Obat Jiwa CEO

Obat Jiwa CEO
"KEAJAIBAN"


__ADS_3

Dokter Ryanti Adam, mengatakan sesuatu kepada keluarga Malika, namun kata-kata itu terhenti saat salah satu suster keluar memanggil dokter Ryanti untuk melihat keadaan pasien.


"Dokter, jantung pasien berhenti berdetak dokter!"


"Apa!!"


Dokter kembali ke ruang operasi. Dokter Ryanti berusaha menolong Malika dengan memasang alat kejut jantung pada dada gadis cantik ini.


"Nyonya tolong kami nyonya, kasihan anak anda, beri kami kesempatan untuk menyelamatkan anda nyonya," ujar dokter Ryanti dengan peluh yang sudah menghiasi kening dan pelipisnya.


Dokter melakukan tugasnya dengan tetap berusaha tenang bersama team dokter lainnya. Rei beserta keluarga tidak kuat mendengar penuturan suster yang baru saja menyampaikan kondisi terakhir Malika. Rei menangis memeluk maminya. Tuan Romi dan tuan Daniel terus berdzikir untuk keselamatan Malika.


"Mami, kalau sesuatu terjadi pada Malika, Rei tidak sanggup hidup lagi mamiii..hiks..hiks!"


"Rei, jangan menyerah begitu nak, serahkan semuanya kepada Allah, karena Allah yang menentukan ajal kita, bukan dokter maupun kita nak,hhm!"


Sekitar 10 menit, jantung Malika kembali berdetak, akhirnya Malika selamat dari maut. Dokter Riyanti menarik nafas lega, air mata harunya menetes dipipinya, diciumnya kening Malika dengan bibir yang gemetar.


"Terimakasih nyonya, akhirnya kamu lolos dari maut, kamu sudah menyelamatkan reputasiku di mata tuan Romi, aku bangga padamu, kamu seorang wanita yang tangguh tidak pantang menyerah untuk bisa kembali bersama keluargamu terutama untuk putramu dan baby dalam kandunganmu," bisik dokter Ryanti lirih, memberikan support kepada Malika.


Dokter Riyanti dan team lainnya mengacungkan jempol mereka, saling peluk terjadi diantara team medis yang merasa berhasil melewati masa kritis yang dialami oleh pasien dari menantu pemilik rumah sakit tempat mereka bekerja. Mereka juga menangis haru mengingat mereka bisa menyelamatkan hidup pasien dan janin yang ada dalam kandungan pasien.


Dokter Riyanti keluar meninggalkan teamnya untuk bertemu dengan keluarga pasien VVIP. Dokter Riyanti keluar dengan wajah sendu, membuat keluarga itu semakin frustasi, Rei tidak dapat menatap wajah dokter itu, dadanya terasa sesak karena tidak ingin mendengarkan kabar buruk yang terjadi pada istri dan anaknya. Tuan Romi menggenggam tangan putranya supaya bisa siap menerima kabar buruk sekalipun.


"Nak, jangan pernah takut menghadapi kenyataan karena semua di dunia ini milik Allah, tegakkan kepalamu dan tegarkan hatimu karena papi membesarkanmu bukan menjadi seorang lelaki pecundang," ucap tuan Romi memberikan dukungan moril pada putranya.


"Bagaimana hasilnya dokter?," tanya tuan Daniel tentang nasib putrinya Malika.


Nafas pria paruh baya ini berantakan, di usap wajahnya dengan kasar menanti jawaban dokter Ryanti yang menatap wajah keluarga pasien satu persatu. Dokter Riyanti mengulurkan tangannya hendak menyalami tuan Daniel, papa dari Malika ini menyambut uluran tangan itu dengan jantung yang terus berdebar seperti pukulan gendang yang bertalu-talu. Semuanya menahan nafas, menanti perkataan dokter Ryanti kepada mereka yang sudah siap mendengarkan kabar apapun yang disampaikan oleh dokter cantik ini.


