
Setelah memberikan hadiah terakhir untuk mengakhiri hubungan mereka, Aida memilih berpisah dengan Raffi, ia meninggalkan kamar hotel pada subuh dini hari sebelum Raffi sadar dari lelapnya. Sebelum keluar dari kamar hotel itu Aida meninggalkan sepucuk surat untuk Raffi yang diletakkan di atas meja yang ada di kamar hotel itu. Ia sudah memesan taksi untuk membawa dirinya pergi.
Raffi yang baru sadar sekitar jam lima subuh pagi, ia mengerjapkan matanya saat alarm yang selalu rutin memanggilnya melalui ponselnya. Awalnya lelaki tampan ini melihat gadisnya yang tidak ada di sampingnya, sedang berada di kamar mandi, ia menghampiri kamar mandi dan mengetuk pintu kamar mandi itu beberapa kali, namun tidak ada jawaban apapun dari dalam kamar mandi. Raffi mencoba membuka pintu kamar mandi, betapa terkejutnya Raffi melihat kamar mandi itu kosong, dilihatnya tas genggam milik Aida sudah raib dari tempatnya dan juga sepatu high heels milik Aida juga sudah tidak ada di tempatnya yang semalam gadis itu letakkan. Ketika ia ingin mengambil pakaiannya, sesaat ia berhenti dan mundurkan langkahnya ketika melihat ada kertas yang tergeletak di atas meja, di raihnya selembar kertas itu, ia mengambil tempat untuk duduk ditempat tidurnya dan mulai membaca isi tulisan yang tertera dalam kertas itu.
"DEAR RAFFI"
MAAF JIKA AKU MENGUCAP PERPISAHAN DENGAN CARA SEPERTI INI DAN MEMBERIKAN MILIKKU YANG TIDAK LAGI BERHARGA UNTUKMU, MAAF RAFFI, BUKAN AKU TIDAK INGIN MENJAGA KEHORMATAN KU NAMUN DIRIKU YANG TERLALU JAUH MASUK DALAM SEBUAH PERANGKAP YANG SIAP MENJERATKU KAPAN SAJA. KETIDAKMAMPUANKU MELAWAN NA**U BEJAT YANG DILAKUKAN OLEH TUAN ARDIAN SETAHUN YANG LALU YANG TELAH MENGHANCURKAN MASA DEPAN KU.
IA SENGAJA MEMASUKAN OBAT PERANGSANG PADA MINUMANKU SAAT KAMI SEDANG MERAYAKAN KEMENANGAN MENDAPATKAN PERUSAHAAN MILIK TUAN DANIEL, AKU HANYA MENGIKUTI ALUR PERMAINAN MEREKA KARENA INGIN MENGETAHUI SEPAK TERJANG BERANDALAN ITU. TAPI TANPA DISANGKA DIA MEMANFAATKAN MOMEN ITU UNTUK MENGAMBIL MILIKKU YANG PALING BERHARGA, AKU MARAH, AKU BENCI DAN BAHKAN AKU JIJIK PADA DIRIKU SENDIRI, AKU INGIN MENGHENTIKAN PERMAINAN GILA ITU, TAPI KARENA JANJIKU PADA MALIKA UNTUK MENGAMBIL ALIH KEMBALI PERUSAHAANNYA, AKU MEMILIH BERTAHAN DAN MELANJUTKAN PERMAINAN MEREKA, AKU MENGHANCURKAN PERUSAHAAN ITU SAMPAI DIA TIDAK BISA LAGI BERKUTIK BERSAMA DENGAN SEKUTUNYA ASISTEN RAMA.
SEJAK AKU PERTAMA KALI BERTEMU DENGANMU SAAT KAMU DATANG DI PERUSAHAAN TUAN DANIEL, AKU SUDAH JATUH HATI PADAMU, TATAPAN HANGATMU YANG TIDAK TERLEPAS DARI WAJAHKU, MEMBUATKU SEDIKIT PERCAYA DIRI BAHWA AKU LAYAK MEMILIKI MIMPI, HINGGA AKHIRNYA KETIKA NIATMU INGIN MELAMARKU MIMPI ITU BUYAR KARENA DIHANTUI RASA BERSALAH, RASA JIJIK YANG MELANDA JIWAKU MULAI MENGGANGGUKU LAGI, AKU TAKUT MEMBUATMU KECEWA, APA LAGI MEMBUATMU MENJADI LELAKI BODOH YANG MAU MENGEJARKU TANPA TAHU MASA LALUKU YANG SURAM. RAFFI AKU MEMBERIKAN TUBUHKU SEBAGAI JAWABAN DARI PERTANYAANMU SEMALAM TENTANG KEGELISAHANKU, MAAFKAN WANITA KOTOR INI RAFFI, KU MOHON LUPAKAN AKU, DAN AKU JUGA AKAN PERGI DARI HIDUPMU BAHKAN IMPIANMU YANG INGIN MEMILIKIKU MELALUI MAHLIGAI PERNIKAHAN. TERIMAKASIH RAFFI SUDAH MENGHIASI HARI-HARIKU, MEMBUATKU SELALU TERSENYUM SAAT MELAMUNKAN WAJAH TAMPANMU, JIKA AKU SANGAT BERHARGA UNTUKMU, AKU TIDAK AKAN MERELAKANMU UNTUK DIMILIKI GADIS MANAPUN. TERIMAKASIH SUDAH MENCINTAIKU, AKU PAMIT RAFFI, TOLONG JANGAN MENCARIKU, HIDUPLAH BAHAGIA BERSAMA GADIS LAIN.
