Obat Jiwa CEO

Obat Jiwa CEO
PENGUSIRAN


__ADS_3

Tidak telak kesalahan Rena kali ini membuat nyonya Andien menghampiri pelayan menantunya yang sudah tampak pucat siap menghadapi amukan ibu mertua nona mudanya.


"Heh! pelayan sialan, berani sekali kau menjatuhkan guci kesayanganku, kamu tahu ini harganya berapa hah!"


"Maafkan saya nyonya, saya tidak sengaja menyenggolnya, saya akan menggantikan guci kesayangan nyonya," ucap Rena dengan suara bergetar.


"Kamu mau ganti?, emang kamu bisa membelinya dengan gajimu yang tidak seberapa itu?"


"Katakan saja berapa nyonya harganya, kalau memang mahal saya akan menghabiskan gaji saya selama saya kerja di rumah tuan Daniel," ucap Rena yang sudah tidak sabar mengakhiri pertengkaran ini.


"Tidak usah ganti, aku tidak butuh uangmu tapi dengan syarat keluar dari rumahku sekarang juga."


Mendengar keributan diluar Malika keluar dari kamarnya dan melihat pertengkaran sengit antara ibu mertuanya dan kepala pelayannya yang sedang duduk bersimpuh memohon maaf kepada nyonya Andien. Malika buru-buru turun dari ujung tangga sambil berteriak memanggil Rena


"Bibiii!!...


Apa yang terjadi di sini," ucap Malika dengan suara terpekik kaget.


"Lihat perbuatan pelayanmu yang sudah menjatuhkan guci kesayanganku."


"Ya Allah bunda, nanti Malika belikan lagi yang lebih bagus dari itu."


"Tidak perlu, saya nggak butuh guci lagi karena itu hadiah ulang tahunku dari almarhum putraku Arie, tidak ada yang lebih berkesan dengan harga sebuah kenangan," ucap nyonya Andien yang sedikit membuat drama.


Malika dan Rena tertunduk sedih mendengar penuturan nyonya Andien tentang kenangan tentang guci pemberian Arie yang telah dijatuhkan oleh Rena.


"Aku ingin Rena keluar dari rumahku sekarang juga, kali ini jangan mencegahku lagi Malika untuk mengusir wanita ini," tukas nyonya Andien berang kepada Malika.


"Baik kami akan pergi dari sini bersama, aku tidak akan membiarkan bunda memisahkanku dengan bibi," ucap Malika dengan penuh penekanan perkataannya pada mertuanya.


"Kamu mau ikut dia silahkan pergi tapi tanpa cucuku."


"Tidak mungkin nyonya Andien yang terhormat putraku milikku tidak boleh ada satu orangpun yang memisahkan kami berdua, aku akan membawanya juga bersamaku.


Lagi pula aku sudah tidak sudi tinggal dirumah ini, lagi pula aku juga tidak meminta pada bunda untuk tinggal bersama bunda."


Rena kembali berdiri lalu memegang tangan Malika untuk menyudahi pertengkaran Malika dengan ibu mertuanya.


"Nona biarkan saya pergi dari sini, tidak masalah bagiku yang penting nona muda dan tuan baby aman disini dan jangan tinggalkan tuan baby sendiri," ucap Rena mengingat kan Malika karena ada ancaman lain yang akan dialami oleh gadis malang ini.


"Jangan tinggalkan aku sendiri bibi, aku hanya punya bibi dan baby, tolong jangan pergi," teriak Malika yang melihat Rena sudah berjalan keluar dari mansion nyonya Andien.


Hujan yang tiba-tiba turun mengguyur bumi dengan begitu derasnya, dua anak manusia ini saling tarik menarik ditengah guyuran hujan, kilat petir seketika bersahutan, di depan mansion Malika yang sudah basah kuyup terus mencegah langkah Rena, namun Rena hanya menepis tangan Malika untuk tidak mencegahnya sambil berteriak di tengah hujan untuk Malika lebih berhati-hati, tapi Malika yang tidak mengerti apa yang ingin disampaikan oleh Rena.


"Nona muda, masuklah jangan tinggalkan tuan baby, kalian dalam bahaya."


Bersamaan dengan ucapan terakhir Rena suara Guntur memudarkan pendengaran Malika sehingga tidak jelas apa yang dikatakan oleh Rena.


Rena langsung berlari keluar dari gerbang utama mansion meninggalkan Malika ditengah hujan. Malika tidak mampu lagi mengejar Rena karena sudah dicegah oleh dua orang penjaga pintu gerbang atas perintah nyonya Andien.


"Bibi Rena kembali!!.... jangan tinggalkan Malika bibi hiks!..hiks!..


🌷🌷🌷


Rena berjalan seorang diri tanpa membawa apapun menembus derasnya hujan, hati wanita ini menyesali perbuatannya tadi yang sangat ceroboh sehingga memancing amarah ibu mertua nona mudanya.


