Obat Jiwa CEO

Obat Jiwa CEO
"PRESENTASI MALIKA"


__ADS_3

Setelah seminggu menghabiskan liburan keluarga, Rei yang sejak awal sudah membuat janji dengan tuan Alex untuk menghadirkan istrinya dalam meetingnya dengan sejumlah perusahaan yang bernaung dibawah perusahan milik tuan Reinaldi.


Acara yang digelar di salah satu hotel mewah ini mendapatkan apresiasi dari para pengusaha dan juga klien yang ingin melihat langsung cara kerja chip buatan Malika untuk pengoperasian sistem penerbangan pesawat, alat pelacak ini sebagai inovasi terbaru yang ditambahkan ke dalam rancangan desain pesawat yang dibuat oleh tuan Reinaldi suami Malika.


Mc dari acara ini adalah Jack yang tidak lain adalah asisten tuan Alex. Momen penting ini yang akan menentukan keberhasilan perusahaan milik Rei tergantung kepada presentasi yang akan disampaikan oleh Malika di meeting tersebut.


Rei dan Malika juga mengajak kedua orang tua mereka untuk ikut hadir dalam meeting tersebut. Wajah cantik Malika yang menjadi sorotan di acara tersebut membuat Rei sangat cemburu ketika para pengusaha itu tidak lepas pandangan mereka dari wajah cantik istrinya.


"Kalau tidak ingat ini acara penting, rasanya aku ingin membawa istriku keluar dari ruangan ini." ucap Rei dalam hatinya yang sudah menahan kesal kepada para anggota rapat tersebut.


"Kamu kenapa sih Rei, tahu-tahu cemberut begitu?"


"Sayang, kamu tidak berdandan saja sudah buat orang patah hati ketika menatap wajahmu, sekarang ditambah kamu secantik ini malah membuat banyak orang menikmati kecantikanmu sayang." Ucap Rei dengan bibirnya yang terus mengerucut.


"Astaga Rei, emang kamu tidak bisa singkirkan sikap posesifmu itu sesaat dalam rapat penting ini?"


"Aku tidak rela sayang, kamu terus membuatku gila dengan wajah dan tubuhmu itu."


"Berhentilah merengek sayang, jangan bersaing dengan baby Ezra putramu, hanya putramu yang boleh merengek seperti itu dan kamu sangat tidak cocok untuk itu, mengerti!!"


Rei mengecup bibir istrinya di depan ruang meeting, ciuman bibir di depan umum sudah biasa di dunia barat, jadi kalau Rei melakukannya didepan umum itu bukan suatu hal yang tabu bagi dunia mereka.


"Sayang bersiaplah, sebentar lagi kamu akan tampil, semoga sukses presentasi perdanamu untuk produk kita."


"Terimakasih tuan suami, insya Allah aku siap."


Tuan Alex sebagai koordinator acara maju untuk memberikan sambutan setelah namanya di sebut pertama untuk tampil di acara meeting itu.


"Selamat pagi semuanya, perkenalkan saya tuan Alex bagi yang belum mengenal saya." ucapnya basa basi untuk memulai meetingnya. Saya sebagai pengelola roda perusahaan ini, akan memberikan penjelasan atas kemajuan teknologi canggih sebagai pendukung alat transportasi khususnya pesawat jet pribadi yang telah dirancang oleh tuan Rei dengan desain terbarunya.


Tuan Rei melakukan inovasi baru dengan sentuhan teknologi yang saat ini sedang dikembangkan oleh istrinya sendiri sebagai pencipta chip, yang awalnya khusus untuk ponsel pintar buatannya di bawah perusahaan Cyber IT group Anjastara yang berada di Jakarta Indonesia. Untuk lebih jelasnya hadirin sekalian saya mengundang nyonya Malika yang akan menjelaskan cara kerja chips ini. Kepada nyonya Malika, saya persilahkan untuk mempresentasikan hasil penemuan anda.


Malika bergegas menuju ke depan podium dengan menyiapkan konsep presentasi yang sudah ia berikan kepada Jack untuk menayangkan slide presentasinya di layar in fokus. Semua peserta meeting menatap wajah Malika siap mendengarkan presentasi wanita cantik ini.


