
Dua orang gadis berjalan dengan riang di tengah keramaian, cadar hitam itu berhasil membuat mereka berbaur dengan nyaman di tengah masyarakat, lagi pula siapa yang perduli dengan orang asing
"Jie, bahkan kau tak mengabariku saat datang" Ucapku menggembung kan pipi ku kesal
"A Xiang, bukankah kediaman sibuk mengurus persiapan pernikahan adik ke dua, dari itu jie tak sempat mengabari mu"
"Apakah pernikahan itu sangat penting hingga jie jie melupakan ku"
"Sebuah pernikahan tentu saja sangat penting, tak menyangka, adik adik ku sudah tumbuh dewasa, jie bahkan ingat saat menagis hanya karena sebuah permen"
"Jijie"
"Baik lah baik lah, adik ke dua sudah akan menikah minggu depan, bagai mana dengan mu?"
"Aku?, aku tidak, aku akan tetap di kediaman ini dan menemani ayah sampai tua"
"Dan membiarkan Kekaisaran tampa penerus?"
"Berhentilah berkata omong kosongnya jie"
"Seluruh rakyat tau bagai mana kejam dan kerasnya seorang kaisar Wu, ia bersikeras tak mengambil selir apa lagi seorang permaisuri, para menteri yang selalu mendesak pun ia abai kan, sejak kematian di tengah aula istana tak ada lagi yang berani membahas tentang pernikahan, baik itu selir ataupun permaisuri, kaisar Wu bahkan tak segan memenggal mentri yang berani menyinggungnya mengenai penerus, dan kali ini ia merepotkan diri untuk mengejar seorang gadis, bukankah itu pertanda takdir mu memang di istana?"
"Jie, aku tidak ingin membahas hal itu, terlalu mengeda ngada dan memusingkan, mari bersulang dan minum sampai mabuk, kepala ku pusing sekali, orang bodoh itu selalu saja berbuat masalah, sangat merepotkan dan menyebalkan" Ucapku meneguk minuman ku dalam satu kali tegukan saja, uh anggur bunga persik memang sangat enak
"Mei Mei ku ini masih sangat kekanak kanakan rupanya" Ucap kakak ku terkekeh pelan
"Tentu saja, samapai kapan pun, aku hanya akan menjadi nona kecil kesayangan keluarga Yu, permata berharga keluarga Yu ku" Ucapku dengan bangga, aku tak akan kemana mana, aku akan menemani ayah hingga ajal menjemput itulah yang sangat ingin ku wujudkan saat ini
"Baik lah baik lah, aku selalu kalah jika berdebat dengan mu"
__ADS_1
Aku hanya membalasnya dengan kekehan pelan, kapan lagi?, kapan lagi aku bisa menikmati festival sebebas ini?, tak ada prajurit yang mengikuti dan tak ada jendral Fu yang selalu saja kaku, dan yah tak ada Ming ji yang cerewetnya minta ampun, hari ini aku benar benar bebas dari para belenggu iitu, ku menyesap anggur ku dengn tersenyum lebar
"Kakak?, apa yang terjadi?" Ucapku menunjuk ke tempat yang terlihat begitu ramai, dari kejauhan aku dapat melihat dengan jelas jika ada sekelompok orang yang sepertinya membicarakan sesuatu
"Entah lah mari mendekat" Ucap kakak ku yang tentunya langsung aku setujui, langkah membawa kami ke tempat keramaian
"Apa yang terjadi?" Tanya ku pada seseorang wanita yang berdiri tak jauh dari ku