"AKU MENCINTAIMU"
AIDA
"Aidaaaaa!...Aidaaaa!"
"Mengapa kamu lakukan ini padaku sayang, apakah karena itu, kamu merasa dirimu tidak berharga? kenapa kamu tidak menanyakan pendapatku dulu, kenapa harus pergi dengan cara seperti ini, kenapa Aida, kenapa kamu menghukumku?, apa salahku?"
Pertanyaan demi pertanyaan berkecamuk dipikiran Raffi, hatinya tidak terima kalau gadis itu menjadi sangat egois, Raffi mengenakan lagi pakaiannya yang sudah dirapikan Aida sebelum dia pergi. Raffi mencium kemejanya, bekas parfum Aida masih menempel di kemejanya, seakan harum tubuh Aida masih menemaninya.
Raffi melanjutkan lagi memakai perlengkapan busananya seperti awal dia datang semalam ketika memasuki kamar hotel ini. Ia bergegas menghampiri mobilnya di tempat parkir.
Raffi menghubungi lagi nomor ponsel Aida, namun tidak tersambung, Raffi mengendus nafasnya kasar. Mesin mobil dinyalakan, lalu ia meninggalkan area parkir hotel. kini kendaraan miliknya langsung membelah jalanan ibu kota, rasa bingung dan juga kuatir melintasi pikirannya, entah bagaimana caranya mencari tahu keberadaan Aida.
Kalau mendatangi tempat kos gadis itu pasti sudah tidak ada di sana, yang namanya pamit pergi, tidak mungkin kembali ke tempat tinggalnya. Jalan satu-satunya adalah ke rumah bosnya Rei. Raffi mengambil arah jalan menuju ke mansion bosnya Rei.
Sekitar setengah jam mobil itu sudah memasuki gerbang yang tinggi melewati taman, danau dan berhenti di halaman yang luas itu. Mansion tuannya sudah ramai dengan para pelayan yang mengerjakan tugas mereka masing-masing, saat ia baru keluar dari mobilnya sudah tercium aroma masakan sarapan pagi. Para pelayan yang sudah biasa melihat Raffi yang selalu menjemput tuannya memberi hormat pada Raffi yang kelihatan tidak bersemangat pagi ini. Salah satu pelayan menghampiri tuan Rei untuk mengabarkan kalau asistennya sudah berada di halaman mansion. Pelayan itu mengetuk pintu kamar tuannya.
Tokk!..tok!"
Rei membuka pintu kamarnya,
"Permisi tuan, ada tuan Raffi di depan ingin bertemu anda."
"Minta ia untuk menunggu, saya mau ganti baju dulu."
"Baik tuan."
Pintu kamar kembali ditutup, Rei merasa ada yang aneh dengan Raffi, biasanya asistennya itu selalu menghubunginya terlebih dulu sebelum menjemputnya untuk ke perusahaan.
"Ada apa sayang," tanya Malika yang masih memakai lengerie putihnya.
"Raffi sayang, dia disini."
"Sepagi ini?"
"Iya sayang."
"Temuilah dia sayang, mungkin ada yang penting yang ingin disampaikan padamu."
"Tapi, aku ingin temui ini dulu," ucap Rei yang langsung meremas bok*ng istrinya gemas.
"Akhh!"
"Rei, nanti malam lagi, kasihan Raffi sudah menunggumu."
"Berikan aku sarapan yang ini dulu sayang," ucap Rei sembari mendorong lembut tubuh istrinya supaya duduk di atas sofa yang ada di kamar itu.