"Selamat pagi semuanya, perkenalkan nama saya Malika, saya adalah nyonya Reinaldi suami saya yang paling tampan menurut saya." ucap Malika sambil tersenyum ke para peserta meeting. Rei yang mendengar pujian dari istrinya didepan para peserta rapat membuatnya merasa bangga dengan senyuman yang menghiasi wajah tampannya. Malika melanjutkan kembali presentasinya.


Kehadiran saya di sini tentu saja untuk menunjang kinerja pesawat hasil rancangan suami saya.


Pada awalnya sistem kerja chips ini adalah untuk ponsel pintar yang saya ciptakan dengan brand yang saya namakan smart phone Ezra yang artinya ponsel pintar sebagai penolong untuk kebutuhan penggunanya. Walaupun saat ini belum banyak produk yang kami produksi karena penjualannya masih untuk kalangan terbatas.


Sistem kerja chips buatan saya ini, khusus untuk produk pesawat jet. Chips ini adalah alat yang akan membantu kita untuk mendeteksi tempat - tempat yang akan dilewati oleh pesawat dari ketinggian berapa ratus kaki di atas permukaan laut maupun darat saat pesawat jet itu melakukan penerbangan baik dalam jarak dekat maupun dalam jarak jauh.


Dalam setiap sepuluh menit, kita akan mendapatkan laporan secara langsung saat pesawat sedang berada di mana posisinya terbang, tentunya melalui ponsel ciptaan saya sendiri, bukan produk ponsel lain.


Kegunaan chips ini, hanya mengetahui letak keberadaan pesawat dari ponsel kita tanpa bisa mengendalikan pesawat itu sendiri, karena akan membahayakan keselamatan pesawat, jika itu terjadi maka akan mengundang banyak oknum memanfaatkan kecanggihan teknologi ponsel pintar buatan saya ini untuk melakukan kejahatan dan akan mencelakai banyak orang.


Bagian terbaiknya dari chips ini adalah mengirim sinyal kepada kita jika keberadaan pesawat ini terancam, misalnya pesawat mengalami kondisi cuaca yang tiba-tiba ekstrem maupun ada permasalahan pada mesinnya karena kelalaian para teknisi yang saat pesawat berangkat tidak mempersiapkannya sebaik mungkin dan juga sengaja melakukan human eror pada pesawat sehingga pesawat mudah mendapatkan kecelakaan.


Jadi intinya, jika pesawat ini sudah tinggal landas dengan sendirinya chips pada pesawat ini akan melaporkan keberadaannya saat berada di atas udara dari pesawat itu berangkat sampai tiba di tempat tujuan. Laporannya akan disampaikan langsung baik kepada pada bagian bandara maupun kepada pemilik pesawat atau bagi penduduk sipil yang sudah memiliki ponsel pintar terbaru dari ciptaan saya yang saat ini akan kami perbanyakan produksinya dengan jumlah terbatas untuk para pengguna ponsel ini.


Karena dari ponsel ini, saya sudah menyediakan aplikasi tersendiri untuk bisa di update setiap waktu ketika kita ingin mengetahui rute perjalanan pesawat khusus yang memiliki pesawat jet pribadi milik perusahaan suami saya bukan untuk pesawat komersial lainnya karena itu bukan kapasitas saya sebagai pembuat chips dan juga bukan wewenang saya untuk bertindak tanpa ada izin dari pemerintah setempat yang berada di negara manapun yang ingin menggunakan jasa saya dalam mengembangkan alat kecil ini pada transportasi penerbangan komersial.


Tuan Reinaldi sudah mendapatkan izin dari pemerintah untuk menambahkan chips buatan saya pada rancangan desain pesawat jet terbaru, jadi hanya terbatas pesawat jet saja dan hanya pada pesawat terbaru ini saja. Untuk pesawat jet rancangan suami saya sebelumnya, tidak bisa menggunakan chip ini pada pesawatnya.


Jika nanti ada kecelakaan pada pesawat jet ini, chips ini akan mengirimkan sinyalnya untuk memberi informasi tentang keberadaannya dan dari pihak penerbangan akan cepat mengirim bantuan untuk menolong para korban dalam waktu cepat. Cara kerja chips ini akan meminimalisir terjadinya kecelakaan, jikalau itu ada, pihak bandara akan langsung bertindak untuk bisa cepat teratasi dengan baik, dengan adanya chips ini akan mengurangi resiko pada diri korban ketika terjadi kecelakaan pesawat.


