
“Siapa?”
Delon hanya tersenyum lalu menyeruput minuman di hadapannya.
Lila menatap pria di hadapannya itu yang setahun lebih tua darinya, “Siapa gadis itu Delon? Aku ingin menemuinya. Aku ingin tahu siapa gadis yang sudah bisa merebut hatimu yang dingin dan kaku itu.” ucap Lila tersenyum lalu menyeruput minumannya juga.
Delon pun memandangi Lila, “Jika saya katakan gadis itu apa anda percaya nona?” tanya Delon.
Lila tergelak mendengar ucapan Delon itu lalu dia tertawa, “Wah, leluconmu itu lucu Delon. Kau ini bisa aja becandanya.” Ucap Lila tertawa.
“Saya tidak becanda nona.” Ucap Delon serius.
“Jangan melakukan itu Delon. Aku tidak percaya kau memiliki perasaan itu padaku. Kau itu temanku.” Ucap Lila.
Delon pun yang mendengar itu tertawa untuk menutupi rasa kecewanya sendiri, “Hahahahh, anda benar nona. Mana mungkin saya menyukai anda. Saya becanda nona. Kita ini adalah teman.” Ucap Delon.
Lila pun mengangguk, “Hum, kita adalah teman. Terima kasih sudah menjagaku selama ini Delon. Aku harap kau akan segera menemukan gadis yang kau cintai itu dan tidak lagi bercanda denganku begitu.” Ucap Lila.
Delon pun hanya mengangguk saja, “Anda selalu saja menganggapku teman nona. Kau tidak pernah melihatku sebagai seorang pria sehingga kau tidak sadar bahwa aku memiliki rasa padamu. Tapi tidak masalah untuk itu. Yang terpenting sekarang kau sudah kembali dan dalam keadaan baik-baik saja. Itu sudah cukup untukku.” Batin Delon memandangi Lila.
Tiba-tiba jam tangan Lila menyala, “Delon, aku harus kembali. Masih ada yang harus aku urus. Nanti aku akan menemuimu lagi. Untuk saat ini aku harus kembali.” Ucap Lila lalu dengan secepat kilat dia keluar dari restoran itu dan berlari menuju hotel.
Delon pun hanya bisa melihat kepergian Lila dan dia segera keluar setelah membayar minuman mereka yang hanya di minum setengah saja, “Apa yang kau sembunyikan nona. Apa yang membuatmu pergi dari Negara ini selama ini dan baru kembali setelah hampir enam tahun. Aku akan mencari tahu semuanya. Semoga saja kau tidak lagi menutupinya.” Ucap Delon lalu dia pun segera pergi meninggalkan hotel itu menuju kediaman orang tuanya.
Sementara Lila di kamar hotel segera membuka laptopnya dan mencari tahu semuanya, “Sial, mereka sudah menemukanku secepat ini. Gak boleh. Aku tidak akan mengizinkan mereka menemukanku dan bertemu dengan Alex dan Alexa secepat itu.” ucap Lila lalu jari-jarinya pun segera menari-nari di keyboard laptopnya. Dalam waktu 10 menit saja semua sudah tertutup dan tidak bisa di akses.
“Maafkan aku. Aku belum siap untuk kehilangan anakku secepat ini.” gumam Lila.
***
Singkat cerita, kini Melvin dan Deo sudah tiba di Negara N.
“Deo, segera hubungi anak buah kita.” Ucap Melvin begitu mereka masuk ke mobil.
“Tapi tuan, ini sudah larut malam. Apa tidak besok saja kita menemui mereka.” ucap Deo.
“Aku tidak bisa menunggu sampai besok Deo. Aku ingin segera memeluk kedua anakku itu dan membawa mereka ke kediamanku.” Ucap Melvin.
Deo pun diam saja dan segera menghubungi seseorang yang sudah dia tugaskan untuk mencari tahu, “Tuan, kita tidak menemukan mereka lagi. Sepertinya nona Lila sudah tahu kita mencari mereka. Dia menutup semuanya di saat anak buah kita hampir berhasil menemukan mereka.” jelas Deo begitu selesai menelpon anak buah yang dia tugaskan itu.
