Obat Jiwa CEO

Obat Jiwa CEO
"BULAN MADU DI AWAN BIRU"


__ADS_3

Malika mencoba menghubungi lagi nomor suaminya, tapi ponsel itu sudah tidak aktif, tapi di tengah kekalutannya, otak jeniusnya mulai berjalan, ponsel pintarnya diatur bagian programnya, pesawat jet milik pribadi Rei disadap lalu di masukkan satu virus ke sambungan komunikasi pada radar pesawat, untuk menahan pesawat itu supaya cancel perjalanannya, baru ingin masuk ke mobil, datanglah helikopter memasuki arena landasan pacu di area mansion suaminya. Malika berlari mengejar helikopter yang baru saja mendarat sempurna, dari helikopter dia melihat seorang tamu mertuanya turun, Malika berteriak pada tamu itu sambil melambaikan tangannya.


"Hei tuan siapapun kamu tolong akuuu!"


"Nona mau ke mana?," tanya lelaki tampan itu kembali.


"Tolong antar aku ke bandara suamiku Rei, aku tidak punya banyak waktu," ucap Malika buru-buru pada lelaki tampan yang tidak lain ada sosok Alex pemimpin mafia sahabat mertuanya."


"Baiklah ayo naik," ajak Alex setelah melakukan negosiasi dengan Malika.


Malika langsung menaiki helikopter itu, secepat kilat helikopter itu kembali tinggal landas meninggalkan mansion milik tuan Romi. Dari jauh di atas balkon mansion, tuan Romi dan istrinya menertawakan kepanikan menantunya, tuan Romi memeluk istrinya dari belakang sambil berucap,


"Dia baru menapaki hidupnya, biarkan dia belajar menggapai cintanya dengan caranya sendiri, dengan begitu dia bisa menghargai arti hidup sesungguhnya."


"Iya sayang, Malika memiliki karakter yang kuat, mempertahan prinsip hidupnya sekalipun dia harus kehilangan semua waktu kebersamaan dengan putra kita, gadis yang tidak gampang menyerah pada keadaan, mengikuti intuisinya tanpa berpikir akan akibatnya," ucap nyonya sambil membelai pipi suaminya yang sedang menyender dibahu kanannya.


Dalam waktu 5 Menit helikopter sudah berada di atas bandara Rei, rupanya pesawat jet itu sudah berjalan di atas landasan pacu dan Malika sangat panik melihat pesawat itu mau siap- siap tinggal landas, dengan cepat Malika memerintahkan pilot Alex yang mengemudikan helikopter itu untuk menghalangi laju pesawat jet milik Rei,


"Tolong halangin laju pesawat jet suamiku," perintah Malika tegas pada Alex.


"Ini berbahaya nona, bisa terjadi kecelakaan fatal," ucap Alex mengingatkan kenekatan Malika.


"Kamu mau turuti permintaanku atau kamu mau aku lompat dari helikoptermu untuk mengejar suamiku!," ancam Malika dengan penuh penekanan pada kalimatnya.


"Baik nona akan saya coba lakukan sesuai keinginanmu," ucap Alex menggelengkan kepalanya lalu melakukan manuver untuk menghentikan pesawat jet pribadi milik putra bosnya yang usianya selisih lima tahun dengan dirinya.


Aksi heroik Alex mengundang semua mata yang ada sekitar bandara menyaksikan lelaki itu menghalangi jalannya pesawat jet di landasan pacu tepat pesawat dan helikopter itu hampir mau beradu. Dengan cepat burung besi milik Rei menghentikan laju kecepatan kendaraannya. Rei yang melihat keadaan pesawat berhenti langsung menghampiri ruang duduk pilot dan ko- pilot yang menghentikan mesin pesawatnya.


"Ada apa, kenapa nggak jadi tinggal landas?," tanya Rei kesal pada pilot pesawatnya.


Pilot itu baru ingin menjawab pertanyaan Rei, tapi matanya menatap hal yang mencuri perhatiannya, dengan mengernyitkan dahinya melihat ada sebuah helikopter yang di kenalnya dan lebih kaget lagi dia melihat seorang gadis yang berlari ke arah pesawatnya.


"Hah!


Astaga Malika, istriku," gumam Rei lalu dengan cepat membalikkan badannya dan berteriak meminta pilot menurunkan tangga pesawat jet.