Ia mengangkat lengerie milik istrinya, kemudian mengangkat kedua kaki malika sejajar dengan sofa lalu membuka kedua pa*a istrinya dengan lebar dan mulai mengisap biji kenyal yang terdapat dimuara milik istrinya. Sekitar sepuluh menit Rei menjilati es cream kesukaannya yang terdapat dibawah perut istrinya itu sampai membuat Malika melenguh, Malika menjambak rambut Rei dan menekan lebih dalam ke muaranya agar lidah Rei berenang lebih dalam mencapai titik kelemahannya.
Erangan itu kembali berdendang, Rei bangkit membalikkan tubuh Malika membelakangi dirinya. Malika yang mengerti mencoba menundukkan tubuhnya bertumpu pada sandaran sofa sehingga bok*ng putih mulus itu memperlihat pemandangan indah untuk dimasuki oleh milik suaminya. Rei menancapkan lagi miliknya ke inti tubuh istrinya kemudian ia menghentakkan tubuhnya diantara dua gundukan lemak pada pinggul istrinya. Dengan kecepatan tinggi Rei menyiksa istrinya dengan kenikmatan yang sedang diberikan nya pagi itu. Suara erangan erotis Malika tidak lagi beraturan karena siksaan nikmat itu membuatnya tidak ingin berhenti untuk mengakhiri permainan ini.
Sampai puncak kali**s yang sudah mereka nikmati, Rei baru membiarkan miliknya tetap berada dalam muara Malika, ia ingin merasakan kedutan disepanjang lorong sempit yang sedang *******-***** miliknya sambil mendekap tubuh polos istrinya. Setelah miliknya tak bertenaga lagi, Rei mencabut miliknya dari inti istrinya. Ia mengatur nafasnya supaya kembali teratur usai senam pagi bersama istrinya. Lalu ia mengatakan sesuatu pada Malika dengan kata-kata manja.
"Sayang, kalau Raffi nggak datang sepagi ini, aku ingin selalu berc**a denganmu sepanjang hari."
"Tunggulah hari libur sayang, aku akan melayanimu sepanjang hari," ucap Malika lalu mengecup bibir, Rei.
Rei masuk ke kamar mandi membersihkan lagi tubuhnya setelah percintaannya dengan istrinya. Dalam beberapa menit Rei sudah berpakaian rapi dan keluar menemui asisten Raffi.
"Kenapa wajah loe Raffi, kenapa ditekuk begitu, seperti dompet tanggung bulan?"
"Bos Aida menghilang, gadisku pergi!"
"Apa??..
"Kenapa bisa begitu?
Apa yang terjadi pada hubungan kalian?"
Raffi menceritakan semua dari awal mereka masuk hotel berakhir dengan acara perpisahan yang menyakitkan untuk dirinya. Kemudian ia menyerahkan selembar surat yang ditulis Aida untuknya kepada bosnya itu. Rei membaca tiap kalimat yang tertera di dalam surat itu dengan membelalakkan matanya setengah tak percaya membaca curahan hati Aida pada Raffi. Apa yang terjadi pada Aida, dia juga harus ikut bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa sekertaris istrinya itu," pikirnya kemudian lalu menarik nafasnya yang berat.
"Bos, jangan beritahu ini pada nyonya Malika, saya kuatir emosi nyonya yang sering labil akan mempengaruhi jiwanya, nanti dia akan merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Aida."
"Terimakasih Raffi kamu sudah mengkuatirkan kondisi istriku dan aku sangat salut dengan pengorbanan Aida walaupun itu menjadi ancaman untuk masa depannya."
"Sekarang tergantung padamu, apakah kamu masih mencintainya setelah mengetahui curahan hatinya?"
"Apapun yang menimpa pada dirinya, sedikitpun aku tidak akan mundur tuan, bahkan setelah mengetahui pengorbanannya yang begitu besar pada keluarga istri anda sebagai seorang sahabat, dia rela menanggung malu dan terluka seumur hidupnya."
"Cerdas kamu Raffi, jangan pernah menyerah, jika cinta telah tumbuh kuat dihatimu."
"Kita akan carikan solusinya bersama-sama, ingat Raffi Aida juga wanita pintar apalagi dia tangan kanan istriku, pasti dia tahu cara menyembunyikan dirinya sama seperti Malika padaku dulu.
"Kerahkan anak buah kita, lakukan secara diam-diam, semoga dalam waktu cepat kita akan menemukannya. Sebarkan orang-orang kita setiap tempat transportasi, karena alat transportasi adalah fasilitas untuk orang mudah kabur, jika dia gunakan mobil pribadi, sebarkan fotonya setiap pintu masuk tol dalam kota maupun luar kota. Untuk data dirinya aku akan meminta pada Malika. aku akan menghubungi papa mertuaku dulu untuk mengabarkan hal ini, supaya informasi hilangnya Aida tidak sampai terendus oleh Malika."