“Aku tidak bisa menerima ini Deo. Jangan sampai dia kabur lagi dariku.” Ujar Melvin.
“Tenang tuan. Saya yakin dia pasti tidak akan pergi lagi dari sini.” Ucap Deo.
“Siapa yang menjamin hal itu Deo. Tidak, aku harus segera menemukan keberadaannya. Aku tidak ingin kecolongan lagi.” Ujar Melvin.
Tiba-tiba ponsel Deo berdering, “Tuan, pengacara Jay.” Ucap Deo.
“Jawab saja. Aku tidak ingin menerima telpon sekarang.” Ujar Melvin.
Deo pun mengangguk saja dan segera menjawab panggilan dari pengacara Jay itu, “Ada apa tuan Jay? Kenapa menghubungi kami malam-malam begini.” Ucap Deo sambil meloudspeaker ponselnya itu agar Melvin bisa mendengar apa yang di bicara kan pengacara Jay itu.
“Aku ingin bicara dengan tuan Melvin. Berikan ponselmu kepadanya. Ini penting. Terkait Lila.” Ujar pengacara Jay dari seberang.
Melvin yang mendengar ucapan pengacara Jay menyebutkan nama Lila pun segera mengambil alih ponsel Deo, “Ada apa dengan Lila. Aku hanya ingin mendengar berita tentang Lila saja. Bukan yang lain.” Ucap Melvin to the point.
“Nona Lila ada di Negara ini tuan. Dia telah kembali. Tadi siang menghubungi saya. Dia akan mengambil alih perusahaannya lagi. Saya ingin membicarakan itu dengan anda.” Jelas pengacara Jay.
“Lalu di mana Lila berada?” tanya Melvin karena hanya itu informasi yang ingin dia dengar.
“Nona Lila. Dia tidak mengatakan alamatnya di mana saat ini dia tinggal. Hanya saja dia mengatakan akan menghubungi saya lagi untuk membicarakan warisannya itu.” ucap pengacara Jay.
__ADS_1
Melvin pun diam, “Hum, jika dia menghubungi anda lagi maka sambungan dengan saya. Jika dia ingin warisannya maka dia harus menemui saya. Itu adalah syaratnya. Katakan padanya hal itu. Saya janji akan mengembalikan perusahaannya tapi dia harus menemui saya.” ucap Melvin.
“Baik tuan. Jika dia menelpon lagi saya akan menyambungkannya dengan anda.” Ucap pengacara Jay. Lalu tidak lama setelah itu sambungan di antara mereka pun terputus.
Melvin pun segera memberikan ponsel asistennya itu kembali lalu dia segera menyandarkan tubuhnya di sandaran mobil itu, “Kita kembali ke kediaman utama Deo. Hentikan pencariannya. Biarkan dia yang akan menemui saya nanti.” Ucap Melvin.
Deo pun mengangguk dan segera melaksanakan apa yang di minta oleh bosnya itu.
“Aku tidak menyangka kita sudah satu Negara lagi tapi kau masih mengujiku. Kau masih saja bersembunyi.” Batin Melvin sambil menutup matanya itu.
***
Kini Melvin sudah tiba di kediamannya dan dia pun segera menuju lantai dua di mana kamarnya berada di kediaman utama itu.
Melvin segera membersihkan dirinya di kamar mandi dan segera mengganti pakainnya dengan pakaian tidur karena jujur saja dia juga lelah karena dalam sehari ini harus bolak balik Negara N dan Negara Y yang membutuhkan waktu kurang lebih 5 jam di pesawat.
Begitu dia hendak tidur dan melihat ponselnya dia kaget melihat ada pesan dari nomor yang sangat dia hafal sebagai nomor Lila.
Melvin pun tanpa berpikir panjang langsung saja membuka pesan itu dan membacanya.
