
"Nona, hiks hiks, syukur lah anda telah sadar" Ucap Ming ji menagis tersendu, aku mengerutkan kening ku pelan, seingat ku aku tercebur di kolam, mengapa bisa sampai di sini?
"Diam lah, aku baik baik saja" Ucap ku beranjak duduk,
"Maafkan hamba nona, hamba tidak bisa menjaga nona dan calon penerus" Aku memutar bola mata ku malas, penerus penerus apa yang semua orang bicarakan, aku hanya masuk angin waktu itu, aku tidak hamil, aku baik baik saja, bahkan sangat baik baik saja
Flashback on
Sore ini cuaca begitu darah, namun sayang aku lagi lagi sendiri, kalian pasti bertanya kan kemana para pengawal ku?, yah mereka pergi entah kemana, ku pikir mendandani mereka bukan hal yang berlebihan bukan?, mereka terlihat sangat cantik dengan segala riasan itu, sudah dia hari berlalu, jendral Fu selalu di sibukkan dengan prajuritnya, bou zi?, tentu saja menyelidiki rencana para saudara ku yang menyebalkan itu, Ming ji?, ia masih kedalam untuk mengambilkan teh, lagi lagi aku menghela nafas pelan,
"Siap apapun tolong aku" Teriak gadis sepuluh tahun itu berlari ke arah ku, yah dia adik kelima ku yang sedang main kejar kejaran dengan anjing,
Apa?
Anjing?
....
Bukankah?
Bukankah aku takut anjing?
Ya Tuhan?
Oh Tuhan aku dalam bahaya, aku berlari kencang saat dua ekor anjing mulai menargetkan ku, dan sialnya kemana para pelayan lain?, mengapa ia tak mengatasi anjing itu?, lalu siapa yang membawa anjing ke sini
"Jie ke empat, tolong" Ucap nya lirih, aku ingin meninggalkannya namun aku tak mungkin tega, ia hanya bocah yang sedang kelelahan
"Bagai mana bisa ada anjing di sini" Ucap ku yang sedang berlari di samping nya
"Aku tidak tau jie, mereka telah mengejar ku sejak di vapiliun api, aku lelah sekali" Ucap gadis kecil itu
__ADS_1
"Lalu kemana para pelayan mu?"
"Aku tidak tau"
"Hm sampai kapan kita berlarian seperti ini? "
"Aku tidak tau jie, aku takut" Ucap si gadis yang mulai terisak, hey lihat lah, apakah ia benar benar adik ke lima yang menyebalkan itu?, ia bahkan menagis saat di kejar anjing, ya walaupun aku juga takut anjing, namun tak sampai menagis,
"Jie akan melindungi mu" Ucap ku penuh tekat, baik lah ia hanya bocah kecil, aku tak mungkin menyimpan dendam padanya, lagi pula yu ahli hanya meminta ku untuk hidup dengan baik, bukan membalas dendam, maka baik lah mari terus berlari sampai lelah
"Jie"
"Apakah kau bisa memanjat pohon?"
