
"Ughh, akhirnya selesai juga" Ucapku merentang kan tangan, setelah beberapa saat terkurung tubuh ku terasa begitu lelah karena duduk mematung sejak tadi, dengan riang aku kembali ke kediaman, sangiking bahagianya aku bahkan lupa jika aku sudah meninggalkan Ming ji, tapi tak masalah, toh ia bukan anak kecil lagi dan ia juga memiliki kaki, ia pasti bisa kembali sendiri
waktu berjalan begitu saja, sudah satu jam berlalu namun Ming Ji bahkan tak menujukan batang hidungnya, Bao Zi dan Xio Bai pun bahkan ikut menghilang, dengan langkah pelan aku menuju taman, hanya untuk sekedar menikmati udara malam, selain itu aku juga bisa lelah agar cepat tidur
"Kemana semua orang mengapa sangat sepi?" Ucapku menggembungkan pipiku kesal, aku sudah bosan sendirian, sebenarnya kemana perginya kedua pengawal tampan ku itu?, bukankah seharusnya sudah selesai, mereka pasti sudah menyelesaikan para pengacau itu kan?, lalu kemana mereka mengapa tak kunjung menujukan batang hidungnya menghela nafas pelan, malam sudah sangat larut, aku melangkah pelan meninggalkan taman, udara sudah semakin dingin dan aku tak ingin tubuh ku sakit karena terlalu lama diterpa udara malam yang tak sehat ini, malam sudah larut dan aku juga sudah sedikit lelah karena terlalu lama termenung, aku memang sudah sedikit mengantuk, dan akan segera kembali ke kamar untuk beristirahat, namun sayang niat hanya tinggal niat, lagi lagi seseorang jatuh dari langit, menyebalkan, lagi lagi aku harus merepotkan diri untuk melihat keadaan si pria yang jatuh Tampa aba aba ini
"Kau lagi?" Ucapku mendengus kesal, hey kenapa ia selalu jatuh dari langit, ya walaupun kali ini agak sedikit berbeda dari sebelumnya yang selalu jatuh dalam keadaan terluka dan sekarat, dan kali ini?, ia bahkan terjatuh dalam keadaan mabuk berat, hey apa lagi yang di rencanakan oleh pria ini, apakah ia tak lelah?, apakah tidak lelah jika harus selalu jatuh Tampa sebab dan sialnya selalu di hadapan ku, apakah ia tak memiliki tempat lain, seolah di dunia ini hanya dia mahluk konyol yang dengan mudah jatuh dari langi,
"Permaisuri" Ucapnya lirih, berdiri dengan sedikit oleng dan Tampa aba aba langsung memeluk ku, dengan begitu erat, aku sempat terdiam beberapa saat, bagai manapun ini terlalu tiba tiba, hal yang wajar bukan jika aku terkejut
"Hey, lepas, kau" Ucapku kesal
"Jangan bertanya permaisuri, sekarang bawa Zen ke tempat yang lebih layak, tubuh Zen terasa begitu remuk"
"Jatuh mu tidak ada urusan dengan ku, jika ingin mati mati saja tak perlu membuat orang lain repot"
"Zen tak akan mati dengan mudah, dan tak akan membiarkan permaisuri menjanda" Ucapnya terkekeh pelan, aku hanya menghela nafas kesal dan membantunya untuk berdiri membantunya melangkah untuk segera ke kamar ke tempat yang setidaknya lebih layak bagi manusia
__ADS_1
"Siapa juga yang mau dengan pria kurang kerjaan seperti mu" Ucap ku dengan nada kesal namun masih tetap membantunya melangkah masuk
"Zen bahkan begitu sibuk, Zen harus menyelesaikan banyak hal aga
bisa menemui mu, Zen bahkan harus melewati banyak masalah agar bisa kembali melihat wajah cantik mu"
"Dasar gila" Ucap ku, namun aku membantunya untuk merebahkan diri di ranjang kecil, ia jatuh di kediaman ku, dan di sini hanya ada kamar ku, kamar lainya sudah menjadi milik Ming Ji dan yang lainya, dan akhirnya dengan terpaksa aku membawanya masuk ke kamar ku sendiri,