Raffi berusaha tegar walaupun hati nya telah teriris, cinta yang baru dimulainya kini kandas hanya dalam satu malam.
"Ayo kita sarapan dulu, nanti kita berangkat bareng, kalau sudah tiba di perusahaan, kita akan bahas lagi masalah ini, untuk sementara jangan biarkan pikiran buruk mengusai dirimu, doakan Aida supaya dia berubah pikiran dan akan kembali lagi padamu.
"Tapi tuan, aku tidak lapar."
"Jangan begitu Raffi, pikiran boleh mumet, tapi urusan perut harus menjadi yang utama."
"Kalau bisa kamu harus mandi dulu dan ganti bajumu sebelum kita sarapan, banyak baju baru di kamar tamu, pilihkan yang sesuai dengan ukuranmu, jangan mudah membuat orang lain membaca pikiranmu terutama Malika yang mudah curiga dengan orang lain saat nanti sudah berada di meja makan."
"Baik tuan, saya permisi ke kamar mandi."
Rei dan Raffi masuk ke dalam mansion, Raffi langsung menuju kamar tamu sedangkan Rei menemui Malika yang sedang memandikan baby kembar.
"Selamat pagi Rania cantik dady, sudah mandi ya sayang?
Baby Rania yang sudah duluan rapi, sedangkan Tania masih di mandikan oleh Malika. Rei menggendong baby Rania dan memberikan Asi ibunya yang sudah di masukkan ke dalam botol, Rania dengan tenang menyedot susu itu sampai tandas dan tertidur. Tania yang sudah rapi langsung disusui Malika dengan satu put*ngnya.
"Kamu belum sarapan sayang?"
"Aku ingin sarapan dengan bidadariku."
"Baiklah, tunggu baby Tania tidur baru kita sarapan bersama papi dan mami."
Saat hendak berdiri dari duduknya, Rei mendengar suara tangis baby Ezra yang baru bangun tidur. Rei menuju ke kamar putranya mengangkat tubuh baby EZRA dan menggendongnya.
"Dady..hiks!..hiks!"
"Lho, ko putra dady nangis?"
"Mommyyy!..
"Ezra kangen sama mommy?
Ezra mengangguk ingin bertemu dengan ibunya. Rei mengantar putranya ke kamarnya untuk menemui Malika. Baby Tania baru saja tidur, takut putrinya ini bangun lagi, Malika mendekatkan jari telunjuknya ke bibirnya supaya Ezra tidak menangis.
"Sssst!"
"Entar dedenya bangun sayang, jangan nangis ya, sini sama mommy."
"Mommy!!..
"Ezra mau apa sayang?"
"Ezra, mau sama mommy."
"Ezra, mau sarapan?"
"Hooh!"
"Ayo, tapi Ezra mandi dulu ya sayang?
"Hooh!"
"Ok, kita mandi dulu baru sarapan."
__ADS_1
🌷🌷🌷
Sarapan sudah tersedia di meja makan. Semuanya sudah berkumpul termasuk Raffi. Malika mengambil makanan untuk suaminya, ibu mertuanya dan ayah mertuanya. Kini gilirannya yang ia ambil untuk berdua dengan Ezra.
Sejak masuk ke keluar tuan Romi, Malika begitu telaten melayani keluarga suaminya walaupun ada pelayan yang berdiri dekat mereka yang siap melayani apapun. Tapi berkat ajaran ibunya yang sudah mengajarinya sebelum dirinya dulu menikah dengan almarhum suaminya Arie. Ia ingat kata-kata mamanya "Sayang Jika sudah berumah tangga layani suami dan keluarganya terutama suami dan kedua orangtuanya karena itu adalah bentuk kewajibanmu sebagai seorang istri. Hal yang sangat sederhana jika dilakukan dengan ketulusan akan melahirkan sesuatu yang sangat berharga. Itulah pesan ibunya. Malika mengingat pesan berharga dari mamanya, itulah mengapa dirinya sangat disayangi oleh suami dan juga kedua mertuanya.
Pagi itu mereka makan dengan tenang. Usai makan, Rei pamit berangkat ke perusahaan bersama Raffi. Kali ini Rei tidak terlalu banyak bicara karena takut menganggu konsentrasi Raffi yang sedang galau karena kehilangan kekasih hatinya. Mobil itu sudah memasuki halaman perusahaan dan Rei duluan turun depan lobby.
"Selamat pagi tuan!"
"Selamat pagi!"
Rei masuk ke lift menuju ruangannya, setelah keluar dari lift Rei melangkah melewati beberapa meja kerja karyawannya menuju ruangannya. Lelaki tampan ini masuk ke ruang kerjanya menunggu Raffi sudah membawa berkas yang harus ditandatangani oleh Rei. Usai menandatangani berkas, Rei menghubungi tuan Danial papa mertuanya.
