
Di depan gerbang istana kerajaan Xiao wan, seorang pria nan nampak begitu gagah terus memacu kudanya untuk memasuki istana, ia hanya perlu menujukan lencana sebagai identitasnya sebagai seorang jendral besar kekaisaran,
Kuda hitam itu terus melaju hingga sampai di tempat penitipan kuda, si pria bergerak pelan untuk turun dari kuda, dengan langkah nan begitu gagah ia terus melangkah mendekati sepasang suami istri yang berdiri tak jauh dari tempat sebelumnya
"Yang mulia" Ucapnya saat berada di hadapan mereka, ia menujukan senyuman sembari membungkukkan tubuhnya beberapa derajat, sebagai salam penghormatan pada sepasang suami istri yang merupakan pemilik kerajaan Xiao wan ini
"Didi, akhirnya kau datang" Ucap Ming Li melangkah mendekati saudara laki lakinya ini, menepuk bahunya dengan pelan dan jangan lupa senyuman indah itu, meski dalam kekacauan ia jelas tak bisa terlalu lama terpuruk, ia salah panutan semua orang dan ia harus terlihat tegar dan kuat untuk menunjukan contoh yang baik untuk semua orang
"Anda sudah melewati perjalanan yang sangat jauh, pelayan akan mengantarkan anda ke kediaman untuk beristirahat" Ucap raja Xiao pelan, meskipun ia bukan orang yang ramah, namun ia jelas mengerti bagai mana menjamu seorang tamu, terlebih tamu yang datang adalah saudara laki laki permaisurinya
"Yang mulia, saya ingin menemui Xiang Er terlebih dahulu" Ucapnya yang hanya di balas dengan anggukan ringan
"Xiang Er sudah jauh lebih baik Didi, akan lebih baik jika kau beristirahat, perjalanan dari perbatasan ke kerajaan ini sangatlah jauh, kau pasti sangat letih" Ucap Ming Li pada adik laki lakinya ini
"Jie?, Saya tidak bisa beristirahat dengan baik jika belum memastikan keadaan Xiang Er, berapapun jaraknya akan saya lewati asal kan saya kembali bertemu dengan Xiang Er, setelah mendapat berita seminggu yang lalu saya bergegas kembali, hanya untuk memastikan jika Xiang Er kita masih tetap bernafas dengan baik" Ucapnya lagi, Ming Li menghela nafas pelan, kekahwatiran didi nya ini sangatlah berdasar, semua orang sangat menyayangi yu ahli, terlebih mereka yang lahir dari ibu yang sama, kecemasan seorang saudara memang hanya dapat di tenangkan saat memastikan jika saudara lainya tetap baik baik saja
"Baiklah Didi, namun kau harus berjanji, jangan terbawa emosi sesaat saat melihat keadaan Xiang Er"
"Jie jangan membuat ku menebak nebak apa yang sebenarnya terjadi"
__ADS_1
"Pelayan akan mengantarmu ke paviliun anggrek, setelahnya kau bisa beristirahat di sana"
"Terimakasih, jika demikian saya mohon diri, untuk segera menemui Xiang Er" Ucapnya dan setelahnya melesat menuju paviliun anggrek untuk melihat adik kesayangannya
"Xiang Er" suara tercekat itu berasal dari tuan muda Yu yang merasa begitu hancur melihat keadaan adik kesayangannya
"Gege, Gege kembali?" Ucap Yu Ahli dengan nada lemah, saat ini ia duduk diam di pinggiran danau, menatap danau dengan tatapan kosong, ia sudah terjaga sejak dua hari lalu, kenyataan membuatnya benar benar terpukul, ia bahkan menjadi sosok yang begitu murung, tak ada lagi Yu Ahli yang semena mena, tidak ada lagi Yu Ahli yang jahil dan penuh dengan segudang ide licik,
"Maaf maafkan gege yang datang terlambat" Ucapnya dengan penuh rasa bersalah