Hanya itu penyampaian sistem kerja dari chips ini pada rancangan terbaru pada pesawat jet ini di perusahaan milik tuan Reinaldi.


Setelah menyampaikan presentasinya Malika membungkukkan tubuhnya setengah, untuk memberikan rasa hormatnya pada para peserta meeting hari ini.


Tepuk tangan riuh mewarnai jalannya meeting kali ini, ketika Malika berhasil memberikan sentuhan baru pada cara kerja chipsnya pada pesawat jet rancangan desain terbaru oleh suaminya. Ketika Malika sedang memprentasikan di depan, tidak sedetikpun peserta meeting mengalihkan perhatian mereka pada Malika baik performa Malika maupun isi dari presentasi itu sendiri yang di sampaikan wanita berparas cantik ini. Kata-katanya lugas, sistematis dan terempiris.


Rei sangat kagum kepada istrinya yang sudah berhasil menjalankan tugasnya sebagai wanita pertama yang telah menemukan ciptaan teknologi baru pada chips pesawat jet terbaru yang tersambung langsung pada aplikasi ponsel buatannya.


Rei bangkit dari duduknya menuju ke depan memberikan sambutannya sebagai penutup acara meeting tersebut. Mereka hanya sedang menunggu rancangan desain pesawat jet pribadi kali ini sedang di produksi karena sudah banyak permintaan pasar untuk rancangan desain pesawat jet yang terbaru darinya.


"Selamat nyonya Malika, kami sangat puas dengan presentasi anda hari ini," ucap salah satu peserta meeting dan diikuti yang lainnya.


Interaksi tanya jawab antara peserta meeting dan Malika pun terjadi. Melihat istrinya di kerumunan para peserta meeting, Rei yang awalnya sedang berbincang dengan salah satu pengusaha dari Uni Emirat Arab, memohon izin lalu menghampiri istrinya.


Dengan tampilan coolnya kali ini, Rei masuk dalam obrolan seru itu untuk mengalihkan perhatian para peserta rapat pada istrinya. Malika yang mengetahui betul suaminya sedang cemburu, sengaja pamit lebih cepat meninggalkan obrolan hangat itu. Rei merengkuh pinggang ramping istrinya menggiring istrinya untuk menjauhi dari para pasang mata peserta rapat dan membawa istrinya keluar dari ruang rapat itu.


"Sayang, bisa kamu tidak terlalu posesif padaku," ucap Malika ketus pada Rei yang terus mengawasi gerak-geriknya ketika sedang berinteraksi dengan orang lain.


"Saya rasa mereka tidak perlu menanyakan hal lainnya padamu, karena kamu sudah menjelaskan secara gamblang tentang sistem chips buatanmu pada pesawatku. Mereka hanya mencari kesempatan untuk lebih dekat denganmu dan aku tidak suka itu." ucap Rei dengan wajah serius membuat Malika sedikit bergidik.


"Ini acaramu Rei, sudah sepantasnya aku ikut mensukseskan acaramu kali ini."


"Tapi aku lebih paham sebagai lelaki yang bisa melihat gestur tubuh dari para pengusaha itu saat menatapmu, mereka merasa terpesona dengan kecantikanmu sayang, sekalipun kamu tampil sopan dengan busanamu, tapi mata mereka tidak mau terlepas pada wajahmu dan aku tidak suka wajah cantikmu diobral depan mereka."


"Kenapa tidak sekalian saja kamu belenggu kaki dan tanganku di kamar sayang." ucap Malika dengan wajah sinis.


"Maunya juga begitu, karena kamu hanya milikku seorang."


"Iya aku tahu, tapi jangan terlalu merantaiku dengan verbalmu, takutnya aku bisa kabur dari hidupmu saat kebebasanku terus terbelenggu." ucap Malika yang sedikit memeluk suaminya dan berbisik dikuping suaminya sambil tersenyum tapi hatinya sedang kesal dengan Rei.


Rei menelan salivanya dengan kasar ketika mendapati ultimatum seperti itu dari istrinya.


"Kamu akan aku hukum sayang malam ini, bersiaplah untuk itu."


"Yah aku tahu, kamu selalu menghukumku setiap kali kamu cemburu baik itu pada pria maupun wanita, tetap saja kamu cemburu kepada mereka semua. Kenapa tidak sekalian kamu mengikatku di badanmu supaya aku tidak jauh darimu?"