"Assalamualaikum papa!"
"Waalaikumuslam Rei!"
"Boleh saya bicara dengan Aida papa." pancing Rei pada mertuanya untuk mengetahui keadaan Aida.
"Aida mengundurkan diri Rei, entah apa masalahnya, tadi papa datang sudah ada surat pengunduran dirinya di atas meja kerja papa.
"Apakah papa tahu, kira-kira dia pergi ke mana?, karena dikosnya Aida tidak ditemukan.
"Papa sudah menyuruh orang kepercayaan papa ke rumah orangtuanya namun di sana gadis itu tidak pamit juga sama orang tuanya kalau dia akan pergi."
"Astaga, bagaimana ini, saya kasihan sama Raffi papa, kelihatan nya dia sangat sedih akan kepergian Aida. Saya harap papa tidak memberitahukan hal ini pada Malika.
"Baik nak Rei."
"Terimakasih papa."
"Sama-sama nak!"
Rei menutup ponselnya lalu berbicara lagi dengan Raffi.
"Raffi, saya sudah membicarakan ini dengan mertua saya, Aida juga tidak ada di rumah orangtuanya.
"Terus kita harus menemukannya di mana tuan?"
"Apa sudah ada kabar dari orang-orang kita Raffi?"
"Belum tuan, mereka masih berusaha mencarinya tuan."
"Ya Tuhan, kenapa hal ini terjadi padamu juga Raffi?
"Apa perlu kita memberi tahu istriku, mungkin sebagai sahabat Malika tahu tempat-tempat yang biasa dikunjungi oleh Aida.
Mungkin itu tempat pariwisata atau kerabatnya yang biasa dia kunjungi."
"Apa itu solusi terbaik tuan?"
"Kita jangan memberi tahu alasan kenapa Aida pergi darimu, kita cukup katakan kalau Aida tidak siap menikah denganmu.
"Apa ini masuk akal tuan?
"Apa kamu punya ide lain Raffi?
"Tidak ada tuan!"
"Kalau begitu jalani dulu rencanaku, siapa tahu ini dapat membantu kita menemukan Aida secepatnya.
Kamu tenang saja Raffi, aku punya seribu cara untuk melibatkan Malika karena ponsel canggihnya itu yang akan membantu kita."
"Baik tuan, aku mangut saja, apa kata tuan."
"Semangat Raffi jangan cemas begitu."
Raffi terdiam, ia mengenang dua tahun yang lalu bagaimana seorang Rei bisa merasa dunianya hilang hanya ingin bertemu Malika.
"Tuan, apakah sesakit ini saat kita kehilangan orang yang kita cintai?"
"Iya Raffi, kadang derajat kita hampir setara dengan orang gila, saat kita kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidup kita.
"Maafkan saya tuan, kalau dulu saya pernah mengabaikan perasaanmu, kadang saya berpikir tuan sangat lebay dengan satu wanita yang baru tuan kenal."
"Tidak apa Raffi, kalau belum mengalaminya sendiri, biasanya orang akan merasa kita terlalu berlebihan saat mengalami suatu masalah yang sangat membuat kita frustrasi.
"Kalau begitu, saya sangat berterimakasih atas kebaikan tuan. Saya permisi mau ke ruangan saya dulu tuan."
Rei melanjutkan pekerjaannya, memeriksa file laporan perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaannya di manca negara. Semua laporan yang masuk tidak ada masalah bahkan banyak permintaan pasar terkait pemesanan pesawat jet di perusahaan pembuatan pesawat jet miliknya yang ada di Jerman, dimana Rei sebagai perancang utama jenis pesawat jet yang disesuaikan dengan kebutuhan para kliennya yang ingin membeli pesawat jet rancangannya. Raffi masuk lagi ke ruangan Rei untuk memberi tahu bahwa ada meeting siang ini di salah satu hotel yang ada di pusat kota. Rei melihat jam tangannya lalu menyetujui bahwa dia siap mengikuti meeting hari ini.
"Siapkan segala sesuatunya Raffi, nanti saat meeting rekam semua hasil meetingnya, nanti kita akan membahas ulang apa saja langkah yang akan kita ambil dan memisahkan apa saja yang menjadi kendala yang ada di lapangan mengenai maskapai penerbangan kita.
"Siap tuan!"
Ponsel berdering, Rei mengangkat ponselnya, terdengarlah suara indah yang sangat dirindukannya.
"Assalamualaikum sayang!
"Waalaikumuslam cantik!"
"Apakah kamu merindukanku?"
