
Aku menghela nafas pelan, sudah hampir satu bulan berlalu begitu saja dan aku bahkan tak keluar dari kediaman mentri, entah mengapa aku menjadi mahluk yang sangat pemalas akhir akhir ini, hingga bahkan lebih memilih untuk tetap diam di rumah dan menikmati segala ketenangan, masalah selir sudah benar benar selesai, tak ada satupun dari pihak selir yang berani mengusik ku lagi, ayah sudah mengambil kebijakan tegas, aku sangat mencintai ayah dan bahkan memilih untuk tinggal bersama ayah beserta setumpuk dokumen yang menggunung itu, aku memang tak bisa membantu masalah secara dokumen karena aku tak mengerti masalah politik dan sebenarnya tak berniat untuk terjun kesana tapi setidaknya aku bisa mengurangi beban ayah, dengan menemaninya bekerja
"Nona" Aku mendongak menatap Ming ji yang terpongoh pongoh, ia bahkan seperti gadis yang baru saja di kejar orang gila
"Ada apa?" Ucap ku
"Yang mulia, yang mulia kaisar akan segera tiba" Ucapnya masih dengan nafas yang memburu
"Ha?" Dalam sekejap kebahagiaan dan senyuman indah ku hilang, berganti dengan wajah ling lung, yang mulia kaisar?, apa lagi yang ingin di lakukan mahluk itu di sini, terakhir kali ia datang ia memaksaku untuk menemaninya sepanjang malam, lalu apa lagi kali ini
"Nona?" Ucap Ming Ji yang membuat fokus ku kembali, aku menghela nafas pelan sembari mengguk patah patah, mahluk itu sudah datang, jelas aku harus menyambutnya, suka maupun tidak ia adalah sang penguasa di atas penguasa, aku tak ingin menyinggung orang yang hanya akan memberikan bencana pada keluarga Yu ku di masa depan, terlebih saat ini aku bahkan tiba di fase sangat tak ingin di ganggu dan begitu sensitif, tapi mahluk ini datang Tampa di undang, jika sudah seperti ini aku bahkan hanya bisa pasrah dan menyambut kedatangannya dengan senyuman palsu ki
"Biarkan dia datang, Ming ji, minta beberapa pelayan untuk membawakan aku teh hijau dan kudapan, dan katakan pada ayah aku tak ikut jamuan makan" Ucapku pelan, melangkah dengan lembut menuju jendela untuk menatap keluar jendela
"Apa nona sedang tidak enak badan?" Ucap Ming Ji dengan nada cemas
__ADS_1
"Yah seperti itulah" Ucap ku yang lagi lagi menghela nafas pelan, ini jelas tak mengenakan, aku bahkan langsung bad mood di buatnya
"Apakah kita perlu ke habib?" Ucap Ming Ji yang hanya ku jawab dengan gelengan malas, tidak semua penyakit bisa di atasi oleh seorang tabib
"Tidak perlu, aku baik baik saja,a memiliki mood yang naik turun adalah hal yang wajar saat menerima tamu bulanan" Ucapku pelan, yah pada dasarnya perutku sangat nyeri, rasanya tak ingin kemana mana, hanya menikmati hari dengan kemalasan
"Ah baik lah nona" Ucap Ming Ji
Aku hanya mengguk pelan, Ming ji meninggalkan ku dengan wajah yang sedikit bingung, lagi pula bukan hal yang perlu di permasalahkan, aku menghela nafas pelan, sembari menatap keindahan taman di pagi hari, waktu berjalan dengan sangat cepat, sudah hampir setengah tahun aku di tempat ini, tak ada tanda tanda jalan akan kembali ke kehidupan ku di masa moderen, ah sudah lah, syukuri saja, begitu banyak yang menginginkan kesempatan kedua namun sayang mereka tak mendapatkannya, toh aku tak memiliki siapapun di sana, akan lebih baik berada di masa ini lebih lama dan merasakan kehangatan keluarga yang begitu menyayangi ku
