungkin pembelaan yang akan mereka lakukan terkait kejadian ini dan kenapa mereka bisa berani mengambil keputusan ini tanpa bicara pada nya lebih dulu dan justru lebih memilih menyembunyikan semua nya dari nya. Yah, walaupun belum begitu rapi karena dia bisa mengetahui nya.


Luke dan Melvin pun menurut dan segera duduk di sofa dekat dengan Lila, “Sebelum memarahi kami lebih baik kamu makan dulu. Marah pun butuh energi bukan. Jadi sebelum itu mari kamu makan dulu.” Ucap Melvin mengambilkan makanan yang sudah tersedia di meja yang ada di sana.


Lila pun melihat makanan yang ada di sana yang entah sejak kapan ada di sana dan kenapa dia baru menyadari hal itu. Sungguh sangat di luar nalar.


Lila menerima suapan dari suami nya karena Melvin yang memang sudah menyuapi nya, “Kami akan mendengar kan dan menerima kemarahanmu itu. Kami tidak akan membela diri kami.” ucap Luke.


“Hum, tidak. Kalian harus menjelaskan nya padaku dengan sejelas-jelas nya alasan di balik semua ini. Aku tidak ingin di tuduh memberikan hukuman tanpa penjelasan yang jelas. Aku ini masih menjunjung tinggi hak asasi manusia.” Ucap Lila.


Luke dan Melvin yang mendengar itu pun mengangguk dan memilih diam saja. Melvin tetap menyuapi istri nya itu sampai habis.

__ADS_1


Lila segera memperbaiki posisi duduk nya itu dan menatap Melvin dan Luke lekat, “Sekarang jelaskan semua nya tanpa ada yang terlewati. Aku tidak ingin mendengar kebohongan apapun.” Ucap Lila.


“Sudah cukup kalian menyembunyikan ini selama ini dengan cukup rapi. Aku akui kalian sudah hebat berakting tapi sayang masih kalah dengan intuisi seorang perempuan.” Sambung Lila.


Melvin dan Luke pun saling memandang dan mereka segera memulai penjelasan semua nya. Lila mendengarkan dengan seksama.


“Hum, begitu cerita nya.” ucap Melvin mengakhiri cerita semua nya.


“Jadi alasan kematian ibu tiri dan kakak tiriku itu adalah ini?” tanya Lila.


“Tidak, mereka memang pantas mati.” Jawab Luke cepat.


“Wah kakak kau hebat sudah bisa menentukan hidup dan mati seseorang dengan sangat mudah. Aku harus mengakui kehebatanmu itu. Apa mereka mati dengan racun yang sama?” tanya Lila.


Luke pun dengan perlahan mengangguk, “Bukan racun yang sama tapi racun yang bisa bereaksi dengan cepat.” Jawab Luke santai.


“Wah, kakak apa kau sudah ketularan kekejamanku atau kekejamanku itu sudah berpindah padamu? Kenapa aku merasa bahwa kau jadi orang lain?” ucap Lila.


“Terus apa yang kau lakukan saat itu suamiku? Aku yakin kau tidak mungkin hanya diam saja dan jadi penonton atas balas dendam yang kakakku lakukan. Bukan kah kau juga sama kejam nya dengan papi. Aku sudah mendengar apa yang papi lakukan padamu saat dia mengetahui kejadian malam itu yang terjadi pada kita. Aku yakin kau pun punya sisi gelap yang sama seperti papi.” Sambung Lila beralih menatap suami nya.


Melvin yang mendapat pertanyaan sekaligus tatapan itu pun hanya bisa menelan ludah nya kasar. Apa sudah seharus nya dia mengatakan bahwa dia juga turut campur mempercepat kematian dua wanita itu.


“Dek, suamimu tidak melakukan apapun.” Ucap Luke.


“Jangan membela nya kakakku sayan. Aku tahu seperti apa idolaku ini. Sebelum menjadi istri dan ibu dari anak-anak nya aku adalah penggemar nya yang pasti nya jauh lebih tahu kehidupan nya di banding seorang istri. Aku adalah salah satu fans fanatic.” Ucap Lila.


“Jadi aku tidak percaya dia hanya diam saja menjadi penonton.” Sambung Lila lagi.


Melvin pun menatap istri nya itu, “Aku melesakkan dua tembakan ke tubuh mereka masing-masing sebagai bantuan agar mereka bisa segera tiba ke Neraka.” Jawab Melvin jujur.


Lila yang mendengar itu pun tersenyum lalu dia bertepuk tangan, “Hum, dua jempol untuk kalian. Aku menyukai kekejaman seperti itu. Seharus nya kalian mengajakku saat eksekusi itu. Aku juga ingin ikut andil di dalam nya tapi kalian egois hingga aku hanya bisa mendengar cerita nya saja.” ucap Lila.


“Eehh tapi bukan ini point penting yang jadi pembahasan hari ini. Aku mengagumi kekejaman dan balas dendam yang sudah kalian lakukan tapi tentu saja hal itu tidak bisa menghapus apa yang sudah kalian lakukan padaku.” Ucap Lila.


“Kalian tadi sudah mengatakan bahwa setelah memaksa mereka memberi tahu nama racun dan penawar nya yang ternyata tidak ada itu. Penawar yang tidak pernah di ciptakan dan hanya racun itu. Setelah itu kalian mengeksekusi. Jadi kenapa menyembunyikan ini dariku padahal sejak lamaran di taman itu kalian sudah merencanakan nya. Apa bagian lamaran itu juga termasuk hal untuk memperdayaiku?” sambung Lila bertanya.

__ADS_1


“Tidak … tidak ada yang seperti itu. Kami memang sudah meminta dokter saat itu untuk datang mengkonfirmasi racun yang kami dapatkan dan dokter juga sudah mengonfirmasi penawar nya bisa di ciptakan menggunakan darah yang memiliki gen sama dan kadar yang sama. Inti nya jenis nya harus sama. Tapi lamaran itu tidak ada hubungan nya dengan hal ini.” ucap Melvin.


“Lalu kenapa tidak mengatakan apapun padaku saat itu?”


__ADS_2