"Selalu sayang!"
"Sebesar apa rindumu padaku?"
"Tidak terhingga sayang, jika bisa, aku ingin terus dekat denganmu."
"Seperti itukah sayang, kamu membutuhkanku?"
"Tentu saja cinta, rasanya aku ingin mengedipkan mataku dan dalam sekejap kamu langsung berada disini."
"Coba kamu lakukan, mungkin harapanmu akan terkabul!"
"Mana mungkin sayang, itu cuman perkataan konyolku saja, itu tidak akan terjadi."
"Lakukan apa yang ku pinta sekarang!
Pejamkan matamu dalam hitungan tiga. Satu, dua, tiga, sudah tutup matamu sayang?"
"Sudah!"
Malika membuka pintu ruang kerja Rei, dan seketika Rei terperanjat dan bergegas bangun dari duduknya berlari menghampiri bidadarinya ini, ia memegang pergelangan tangan istrinya dengan perasaan tidak percaya, kata-kata konyolnya terbukti juga.
"Ya Tuhan, benarkah kamu di sini sayang?"
"Surprise"
"Ya ampun, kamu slalu membuatku.... ahh! Malika... Malika, bagaimana aku bisa tahan berjauhan denganmu, sayang" ucap Rei sambil memeluk tubuh istrinya ini.
"Apakah kamu suka sayang dengan kejutan dariku?"
"Lebih dari kata suka sayang, kau segalanya, tak tertandingi."
Malika mengangkat wajahnya menatap wajah lelaki yang sangat dicintainya. Rei mengecup lembut bibir sensual istrinya.
"Bagaimana dengan baby kembar sayang?"
"Apakah tidak apa kamu tinggalkan mereka?"
"Aku sudah, memerahkan ASI ku untuk mereka sayang, dan sudah di simpan di kulkas, saat mereka haus pelayan akan menghangatkannya, lagian ada mama di mansion kita jadi kedua ibu kita akan menjaga baby kembar kita karena itu yang mereka inginkan.
"Cerdas kamu sayang, mengambil kesempatan untuk bisa menemuiku disini."
"Demi impian konyolmu sayang."
Keduanya terkekeh lalu saling berpelukan.
"Dady aku bawakan ini untukmu, kita makan berdua ya sayang."
"Tunggu sayang sepertinya ada yang terlewatkan dariku?
"Apa dady?"
"Kamu sangat cantik dengan pakaian ini. Aku belum pernah melihatmu memakai seragam kerja. Kamu sangat anggun sayang.
"Gini-gini juga aku bos di perusahaanku, apakah kamu lupa itu sayang?"
"Dan sekarang jadi istrinya bos juga?"
"Betul sekali baby."
__ADS_1
"Apa yang kamu bawakan sayang?
"Aku bawa dimsum, mau cobain?
"Boleh!"
Malika mengeluarkan tiga boks dimsum, ia memberikan satu boks untuk suaminya, Rei memakan dimsum itu menggunakan sumpit. Melihat satu boks yang tersisa membuatnya ingin bertanya kepada istrinya.
"Satu lagi untuk siapa sayang?"
"Untuk Raffi!"
"Oh iya, biar adil gimana kalau aku hubungi Aida suruh ke kantormu supaya Raffi bisa makan berdua dengan Aida di sini.
Seketika Rei tersedak saat Malika menyebutkan nama sahabatnya itu yang saat ini sedang membuat mereka mumet dengan kepergian Aida.
"Uhkk!..ukhhk!"
"Makannya pelan-pelan sayang, tuhkan jadi tersedak," ucap malika sambil memukul-mukul punggung suaminya dengan lembut.
Malika lalu mengambil air mineral di atas meja kerja Rei lalu memberikannya pada Rei. Rei meminum air itu sambil mengurut dadanya yang terasa sesak, bukan karena makanannya tapi karena masalah Aida.
"Ya Tuhan dengan cara apa aku jelaskan kepada nyonyaku ini," ucap Rei dalam hati.
"Malika mengambil ponselnya lalu menekan nomor ponsel sahabatnya itu.
Rei menggaruk kepalanya yang tak gatal, apa yang harus dia katakan. Ia makin gelisah dan sangat membuatnya ingin lompat dari gedung ini. Beberapa kali dihubungi nomor ponsel Aida tetap saja tidak ada jawaban.
"Ko di matikan sih ponselnya, nah aku punya cara untuk menemukanmu sobatku, tunggu ya.
Bagai gayung bersambut Rei berusaha memperhatikan cara istrinya menemukan sahabatnya itu sambil memakan dimsumnya.
"Ya Allah apakah dengan cara ini, kami dapatkan solusi." gumam Rei dalam hati.
