
Azan subuh telah berkumandang,
suara merdu panggilan Allah lewat Muazin mengalun di setiap mesjid dan musholla yang ada di wilayah daerah Jabodetabek. Lantunan suara azan mewakili panggilan Allah untuk memanggil hamba- hambaNya yang beriman untuk menunaikan ibadah pada sang Pemilik kehidupan.
Nyonya Ambar membangunkan suaminya untuk menunaikan shalat subuh.
"Papa.. papa!, bangun sayang, sudah azan pak."
Tuan Daniel sudah bersiap-siap berangkat ke mesjid, sedangkan istri dan putrinya sholat berjamaah di rumah.
Setelah merapikan mukena nyonya Alea dan Malika membaca Al-Qur'an, keduanya nampak khusu dalam bacaannya.
Tidak lama terdengar dering ponsel milik nyonya Alea, dia menghentikan bacaannya lalu mengambil ponsel dan memencet tombol hijau, meletakkan dikupingnya, ada panggilan suara dari sebrang, suara itu kedengaran seperti nada tangisan.
"Hallo!! ka, assalamualaikum"
"Waalaikumuslam, ada apa Alfi, kenapa kamu menangis," tanya nyonya Alea pada adiknya yang ada daerah Jogja.
"Ayah meninggal ka, hiks!!..hiks!!"
"Innalilahi wa innailaihi raji'un."
Nyonya Alea tampak shock mendengar ayahnya yang meninggal pada waktu subuh, Malika yang mendengar ikut menangis atas kepergian eyang kakungnya, hanya eyang kakungnyalah yang tersisa yang saat ini dirawat oleh tantenya.
"Mama pulang saja, nggak usah mikirin Malika, banyak pelayan kita yang akan mengurus Malika," ucap Malika yang masih menangis.
"Tapi, kandunganmu sudah sembilan bulan, mama takut kamu bisa lahiran kapan saja nak."
"Kalau mama naik jet pribadi bisa pulang pergi secepatnya mam, dan tolong ajak papa temanin mama, kasihan eyang kakung kalau diakhir hidupnya kita nggak mengantarkannya sampai ke peristirahatan terakhirnya."
Tidak lama kemudian tuan Daniel pulang seusai sholat, dia melihat dua orang yang dicintainya berpelukan sambil menangis.
"Ada apa sayang kenapa kalian menangis," tanya papa Malika yang bingung melihat anak dan ibu ini menangis sesunggukan.
Malika menyampaikan berita duka cita dari kampung kepada papanya,
terlihat sekali wajah kesedihan tuan Daniel saat mengetahui mertuanya meninggal.
__ADS_1
"Papa saja yang pulang ya mam, kasihan Malika kalau ditinggal sendiri."
"Tidak papa, jangan pikirkan keadaanku, papa dan mama harus pulang bersama ke Jogja."
"Baiklah nak, kalau begitu kami berangkat sekarang kalau ada apa-apa tolong kabarkan kami secepatnya, ingat jika ada yang mengancam jiwamu kamu tahu harus ke mana?," pesan tuan Daniel pada putrinya.
Nyonya Alea memeluk putrinya sangat lama, seakan mereka tidak akan bertemu lagi selamanya.
"Kamu hati-hati ya sayang, jaga kandunganmu, mama akan segera kembali setelah proses pemakaman eyang Kakungmu selesai."
Keduanya sudah berangkat ke bandara pribadi milik tuan Daniel.
Malika hanya mendoakan kepergian orangtuanya, semoga selamat sampai tujuan, entah mengapa perasaannya sangat tidak enak melepaskan kepergian orangtuanya.
🌷🌷🌷
Pagi ini Malika dijemput oleh asisten papanya ke perusahaan, Malika hanya datang menggantikan papa nya untuk melakukan rapat pemegang saham. Tidak ada sesuatu yang dicurigainya, hari itu semuanya berjalan lancar saat rapat dengan para pemegang saham. Perutnya yang semakin membesar tidak menghalanginya untuk beraktivitas, walaupun perutnya sering merasa kontraksi, Malika tetap santai bekerja.
"Paman Rama, laporan hasil rapat tadi tolong dibawa ke ruangan saya, jika ada pemegang saham yang memiliki laporan keuangannya fiktif segera diblacklist perusahaannya, tidak ada toleransi diperusahaan ini."
Malika hanya mengangguk dan tersenyum pada asisten Rama.
Dirinya kembali sibuk membuka laptopnya, memeriksa semua laporan keuangan dari beberapa cabang perusahaan dan juga perusahaan yang menjalin relasi dengan perusahaannya.
Hatinya sangat gusar melihat laporan perusahaan yang terang - terangan menantang sistem kerja diperusahaan miliknya.
