Nona Muda Yu

Nona Muda Yu
Kecemasan Ayah


__ADS_3

Kediaman Yu sedang ramai saat ini, setelah pertemuan di istana beberapa hari yang lalu, sang putra mahkota langsung di kirim ke kediaman Yu, baik lah tak akan masalah, permaisuri mengambil keputusan yang bijak, demi kenyamanan putra mahkota permaisuri menutup mata dan telinganya mengenai rumor yang akan beredar, dan menegaskan jika sang putra mahkota mendapat dukungan dari keluarga Yu, hingga memiliki kedudukan yang kuat, aku jelas sudah terlalu sering mendengarkan ini, kehidupan di istana adalah kehidupan yang begitu sulit dan memaksa mereka untuk menjadi licik demi mempertahankan yang telah di miliki


"Memberi salam pada yang mulia" seluruh keluarga ku berlutut di hadapan bocah 14 tahun itu, yah mau bagai mana lagi, ia adalah putra mahkota kerajaan Xi'ang ini, mulai sekarang kenyamanannya adalah tanggung jawab keluarga Yu, aku sudah mencium niat lain dari permaisuri, namun aku hanya perlu diam


"Bangkitlah" Ucap Si putra mahkota, setelah melontarkan beberapa kata sambutan putra mahkota di giring ke kediamanya, untuk segera beristirahat agar bisa berlatih dengan baik besok


"Jie" Ucap sang putra mahkota tampa canggung, ia sangat sedang berada di sini, berada di dekat orang yang ia tau sangat menyayanginya, sejak kecil ia tak tau apa itu sebuah kasih sayang, ibu yang bahkan selalu tegas dan begitu terhormat, saudara saudara yang hanya akan membuat ia terjebak dalam situasi yang begitu hina, yah ia tak pernah merasakan kasih itu, namun dengan nona keempat kediaman Yu ia mendapatkan itu, ini jelas bukan perasaan cinta, karena ia hanyalah bocah kecil yang tak tau apa itu cinta, ini hanyalah rasa kasih seorang adik pada kakaknya, seorang saudara lelaki pada saudara perempuannya, hanya itu, jangan salah faham dengan kebahagiaan yang saat ini ia rasakan


"Yang mulia, apa yang Anda lakukan di sana?" keningku mengerut, saat mendapati bocah 14 tahun sedang berada di bawah pohon tempat ku merenung,  mau apa lagi bocah ini?,


"Aku ingin menagih janji mu, kau sudah berjanji akan mendengar lagu ku kan?"


"Yang mulia, mohon jaga batasan anda, jika hal ini di ketahui orang luar maka anda tak bisa terhindar dari rumor" Ucap ku dengan nada formal, aku tak ingin mendapat masalah dari itu harus memberi sedikit jarak antara kami


"Jie, tidak ada siapapun di sini, kau menjadi semakin kaku akhir akhir ini" Ucapnya menggembungkan pipinya, sedangkan aku hanya menatapnya dengan malas


"Hari sudah sangat larut yang mulia, saya kembali ke kemar"


"Jie?" Ucapnya lirih


"Saat ini saya sedang tak enak badan, saya akan mendengarkan lagu anda besok"


"Benarkah?, kau berjanji?" Suara penuh antusias itu membuat ku tersenyum kecil


"Segeralah kembali ke kediaman anda yang mulia, udara sangat dingin, beristirahat sejenak akan membuat tubuh anda menjadi lebih segar"


"Baik, selamat malam jie, aku tak sabar menanti hari esok"


Aku menghela nafas pelan, menatap kepergian bocah itu, dia terlihat sangat bersemangat, aku tak mungkin mematahkan harapanya, meskipun aku belum berniat saat ini,


"Nona?"


"Minta jendral Fu melatih putra mahkota di lapangan yang sama dengan para prajurit besok" Ucapku sembari menusukan diri di depan cermin melepaskan satu persatu ikatan rambut yang memusingkan ini


"Tapi bukankah sangat tak pantas nona?, bagai mana jika kita menyinggung pihak kerajaan" Ucap Ming ji dengan nada pelan

__ADS_1


"Mereka sendiri yang meminta, putra mahkota harus menjadi kuat, mereka sendiri yang meminta agar ia berada di bawah naungan ku, kelak ia akan memberikan kesejahteraan bagi kerajaan ini, aku sudah di beri kepercayaan jelas harus melakukan hal yang terbaik, dan lagi ia adalah calon penerus aku tak ingin pembedaan, ia bahkan akan melewati banyak hal setelah ini"


"Baik nona"


"Kau bisa beristirahat setelahnya"


"Mematuhi" Ming ji segera meninggalkan kediaman ku menuju tempat jendral Fu, aku menghala nafas pelan, merebahkan tubuhku di ranjang, hari ini adalah hari yang cukup berat, setelah berhasil mengirim selir wei ke pengasingan masih ada dua selir lagi yang akan membuat ku repot,


Mentari pagi kembali menemani ku, aku menghela nafas pelan, menikmati pemandangan yang indah di temani teh hangat beberapa makanan ringan, kehidupan ku memang sudah di takdirkan seperti ini, aku hanya bisa menikmati tampa bisa mengeluh


"Jiejie?"