[Tuan Melvin yang terhormat, ini aku Lila. Semoga saja kau masih ingat nomorku agar aku merasa bahwa kau mengingatku walaupun itu gak mungkin karena aku menghubungimu lagi setelah hampir lima tahun berlalu. Selain itu juga kita tidak memiliki hubungan apapun untuk saling terikat dan saling mengingat satu sama lain. Aku hanya ingin mengatakan aku ada di Negara N sekarang. Aku sudah kembali dengan dua anakku ahh iya anakku karena aku tidak mungkin menyebutnya anak kita bukan? Walaupun aku ingin tapi sepertinya tidak bisa karena kita bukan siapa-siapa. Yah, aku pulang dengan anak-anakku. Tidak perlu mencariku karena aku berjanji akan mempertemukanmu dengan mereka dua hari lagi. Untuk tempatnya aku akan katakan nanti. See you!]
[Aku harap kau mempercayaiku hingga bisa menunggu dua hari lagi agar bisa bertemu dengan mereka. Jika kau tidak bisa bersabar maka aku pastikan kau tidak akan pernah bisa bertemu dengan mereka. Ohiya satu lagi aku yang mendaftarkan anakku di lomba yang kau buat. Mereka sangat ingin mengikutinya. Jadi aku harap kau menyetujuinya.]
Itu lah isi dua pesan dari Lila itu, “Dua hari? Kenapa harus dua hari? Kau sungguh sangat ingin menyiksaku Lila. Baiklah dua hari. Aku akan menunggu dan mempercayaimu.” Ucap Melvin.
Lalu setelah itu Melvin segera menghubungi Deo dan mengatakan untuk segera meloloskan berkas kedua anaknya itu karena dia memang menahannya hanya karena ingin tahu siapa itu Alex dan Alexa.
***
Keesokkan paginya, Kini Melvin berada di meja makan bersama kedua orang tuanya itu sedang sarapan.
“Sekitaran pukul satu mih.” Jawab Melvin.
“Lalu apa yang kau temukan di sana. Bagaimana mungkin kau kembali secepat itu.” ucap papi Emran.
Mami Elea pun menatap putranya itu karena memang dia juga penasaran dengan apa yang terjadi, “Semua baik-baik saja. Dia sudah kembali ke Negara ini dengan kedua anakku itu.” ucap Melvin.
“Apa?” ucap mami Elea kaget.
“Dia sudah berada di sini? Tapi di mana?” sambung mami Elea.
“Apa dia bersembunyi lagi?” tanya papi Emran karena putranya itu diam saja.
Melvin mengangguk, “Hum, dia bersembunyi.” Ucap Melvin.
“Pih, pinta Nugraha untuk mencarinya. Aku yakin kita akan menemukannya.” Ucap mami Elea.
Papi Emran pun mengangguk dan hendak meraih ponselnya tapi Melvin menahannya, “Jangan lakukan itu pih jika memang kau ingin bertemu dengan kedua cucumu itu. Dia sudah mengirimkan pesan kepadaku.” Ucap Melvin.
“Pesan apa?” tanya papi Emran.
“Dia akan menemuiku besok. Tapi dengan syarat jangan mencari tahu keberadaannya jika memang ingin bertemu dengannya atau tidak kita tidak akan pernah bertemu dengan anakku.” Ucap Melvin.
“Lalu kau percaya dengannya? Bagaimana jika dia menipu kita?” tanya papi Emran.
Tiba-tiba saja ponsel papi Emran berdering dan itu panggilan dari nomor tak di kenal. Papi Emran pun segera menjawab panggilan itu, “Siapa ini?” tanya papi Emran to the point.
“Selamat pagi tuan Emran. Ini Greyila El Bara gadis yang kalian cari. Tenang saja tuan Emran saya tidak akan lari lagi dan saya pastikan akan menepati janji saya itu jika kalian mematuhi syaratnya. Tapi jika tidak saya pastikan kalian tidak akan pernah bertemu dengan cucu kalian ahh bukan. Apa kalian menganggap mereka cucu? Saya rasa tidak karena kita tidak memiliki status sebagai menantu dan mertua. Ohiya sampai jumpa besok jika memang memenuhi syarat.” Ucap Lila lalu setelah itu sambungan telepon pun terputus bahkan saat papi Emran belum menjawab satu pun.
“Siapa pih?” tanya mami Elea setelah melihat ekspresi suaminya itu.
__ADS_1
“Lila.” Jawab papi Emran singkat, padat dan jelas.