"Dengan sangat menyesal saya ingin menyampaikan berita ini bahwa putri anda Malika... ucapan dokter terhenti menatap keluarga itu dengan ekspresi wajah sedih menanti jawaban darinya. Tidak ingin membuat keluarga ini jantungan akhirnya dokter Ryanti tersenyum dan mengatakan kabar baik itu pada tuan Daniel.


"Selamat tuan Daniel, putri dan cucu kembar anda bisa kami selamatkan karena putri anda sangat hebat, ia tidak berhenti berjuang untuk menantang ajalnya," ucap dokter Ryanti dengan penuh haru.


"Alhamdulillah, ya Allah, terimakasih atas rahmat dan karunia-Mu," ucap tuan Daniel seraya menggenggam erat tangan dokter Ryanti.


"Terimakasih dokter, hiks.. hiks!" ucap tuan Daniel sambil menangis haru.


Rei yang mendengar ucapan dokter langsung mengangkat wajahnya dan memeluk papinya erat. Semua keluarga menengadahkan wajah mereka mengucapkan syukur kepada Allah yang telah memberikan kesempatan hidup untuk Malika dan cucu kembar mereka.


"Dokter Riyanti, bersiaplah! saat rapat pemegang saham rumah sakit ini, anda akan saya angkat menjadi direktur utama rumah sakit ini," ucap tuan Romi pada dokter cantik ini.


"Terimakasih tuan atas kepercayaan anda kepada saya, saya akan meningkatkan kinerja saya lebih optimal dalam meningkatkan mutu rumah sakit ini dan saya harap anda tetap membimbing saya ke depannya," ucap dokter Riyanti penuh hormat pada tuan Romi.


"Good job dokter, saya sangat berterimakasih kepada anda dan team lainnya yang sudah menyelamatkan istri dan calon baby kembar saya," ucap Rei yang masih meneteskan air matanya karena sangat bahagia.


"Dokter apa kami boleh bertemu dengan Malika," tanya nyonya Alea dan nyonya Ambar bersamaan.


"Tunggu sampai proses pemindahan ke kamar inap keluarga nyonya," jawab dokter Ryanti lalu menyalami nyonya Ambar dan nyonya Alea secara bergantian.


"Baik dokter kami akan menunggu prosesnya," ucap nyonya Ambar dengan wajah yang sudah mulai ceria.


"Rei, selamat nak, ikhtiar kita telah diperhitungkan Allah, semoga kita terhindar dari semua hal buruk," ujar tuan Daniel kepada menantunya Rei yang kini lebih tenang setelah mendapatkan kabar baik dari dokter Ryanti Adam.


Keluarga itu saling berpelukan, mereka sepakat untuk ke kantin rumah sakit sekedar merilekskan tubuh dan meneguk minuman dingin di kantin tersebut. Karena sudah memasuki waktu ashar mereka menunda jalan ke arah kantin dan beralih berjalan menuju mesjid, inilah bentuk syukur mereka dengan ibadah lima waktu yang tidak pernah mereka tinggalkan walaupun sesibuk apapun aktivitas mereka.


Usai sholat mereka kembali ke rencana awal untuk ke kantin sambil menunggu proses pemindahan Malika ke ruang inap milik pribadi keluarga Rei yang pernah ditempati oleh Malika saat pertama kali dibawa oleh Rei karena kecelakaan tunggal setahun yang lalu.


Rei tidak bisa menikmati makanan ringan yang ditawarkan maminya, dia lebih memilih banyak minum karena belum sempat makan siang. Kini yang ada dipikirannya hanya istrinya. Rasa rindu dan bersalahnya mulai menghantui perasaannya lagi. Dirinya tidak sanggup jika berhadapan dengan Malika nanti kalau gadis itu sudah sadar.


"Sayang, apakah engkau akan membenciku nanti atau akan menghukumi aku seperti sebelumnya?," bisik Rei dalam hati.


"Nak Rei, tolong dicicipi makanannya, jangan dipelototi aja," ucap nyonya Alea kepada menantunya Rei.


"Apa perlu mami suapin sayang?" tanya nyonya Ambar pada putranya yang hanya duduk melamun di ruang kantin tersebut.


