
Satu bulan sudah berlalu begitu saja, saat ini kereta kuda membawa ku kembali memasuki kota dan tentu saja akan membawa ku kembali me mansion untuk segera melepas rindu dengan ayah dan rumah ku, setelah lama tak berjumpa jelas aku sangat merindukan pelukan nan hangat itu, tatapan lembut dan ayah yang selalu memanjakan dan melakukan segala upaya untuk menyenangkan ku, di kerajaan Yuan memang cukup menyenangkan, hanya saja aku terlalu merindukan ayah ku, dan saat hari ini aku bahkan begitu bersemangat meninggalkan nenek ku di kerajaan itu, ternyata memiliki seorang nenek tak terlalu buruk, hanya saja aku harus pintar mengalihkan pembicaraan saat ia sudah mengungkit mengenai seorang cicit, aku masih terlalu muda untuk menikah, namun meskipun begitu aku tak bisa lari dari seorang Mak comblang, untung aku gadis cerdik dan dengan mudah membuat pria pria gila harta itu mundur, bagai manapun sebuah kecantikan ke anggunya dan kelembutan selalu menjadi tolak ukur bagi seorang gadis, namun?, aku jelas tak memiliki itu, aku hanya memiliki wajah yang cantik, dan tentu saja dengan senag hati ku jadikan jelek agar pria pria memandang fisik itu lari terbirit birit, kereta kuda sudah berhenti di depan kediaman, namun pintu kediaman di tutup dengan begitu rapat
"Apakah tidak ada yang menyambut kita?" Ucap ku pada Ming Ji yang memang duduk di samping ku
"Mungkin tuan sedang sibuk nona" Ucap Ming Ji pelan, dan tentu saja ku balas dengan anggukan, benar, masalah memang cukup memusingkan akhir akhir ini, aku dapat mengerti dengan kesulitan ayah,
"Mari nona" Ucap Ming Ji, dengan senyuman lebar aku mengguk dan perlahan menuruni kereta, melangkah dengan pelan memasuki kediaman untuk memberikan sebuah kejutan pada ayah, namun?, pada akhirnya aku lah yang di kejutkan
Mata ku membulat sempurna saat memasuki area mansion, kaki ku seketika lemas bagai, terduduk Tampa daya dengan di temani air mata yang tumpah Tampa memberikan sebuah instruksi, bagai mana tidak, kepulangan ku bahkan di sambut dengan lautan api dan hamburan darah, mansion Mentri yang agung seketika hancur begitu saja, di hadapan ku bahkan sudah puluhan mayat yang terbaring dengan di tutupi selembar kain putih
"Ming Ji?, katakan ini hanya mimpi, benar bukan?, Ming Ji, katakan ini hanya sebuah mimpi ku saja" Ucap ku dengan nada lirih, aku masih berusaha untuk tetep tersenyum, berusaha keras untuk menapik segala kenyataan yang sudah jelas jelas berada di depan mata
__ADS_1
"Nona, kediaman, kediaman telah di hancurkan" Ucap Ming Ji pelan
"kita hany pergi sebentar Ming Ji, dan semua sudah membuang kita" Ucap ku di sela isak tangis, kehidupan bahagia ku, kehidupan makmur ku seketika hilang bagai tertiup angin
"Ayah, ayah di mana ayah" Ucap ku dengan tatapan kosong, aku berlarian kesana kemarin mencari keberadaan ayah ku, orang yang begitu menyayangi ku,
"Ayah, ini bohong kan?, ayah sedang mengerjai ku, pasti ayah sedang mengerjai ku" Ucap ku di sela Isak sembari terus mencari
"Ayah, ini tidak mungkin, ayah, buka mata mu, jangan tinggalkan Xiang Er sendiri ayah, Xiang Er mohon bangun, jika ingin pergi bawa Xiang Er bersama ayah" Ucap ku sembari memeluk erat mayat pria tua yang merupakan Ayah ku, ayah ku bahkan tak menjawab dan mengatakan apapun, ia bahkan begitu betah memejamkan matanya
"Ayah, mengapa tubuh mu sangat dingin, ayah mari ke dalam, udara di luar tak baik untuk kesehatan ayah" Ucap ku lagi
__ADS_1
"Nona, tenangkan diri anda" Ucap Ming Ji dengan nada pelan, ia bahkan menahan segala Isak tangis itu, namun air mata tak bisa berbohong, saat sakit dan kehilangan maka air mata itu akan jatuh Tampa bisa di manipulasi
"Ming Ji, ayah menjadi sangat pendiam, tubuh ayah dingin, segera siapkan air mandi, tubuh ayah sangat kotor"
"Nona" Ucap Ming Ji membawa ku dalam pelukanya
"Ming Ji, ini semua hanya mimpi kan?, saat aku terjaga pasti semua akan baik baik saja, benar kan Ming Ji?" Ucap ku dengan nada putus asa
"Nona, tuan besar, tuan besar sudah pergi meninggalkan kita"
"jika begitu aku harus pergi, ayah sendirian di sana, jika ia sakit siapa yang akan merawatnya"
__ADS_1
"Nona" Ucap Ming Ji mempererat pelukanya, aku masih terisak hingga pada akhirnya kegelapan merenggut alam sadar ku dan aku jatuh tak sadarkan diri tepat di hadapan mayat ayah ku yang terbujur kaku