__ADS_1


"Harusnya seperti itu Malika, aku ingin sekali melakukan itu padamu, jika aku menginginkanmu aku akan tinggal menanggalkan bajumu dan kita berci*ta setiap saat."


"Terserah padamu!"


"Jika kamu masih cemberut di depanku, aku akan menggendongmu di depan orang dan membawamu pulang dan kita berci*ta."


"Cih!" kamu makin menakutkan!"


"Makanya berhentilah menggerutu sayang atau kamu ingin aku membuktikan ancamanku?"


Acara sudah resmi di tutup, para peserta meeting meninggalkan ruangan dan kembali menghampiri Rei, sedangkan Malika sudah di bawa oleh Jack untuk menghindari kebiasaan salam orang-orang bule yang selalu cipika cipiki dengan wanita manapun dan itu yang membuat Rei tidak suka istrinya di perlakukan demikian.


"Hallo tuan Rei, terimakasih untuk presentasi cerdas yang disampaikan nyonya Malika dan kami sangat puas, untuk ke depannya perusahaan kita akan berkembang pesat dari gebrakan-gebrakan baru yang tercipta dari kejeniusan kalian berdua. Oh ya di mana istrimu tuan Rei."


"Maaf tuan, istriku lebih dulu pulang karena baby kembar kami sedang membutuhkannya." ucap Rei berbohong kepada tamu."


"Apa kalian sudah memiliki anak?," tanya salah satu pengusaha yang usianya tidak jauh dengan Rei.


"Sudah tuan, satu putra dan putri kembar."


"Aku pikir nyonya Malika belum memiliki putra."


"Apa maksudmu tuan berkata seperti?"


"Oh tidak apa-apa tuan Rei, aku hanya iseng saja untuk menggodamu, kalau begitu aku pamit dulu, terimakasih untuk meeting hari ini," ucap pria lalu meninggalkan Rei seorang diri.


"Hmm!" kamu pikir aku tidak tahu akal bulusmu itu," ucap Rei sambil memainkan bola matanya malas setelah tamunya pergi dari hadapannya.


🌷🌷🌷🌷


Jauh di Jakarta sana, Raffi yang sedang menemani istrinya yang terbaring sakit, makin membuatnya sangat sedih. Ketika ia tahu bahwa penyakit yang sedang diderita istrinya sudah sangat kronis yang harus memaksanya untuk menandatangani berkas persetujuan darinya untuk melakukan aborsi pada bayinya.


Bayi yang sangat diharapkannya harus ia relakan pergi karena pengobatan untuk istrinya lebih dioptimalkan, tapi ia masih belum menyetujuinya karena takut Aida juga pasti akan menentangnya.


Tapi ditengah kemumetanya tentang penyakit istrinya, Raffi tiba-tiba teringat dengan sosok Sarah, gadis cantik yang ditemuinya dan sempat ditidurinya walaupun belum sempat ia menyentuhnya lebih jauh. Bayangan tubuh polos milik Sarah tergambar jelas dalam lamunannya. Sesaat Raffi menarik nafasnya berat karena hanya mengingat tubuh polos Sarah juniornya tiba-tiba mengembang dalam boxernya.


"Sarah sayang sedang apa kamu di sana?


Apakah saat ini kamu merindukanku juga?"


Raffi terus bertanya dengan imajinasi liarnya pada Sarah. Kini lelaki tampan ini makin frustasi melihat kondisi istrinya yang tidak bisa melayani kebutuhannya, sedangkan hatinya kini sudah terpaut pada gadis muda nan cantik yang berada nun jauh di sana. Ditengah kegalauannya Raffi ingin sekali menghubungi Sarah, ia kemudian mengambil ponselnya ingin mengirim pesan pada Sarah namun niatnya terurung karena Aida memanggilnya.


"Raffi!" kamu sudah pulang sayang?"


Raffi bangkit dari sofa yang sedang didudukinya, lalu menghampiri Aida yang nampak lemah menatapnya.


"Alhamdulillah kamu sudah sadar sayang?"


"Kenapa harus minta maaf sayang, kamu sakit juga bukan maumu, kenapa kamu harus takut padaku?"


"Aku tahu Raffi penyakitku sangat parah, pasti aku tidak mampu melayani kebutuhanmu lagi sayang."


"Makanya sekarang kamu fokus untuk sembuh supaya kita bisa berci*ta lagi."