"Putra mahkota, melakukan pertunjukan bersama pengamen jalanan, sungguh konyol, dan mempermalukan kerajaan" Ucap si wanita, aku menjergit, segitu tak di cintaikah putra mahkota?, bahkan ia hanya ingin hidup dengan normal, menjalani hari yang bahagia dan melakukan apapun yang ia inginkan, namun semua ini di anggap lelucon oleh orang orang, mata mereka memang sudah di butakan oleh ucapan manis pangeran ke empat sialan itu, aku menghela nafas dan memilih untuk meninggalkan kerumunan, kakak ku?, seperti biasa ia selalu saja menghilang tampa permisi, siapa lagi, suaminya datang dan menagkapnya, raja Xiou wan benar benar tak memiliki rasa iba padanya, bagai mana ia bisa meninggalkan ku di keramaian pasar seperti ini, tampa penjaga atau orang yang ku kenal, meski aku sudah terbiasa di zaman moderen tapi setidaknya pertimbangkan lah tubuh kecil milik Yu Ahli ini, kakak ipar yang benar benar buruk
"Jie" Suara itu membuat ku menghentikan langkah, aku menjergit pelan menatap bocah yang berdiri di hadapan ku, bisakah aku hidup dengan nyaman?, bocah ini selalu memanggil ku kakak perempuan, aku buka saudaranya, aku bukan kakaknya mengapa selalu saja menyapa ku
'Siapa gadis itu?, sepertinya sangat dekat dengan putra mahkota konyol itu'
'Entah lah, mungkin kekasihnya'
'Sayang sekali, nona muda yang malang, memiliki kekasih bodoh sepertinya'
"Bisakah kalian diam, apakah lidah dan mulut kalian hanya di gunakan untuk membicarakan orang?"
"Kau sangat cantik nona, sangat di sayangkan, meskipun dia putra mahkota, tapi bahkan ia tak mendapatkan dukungan dari raja"
"Apa hak mu menghakimi putra mahkota" Ucapku kasar, kini para pembisik itu terdiam, aku tak suka, tak suka dengan penindasan seperti ini, putra mahkota memang konyol, tapi apakah mereka tak bisa mengerti, manusia butuh alam bebas, bukan terkurung di sangkar emas itu, mereka membutuhkan udara segar untuk menjernihkan fikiran, mereka butuh sedikit bermain untuk menghilangkan stress akibat beban yang harus di pikul, dasar manusia kuno, gitu aja ngak tau
"Bou zi, jika aku masih mendengar ada yang mengolok olok putra mahkota maka kau yang akan aku hukum, potong saja lidah mereka" Ucapku datar, yah entah dari mana datangnya perlahan ku yang satu itu, yang jelas aku harus memperingatkan para penduduk sialan itu, dengan kesal aku segera menarik putra mahkota ke kedai untuk minum teh, setelah marah marah suara ku sedikit serak dan butuh air
"Apa yang Anda lakukan putra mahkota, mengapa Anda mempermalukan diri seperti ini?" Ucap ku kesal, tentu saja, mengapa ia terlalu konyol, melakukan pertunjukan bersama pengamen jalanan, martabatnya sebagai Pangeran jatuh seketika, apa gunanya kedudukan yang tinggi saat dirimu bahkan tak di harapkan
"Jei, kau memarahi ku?" Ucapnya menatap ku, tatapan polos itu?, ugh aku gemas sekali, aku ingin mencubit pipi bocah 16 tahun ini, sangat menggemaskan
__ADS_1
"Hamba tidak berani Yang mulia, hamba mohon berhentilah membuat kekacauan, kembali ke istana, dan lewati hari hari dengan nyaman, mohon jangan mempermalukan diri anda sendiri" Ucap ku formal,
"Apakah aku tidak boleh berteman dengan pengamen jalanan?, apakah martabat seseorang putra mahkota akan luntur jika menjalin hubungan baik dengan rakyatnya?"
"Yang mulia, mengertilah di mana tempat mu"
"Apakah kau tau jie?, jika aku bisa memilih maka aku tak akan memilih istana itu, tempat yang di penuhi kemewahan itu bahkan bagai neraka bagi ku, aku lebih suka hidup seperti ini, melakukan apapun yang aku inginkan tampa terikat dengan peraturan istana yang menyebalkan itu, aku lelah jie aku lelah harus duduk diam dan hanya melihat segala kegaduhan yang mereka lakukan, aku hanya ingin hidup di alam bebas apakah itu sangat sulit untuk di kabulkan?"