Setelah melempat tubuhnya ke tempat tidur aku berniat meninggalkan ya, namun siapa yang menyangka jika si pria menarik ku dan membuat ku jatuh ke dalam pelukannya
"Xio bai" Teriak ku, namun tak ia tak kunjung datang, aku menggeram kesal, bagai mana mungkin ia tak datang, kemana dia saat keadaan genting seperti ini, aku jelas tak ingin bersama orang mabuk ini, ini jelas hanya akan membuat ku rugi
"Xio Bai, kemana kau, kenapa tidak datang dalam waktu genting ini" Omel ku,
"Pemuda putih itu tak akan datang" Ucapnya dengan mata yang masih terpejam, namun bahkan tak memiliki niat untuk melepaskan pelukannya
"Apa yang kau lakukan padanya, dasar pria jahat" Ucap sarkas, dan yah aku tak bisa lepas dari pelukannya meski sudah berusaha sekuat tenaga, kemana pergi kemampuan ku?, kekuatan ku?, hey mengapa pelukannya ini begitu erat seolah mengisap seluruh energi yang ada di tubuh ku, apa yang terjadi?
__ADS_1
"Zen tidak sejahat itu, Zen hanya membuatnya sedikit kerepotan, Biarkan Zen tidur dengan nyaman, Zen akan menghukum mu karena segala kenakalan mu permaisuri" Ucapnya dengan mata yang masih setia terpejam itu,
(Zen: cara kaisar menyebut dirinya)
"Bodoh lepaskan aku, aku akan berteriak, dasar tak tau terimakasih" Ucapku masih berusaha untuk memberontak, aku di dalam keadaan yang buruk, jelas aku harus melakukan upaya penyelamatan diri, dan apa itu?, permaisuri?, enak saja manggil permaisuri, kapan nikahnya?,
"Cup" Aku terbelalak kaget saat merasakan benda kenyal itu menempel di bibir ku, hey, ciuman ku?, meskipun ini bukan ciuman pertama seorang Yi Yanli, tapi ini tetaplah ciuman pertama dari Yu Ahli Ming Xiang, dan ciuman itu di ambil oleh pria bodoh yang senang mabuk berat,
"Bajingan kau" Teriak ku dengan penuh apakah
, hey apa itu, apa ia ingin membuat ku mabuk, dengan membagi alkohol yang tak seberapa ini?, aku tak mungkin mabuk meski telah menghabiskan dua puluh kendi aku tak akan mabuk kali
"Jangan berteriak permaisuri, atau Zen akan membuahkan calon putra untuk kita" Bisiknya sensual, hal ini jelas membuat ku bergidik ngeri, orang mabuk, kuat dan mengancam ingin memperkosa ku?, tidak, siapapun tolong aku, aku sedang tidak baik baik saja, tolong lepaskan aku dari situasi ini, lepaskan aku dari ketidak berdayaan yang menyebalkan ini, aku benar benar tak memiliki pilihan selain diam dan membiarkan mahluk ini tertidur agar lengah dan aku bisa kabur dengan mudah, bagai manapun aku adalah nona ke empat keluarga Yu, nona kesayangan, perlakukan ini jelas melukai harga diri ku
"Bagus, jangan takut dan mengganggap ucapan itu serius, malam ini biarkan Zen tidur memeluk mu, hanya memeluk, Zen akan melakukan itu saat kita sudah sah menjadi suami istri, karena Zen tak akan melakukan hal yang akan menyakiti hati permaisuri" Ucapnya yang membuat ku menghela nafas pelan, dari pada di perkosa, peluk dikit ngak papa kali ya, aku akan melepaskan pelukan ini saat pria bodoh ini tertidur lelap
"siapa juga yang mau menikah dengan mu bodoh" Bisik ku pelan, dan setelahnya hanya diam untuk menunggu saat ia melonggarkan pelukannya agar aku bisa meninggalkan tempat ini sesegera mungkin
__ADS_1