"Bukan kesalahan Gege, Xiang Er lah yang terlalu bodoh hingga meninggalkan ayah, Xiang Er yang salah, membiarkan pembunuh itu menghabisi seluruh kediaman Yu Kita" Ucap Yu ahli terisak pelan, tuan muda Yu hanya bisa menatap adiknya dengan tatapan sendu, menarik tubuh Yu Ahli dalam pelukanya
"Xiang Er meninggalkan ayah, dan ayah mengalami hal buruk karena Xiang Er yang selalu menjadi biang masalah" Ucap Yu ahli terisak pelan, ia bahkan selalu termenung sejak kejadian hari itu, ia menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian naas yang menimpa mansion keluarga Yu
"Semua bukan salah Xiang Er, semua sudah terjadi, tak ada yang perlu di sesali, yang terjadi tidak bisa di ulang kembali, Xiang Er jangan terlalu larut dalam kesedihan ini" Ucap tuan muda Yu dengan nada begitu lembut, ia mengelus pelan pucuk kepalanya, mengelusnya dengan penuh kasih sembari mengatakan beberapa kata penenang agar Yu Ahli tak lagi menyalahkan dirinya sendiri
"Kematian ayah dan kehancuran seluruh keluarga Yu adalah nyata Gege, semua nya nyata, sejak hari itu bahkan Xiang er tak bisa tertidur dengan nyaman, sejak saat itu Xiang Er bahkan selalu di hantui oleh mimpi mimpi buruk itu, Xiang Er bahkan bermimpi saat melihat ayah di bunuh dengan begitu kejam, saat pedang menancap tepat di jantung ayah, Xiang Er bahkan melihat darah darah itu mengalir dengan deras, Xiang Er juga.."
"Xiang er, hentikan, ini bukan kesalahan mu, semua adalah takdir, jangan menyalahkan diri mu sendiri"
__ADS_1
"Ge, apakah ayah akan mengutuk Xiang Er dari surga?, Mengapa ayah tidak membawa Xiang Er ikut serta, dengan begitu Xiang Er bisa bertemu ibu di sana" Ucap Yu Ahli lirih, sedangkan tuan muda Yu masih setia mengelus lembut punggung Yu Ahli
"Jangan salahkan dirimu sendiri Xiang Er" Bisiknya pelan, ia menghela nafas pelan sembari membawa Yu Ahli dalam gendongan dan membawanya kembali ke kamar, Yu Ahli pastinya sangat kelelahan,
"Apa yang terjadi padanya" Ucap Ming Li pelan, setelah menyelesaikan beberapa urusan ia memilih untuk ke paviliun anggrek untuk segera menemani yu ahli yang selalu larut dalam keterpurukan, dan saat ia melangkah masuk ia di suguhi dengan tubuh yu ahli yang sudah berada dalam gendongan saudara laki lakinya
"Dia hanya terlalu kelelahan" Ucapnya pelan
"Baiklah, setelah mengantarkan Xiang Er beristirahat segera temui jie jie di gazebo di taman bunga, ada hal yang akan jie katakan, jangan terlalu lama karena jie hanya memiliki waktu yang singkat" Ucap Ming Li pelan
"Baik lah"
"Lanjutkan perjalanan Didi, jangan sampai Xiang Er terbangun, ia sudah sangat menderita akhir akhir ini" Ucap Ming Li pelan yang hanya mendapat anggukan dari saudaranya, Ming Li memberikan jalan agar saudaranya segera membawa Yu Ahli kembali
"Yong Lin, siapkan makanan yang lezat di gazebo" Ucap Yu Ming Li pelan
"Baik yang mulia" Ucap wanita bernama Yong Lin yang merupakan pelayan Ming li, setelah kepergian Yong Lin,
Ming Li menghela nafas pelan, dan dengan langkah pelan menuju gazebo, beberapa hal yang harus mereka bahas, ia tak akan bisa terus berdiam diri melihat kehancuran saudaranya, ia tak akan membiarkan saudaranya terlalu terpuruk dalam kesedihan ini, ia tak akan membiarkan kesedihan ini ber kelanjutan lagi, cukup sudah, cukup sampai di sini, di masa depan tak akan pernah ada penderitaan lagi,
__ADS_1