"Tapi aku sangat pesimis Raffi dengan sakitku ini."


"Jangan putus asa begitu Aida, kamu harus sehat, harus semangat untuk sembuh sayang."


"Apakah aku bisa sembuh Raffi?"


"Kenapa tidak, kalau kita ikhtiar dan


selalu berdoa, tidak mungkin yang tidak bisa bagi Tuhan untuk menolong hambaNya yang memohon pertolonganNya."


"Raffi, apa sebaiknya kamu menikah lagi dan mencari penggantiku?"


"Sayang, itu sama saja aku memperparah sakitmu ketika kamu sedang berjuang untuk sembuh."


"Tapi aku ingin melihatmu bahagia Raffi, ku mohon!"


"Sayang mungkin bahagia buatku, tapi tidak dengan perasaanmu yang pada akhirnya makin terluka nantinya dan obat manapun tidak akan bisa membuatmu sembuh, jadi ku mohon, tolonglah jangan menipu dirimu sendiri dengan dalih untuk kebahagiaanku."


"Tapi dalam Islam diperbolehkan Raffi, saya yakin kamu akan berbuat adil nantinya."


"Tapi, adil itu hanya pada harta dan jatah waktu sayang, bukan adil untuk hati, karena setiap lelaki yang memiliki istri lebih dari dua atau tiga bahkan empat, pasti ia akan lebih mencintai salah satu istrinya, seperti baginda nabi kita Rasulullah hanya satu wanita yang sangat dicintainya sampai beliau memilih wafat dalam pangkuan istrinya yaitu ibunda Aisyah, itulah bukti cinta Rasulullah ketika mengakui cintanya pada Aisyah didepan putrinya dan para sahabatnya. Jadi sekarang ku mohon jauhilah pikiran bodohmu dari hatimu dan fokuslah untuk sembuh sayang."


Keduanya kembali terdiam setelah debat panjang yang melelahkan. Raffi mengambil bubur yang sudah disiapkan pihak dapur rumah sakit untuk istrinya. Dengan telaten Raffi menyuapkan bubur untuk istrinya. Hati Raffi mulai sedikit merasa bersalah karena telah mengkhianati pernikahannya, pada gadis yang sudah susah payah ia dapatkan dan sekarang harus memikirkan satu gadis lagi yang telah menyita perhatiannya. Walaupun ia sangat menginginkan Sarah namun ia tidak berniat ingin merusak rumah tangganya, biarlah semuanya mengalir sesuai kehendak yang Kuasa, yang jelas Raffi hanya ingin menyenangkan hati istrinya. Setelah suapin terakhir untuk Aida, Raffi memberikan minum untuk istrinya dan mengupas buah jeruk sebagai pencuci mulut untuk istrinya.


"Sayang, pertimbangkan kembali permintaanku, supaya aku bisa pergi dengan tenang."


"Aida, apakah kamu ingin menjadikan aku suami yang paling jahat, memikirkan kebutuhan batinku dan mengorbankan perasaanmu di saat kamu dalam keadaan sakit begini?"


"Raffi, jika kamu ridho padaku, aku juga ridho padamu?"


"Jika kita berdua ridho, bagaimana keluargamu, bukankah lebih buruk pikiran mereka padaku, yang ada aku akan dicaci dan dihina."


"Raffi!"


"Stop!" saut Raffi lalu menyumpal mulut istrinya dengan memasukkan lidahnya dalam rongga mulut istrinya."


Hatinya sudah tidak perduli dengan keadaan istrinya yang lagi sakit, yang ia inginkan saat ini supaya istrinya berhenti memaksanya untuk menikah lagi, walaupun hatinya juga menginginkannya. Ciuman itu terus berlangsung hingga akhirnya berhenti karena Aida mengeluh pusing dan mendorong tubuh Raffi menjauhinya.

__ADS_1


"Ahhhkk... Raffi!" kepalaku sangat pusing sayang, mataku juga kabur, tolong aku sayang.


"Ya Allah!" Sebentar sayang tahan sedikit," pinta Raffi sembari memencet tombol panggilan untuk suster ataupun dokter yang menangani penyakit istrinya.