"Ya Allah, lindungilah nona muda dan babynya dari orang-orang yang akan mencelakakan mereka.

__ADS_1


Ya Robbku, engkau maha mendengar dan maha melihat, janjiMu benar dan setiap doa yang terucap dari hambaMu di tengah derasnya hujan adalah doa yang mustajab, maka kumohon kabulkan permintaan dari hambaMu yang berdosa ini."


Sudah jauh Rena berjalan kaki meninggalkan mansion, tiba-tiba ada mobil yang menepi di sampingnya, Rena segera menghentikan langkahnya melihat sosok yang ada di dalam mobil sedang menurunkan kaca jendela mobil.


"Neng Rena mau ke mana?," tanya pria itu pada Rena yang menatapnya.


Rena baru menyadari kalau itu sopir pribadi almarhum suami nona mudanya. Rena bingung kenapa sopir ini menyapanya.


"Mang, ada apa memanggil saya, apakah disuruh nyonya Andien mamang jemput saya pulang lagi ke mansion itu," tanya Rena sambil berteriak pada mamang Ahmad.


"Masuk dulu ke dalam mobil entar mamang jelasin," titah mamang Ahmad yang memaksa Rena masuk ke mobil milik almarhum Arie.


Rena menuruti apa kata sopir itu masuk ke mobil, setelah berada di dalam mobil, mamang melanjutkan perjalanan ke suatu tempat, mobil itu melaju berlawanan arah dengan mansion milik nyonya Andien. Rena yang bingung dengan sikap sopir pribadi ini bertanya tujuan sopir itu membawa dirinya.


"Mamang kita mau ke mana?, ini bukan ke arah mansion."


"Neng, kamu nggak punya siapa-siapakan lebih baik kamu ke rumah mamang aja ya, di sana ada istri dan dua anak mamang. Tinggallah di rumah mamang aja."


"Ya Allah mamang, apakah saya tidak merepotkan keluarga mamang nantinya?," tanya Rena yang merasa terharu dengan kebaikan sopir pribadi almarhum Arie ini.


"Kita orang susah neng, jadi kita harus saling tolong menolong saat dalam kesempitan."


"Semoga Allah membalas kebaikan mamang sekeluarga, aamiin."


Mobil itu melaju ke arah Ciputat tempat kediaman keluarga mamang Ahmad. Hujan sudah berangsur berhenti hanya tersisa rintik hujan ringan dengan banjir yang sudah menggenangi beberapa tempat. Rena yang merasa menggigil kedinginan karena baju yang basah kuyup membuat mamang semakin sedih, tapi lelaki enam puluh tahun ini ingat ada selimut di belakang mobil. Mamang menepi mobil sebentar lalu turun mengambil selimut itu untuk Rena gunakan menutupi tubuhnya.


"Neng pakai ini aja ya, lumayan hangatin badan neng," ucap mamang yang langsung menyerahkan selimut kepada Rena.


"Terimakasih mang," ucap Rena dengan tubuh yang masih menggigil kedinginan.


Rena menutupi tubuhnya lalu menyandarkan tubuhnya di jok mobil, rasa syukurnya terus dihaturkan pada sang khalik yang telah menyelamatkannya melalui seorang hamba yang sangat baik yaitu mamang Ahmad. tidak lama mobil itu sudah memasuki halaman rumah yang sangat sederhana. Mang Ahmad mengajak Rena turun menemui keluarganya.


grekk!


Pintu dibuka seseorang dari dalam tampaklah seorang lelaki tampan membuka pintu itu menyambut mang Ahmad dan Rena.


"Assalamualaikum!, ucap Rena sopan pada lelaki yang merupakan putra dari mang Ahmad yang usianya tidak jauh dari Rena.


"Waalaikumuslam!, sapa lelaki tampan itu.


"Ayo masuk neng Rena," ajak mang Ahmad.


Rena melangkahkan kakinya kedalam rumah pak Ahmad yang tidak terlalu banyak perabot rumah.


Hanya sepasang sofa yang masih terlihat bagus dengan lemari bufet sederhana dan tv layar datar yang masih menyala.


"Silahkan duduk neng, maaf rumahnya kaya gini."


"Ali di mana ambu?"


Ambu yang baru ditanya suaminya keluar dari kamar, wanita yang usianya selisih 3 tahun dengan suaminya ini menghampiri suaminya lalu mencium tangan suami.


"Maaf abah, ambu baru kelar sholat isya," ucap ambu yang sedang memperhatikan wanita muda yang di bawa suaminya.


"Tumben ambu sholat isya jam sepuluh malam."


"Tadi ambu baru pulang dari pengajian di komplek sebelah abah karena nungguin hujan reda, jadi baru nyampe rumah," jelas ambu lilis pada suaminya.

__ADS_1


"Gini ambu, maaf nih abah tidak mengabari ambu sebelumnya kalau abah bawa neng Rena pelayan nona Malika istri dari almarhum tuan Arie.


