Obat Jiwa CEO

Obat Jiwa CEO
PERKENALAN


__ADS_3

Rei sudah menjemput Malika di rumah sakit miliknya, Rei sudah berjanji untuk memperkenalkan Malika kepada kedua orang tuanya.


Hatinya berbunga-bunga karena orang tuanya tidak sabar ingin sekali bertemu dengan calon menantu mereka.


Tidak lama mobil yang membawa mereka ke mansion milik keluarga Rei tiba tepat di depan halaman mansion itu. Keduanya disambut oleh kedua orang tua Rei yang sedari tadi menunggu mereka.


"Mami, ini Malika!!."


"Malika ini orang tuaku."


Rei memperkenalkan Malika pada nyonya Ambar yang langsung disambut pelukan dan ciuman dari mami Rei.


"Hei, sayang kamu sangat cantik, semoga kamu menyukai anak mami ya sayang," puji nyonya Ambar.


"Hmm!!"


Suara deheman papi Romy menyadarkan istrinya untuk melepaskan pelukannya pada Malika. Istrinya yang menyadari, suaminya yang belum menyalami Malika langsung beralih.


"Eh, ini mantan mami, tidak kalah tampan dari Rei lho," seloroh nyonya Ambar pada Malika, mereka tergelak tertawa bersama.


"Ayo, masuk sayang mami tunjukkin kamar kamu," ajak nyonya Ambar, tapi buru-buru ditegur sama Rei.


"Mami!!, sebentar Malika baru sampai mam, kita ajak ngobrol dulu."


"Oh iya, mami lupa sayang saking senangnya melihatmu", spontan ucap nyonya Ambar dan Malika hanya tersenyum tipis melihat tingkah maminya Rei.


Mereka duduk di taman belakang rumah, di taman itu ada satu pohon rindang dan di bawahnya tersusun beberapa kursi santai lengkap dengan meja yang mengarah ke kolam renang.


Beberapa pelayan tampak berdiri dengan patuh seakan sedang menunggu perintah tuannya.


Rei terus menatap wanita cantik yang mengenakan atasan hitam dengan rok panjang berwarna oranye, Malika sudah mulai berdandan membuat Rei sangat senang, walaupun Malika merias wajahnya dengan make-up yang sangat lembut untuk mempertegas kecantikannya, merasa diperhatikan oleh Rei, Malika mengalihkan wajahnya menghadap nyonya Ambar.


"Nyonya," panggil Malika."


"Sayang kenapa kamu memanggil nyonya, sebentar lagi kamu akan menjadi menantu mami, panggil mami saja ya cantik," pinta Nyonya Ambar menatap wajah Malika dengan senyum manisnya.


"Ba..baik Mami !!"


"Malika, siapa nama ayahmu nak?," tanya papi Rei membuka obrolan karena melihat tingkah Rei yang tidak berhenti menatap Malika.


"Daniel Anjastara, papi."


"Apa??"

__ADS_1


"Maksud kamu, kamu putri dari Anjastara group yang memiliki perusahaan Cyber IT ?"


"Iya, papi."


"Dan kamu adalah Malaqiano Andira putri Anjastara yang menikahi putra tuan Pramudia Darmawangsa?, kau janda dari Arie Arya Darmawangsa?"


Suasana menjadi canggung setelah serentetan pertanyaan papi Rei kepada Malika, Rei menjadi jengah dengan papinya.


"Papi!!, bukankah Rei sudah menceritakan kisah pertemuan Rei dengan Malika?, mengapa tiba-tiba papi menjadi sinis begitu?"


Mami Rei menegang ditempatnya, dan Malika seakan menahan tubuhnya yang gemetar melihat ekspresi papinya Rei.


Papi Rei bangkit dari duduknya menghampiri Malika dan mengangkat tangannya yang ingin menarik tangan Malika.


Malika menyambut tangan papi Rei kemudian papi Rei memeluk gadis itu sambil mengucap,


"Terimakasih nak, akhirnya kau yang menjadi menantuku."


Suasana yang tadinya tegang kemudian mencair setelah melihat adegan drama calon menantu dan calon mertua di depan mereka.


"Ah, papi bikin jantungan saja," sungut Rei kesal menatap papinya yang sudah kembali duduk ditempatnya.


"Rei, sebenarnya Malika ini adalah jodohmu, dulu papa Malika dan papi adalah sahabat pada masa kuliah di Jerman.


Kami tinggal bersama dalam satu Flat walaupun berbeda jurusan, hubungan kami sangat akrab bahkan layaknya seperti saudara.


Kami mulai jarang bertemu karena ada masalah perjodohan antara anak-anak kami."