"Aku tidak selera makan mami, aku ingin ketemu Malika, aku ingin bersamanya, yang aku inginkan hanya istriku mami, hiks..hiks!"


"Baiklah kita akan segera ke ruang inap pribadi, tolong jangan cengeng lagi anak mami tampan," ucap nyonya Ambar merayu putranya yang masih diselimuti rasa sedih yang mendalam.


"Biarkan Rei duluan yang menemui istrinya, kita di sini dulu," ujar tuan Romi kepada istri dan besannya.


Rei yang sudah tidak sabar menunggu bangkit berdiri dan pamit kepada keluarganya untuk menemui istrinya Malika di ruang rawat inap.


"Rei duluan ya."


"Silahkan sayang, nanti kami menyusul."


Rei berjalan setengah berlari menuju ruang inap pribadi miliknya. Ternyata Malika sudah berada di kamarnya, dokter Riyanti yang sedang menemani malika sengaja menunggu sampai keluarga Rei tiba. Rei yang membuka pintu kamar itu mendapati istrinya masih berbaring lemah dengan wajah yang masih sangat pucat.


"Maaf dokter, kami tadi ke kantin dulu."


"Tidak apa-apa tuan Rei, kebetulan sekali saya ingin menyampaikan sesuatu kepada anda secara pribadi."


"Tentang apa dokter, apakah ada hal serius yang terjadi pada istriku?" tanya Rei yang sudah berdiri di samping brankar istrinya.


"Ini lebih kepada diri anda tuan sebagai suaminya. Karena nyonya Malika baru mengalami pendarahan dan saya mohon nanti setelah nyonya Malika sembuh tolong anda tidak melakukan hubungan intim terlebih dahulu mengingat kehamilan Malika kali ini sangat lemah akibat kejadian hari ini yang telah menimpanya.


Ini sebuah keajaiban dari Tuhan untuk kasus nyonya Malika, biasanya pasien yang mengalami kondisi yang sama seperti yang terjadi pada nyonya Malika tidak akan bertahan hidup," ucap dokter Riyanti Adam kepada Rei yang fokus menyimak penjelasan dari dokter yang telah menyelamatkan jiwa istrinya.

__ADS_1


"Kira-kira berapa bulan dokter saya harus berpuasa pada istri saya?


"Mungkin sekitar tiga bulan ke depan tuan Rei."


"Astaga apakah anda ingin menyiksa saya dokter?


Dokter Riyanti tersenyum mendengar ucapan kekanak-kanakan tuan Rei yang memikirkan kebutuhan biologisnya.


"Maaf tuan Rei, ini sudah prosedur secara medis, bukan maunya saya menghalangi anda untuk kebutuhan anda kepada istri anda nyonya Malika," ucap dokter Riyanti menahan tawanya.


"Baiklah dokter, saya akan mencoba menahan diri tapi saya tidak menjamin untuk itu."


"Kita lihat saja nanti perkembangan kesehatan di masa kehamilan nyonya Malika, karena dalam rahimnya ada dua nyawa, yang harus anda jaga dan itu adalah anak anda tuan Rei," ucap dokter Riyanti.


Ketika dokter Riyanti dan tuan Rei sedang bernegosiasi, Malika mulai bergerak dan mengerang kesakitan. Dokter Riyanti langsung menghampiri Malika dan memeriksanya kembali keadaan pasien. Rei mendekati istrinya yang masih mengerang kesakitan tanpa membuka matanya.


"Dokter apa yang terjadi pada istriku lagi?"


Tanpa menjawab pertanyaan Rei, dokter Riyanti mencoba menyadarkan Malika.


"Nyonya, apa nyonya mendengarkan saya?"


"Ini sangat sakit dokter, kepalaku sangat pusing," ucap Malika yang merasa pandangan matanya kabur dan merasa pusing pada kepalanya.


"Saya akan mengurangi rasa sakitnya nyonya, sebentar saya akan menyuntikkan penghilang rasa nyeri pada kepala anda."