"Neng Rena diusir dari mansion karena kesalahan yang tidak disengaja olehnya membuatnya terusir dengan tidak membawa apa-apa.


Mamang menceritakan semua perihal yang terjadi tentang keadaan Rena pada istrinya. Istrinya yang mengerti lalu tersenyum pada gadis manis dengan kulit coklat ini yang masih tertunduk sedih.


"Rena kenalkan ini istri mamang dan ini putra mamang masih bujang namanya jajang, kalau putri mamang sudah menikah dan ikut suaminya di kampung.


"Salam kenal nyonya dan Aa nama saya Rena," ucap Rena singkat pada keluarga mamang Ahmad.


"Salam kenal juga Rena, tolong jangan panggil saya nyonya cukup panggil ambu aja," jelas Lilis yang menatap Rena haru.


Sepasang mata lelaki tampan dengan kulit putih bersih menatap Rena tanpa berkedip, rupanya ada benih-benih cinta mulai tumbuh di hati Jajang pada pandangan pertama.


"Ya Allah bajumu basah ya neng, ganti sama baju ambu ya nak, nanti kamu masuk angin," ajak ambu yang segera bangkit meraih tangan Rena menuntun ke kamarnya.


Rena menuruti ajakan ambu ke dalam kamar ambu. Dan Jajang membuat teh hangat dan mengambilkan nasi untuk Rena yang masih belum makan malam.


Mamang keluar dari rumah lalu mengabarkan kepada Malika kalau Rena aman tinggal di rumahnya. Malika sangat bersyukur saat mengetahui Rena telah di selamat kan oleh mamang Ahmad.


Rena sudah mengganti bajunya dengan daster milik ambu yang sangat pas dengan tubuhnya, diapun keluar dari kamar ambu di sambut Jajang yang sudah menunggunya dengan sepiring nasi dan teh manis hangat.


"Neng makan dulu ya, ini Aa sudah siapkan," pinta Jajang pada Rena.


"Terimakasih Aa sudah merepotkan."


"Biasa aja neng nggak ada yang istimewa di rumah ini, semoga neng Rena betah tinggal di sini temanin ambu.


Keduanya ngobrol berbagai macam hal, sedangkan ambu dan mang Ahmad berada di dalam kamar membahas kejadian yang menimpa Malika dan Rena.


🌷🌷🌷


Di mansion nyonya Andien tertawa puas setelah berhasil mengusir Pelayan Rena.


"Akhirnya aku berhasil menyingkirkan satu lalat dengan satu tepukan, hampir saja wanita itu membongkar rencanaku untuk menyingkirkan satu lalat lagi, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui," ucap nyonya Andien lalu terkekeh.


Di kamar lain Malika merasa tenang menyusui bayinya dengan tidak lagi memikirkan Pelayannya Rena, babynya sudah mulai pulas usai mendapatkan ASI dari ibunya.


"Ya Allah terima kasih telah menyelamatkan bibi Rena, semoga kami bisa bertemu lagi suatu hari nanti," doa Malika yang dipanjatkan kepada Robbynya.


Setelah itu Malika ikut tertidur melewati mimpi indah menyusul baby Ezra.


Sekilas flashback :


Di kala hujan deras Malika yang ingin menghentikan Rena pergi di cegah oleh penjaga pintu gerbang atas perintah nyonya Andien, Malika yang terus berontak ingin melepaskan diri dari pegangan penjaga itu, tiba-tiba dipanggil oleh pelayan Atik yang menyampaikan kalau baby Ezra menangis, Malika langsung lari ke dalam mansion menemui putranya. Di kamar baby Ezra sudah di gendong oleh nyonya Andien yang sedang menenangkan cucunya, Malika langsung buru-buru menggantikan bajunya tidak tahan mendengar tangis bayi yang makin menjadi karena ditinggal oleh dirinya tadi. Malika mengambil baby Ezra dari gendongan ibu mertuanya dengan tidak berkata apa-apa. Nyonya Andien tidak perduli dengan kesedihan Malika, dia berlalu meninggalkan kamar menantunya.


Malika mengambil ponselnya menelpon mamang Ahmad untuk meminta tolong kepada sopir pribadi almarhum Arie.


"Assalamualaikum mang!"


"Waalaikumuslam nona muda ada apa menelepon mamang?"


"Mang Ahmad ada di mana sekarang?"


"Mamang masih di rumah sakit neng tadi antar beberapa teman dokter tuan Arie, ada apa nona muda."


"Tolong bantu saya mang, cari bibi Rena, dia pergi dari mansion karena di usir bunda."

__ADS_1


Malika menceritakan semua apa yang terjadi kepada mamang Ahmad termasuk keadaan bibi Rena yang tidak memiliki sanak saudara karena dirinya seorang yatim piatu. Mamang yang mengerti langsung bertindak mencari Rena. Malika merasa lega mamang mau membantunya mencari bibi Rena.


Flashback off


__ADS_2