Malika meretas beberapa tempat yang menyimpan data CCTV di mana keberadaan Aida. Kali ini Malika sedikit bingung karena Aida tidak berada di Indonesia ponselnya memperlihatkan Aida sedang menuju luar negeri dan masih dalam perjalanan.
"Lho kenapa Aida ke luar negeri apakah papa mengirimnya ke sana karena ada tugas dari perusahaan?"
Ucapan Malika membuat Rei tersedak lagi, membuat Malika buru-buru meletakkan ponselnya dan menghampiri suaminya, ia kembali menepuk-nepuk punggung Rei.
"Ya ampun aku datang ko kamu malah tersedak terus. Ada apa sih sayang?"
"Aku terlalu terpesona denganmu hari ini sayang." ucap Rei berbohong karena bingung jelasin kepergian Aida. Tapi ia juga lega sudah mengetahui keberadaan Aida yang sedang menuju luar negeri, ini saatnya dia harus bisa mengoreksi informasi tentang Aida dari ponsel istrinya.
"Berarti kehadiranku sangat menganggu dady?
"Justru kamu hadir di sini, membuatku lebih semangat bekerja sayang."
"Baiklah kalau begitu aku pulang ya dady," ucap Malika seraya meraih tasnya.
"Oh no, honey!" kamu harus tetap disini," tegur Rei menahan langkah istrinya dengan meraih tangan Malika.
"Aku hanya ingin menyapamu saja sayang, bukan untuk merayumu."
"Aida ke mana sayang, ko Raffi nggak bilang kalau Aida ke luar negeri." tanya Rei yang ingin tahu negara tujuan Aida.
"Aida sedang menuju ke Korea Selatan sayang dengan penerbangan pertama."
"Astaga!"
"Kenapa sayang apakah ada masalah?"
"Oh, tidak apa-apa, kasihan Raffi, temanmu itu pasti lupa memberitahukannya kalau dia akan pergi ke luar negeri."
"Kalau begitu biar aku menanyakan papa, tugas apa yang sedang dilakukan Aida di Korea Selatan."
"Oh, tidak perlu sayang, itu urusan perusahaan jangan di sangkut pautkan dengan urusan pribadi walaupun itu adalah perusahaanmu sendiri. Cuma aku heran bagaimana kamu bisa melacak ponsel Aida.
"Karena ponsel Aida aku yang merakitnya."
"Aku yang membuat chipnya, sehingga muda bagiku melacak keberadaannya walaupun ponselnya dalam keadaan mati saat sedang dalam penerbangan."
"Jenius baby, apakah bisa kamu terapkan penemuanmu ini pada rancangan pesawat jet yang terbaru yang saat ini sedang aku desain. Karena saat ini aku sedang merencanakan akan melaunching rancangan desain pesawat jetku untuk tahun depan tepatnya di saat merayakan ulang tahun pernikahan kita.
"Wah, seru banget sayang, ok, aku akan berpartisipasi dalam rancangan pesawat jet terbarumu."
"Terimakasih sayang untuk membantuku mengembangkan perusahaanku."
Malika hanya tersenyum lalu duduk di atas pangkuan suaminya yang baru kelar makan dimsumnya.
"Sayang bagaimana kalau kita mengirim Raffi untuk jemput Aida, pasti dia akan senang."
"Setuju sayang tapi jangan sampai Aida tahu kalau Raffi menyusulnya ke sana.
"Namanya juga kejutan ya harus dirahasiakan dong."
"Oh iya benar!"
Keduanya terkekeh. Namun beda dengan tawanya Rei yang merasa lega karena kemumetanya sudah mulai berkurang.
"Sayang, aku antar kamu pulang sekalian aku dan Raffi mau meeting ke Hotel Shangrilla.
Malika menggandeng lengan suaminya kemudian keduanya meninggalkan ruangan VVIP itu. Raffi yang sudah siap menunggu pasangan itu turun. Raffi membuka pintu mobil untuk pasangan ini. Saat mobil mulai bergerak mengitari areal perusahaan, Malika dengan polosnya menceritakan tentang Aida ke Raffi.
"Raffi apakah kamu mau menyusul Aida ke Korea Selatan?
Raffi yang mendengar nama orang yang saat ini sedang memenuhi hati dan pikirannya terperanjat dan seketika menginjak rem secara mendadak, membuat Malika dan Rei terpental ke depan.
"Rafffi!" bentak Rei karena merasa kaget saat tubuh keduanya terpental.
"Maaf tuan saya spontan karena ingin tahu keadaan Aida."
"Kenapa kamu Raffi, apa kalian sedang bertengkar?"