Rei langsung turun dari pesawat, berlari menghampiri Malika dan ketika jarak keduanya hampir berdekatan Rei menangkap tubuh istrinya yang melompat dalam pelukannya.


"Reiiiiiii!, jangan tinggalkan aku, aku mencintaimuuu!!," teriak Malika menghamburkan pelukannya ke tubuh pria yang sudah memberikan nya satu putra ini.


Keduanya berpelukan, Rei memutar tubuh istrinya di tengah landasan pacu bandara miliknya. Keduanya menangis haru dan saling berciuman. Keduanya tidak perduli dengan tatapan orang lain yang menatap mereka, malah semua yang ada disekitar bandara bertepuk tangan sambil berteriak "huhhhh" teriakan haru biru dari para penonton dadakan. Baik pilot pesawat jet maupun Alex menatap adegan romantis pasangan pengantin baru itu dengan penuh kekaguman. Hanya Alex yang memandang iri adegan itu, diapun berucap,


"Ah, kalian sudah membuatku makin merindukan bidadariku di pulau sana, Lili apa kabarmu cantik!"


Alex kembali menerbangkan helikopternya meninggalkan pasangan itu yang masih beradu akting drama kehidupan. Rei dan Malika serentak melambaikan tangan mereka ke arah Alex kemudian Alex hanya memberi jempolnya dari jauh. Helikopter Alex menghilang dari balik awan sedangkan Rei dan Malika meneruskan kata-kata mesranya.


"Sayang kenapa kamu nekat kesini dengan helikopter tadi?," tanya Rei yang masih menggendong Malika.


"Aku ingin menghentikanmu pergi melakukan ide gilamu itu di Amerika, aku sudah tahu semuanya dari mami, maafkan aku suamiku," ucap Malika sambil berkoala ditubuh Rei.


"Oh baby jadi sekarang kamu sudah mau menerimaku dan memaafkanku?"


"Tentu saja sayang, sekarang bawalah diriku pergi ke mana pun kau mau sayang, bawalah jiwa ragaku dari sini bersamamu kembali ke pesawat," pinta Malika kepada suaminya.


"Kita mau ke mana sayang," tanya suaminya.


"Kita akan bulan madu ke awan, bawa aku ke sana, putar haluan pesawat, arahkan Denpasar Bali,". ucap Malika yang masih ada dalam gendongan suaminya seperti koala.


Rei membawa istrinya menaiki tangga pesawat jet itu yang sudah di sambut dua orang pramugari cantik. Malika tidak perduli dengan sapaan itu, dia sibuk memandangi wajah tampan suaminya seakan menebus semua setiap momen berharga yang telah dilewatinya.


"Selamat datang nyonya Malika," sapa dua pramugari cantik sambil menundukkan kepala sedikit kepada istri bos mereka.


Rei melangkahkan kakinya menuju langsung ke kamar pribadinya yang ada di dalam kabin pesawat jet itu.

__ADS_1


Rei memencet tombol pintu kamarnya lalu membawa tubuh istrinya ke atas kasur. Setelah itu Rei mengangkat dagu lancip istrinya, menikmati bibir bagian bawah Malika dengan lum*t*n yang dalam dan mulai terasa hangat seakan bibir sensual itu menyimpan banyak madu untuk dihisapnya.


Rei tak kuasa menghentikan laju permainan bibirnya hingga terdengar suara kecapan berkali-kali diiringi suara nafas yang tersengal.


Rei memeluk pinggang istrinya dengan lembut agar Malika lebih nyaman.


"Siap untuk bercinta sayang," tanya Rei lembut tepat ditelinga kanan Malika dan itu berhasil membuat Malika tergetar.


Malika hanya mengangguk malu.


Rei menatap wajah istrinya dan tersenyum simpul.


"Benarkah?, tanya Rei lagi membutuhkan kepastian dari sang pemilik tubuh.


"Apakah kamu tidak ingin mencoba nya sayang?," goda Malika manja dengan gestur tubuh yang memancing hasrat suaminya.


"Baiklah!"


Kemudian Malika membantu menanggalkan pakaian suaminya.


"Saat ini Rei sangat bahagia dengan kejutan dari istrinya.


Rei beralih ke bagian dada Malika yang nampak kencang, menggelantung indah yang menjadi kesukaannya yang masih terbungkus bra merah.


Tanpa terasa waktu berganti dengan teratur pesawat yang membawa mereka berdua sudah mengangkasa menembus awan dan berada di bawah langit biru yang makin cerah, secerah hati Rei saat ini.