"Yang mulia, kau bisa bermain atau melakukan apapun yang kau inginkan, tapi, setidaknya jadilah kuat terlebih dahulu , anda tak bisa selalu diam saat bahkan para rakyat jelata mengolok olok anda" Ucapku pelan, namun apa yang kulihat?, wajah kesal itu berubah menjadi sendu, ada apa dengan bocah kecil ini?
"Maafkan aku jie, selain ibu tak ada yang benar benar menyayangi ku, aku kesepian jie, aku butuh teman, tapi aku tak bisa mempercayai orang istana, ibu selalu mengatakan jika aku tak bisa mempercayai mereka karena mereka akan menyusun rencana untuk menjatuhkan ku, aku tak suka dengan posisi ini, tapi aku tak bisa menolak keinginan ibu ku jie, mengertilah" Ucap si pura mahkota sendu, dilihat dari manapun putra mahkota ini memang terlihat begitu tertekan dan memiliki sedikit gangguan pada jiwanya, bukan gila, hanya saja merasa sedikit depresi oleh segala hal yang ia lewati, aku mengerti itu, sebagai calon penerus banyak orang yang membencinya dan memanfaatkan ke polosanya, aku menghela nafas pelan saat ia memeluk ku dengan erat, yah walapun kami hanya terpaut usia dua tahun namun aku merasa jika putra mahkota ini sebagai adik ku, adik yang sangat rapuh dan membutuhkan bahuku untuk sandaran, bocah seusia ini memang suka belajar, dan tak suka di kekang aku mengerti akan hal itu, setidaknya aku lebih paham dengan nyang namanya masa muda, yah aku sudah melewatinya dua kali dan tentu saja pengalaman ku banyak
"Harap lepaskan permaisuri putra mahkota" Suara itu membuat ku memutar bola mata malas, yah aku tau siapa itu, dialah Chan Li, pengawal yang di tugaskan untuk mengikuti ku, aku tak bisa mengendalikannya karena ia sangat setia pada Wu Liang bodoh itu, aku tak menyangka jika ia menunjukan diri secepat ini,
"Jie?" Rengek putra mahkota yang masih memeluk ku, ia bahkan melupakan jika saat ini kami sedang berada di tempat umum, jika ada yang melaporkan ke istana maka putra mahkota akan berada dalam masalah, ia akan di anggap sebagai pangeran yang tak bermoral, berkontak fisik dengan wanita yang bukan saudara ataupun Terikat denganya di tengah umum
"Permaisuri, mohon lepaskan pelukan anda"
"Chan li, ayo lah jangan terlalu inplusif, dia sedang tidak baik baik saja, biarkan aku menenangkannya sebentar"
"Permaisuri, ini bukan kuasa hamba" Ucap Chan Li, mau tak mau aku melepas pelukan itu, putra mahkota masih terlihat sedih
"Baik lah baik lah, kau selalu menyebalkan, datang dan pergi tampa di undang" Ucap ku menggembung kan pipi kesal, aku tak ingin berakhir dengan kaisar bodoh itu lagi, aku tak suka
"Chan li, antarkan putra mahkota ke istana, kau bisa mengabulkan keinginan ku yang ini kan? "
"Menyesal sekali permaisuri, saya tak bisa membiarkan anda lepas dari pantauan saya walau sesaat, hamba bisa meminta orang untuk mengantarkan putra mahkota kembalo"
"Terserah kau, lakukan apa yang kau inginkan, yang penting putra mahkota kembali ke kerajaan dengan selamat" Ucap ku, menyebalkan, bahkan permintaan sekecil ini pun tak bisa ia turuti, menyebalkan, mengapa Wu Liang bodoh itu menempatkan pria ini di sisi ku.
__ADS_1
"Mari permaisuri, anda pun harus segera kembali, udara malam tak baik untuk kesehatan anda" Ucap Chan li pelan, aku hanya menghela nafas kesal dan segera melangkah meninggalkan kedai untuk segera kembali ke kediaman dan beristirahat