"Tidak"
"Akan jie bantu, ayo" Ucap ku saat melihat pohon persik di taman
"Kau diam lah di sini, aku akan mengalihkan anjing anjing itu, ya Tuhan, main kejar kejaran dengan anjing memang sangat melelahkan" Ucap ku dan kembali berlarian, anjing sialan itu mengejar ku dan hampir menggigit ku
"Aaaaa" Aku terpeleset bebatuan dan
"Byurrr" Aku tercebur setelahnya semua gelap
Flashback of
"Brak" Pintu di dobrak paksa, aku mendongak menatap siapakah si pelaku pendobrakan, aku memijit kening ku pusing,
"Dimana, dimana permaisuri Zen" aku mengerutkan kening ku kesal, pria gila ini lagi?, kepala ku masih sedikit pusing mengapa ada gangguan seperti ini, oh dewa betapa beratnya cobaan mu, di kejar anjing bahkan di kejar orang gila ini, dewa bantu aku menghilang
"Yang mulia, redakan amarah anda" Ucap seorang pria yang bahkan tak ku kenali,
__ADS_1
"Permaisuri apa kau baik baik saja?, katakan di mana yang sakit" Ucapnya dengan nada yang begitu panik
"Bagai mana kalian begitu ceroboh, membiarkan permaisuri Zen tampa pengawalan, apakah kalian akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu pada penerus Zen?" Ucapnya menggelegar, dan sialnya tak ada yang berani menyela, kepala ku masih pusing dan malah mendengarkan teriakan ini, sungguh
"Apakah kau bodoh?, kepala ku masih sangat pusing, mengapa kau berteriak seperti itu, apa kau tau?, yang kau teriaki itu ayah ku, dasar pria gila, datang ke rumah orang hanya untuk marah marah, apakah jatuh dari langit membuat otak mu kosong?, tak ada apapun di perut ku, tidak ada bayi mau pun penerus, kau pikir wanita akan hamil jika hanya di peluk?" Ucap ku kesal, hey yang benar saja aku sudah terlalu lelah, apa itu?, bayi?, kandungan?, aku sudah terlalu tersiksa karena itu, aku tak bisa bermain, hidup mendekam di kediaman, aku bosan
"Jie, maaf" Ucap gadis sepuluh tahun itu terisak, ia baru saja datang bersama pelayannya, aku beralih menatapnya yang berjalan mendekati ku, tak lupa ia menekuk lutut memberi salam pada pria yang berdiri di samping ku,
"Mie er, ini bukan salah mu" Ucap ku mengelus pucuk kepalanya, ia hanya bocah kurang kasih sayang dan kurang di didik
"Mie er yang telah membuat kakak kehilangan adik bayi" Ucap si bocah masih terisak, harus berapa kali ku katakan aku tak hamil, aku masih perawan cuy, pelukan ngak bikin hamil kali, si pria bodoh menatap adik kelima ku?, dengan tatapan tajam, ah mulai lagi, apakah aku harus berteriak?, aku bosan aku tak hamil
"Tidak ada apapun, tabib, jelaskan pada mereka" Ucap ku pada tabib tua yang berada di samping ku
"Benar yang mulia" Ucap sang tabib pelan,
"Xi lin?" Ucap si pria menatap bawa hanya dengan tatapan tajam
"Aku hanya mengatakan jika itu adalah gejala kehamilan" Cicitnya pelan
"Sudah lah, anggap saja tak pernah terjadi apapun, saya sedikit lelah, Ming ji tolong antarkan semua orang" Ucap dengan malas, aku sangat tak suka seperti ini, tapi aku tak bisa menunjukan ketidak sukaan ku dengan begitu gamblang, aku tau aku sudah di cap sebagai bangsawan yang buruk, sebenarnya aku tak perduli, tapi?, aku tentu tak bisa mempermalukan ayah ku, biarkan mereka yang melihat dan menilai sendiri, pada dasarnya aku adalah gadis yang manis dan baik, rumor seperti ini sedikit menganggu telinga ku,
Aku menghela nafas pelan, semua orang sudah keluar, kecuali satu orang
"Mengapa masih tetap tinggal?, saya butuh istirahat" Ucap ku ketus, namun ia hanya bungkam dan memeluk ku dengan erat
"Lepaskan aku, sialan kau" Ucap ku, tentu saja aku berontak, pria gila ini suka sekali memeluk ku, aku tak ingin berakhir dengan cinta, ah mana mungkin, aku masih sangat waras untuk tak mencintai pria gila ini
"Biarkan seperti ini permaisuri, kau sudah membuat Zen gila"
"Enak saja, kau gila sendiri, jangan membawa bawa ku" Guman ku pelan, apa yang ia katakan?, aku yang membuatnya gila?, yang benar saja?,
__ADS_1
"Biarkan seperti ini" Ucapnya, aku menghela nafas kasar, lagi lagi aku harus mengalah, sangat menyebalkan,