"Ah adik ke lima?, duduk lah"


"Apa yang sedang menggu mu jie?"


"Tidak ada, hanya saja sepertinya hari sangat cerah, lalu angin apa yang membawa mu ke halaman ku di saat pagi buta seperti ini?"


"Kau paling peka jie" Ucapnya tersenyum lebar, yah aku sudah terbiasa seperti ini, bocah kecil ini menemui ku saat matahari bahkan belum sepenuhnya terbit, selain ada maunya apa lagi?


"Ayah ingin menjadikan ku teman belajar salah satu putri, ku mohon jie bujuk ayah ya, meskipun aku menyukai istana namun bahkan aku tak berniat berada terlalu lama di sana"


"Tidak ada salahnya mencoba jie, bukankah kita harus mencoba terlebih dahulu agar mengetahui hasil akhinya?"


"Kau semakin fasih sekarang"


"Terimakasih atas pujian mu jie" ucap si bocah tersenyum lembut, yah pada dasarnya menjadi teman belajar salah satu putri bukan hal yang menyenangkan, para putri manja itu hanya akan membuat mu repot, akan lebih baik menghindar, saja, tak menyangka jika anak rubah ini menjadi sosok yang lebih baik dari ibunya


"Sekarang kembalilah ke kediaman mu, belajar dengan baik, jika kau bersikap baik maka ayah akan mempertimbangkan keinginan mu" suara bas itu sontak membuat ku dan adik ke lima berbalik, di depan kami sudah berdiri sosok pria paruh baya yang bergelar mentri yu itu


Setelah menekuk lutut, wei xian segera meninggalkan halaman ku


"Ming ji, buatkan sepoci teh, ah ayah, mari duduk, sejak kapan ayah berdiri di sana, dan apa yang ayah lakukan di pagi buta seperti ini?"


"Tidak ada, ayah hanya ingin menemui mu"

__ADS_1


"Ada apa ayah?"


"Ini tentang putra mahkota"


"Ada apa dengannya?"


"Ayah merasa cemas saat kau terlalu dekat denganya, ayah tak ingin hal itu di manfaatkan oleh Raja untuk menekan mu"


"Ayah tenagkan diri mu, raja tak akan bisa menekan ku, dan mengenai putra mahkota sepertinya kita memang harus membantu, selama ini raja mengacuhkan putra mahkota karena ia di rumor kan bodoh dan sangat lambat, namun pada dasarnya tak ada pencapaian tanpa usaha, hati putra mahkota terlalu bersih untuk bertarung dengan sengitnya kehidupan istana, dan yah ku fikir menempatkannya di kediaman yu bukan pilihan buruk"


"Ayah hanya mencemaskan rumor buruk tentang mu"


"Ayah tak perlu khawatir, aku baik baik saja dengan rumor itu, hm tapi bisakah ayah membantu ku?, mencari beberapa buku politik untuk putra mahkota belajar"


"Bukankah terlalu dini?"


"Aku akan mengatur jadwal belajar putra mahkota, bagai mana pun ia harus tetap menguasai urusan ini,"


"Kau sangat perduli padanya, ayah sedikit cemas"


"Ayah, aku hanya tak ingin membuat hati yang bersih menjadi kotor, aku akan menjaga batasan ku" ucap ku tersenyum lembut, sembari menyangka teh ke gelas kaca di depan kami, ayah hanya bisa mengguk pasrah, toh semua sudah di putuskan, ia menyesap tehnya perlahan, menikmati sensasi aroma dan rasa teh tongling yang cukup terkenal di masa ini


"Ayah harus kembali ada beberapa hal yang harus ayah urus"


"Aku akan melihat mu, jaga kesehatan anda" ucap ku, ayah ku hanya mengguk dan segera meninggalkan halaman ku, yah seperti biasa akan ada sidang pagi di istana, sebagai sosok berpengaruh tentu saja ayah tak bisa membolos


"Ming ji, siapkan air mandi ku" ucap ku perlahan berdiri dan melangkah anggun menuju kamar ku, aku harus mandi, setelahnya tentu saja menjalani aktivitas hidup seperti biasanya


"Nona, gaun mana yang ingin anda pakai?"


"Gaun biru itu, letakan tusuk rambut pemberian ayah beberapa waktu lalu"


"Apakah ini tidak sangat sederhana nona"


"Tak masalah, hari ini aku tak ingin bermain, aku ingin melihat lihat pelatihan prajurit,"

__ADS_1


"Apakah anda ingin mengawasi putra mahkota?"


"Bisa ia bisa tidak, hm sudah lah, mari bantu aku" Ming ji hanya mengguk dan segera membantu ku mengangguk rambut,


__ADS_2