Dokter dan suster setengah berlari menuju ke kamar inap Aida. Raffi kembali membaringkan istrinya dan dokter meminta Raffi untuk meninggalkan kamar inap milik Aida. Raffi menuruti apa kata dokter. Dengan cekatan dokter memeriksa semua keadaan pasien dari denyut jantung, tekanan darah dan oksigen, infus kembali di ganti dan suntikan juga ikut diberikan. Setelah semuanya rapi, dokter keluar menemui Raffi yang sedang menunggu di luar.


"Tuan Raffi sebaiknya kita cepat melakukan aborsi pada kandungan nyonya Aida, karena keadaannya tidak bisa bertahan dengan janin yang dikandungnya. Jika dipertahankan keduanya tidak akan bisa diselamatkan.


"Astaga!" ucap Raffi dengan tubuh sedikit terhuyung ke belakang, ia mengusap wajahnya dengan kasar, keputusan yang sangat sulit untuk ia ambil. Dadanya bergemuruh, seakan ditimpa batu besar padanya. Pernikahannya yang baru seumur jagung akan berlari meninggalkannya.


"Cepat tuan Raffi, kami tidak banyak waktu untuk melakukan tindakan selanjutnya, kalau anda diam kami tidak bisa berbuat apa-apa." pinta dokter Sunan yang sudah tidak sabar menunggu Raffi yang menatapnya dengan tatapan kosong.


Raffi masuk ke kamar inap istrinya, ia mengambil berkas yang belum ia paraf, sesaat ia memejamkan matanya, merilekskan pikirannya kemudian menarik nafas lembut dan menghembuskannya secara perlahan. Dengan ucapan bismillah, Raffi terpaksa menandatangani surat pernyataan itu bahwa ia siap istrinya menjalani aborsi pada bayinya.


"Maafkan ayahmu ini nak, maaf kalau kita tidak sempat untuk bertemu sayang, selamat jalan anakku," gumam Raffi sembari menyerahkan berkas pernyataan itu pada dokter Sunan."


Dokter Sunan hanya memukul pelan pundak Raffi, kemudian meminta suster untuk membawa brangkar Aida ke ruang operasi. Raffi yang masih ada di kamar inap tidak sanggup berdiri lagi karena lututnya sudah mulai gemetar. Ia terus mengusap air matanya, merasa kepahitan hidupnya, membayangkan jika ia kembali sendiri, sebatang kara, hanya menunggu empati orang lain pada hidupnya.


🌷🌷🌷🌷


Beda dengan Raffi yang lagi terpuruk pada titik takdir yang saat ini telah dijalaninya, Rei dan Malika yang saat ini sedang merayakan pesta dengan perusahaannya. karena kesuksesan dan keberhasilan atas pencapaiannya dalam inovasi rancangan desain pesawat jet terbarunya, walaupun belum di launching produknya. Tapi dengan banyaknya perusahaan yang memesan pesawatnya membuat perusahaannya lebih banyak mendapatkan keuntungan menambah pundi-pundi kekayaannya.


Pesta yang di adakan di perusahaannya juga mengundang banyak relasi. Rei tidak segan-segan menambahkan bonus untuk karyawannya yang bekerja untuknya, baik sekelas manajer maupun tukang kebersihan yang bekerja di areal perusahaan yang ada di Jerman ini.


Malika yang ikut bergabung tetap menjaga dirinya untuk tidak tersentuh oleh para kolega Rei, karena sebelumnya Rei terus mengingatkan istrinya untuk tidak cipika cipiki dengan koleganya kecuali pasangan koleganya. Kadang Malika hanya mengangguk hormat pada tamunya atau mengatupkan kedua tangannya dengan tetap tegak berdiri, supaya tidak ada kesempatan kolega mendekatkan pipi mereka pada Malika. Rei yang tetap mendampingi istrinya merasa puas kalau istrinya tidak melanggar janjinya.


Tapi kepuasan Rei hanya sesaat ketika ada seorang wanita yang pernah dekat dengannya dulu menyapanya. Ia adalah Laura, wanita cantik dengan tubuh montok dan berdada besar serta bok*ng yang menggoda, wanita yang bodynya mirip dengan artis Kim Kardashian ini berjalan berlenggak-lenggok mendekati Rei.


"Hallo tuan Rei!" muaachh."


Wanita ini langsung memeluk Rei dengan cepat mengecup bibir Rei, dan dengan cepat juga, Malika menarik lengan wanita itu lalu melayangkan tamparan keras pada pipi wanita seksi itu.


"Plak..plak!"


"Hati-hati nyonya dengan hak milik orang lain."