Rei merasa sangat luar biasa seperti berada di atas permadani indah di kelilingi taman bunga beraneka warna dan dipinggir pembaringannya tersedia cawan-cawan memabukkan yang akan dituang istrinya untuk diteguk dari bibir istrinya yang makin membuatnya bergetar.


Rei menegakkan tubuhnya, ia ingin menambah kecupannya seraya mendekap istrinya, pada saat bersamaan Malika juga menegakkan tubuhnya dan mengejar bibir se*si Rei hingga tiba lebih dulu. Malika melepaskan kecupannya.


"Biarkan aku memanjakanmu, Rei" pinta Malika yang sama sekali tidak lagi merasa tertekan seperti sebelumnya.


Gadis itu membalik posisi tubuhnya, ia mendorong tubuh Rei lembut, hingga punggung suaminya berotot itu menempel pada kasur secara perlahan, Malika mulai menjelajahi bagian dada dan perut Rei dengan lidahnya.


Saat wajah Malika tepat dibawah perut bagian bawah suaminya, ia menatap kotak yang tersusun rapi dengan urat-urat besar yang mengarah pada area sensitif milik suaminya.


Sebagai rasa terima kasihnya dan menebus rasa berdosanya selama ini pada suaminya, Malika kini berusaha keras untuk membahagiakan sang suami dengan servis yang sempurna.


Malika mulai melakukan dengan sentuhan lembut pada bagian tubuh yang paling Rei suka dengan sepenuh hatinya. Laki-laki tampan ini pun mulai mengerang nikmat setiap sentuhan yang diberikan istrinya.


"Kamu makin pintar sayang," puji Rei sambil membelai rambut Malika yang berwarna coklat kehitaman, panjang dan sedikit ikal.


Malika tersenyum mendengar pujian dari suaminya. Sebenarnya bukan hanya sentuhan Malika saja yang hampir membuat Rei menggila, namun karena hati keduanya kini mulai menyatu tanpa ada lagi penolakan dari istrinya.


"eehm.."


Malika mengeluarkan suara erotis yang manis sambil memainkan milik suaminya yang sudah tegak sempurna, di saat yang sama, mata Rei terus menatap tajam ke arah Malika yang sedang berusaha memberikan sentuhan terbaiknya, semakin lama gerakan dari mulut Malika semakin energik berirama, setelah dalam waktu yang lumayan lama, Rei mengeluarkan suara manjanya sembari meluncurkan lahar kental miliknya.


"Kamu sangat luar biasa istriku," puji Rei lalu menarik tubuh istrinya dan kembali memagut bibir sensual yang sudah membawanya terbang ke angkasa seperti pesawat yang mereka tumpangi saat ini menjelajah wilayah yang sedang menempuh jarak yang jauh melewati beberapa pulau untuk mencapai tujuan.


"Aku tidak salah memilihmu sayang, kamu cantik bahkan sangat cantik, jenius, manja dan hebat juga dalam urusan ranjang," puji Rei sekali lagi sambil tersenyum puas menatap sayu pada wajah istrinya yang mirip artis luar negeri Kate Winslet yang muda saat itu.


"Mau lagi sayang?," tanya Malika yang ingin menggoda, padahal ia tahu ini bukan bagian akhir yang diinginkan oleh suaminya.


"Jangan tanyakan itu sayang, itu sangat kejam bagiku," jawab Rei sambil menatap Malika penuh harap dengan tatapan matanya yang sudah mulai berat dikuasai oleh gelora bir*hinya.


Saat itu Malika tersenyum manja untuk membuat Rei makin penasaran akan dirinya dan membuat suaminya ini makin terbuai dalam asmara yang memabukkan.


Bagi Rei ini adalah siksaan besar untuk dirinya namun bagi Malika ini adalah godaan nakal yang menghanyutkan. Malika kembali berdiri dan menyatukan bibir Rei dengan bibirnya, tak ingin terlihat lemah lelaki tampan ini segera menurunkan tali penyangga bukit kembar milik istrinya.


Kemudian Rei membalikkan tubuh istrinya berganti posisi sehingga tubuh atletisnya kini mengusai tubuh mulus istrinya, suka dengan suara manja yang keluar dari mulut istrinya, Rei memainkan kuping istrinya dengan penuh perasaan, setelah melihat Malika mulai melemah, Rei melucuti semua pakaian istrinya, hingga tidak ada lagi sehelai benang pun yang membatasi pandangannya.