Tuan Romi nampak sedih mengingat hubungan dengan dua sahabatnya itu, setelah mengendalikan perasaannya tuan Romi kembali melanjutkan ceritanya.


"Dulu kami berjanji siapa yang memiliki putra yang lahir duluan akan segera dijodohkan dengan salah satu putri kami.


Rupanya papi yang memiliki putra duluan setelah itu tuan Pram memiliki Arie dan lima tahun kemudian kamu Malika.


Setahu papi nama panggilan mu dulu adalah "Qino" bukan Malika, sekarang mengapa nama panggilanmu berubah, nak ?"


"Oh, itu nama panggilan saya menjadi bulian teman-teman saya saat masih di sekolah dasar.


Mereka mengatakan saya permen kino, saya sangat marah dan meminta ayah untuk menggantikan nama panggilan saya, lalu ayah memberi saya pilihan untuk memilih nama panggilan sendiri yang saya suka, saya suka nama panggilan Malika, begitu ceritanya, semuanya terkekeh mendengar pengakuan Malika."


"Pantesan nak, kami tidak mengenalmu saat Rei menceritakan tentangmu dan menyebut namamu. Dulu saat ayah Malika ingin memperjelas hubungan kami untuk menikahkan kalian, papi menolaknya karena keadaan Rei yang.....


"Ayah stop!!, ayah tolong jangan diteruskan," pinta Rei memohon pada ayahnya untuk tidak membongkar aibnya pada Malika.

__ADS_1


Malika merasa bingung melihat gelagat Papi dan Rei yang terlihat diam setelah tadi asyik mengulas masa lalunya, mami Rei juga tidak merespon apapun, dirinya lebih banyak melamun.


🌷🌷🌷


"Permisi nyonya, makan siang sudah siap, apakah mau makan sekarang nyonya?"


"Kami akan makan sekarang, tolong dihidangkan!!," titah Nyonya Ambar.


"Ayo Malika kita makan siang," ajak nyonya Ambar pada Malika yang langsung bangkit dari duduknya.


Rei dan Papinya juga bangkit dan berjalan mengikuti dua wanita yang beda generasi ini, menuju ruang makan."


Suasana kembali hangat di meja makan, mereka saling ngobrol dan melempar candaan, tidak ada lagi ketegangan diwajah mereka juga raut kesedihan.


Setelah itu Rei mengajak Malika ke kamar yang akan ditempati Malika, Malika mengikuti langkah Rei, Malika menempati kamar tamu, kamar yang sekarang ditempati Malika lebih kecil dari kamarnya tapi sentuhan kemewahannya tidak kalah dengan kamar hotel singel room dengan gaya interior modern.


"Malika, apakah kamu suka kamar ini sayang," tanya Rei kemudian.


"Ini sudah cukup Rei, untuk menjadi tempat persembunyian saya dari komplotan mertua saya dan paman Rama."


Wajahnya seketika muram mengingat kembali putranya yang telah diculik oleh mertuanya dan juga pengkhianatan yang dilakukan oleh asisten Rama pada keluarganya.


"Rei, aku kangen dengan Ezra


anakku," gumam Malika sedih.


"Dia juga anakku Malika, putra kita berdua, aku juga berhak atas dirinya, mengapa kamu terus membatasi diriku seakan aku ini bukan ayahnya," ucap Rei yang merasa kecewa dengan perlakuan Malika pada dirinya.


Rei menatap wajah Malika, menangkup pipi Malika dengan kedua tangannya, manik mereka bertemu.


"Aku akan menjemput anak kita sekalipun itu di ujung dunia sayang."


Rei menundukkan wajahnya hendak mengecup bibir kenyal Malika, gadis itu menundukkan wajahnya menghindari bibir Rei.


"Jaga batasanmu Rei," jangan terlalu banyak berharap dariku, hubungan kita karena anak, bukan karena cinta."


"Hatimu sendiri yang berperan karena aku tidak ingin masuk kedalamnya, sesuatu yang dimulai dengan kesalahan tidak akan tumbuh rasa cinta yang sebenarnya, aku harap kamu paham Rei, kecuali kamu ingin aku menghilang lagi darimu."


"Jangan Malika, jangan mengancamku seperti itu, baiklah sekarang kamu harus istirahat aku akan kembali ke kantor, panggil saja pelayan jika kamu membutuhkan sesuatu."


Rei meninggalkan kamar Malika, hatinya seakan teriris mendengar penolakan Malika.


Malika merebahkan dirinya

__ADS_1


di atas kasur, membenamkan wajahnya dibantal, mengenang kembali saat dirinya mengandung dan mengalami kemelut kehidupan yang menyiksa batinnya sampai tubuhnya ikut menyusut.


__ADS_2