"Huh, sial, perut ku sakit sekali" Rutuk ku dengan nada kesal, aku sudah meminum begitu obat pereda nyeri yang di berikan tabib, namun nyatanya mereka sama sekali tak membantu, benar benar sial, bahkan obat obat itu tak dapat membantu ku mengurangi rasa nyeri ini walau sedikit
"Yang mulia" Ucapku menekuk lutut ku, aku bahkan masih berusaha untuk bertindak sesopan mungkin, meski aku tak menyukai ke datangannya namun tentu saja aku tak bisa bertindak gegabah, aku tak bermasalah jika hanya berdampak pada ku, namun?, mahluk ini tentu saja tak akan sebaik itu, satu kesalahan bahkan harus di bayang dengan begitu banyak nyawa, dari itu sampai saat ini pun aku bahkan tak ingin membuat masalah, karena hanya akan membuat keluarga Yu ku terseret dalam hal hal yang bahkan tak pernah ku inginkan
"Permaisuri, apakah para pelayan tak merawatmu dengan baik?, kau terlihat kehilangan banyak berat badan" Suara lembut itu membuat ku kesal seketika, apakah mahluk ini memiliki begitu banyak waktu, datang ke Xi Ang hanya untuk membuat mood ku semakin kacau, dan tadi, apa katanya?, ia bahkan mengatakan jika aku banyak kehilangan berat badan, aku, aku menjadi semakin kurus?, apakah matanya buta?, aku sudah hampir menjadi bakpau dan dia dengan tak tau malunya mengatakan aku sudah kehilangan banyak berat badan?, di lihat dari sisi mana pun jelas tubuh ku sudah begitu bulat, benar benar buaya darat yang tak pandai bersilat lidah
__ADS_1
"Permaisuri apa kau baik baik saja?, aku merindukan mu, kau tau karena mu aku harus tenggelam dalam tumpukan dokumen tak penting itu, jika kau tak memberi syarat kesejahteraan itu maka aku tak akan pernah sudi menyentuh gulungan² itu" Ucapnya yang hanya membuat ku semakin muak hingga bahkan lepas kendali, aku yang awalnya bersikap begitu sopan berubah ke wujud asliku yang begitu kasar dan tengil
"Bisakah kau diam" Ucapku dengan sedikit membentak, namun hal yang terjadi selanjutnya bahkan tak dapat di duga, ia bahkan beralih memeluk ku, dan dengan tak tau malunya mengatakan jika aku harus meredakan amarah ku?, yang benar saja, bagai mana bisa aku bisa tenang, jika keadaan ku seperti ini?, perut ku sangat sakit, dan bahkan ia mengungkit prihal berat badan yang begitu sensitif?, di tambah lagi mood ku yang naik turun karena kedatangan tamu bulanan ini, benar benar sangat meresahkan
"Permaisuri" Ucapnya dengan nada begitu lembut, aku memelototinya dengan kesal
"Apa?, kau tidak suka?, jika tidak pergi saja, jangan pernah menemui ku lagi" Ucapku dengan nada ketus
"Ugh" lenguh ku, sial, perut ku benar benar sakit, rasanyeri itu benar benar menyiksa ku, benar benar menyakitkan
"Permasuri apakah kau baik baik saja?"
"Apakah aku terlihat baik baik saja?, apakah matamu buta?, apakah kau tak melihat keadaan ku yang menyedihkan ini, sialan, perut sialan, mengapa sangat menyakitkan" rutuk ku
"Segera panggilkan tabib"
__ADS_1
"Berhentilah berteriak, atau kau akan ku tendang keluar" ucap ku kesal, namun si kaisar bodoh itu hanya diam dan malah menggendong ku,
"Tenagkan diri mu permaisuri, tabib akan segera datang" bujuknya, aku hanya menghela nafas pelan, aku menghela nafas pelan dan beranjak duduk di pinggiran ranjang, dalam sekejap aku kehilangan kesadaran ku, jangan pernah remehkan rasa sakit yang di rasakan saat wanita datang bulan