Rei memandangi gundukan kembar milik istrinya yang begitu menggiurkan, sekarang keduanya saling menatap tubuh mereka. Rei pun nampak menatap lebih dalam lekukan tubuh molek istrinya yang sangat sempurna tanpa ada lapisan lemak yang berlebihan ditubuh wanita yang sudah memberikannya satu putra ini.

__ADS_1


Tubuh itu masih sama seperti satu setengah tahun yang lalu yang pernah ia nikmati. Pemandangan yang menakjubkan itu berhasil membuatnya terbakar apa lagi harum tubuh Malika mulai menggodanya kembali, yang makin membuat miliknya kembali tegang.


Tanpa membuang waktu Rei mengejar buruannya, menyapu dengan lidahnya di setiap inci tubuh istrinya.


"Sstt, sayang!," gumamnya seraya menuruni bawah leher Malika yang menyembul sempurna.


Malika menggigit bibir bawahnya seraya menengadahkan kepalanya, bibirnya tersenyum merayu, sementara matanya berbinar-binar ketika Rei menikmati bukit kembarnya itu, sentuhan demi sentuhan dirasakannya dengan penuh kenikmatan.


Sentuhan yang mampu menembus alam pikiran Rei yang menggugah perasaannya untuk mengatakan bahwa, Ia sangat mencintai istrinya sampai ke dalam dasar hatinya yang terdalam.


Malika menahan kegelisahannya sambil menggenggam kasur dan menegangkan otot dada serta perutnya.


"Sayang, aku sangat menginginkanmu istriku Malika, kau milikku sayang, Malika aah!!" terdengar jelas di telinga Malika.


Hal itu membuat sang istri makin menggeliat gemulai lalu terbuai dalam lautan asmara yang tercipta.


"Reiii!!"...oh..sstt" panggil Malika manja sambil menatap mata Rei yang sudah makin terangs*ng mengundang hasratnya untuk melakukan lebih.


"Saya sangat ingin sayang dan tidak bisa menundanya lagi bolehkah?," pinta Rei santun memohon pada istrinya untuk tidak lagi berubah pikiran.


Tiba-tiba saja Malika makin terpacu mendengar rengekan manja suaminya yang berada di atas tubuhnya. Tak lama Rei mulai memasuki tubuh istrinya yang sudah lama ia impikan semua momen itu membuat keduanya mengerang manja sembari menatap satu sama lain.


Bagi Rei ini adalah kali keduanya ia menikmati tubuh yang sama dengan status yang berbeda, milik istrinya yang masih terasa ketat dan menjepit seperti pertama kali Rei menjamah tubuh ini, entah apa yang dipakai wanita ini pada bagian int*mnya, yang membuat Rei makin terbakar dalam lautan kenikmatan yang tak bertepi. Penyatuan tubuh ini yang dirindukannya yang mengobati jiwanya, satu-satunya wanita yang berhasil membuatnya kembali menjadi laki-laki normal yang sebelumnya hampir membuatnya putus asa menemukan obat dari dokter ahli manapun. Hanya bidadari ini yang datang sendiri menemuinya walaupun dalam kondisi yang salah.


Sementara bagi Malika inilah usaha nya untuk memberikan kepuasan untuk suami tercinta. Dual hal indah yang ingin dilaluinya dan kini dirinya melakukan dalam keadaan sadar.


Malika mengerang bersama dengan air mata yang menetes haru, ia pun terus mendesah, gelisah sambil menahan perih yang luar biasa padahal segelnya sudah pernah dibuka oleh lelaki yang sama yang telah merenggut mahkota sucinya, sedangkan Rei yang tanpa puas dengan sensasi rasa yang sama yang pernah dirasakannya pertama kali yang memasuki gawang kegadisan istrinya saat dirinya baru pertama kali menemukan Malika di negara yang awalnya ingin didatanginnya lagi.


Bergerak dan menghentakkan dengan cepat, ia terlihat ingin menikmati rasa yang sama ini untuk kedua kalinya, 30 menit mengadu pinggul, lahar milik suaminya kembali menyembur ke dalam rahim suci istrinya lalu disusul dengan suara des*han yang manja dan terengah-engah.


"Ssst uuuhhhmmm..." Malika berdesis, suara desisan demi desisan yang terlontar dari mulutnya, kemudian ia memeluk tubuh suaminya yang sudah dipenuhi peluh.