Dokter Riyanti menyuntikkan obat penghilang rasa nyeri di infus milik Malika dan dokter memeriksa kembali organ intim Malika, kuatir pendarahan terjadi kembali. Setelah dipastikannya aman, dokter Riyanti melihat lagi monitor, yang mengatur suhu tubuh dan tensi darah Malika, usai semuanya di periksa dokter Ryanti menanyakan lagi Malika yang belum mau membuka matanya. Rei yang menyaksikan semua tindakan dokter pada tubuh istrinya nampak cemas, dengan memangku satu tangannya memegang pipinya, Rei menatap wajah istrinya yang masih meringis kesakitan.


"Dokter apa yang terjadi pada istriku, mengapa dia tidak mau membuka matanya?"


"Ini karena nyonya Malika kehilangan banyak darah yang menyebabkan nyeri pada kepalanya hingga membuatnya merasa sangat pusing dan tidak sanggup membuka matanya.


Saya sudah memberikan obat penghilang rasa nyeri, sebentar lagi obatnya akan bereaksi dan nyonya Malika bisa membuka matanya. Tolong temanin istri anda tuan, saat ini dia pasti sangat membutuhkan tuan Rei."


"Baiklah dokter saya akan disini bersamanya."


"Kalau begitu saya permisi tuan untuk kembali ke ruang kerja saya."


"Silahkan dokter, terimakasih sudah melakukan yang terbaik untuk istriku."


Dokter Riyanti Adam keluar dari kamar VVIP milik pribadi keluarga tuan Romi. Wanita cantik ini kembali ke ruang kerjanya untuk melepaskan lelah setelah seharian mencoba menangani kasus pasien, istri dari pemilik rumah sakit tersebut. Dokter Riyanti menenggak minumannya yang ia keluarkan dari kulkas yang terdapat di dalam ruang kerjanya.


Ia merebahkan tubuhnya di kamar pribadinya yang tersedia di ruang kerjanya. Fasilitas mewah ini sengaja di bangun oleh tuan Romi untuk memberikan ruang privasi setiap dokter yang bertugas jaga dan semua fasilitas yang dibutuhkan oleh dokter di rumah sakit miliknya diprioritaskan agar terjamin kenyamanan para dokter yang bekerja di rumah sakit tersebut.


Rei yang sudah duduk di kursi di samping brankar milik Malika sambil membelai lembut rambut Malika, kini Malika tidak lagi bergumam nyeri, hanya saja Malika masih tidak mau membuka matanya, membuat Rei gelisah lagi gemas dengan tingkah istrinya ini.


Rei bangkit dari duduknya lalu mencium bibir Malika dengan lembut, Rei terus mengulum bibir itu hingga membuat Malika bergerak dan mengerjapkan matanya, perlahan Malika membuka matanya melihat aksi suaminya yang tidak mau berhenti mengulum bibirnya. Malika mendorong tubuh suaminya sedikit agak kencang hingga posisi berdiri Rei mundur selangkah ke belakang.


"Maafkan aku sayang, aku sangat merindukanmu Malika," ucap Rei menatap sendu istrinya.


"Peluk aku Rei," pinta Malika dengan suara yang melemah.


Rei mengangkat sedikit tubuh Malika lalu dipeluknya tubuh yang selama ini selalu menghangatkan ranjangnya, tubuh yang selalu memberinya kepuasan tanpa penolakan ataupun keluhan dari istrinya kecuali ada yang menganggu keintiman mereka.


Malika merasakan ketenangan dalam pelukan suaminya, lama kelamaan gadis ini menangis dengan tubuh bergetar, membuat Rei makin sangat bersalah.


"Maafkan aku Rei, aku tidak bisa menjaga diriku sampai mencelakai si kembar,... hiks..hiks!"


"Aku yang bersalah sayang, bukan kamu, aku yang membuatmu berlari mengejarku, aku yang harus meminta maaf padamu, bukan kamu sayang."


"Tapi, aku yang sudah.."


Rei yang sudah membaringkan lagi tubuh istrinya, langsung membungkam bibir istrinya dengan bibirnya dan saling bercucuran air mata penyesalan. Pagutan bibir itu sebagai bentuk permintaan maaf mereka atas kesalahan yang telah mereka lakukan hari ini.