"Bisakah anda menjaga sopan santun anda nyonya?"


"Siapa dia sayang," tanya wanita seksi itu pada Rei sambil mengusap pipinya yang sakit karena tamparan Malika."


"Aku istri dari bos besar perusahaan ini Reinaldi!...kenapa, apakah anda ingin mengenalku lebih jauh nyonya?"


"Hhmm!" kau baru hadir dalam hidupnya sekarang sedangkan aku sudah tidur dengannya ribuan kali." ucap wanita seksi itu untuk memanasi hati Malika.


"Apakah dia pernah mencoba milikmu nyonya, bukankah kau hanya ditemanin tidur olehnya tanpa ada sentuhan darinya bukan?"


"Tentu saja aku sudah tidur dengannya."


"Hhmm, kau hanya penipu yang menyedihkan, yang tidak bisa menaklukkan hatinya dengan tubuhmu itu, dan itu sangat mubazir nyonya!" ucap Malika dengan nada mencemooh Laura.


"Kau..ahhh!" geram Laura lalu meninggalkan acara pesta perusahaan milik Rei dengan berwajah murka."


Malika mengatur nafasnya yang memburu karena sudah melenyapkan satu ekor lalat di depannya. Rei memeluk istrinya untuk meredakan emosi Malika, namun dengan satu bisikan Malika membuat Rei terhenyak.


"Lepaskan pelukanmu dari tubuhku Rei, dan membaurlah dengan para pela**rmu yang sudah kamu tiduri tanpa kamu bercinta dengan mereka dan satu hal lagi aku tidak ingin bercinta denganmu sampai sakit hatiku lenyap."


Setelah mengucapkan kata-kata amarahnya, Malika meninggalkan Rei menuju toilet wanita yang ada di perusahaan itu, karena matanya sudah terasa panas menahan bulir bening itu yang sudah hampir jatuh dipipinya.


Diantara para tamu yang sedang menyaksikan pertengkaran Malika dengan mantan wanita kencannya Rei, namun tidak berani berkomentar banyak dengan insiden kecil itu.


"Akhh!" sial.. dari mana datangnya Laura sehingga bisa sampai ke perusahaan ini."


Rei mencari sosok Alex sebagai koordinator acara pesta ini. Setelah Rei mencari tangan kanannya itu tidak terlihat sosok yang ingin ditemuinya, namun saat ia membalikkan tubuhnya, ia bertemu dengan Jack yang merupakan asisten Alex. Rei memegang tangan Jack, dengan wajah sangar sambil mengatupkan rahangnya, Rei menarik tangan Jack keluar dari ruangan pesta itu. Jack hanya mengikuti tarikan tangannya mengikuti langkah Rei. Dengan kasar Rei menghempaskan tubuh Jack, hingga tubuh Jack sedikit terpental ke belakang.


"Ada apa tuan?


Mengapa tiba-tiba anda menarik tangan saya?"


"Katakan kepadaku, mengapa Laura bisa datang ke pesta ini dan siapa yang mengundangnya hahh!"


"Kalau itu saya tidak tahu tuan, mungkin dia diajak oleh salah satu pengusaha yang kita undang tuan dalam pesta perusahaan ini."


"Baiklah kamu boleh pergi, tapi ingat jangan biarkan ada wanita lain yang mendekatiku selain istri dan keluargaku yang lain, apakah kamu mengerti Jack?"


"Baik tuan akan saya ingat pesan tuan, tolong maafkan saya, saya pergi dulu."


"Tunggu Jack, di mana tuan Alex?"


"Sejak kematian kekasihnya, tuan Alex selalu mengurung dirinya di ruang kerjanya atau di rumahnya tuan."


"Ok, lanjutkan pekerjaanmu!"


Dengan langkah cepat Rei kembali ke dalam ruang pesta mencari istrinya yang sudah meninggalkannya tadi.


"Kenapa jadi berantakan seperti ini,


"Akhh.. sial kamu Laura." Rei mengamuk lalu menendang bak sampah stainless yang ada di sisi ruangan pesta itu."


Ia kembali berjalan menuju toilet wanita, mencari istrinya, namun ia tidak menemukannya. Salah seorang staf menghampiri Rei, dan mengatakan kalau dia melihat nyonya Malika sudah pergi membawa mobil perusahaan.


"Siallll...!"

__ADS_1


__ADS_2