"Brengsek!!, mereka ingin mengkhianati perusahaan papaku, aku akan menarik semua sahamku dari perusahaan kalian, bersiap-siaplah brengsek!!."
Malika memblokir semua akses perusahaan yang sudah mengkhianati perusahaannya, lalu memasukkan virus ke akun cabang perusahaan milik perusahaan saingannya. Malika tersenyum puas melihat perusahaan yang sudah dimasukin virus di akun milik perusahaan tersebut..
"Kalian mau bermain-main dengan ku, rasain kalian," ucap Malika sambil menekan keyboard laptop miliknya.
Tok!!..tok!!"
grekk!!
Pintu ruang kerja Malika terbuka, asisten Rama masuk membawa laporan yang dipinta Malika, sekilas Malika melihat wajah gugup asisten Rama, entah apa yang disembunyikannya tapi Malika merasakan asisten Rama bermain kotor dengan beberapa pemegang saham.
__ADS_1
"Paman Rama, ada apa denganmu, sepertinya kamu menyembunyikan sesuatu dariku, apakah kau sedang mengkhianati papaku?," tanya Malika sarkas pada asisten papanya.
Wajah asisten Rama langsung pucat, keringat dingin mulai muncul di dahi dan pelipisnya, Rama menelan saliva dengan kasar ketika mendengar teguran keras dari Malika, ketakutannya sangat terlihat jelas oleh Malika, namun Malika berusaha santai agar asisten Rama tidak terlalu gugup menanggapi kecurigaannya.
"Ti..tiidak apa-apa nona Malika, saya cuman kurang enak badan," jawab asisten Rama berusaha tenang.
"Ok, kamu tahukan bahwa aku memiliki ponsel buatanku yang bisa membaca semua pergerakan karyawan di perusahaan ini dan kau juga tahu apa konskensinya jika kau mengkhianati perusahaan papaku, tempatmu adalah penjara dan keluargamu tidak akan mendapatkan pekerjaan di manapun karena akun mereka akan aku hapus."
"Kalau kamu merasa sakit, silahkan kamu pulang, tapi ingat besok papaku balik dari Jogja, bersiaplah kamu karena ada pengadilan tersendiri untukmu."
"Maaf nona tolong jangan salah paham, saya tidak memberitahu perusahaan saingan kita tentang rancangan model ponsel terbaru anda yang akan anda kembangkan.
"Degg!!"
"Dari mana kamu tahu bahwa desain rancangan ponsel buatan saya? setahu saya tidak ada yang tahu kecuali papaku dan papaku tidak akan mengkhianatiku, apakah kamu sedang membuka data pengembangan di ruang arsip perusahaan?"
Bukan lagi wajah asisten Rama yang pucat tapi juga dengkulnya sudah lemas karena ketahuan oleh Malika tentang perbuatannya, mungkin CCTV semua ruangan perusahaan ini sudah dimanipulasi olehnya tapi tidak dengan ponsel buatan Malika, semuanya tetap pada tempatnya tidak ada yang bisa meretas ponsel itu yang menjadi incaran para mafia perusahaan. Akhirnya asisten Rama pamit pulang karena sudah tidak nyaman dengan ancaman Malika kepadanya.
🌷🌷🌷
Sudah dua hari orangtuanya berada di kampung, sore ini keduanya janji akan pulang, mungkin malam hari baru sampai Jakarta. Malika sudah tidak sabar menunggu kepulangan orangtuanya, hatinya makin gelisah dengan memikirkan perusahaannya, tapi ada yang membuatnya sangat sesak dan terasa hampa seakan ada kejadian yang akan menimpa keluarganya.
Malika berusaha tenang sambil minum teh yang dibawakan oleh pelayannya.
"Ya Allah apa yang terjadi denganku, mengapa firasatku nggak enak, ya Allah semoga tidak terjadi apa-apa dengan kedua orang tuaku, jangan mengujiku lagi ya Rabb, hamba tidak sanggup menjalani ini semua."
Tidak lama ponselnya berdering dari nomor yang tidak dia kenal, Malika mengangkat ponselnya dan menerima panggilan dari seberang sana.
"Hallo!, selamat malam!, apakah benar ini dengan nona Malika."
"Iya, benar pak ini dengan saya sendiri, maaf ini dengan siapa saya bicara?"
"Saya Andi nona salah satu petugas bandara pribadi tuan Daniel, saya ingin mengabarkan bahwa jet pribadi yang ditumpangi tuan Daniel lost contact dengan menara ATC bandara.
"Degg!!"
Tubuh Malika langsung terkulai lemas tanpa air mata yang menetes dipipinya, entah kemana air mata itu pergi, yang terasa saat ini hanya hatinya yang makin hancur tergilas takdir.
__ADS_1