Rei melepaskan ciumannya dan mengambil tissue untuk menghapus jejak air mata dipipi istrinya. Malika menatap wajah suaminya yang nampak kusut. tidak lama terdengar ketukan pintu kamar ruang inap, Malika merapikan selimutnya yang berantakan dengan satu tangannya, Rei membuka pintu itu dan masuklah kedua orangtua mereka.


"Sayang putriku, kamu sudah sadar nak," ucap nyonya Alea yang merentangkan kedua tangannya menggapai tubuh putrinya."


"Hiks..hiks!.. mama maafin Malika, Malika sangat ceroboh..hiks..hiks!"


"Tidak ada kejadian yang terjadi dalam hidup kita tanpa izin Allah sayang, jadi mama mohon jangan terlalu merasa bersalah atas tindakan yang tidak sengaja kamu lakukan hari ini." ucap nyonya Alea menenangkan putrinya.


Kini nyonya Ambar yang bergantian memeluk erat tubuh menantunya, lagi-lagi Malika menangis dalam pelukan ibu mertuanya.


"Maafkan Malika mami."


"Sayang, mami sangat bersyukur memilikimu sebagai menantu mami, kamu hebat, kamu berjuang mempertahankan darah dagingmu tanpa menyerah. Terimakasih Sayang untuk apa yang telah kau lakukan untuk calon cucu kembarku, aku bangga padamu Malika," ucap nyonya Ambar seraya mengusap punggung Malika dengan lembut.


Setelah melihat putranya kembali tenang, nyonya Alea menawarkan makanan yang tadi sengaja dipesan di kantin rumah sakit milik besannya ini.


"Sayang, mama bawakan makanan untukmu, kamu makan ya, kamu harus makan berdua sama suamimu, dia belum makan dari tadi siang karena memikirkan keselamatanmu," ucap nyonya Alea mengingatkan Malika supaya memperhatikan juga kesehatan suaminya walaupun dalam keadaan sakit.


"Iya mam aku akan makan berdua dengan Rei."


"Kalau begitu, mami dan papi pamit pulang dulu, kasihan baby Ezra sendirian bersama pelayan di mansion." ucap nyonya Ambar.


"Kita pulangnya bareng saja jeng," ajak nyonya Alea pada besannya.


Nyonya Alea mengangguk setuju dan mereka kembali memeluk suami istri ini secara bergantian. Tuan Daniel mengecup puncak kepala putrinya sedangkan Malika mencium punggung tangan ayah mertuanya dengan takzim begitu pula Rei terhadap papanya Malika.

__ADS_1


Rei dan Malika memiliki waktu berdua untuk menyelesaikan permasalah diantara mereka yang hampir terkoyak oleh kecemburuan yang mengakibatkan terjadinya kecelakaan yang hampir merenggut nyawa ketiganya.


Setelah keduanya sudah mulai tenang Malika meminta Rei menyuapkan makan untuknya, Rei dengan patuh menyuapkan makan untuk Malika dan untuk dirinya dengan satu sendok yang sama. Keduanya makan dengan masih terus meneteskan air mata, Rei menuntaskan makanan yang masih ada di piring. Setelah itu keduanya saling memeluk erat untuk menenangkan jiwa mereka masing-masing.


🌷🌷🌷


Setelah dua Minggu dirawat dibawah pengawasan dokter Riyanti, Malika akhirnya diizinkan pulang, ia sangat merindukan baby Ezra. Dengan perasaan bahagia Rei mengecup pipi istrinya yang sudah makin merona wajahnya, tidak seperti seminggu sebelumnya gadis ini masih sangat kelihatan pucat. Dokter Riyanti mengingatkan lagi Rei atas peraturan medis yang harus dijalankannya walaupun hatinya sangat enggan untuk menjalaninya, demi kelangsungan hidup dua bayi yang ada dalam perut istrinya yang sudah mulai membesar seperti usia tujuh bulan.


"Selamat pagi dokter," sapa Rei duluan ketika dokter Riyanti sudah masuk ke kamar inap istrinya.