"Luar biasa kamu sayang, luar biasa sekali, ini seperti mimpi bagiku sayang," ucap Rei


"Apakah itu benar?"


"Iya dan saya sangat bahagia," tutur Rei yang memutuskan untuk duduk sambil memperhatikan lagi wajah cantik istrinya yang makin bersinar setelah menggapai surga dunia yang telah diberikan sang istri pada tubuhnya.


"Aku milikmu selamanya milikmu cinta, oh suamiku," ucap Malika meracau setelah mencapai puncak kenikmatan yang direguk dari benda pusaka dari tubuh milik suaminya.


Keduanya tersenyum puas dan bernafas lega setelah melakukan ritual ibadah yang meleburkan dosa atas ridhho Illahi.


"Sempurna," gumamnya seraya meletakkan tubuh yang telah diselimuti peluh disisi kanan Malika. Malika masih merasakan kesulitan dengan tubuhnya yang telentang tanpa busana di atas kasur, tidak jauh dari Rei dengan mata berkaca-kaca Malika terus menatap laki-laki dengan tubuh kekar yang sekarang sudah sah menjadi suaminya, sambil tersenyum. Rei pun juga tersenyum menatap wajah istrinya yang tidak pernah membuatnya bosan menatap.


"Apakah kamu baik-baik saja sayang?," tanya Rei sambil menatap kedua mata Malika yang sayu.


"Iya sayang"


"Bolehkah aku melihat sesuatu dari milikmu?"


"Tentu saja apapun itu," jawab Malika.


"Perlihatkan lagi milikmu aku ingin menatapnya, sampai mataku lelah.


"Hari ini aku telah menyerahkan diriku sepenuhnya padamu sayang, kau boleh melihatnya atau melakukan apapun atas diriku karena aku tidak akan lagi menghalangimu untuk melakukannya," ucap Malika lalu membuka lagi kedua kakinya untuk memperlihatkan bagian intinya pada suaminya.


Rei kembali menatap bagian bawah perut istrinya, kemudian di usap dengan jarinya, kali ini Rei menyapu bagian bawah perut istrinya dengan lidahnya, menyusuri gundukan kecil bulat yang tidak di tumbuhi bulu apapun, Rei menjelajahi lidahnya, menelusuri sampai bagian dalam yang tersembunyi dengan lidahnya, Malika kembali mend*s*h, merasakan sensasi yang luar biasa dari lidah suaminya pada bagian int*mnya hingga membuatnya terpekik menahan nikmat yang sudah menjalari tubuhnya seperti sengatan listrik kemudian suara lenguhan itu kembali terdengar memacu adrenalin Rei untuk lebih memberikan servis terbaiknya untuk memuaskan kembali tubuh istrinya.


Rei makin menjadi gila mendengar teriakkan erotis sang istri dengan liukan tubuh istrinya yang menggodanya untuk melakukan lebih dalam mengusai tubuh istrinya. Malika menggeliat dengan erangan dengan nafas yang sudah tidak beraturan.


"Ahh, Rei...aku menyerah sayang," adu Malika, yang tidak mampu lagi mempertahankan gejolak jiwanya hingga tubuhnya bergetar hebat menjambak rambut suaminya karena merasakan kenikmatan tiada tara.


"Cukup sayang, aku sudah tidak kuat," pinta Malika lirih dengan nafas yang tersengal-sengal setelah mendapatkan serangan dari mulut suami pada bagian intinya.

__ADS_1


Rei kemudian bangkit dari perut istrinya dan memeluk tubuh itu lagi kemudian membalikkan tubuh istrinya dan mengarahkan senjata laras panjangnya ke dalam tubuh istrinya, hentakan demi hentakan berpacu bersama peluh yang kembali mengeluarkan aroma tubuh istrinya, harum semerbak aroma tubuh istrinya membuatnya makin terang**g hingga akhirnya semburan itu berhasil menembak jauh laharnya dalam rahim Malika. Rei kemudian menjatuhkan tubuhnya ke samping tubuh Malika kemudian memeluk tubuh polos itu merapat masuk dalam pelukannya, keduanya kemudian tidur karena lelah setelah satu jam mereka bergu**l.


15 menit lagi pesawat jet miliknya akan lending, namun keduanya tidak perduli meneruskan tidur mengabaikan pesan suara dalam kabin mereka yang disampaikan oleh ko-pilot pesawat jet milik Rei, bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat di bandara setempat.


__ADS_2