“Apa yang dia katakan pih?” tanya Melvin.
“Dia mengancam papi. Wah, seumur hidup papi baru kali ini di ancam oleh anak muda.” Ujar papi Emran tertawa. Dia bukannya marah justru tertawa.
“Apa dia melarang kita untuk mencarinya?” tanya mami Elea.
Papi Emran pun mengangguk, “Hum, begitu lah.” Ujar papi Emran.
“Lalu sekarang bagaimana?” tanya mami Elea.
“Menunggu.” Jawab papi Emran dan Melvin kompak.
“Kalian percaya padanya?” tanya mami Elea lagi.
Papi Emran dan Melvin mengangguk, “Setidaknya hanya itu yang bisa kita lakukan untuk saat ini. Lagi pula menunggu sampai besok bukanlah waktu yang lama dari pada kita kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan mereka.” Ucap papi Emran.
Mami Elea pun hanya menghela nafas saja karena tidak tahu harus mengakatan apa lagi karena suami dan putranya sudah memutuskan untuk menunggu sampai besok. Sepertinya hanya itu yang bisa dia lakukan juga. Menunggu.
***
Sementara di sisi Lila, kini dia sedang menikmati sarapan dengan kedua buah hatinya itu di balkon kamar hotel mereka.
“Kita akan jalan-jalan kemana mom hari ini?” tanya Alex setelah selesai sarapan.
“Sebenarnya mommy belum memiliki jadwal liburan untuk kalian hari ini tapi kita bisa ke mall untuk belanja sesuatu. Apa kalian mau ikut mommy ke mall?” tanya Lila.
“Kami ikut mom. Kami ingin tahu mall di Negara ini.” ucap Alexa.
“Baiklah. Jika memang begitu. Kalian siap-siaplah.” Ucap Lila tersenyum.
Kedua buah hatinya itu pun segera menurut dan segera bersiap-siap.
“Nak, pakai ini.” ucap Lila meminta kedua buah hatinya itu memakai topi dan masker sama seperti dirinya.
“Kenapa kita harus memakai ini mom? Apa kita sedang bersembunyi?” tanya Alexa.
“Dek, jangan ngomong begitu. Turuti saja apa yang di minta mommy.” Ucap Alex. Alexa pun diam dan segera memakai topi dan masker pemberian Lila itu.
Kini mereka segera turun menggunakan lift. Alex dan Alexa berjalan di depan lalu Lila mengikuti mereka dari belakang, “Mommy yakin kalian tahu berada di mana kalian sekarang hanya saja kalian sedang berpura demi menjaga diriku.” Batin Lila menatap dua buah hatinya itu.
“Entah kenapa mommy menyembunyikan ini. Negara N? Negara daddy. Aku yakin dia meminta kami memakai masker agar tidak di kenali oleh daddy.” Batin Alexa.
“Mommy pasti punya alasan sendiri melakukan ini.” batin Alex.
“Ayo naik!” ucap Lila membukakan pintu mobil untuk kedua buah hatinya itu.
“Ini mobil siapa mom?” tanya Alex.
“Mobil mommy lah. Siapa lagi?” jawab Lila.
Alex dan Alexa pun hanya tersenyum lalu mereka segera naik ke dalam mobil. Lila pun segera ikut masuk ke dalam mobil begitu memastikan bahwa kedua buah hatinya itu sudah aman.
Tidak lama mobil itu pun melaju meninggalkan hotel dan menuju mall terbesar di Negara ini. Lila segera membawa Alex dan Alexa pun menuju tempat bermain, “Mom, untuk apa kesini? Kami tidak menyukai tempat seperti ini.” ucap Alexa.
“Kalian harus terbiasa hidup dengan permainan nak. Kalian itu masih berumur lima tahun dan sudah sepantasnya bermain.” Ucap Lila.
“Ayo dek.” ajak Alex. Alexa pun mengikuti saja kakaknya itu walaupun mereka tidak menyukai tempat ini.
Lila melihat kedua buah hatinya itu sudah bermain lalu dia berbalik, “Tunjukan dirimu Delon! Jangan bersembunyi.”
__ADS_1