"Pagi tuan Rei!"


"Saya jadi pulangkan dokter hari ini?," tanya Malika.


"Apakah anda sudah merasa lebih baik nyonya?"


"Sudah dokter, badan saya terasa pegal kalau terus berbaring."


"Itu karena kandungan anda masih lemah nyonya, nanti dua minggu lagi anda boleh berjalan ringan di sekitar taman mansion dan jangan mengangkat yang berat-berat nyonya, apa lagi mengangkat tuan Rei," ucap dokter dengan sindiran halusnya tertuju kepada Rei yang sedang memperlihatkan wajah cemberutnya pada dokter dan istrinya.


"Berarti bulan berikutnya boleh dong dokter aku mengunjungi anak-anakku," pinta Rei membujuk dokter Ryanti untuk mengizinkannya berc**ta dengan istrinya.


"Terserah anda tuan, karena keselamatan mereka ada ditangan anda." ucap dikter Ryanti dengan sedikit ancaman untuk Rei yang terus mendesaknya supaya diizinkan untuk mendapatkan nutrisi hati pada istrinya.


"Ah, menjengkelkan sekali kamu dokter, nggak ada kompromi sedikitpun dengan kebutuhanku," ujar Rei semakin cemberut.


"Baiklah nyonya Malika, izinkan saya memeriksa anda untuk terakhir kalinya dengan melakukan USG memastikan posisi bayi anda dan pertumbuhannya. Karena kehamilan anda sekarang sudah memasuki usia kandungan lima bulan berarti kita bisa mengintip jenis kelamin si kembar.


Malika membuka mengangkat baju atasannya yang sudah memperlihatkan perutnya yang gendut, sedangkan dokter menyiapkan USG portabel yang sudah tersedia di kamar itu sejak Malika dirawat. Ketika dokter mengarahkan stik yang sudah di oles cairan yang bertekstur jeli itu pada perut Malika, terlihatlah penampakan bayi kembar yang saling berhadapan di dua kantong berbeda.


"Bentuk tubuh mereka sudah sempurna, dan kelamin mereka..


Wah!, selamat nyonya bayi kembar anda berjenis kelamin perempuan, tuh hidung mereka sangat mancung," ucap dokter Riyanti ikut senang melihat pertumbuhan bayi kembar Malika sesuai dengan usia kandungan ibunya.


"Apakah mereka sehat dokter?," tanya Malika yang sedikit kuatir pada bayinya."


"Pertumbuhan mereka dalam rahim anda tidak bermasalah nyonya, semoga organ vital mereka juga sehat dan sempurna. Tetaplah berdoa, semoga yang kita harapkan pada bayi kalian terwujud pada saat keduanya sudah lahir nanti."


"Aamiin, terimakasih dokter."


Tuan Daniel dan istrinya sudah datang menjemput putri mereka sedangkan tuan Romi dan nyonya Ambar memilih untuk tetap di mansionnya karena sedang menemani baby Ezra. Malika diangkat oleh suaminya untuk memindahkan tubuh istrinya di atas kursi roda. Keluarga itu keluar kamar inap sambil mendorong kursi roda yang diduduki oleh Malika, meninggalkan rumah sakit tersebut.


🌷🌷🌷🌷


Perjalanan kembali ke mansion pagi itu sedikit mengalami kendala karena kemacetan yang terjadi pada ruas jalan tol, ternyata ada kecelakaan yang terjadi di jalan bebas hambatan itu. Rei yang sangat kesal mendapati jalanan padat merayap membuatnya sedikit gerah, dengan meminta bantuan kecil dari mobil polantas untuk mengawal mobilnya ke bahu kiri jalan. Mobil polantas yang melihat mobil milik Rei mulai memberikan ruang untuk bergerak lebih ke arah kiri, mobil Rei berhasil di kawal oleh polantas menuju kediamannya tanpa merasakan kemacetan parah.


Dalam sekejap kendaraan mewah itu sudah memasuki gerbang kediaman Rei yang sepanjang jalan di hiasi taman bunga, danau, serta buah-buahan seperti jeruk sangkis, mangga arum manis, kelengkeng dan rambutan yang memancing liur siapa saja yang menikmati pemandangan yang ada di tempat itu. Mobil berhenti di depan halaman mansion, Malika turun dari mobil dan sesuatu yang terjadi membuat langkahnya terhenti ketika melihat baby Ezra.


"Baby sudah bisa jalan sayang?," teriak Malika ketika di sambut putranya berjalan ke arahnya dengan tubuh yang sedikit miring ke kiri mengimbangi langkahnya yang masih gontai.


"Mami..mamiiii!," teriak baby Ezra.


"Sayang, anak mami," sambut Malika yang sudah berlutut menyambut putranya lalu memeluk tubuh putranya yang sudah membuatnya sangat rindu.


"Baby tidak peluk dady?," pinta Rei manja pada putranya.


Balita tampan itu beralih memeluk dadynya dan memberikan kecupan mesra pada pipi dadynya. "muahh"


Semua yang melihat ulah bayi lucu ini tertawa geli dengar ocehan kecilnya.


Rei mencium gemas pipi putranya, membuat bayi montok itu terkekeh geli. Malika kembali berdiri di bantu papa dan mamanya menuju ke mansion. Tuan Romi dan nyonya Ambar sangat senang melihat menantu mereka sudah kelihatan lebih segar.


"Sayang, kamu sudah merasa sehat," tanya nyonya Ambar seraya mengecup pipi menantunya.


"Sudah mami, Malika sudah baikan ko, ini babynya tadi diperiksa lagi sama dokter Ryanti, Alhamdulillah semuanya sehat.


"Syukurlah sayang, mulai sekarang kamunya lebih hati-hati, mami sudah memindahkan kamar kalian di lantai satu supaya kamu tidak perlu naik turun tangga di masa-masa rawan kehamilanmu sayang."


"Terimakasih mami untuk perhatiannya pada Malika."


"Mami sudah masak menu kesukaanmu dibantu chef Arnold."


Tuan Romi menyambut besannya mengajak besannya duduk di tepi danau buatan di area mansion miliknya. Dua lelaki paruh baya itu sudah asyik ngobrol di tempat tersebut. Malika yang di temani mertua dan mamanya menuju ke ruang keluarga. Baby Ezra tidak mau di gendong dadynya, bayi itu lagi asyik belajar berjalan di sekitar ruang keluarga mengundang perhatian oma dan eyangnya.


"Semenjak bisa jalan baby Ezra nggak bisa diam, kita harus mengikuti langkahnya ke mana dia bergerak." ucap nyonya Ambar menceritakan aktivitas cucunya.


"Mungkin dia malu mau punya adik jadi pingin cepat bisa berjalan, mungkin kepingin cepat jadi abang buat adik kembarnya." ucap nyonya Alea menimpali perkataan besannya.


"Mama dan mami, tadi hasil USG terakhir pagi ini, Dokter sudah memberi tahu kami kalau jenis kelamin si kembar perempuan," ucap Malika kepada mama dan mami mertuanya.


"Wahhh, kita punya saingan dong cantiknya," ucap nyonya Ambar girang mendengar perkataan menantunya.


"Mulai sekarang mama dan mami siapin buat nama buat si kembar," ucap Rei membuat kedua besanan ini seakan tidak percaya.


"Benarkah Rei, kami boleh memberi nama untuk putri kembarmu?" tanya nyonya Alea ragu.


"Tentu saja mama, kenapa ragu gitu sih," tegas Malika membuat kedua wanita ini tertawa senang.


Malika dan Rei saling menatap melihat kebahagiaan kedua ibu mereka yang begitu antusias mendapatkan kesempatan untuk memberi nama pada bayi kembar mereka. Rei meminta izin untuk membawa Malika ke kamar. Kedua ibu itu mempersilahkan pasangan muda itu melihat kamar baru yang sudah dipindahkan oleh nyonya Ambar dengan pemilihan desain interior kamar baru untuk putra dan menantunya yang di percayakan langsung pada ahlinya.

__ADS_1


__ADS_2