"Ti.... tidak nyonya kami baik-baik saja, hanya saja saya sulit menghubungi Aida dan saya tidak tahu ke mana Aida pergi, jadi ketika saya dengar anda menyebut nama Aida dan dia berada di luar negeri, saya jadi kaget." ucap Raffi gugup menjelaskan kepada Malika.
"Huh!"
Kamu bikin orang mau hampir mati Raffi, belum ketemu Aida kita hampir saja celaka."
"Maafkan saya nyonya, saya janji tidak akan begini lagi dan lebih hati-hati."
"Ya untung saja masih di areal perusahaan Raffi kalau sampai di jalan raya kita bisa nabrak mobil orang atau manusia yang sedang menyeberang." ketus Malika yang kesal dengan ulah Raffi.
Rei yang mengerti perasaan Raffi memilih diam tapi antara kesal dan kasihan juga pada asistennya ini, membuatnya tidak tega mengomel Raffi.
"Untung saja pikiran buntumu itu menyelamatkanmu hari ini Raffi, kalau tidak sudah ku tonjok wajah mu karena membuat istriku hampir terluka karena ulahmu." ucap Rei membatin.
Malika sudah tidak ingin lagi berkomentar, ia ingin cepat sampai mansion. Setibanya di mansion dengan kesalnya Malika membuka pintu mobil sendiri dan membanting pintu mobil itu kasar membuat Raffi dan Rei sangat kaget.
"Aduh Raffi kenapa kamu jadi rusak acaraku siang ini sih. Tunggu di sini aku mau menyusul Malika dulu, kalau tidak dijinakkan sekarang, bisa-bisa jatahku hangus malam ini," ucap Rei kemudian turun dari mobil mengejar istrinya.
Di mobil Raffi menyenderkan badannya dan mengusap wajahnya lalu mengucapkan syukur kepada Allah.
"Alhamdulillah ya Allah engkau telah menolongku secepat ini, ampunilah aku ya Allah," ucap Rei sambil menutup wajahnya dengan sela-sela jarinya.
Rei yang sedang menyusul istrinya ke kamar mereka, ia ingin menenangkan bidadarinya ini dulu sebelum ia akan melakukan meeting. Rei membuka pintu kamar itu dan mendorongnya sedikit supaya bisa melihat apa yang sedang dilakukan istrinya. Di lihatnya ke sekeliling ruang kamar tidurnya itu tidak tampak wajah cantik Malika. Rei membuka kamar mandi juga tidak ada, lalu Rei membuka kamar gantinya ternyata Malika sedang menanggalkan bajunya. Rei mendekati istrinya,
"Sayang, maafkan sikap Raffi tadi karena sudah membuatmu kesal, mungkin hatinya sedang kangen dengan sahabatmu jadi tidak sadar menginjak rem mobilnya sampai kita terpental. Apakah kamu juga marah denganku sayang?"
Tubuh Malika kini hanya tersisa bikini yang masih menempel di tubuhnya, seketika Rei mengalikan perhatiannya karena takut tergoda kalau Malika sudah memperlihatkan miliknya yang masih terbungkus bikini didepan dirinya. Dengan wajah masih cemberut Malika memakai baju rumah yang sederhana, melihat istrinya sudah memakai baju Rei baru berani memeluk tubuh itu yang masih membelakanginya.
"Sayang aku mau meeting, apa kamu tidak ingin memberiku sesuatu," rayu Rei lagi.
Malika membalikkan tubuhnya dan memeluk suaminya. Rei membalas pelukan itu kemudian mengecup puncak kepala istrinya.
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Malika dengan wajah agak sedikit lembut.
"Senyummu sayang, aku butuh senyummu."
Malika kemudian tersenyum dan mengecup bibir suaminya.
"Berangkatlah sayang, semoga hasil rapat hari ini memuaskan."
"Terimakasih cinta, sampai nanti malam."
"Muuuaachhh"
Rei mengecup bibir Malika sesaat dan mencium kedua pipi istrinya. Malika mengambil tangan Rei, diciumnya dengan takzim lalu membalikkan tangan Rei dan mengecup telapak tangan suaminya.
"Bawalah rejeki yang halal dengan tangan ini, sisihkan rejekimu untuk orang yang sangat membutuhkan, tolaklah permintaan kline dengan cara yang tidak diridhoi Allah (sogok) kembalilah untukku tanpa membawa masalah pekerjaanmu ke rumah ini. Aku mencintaimu suamiku, jagalah hati dan matamu yang bukan merupakan hakmu dan berdoalah sebelum memulai meeting, libatkanlah Allah di setiap ikhtiarmu karena kesuksesanmu adalah ridhoNya.
Rei tiba-tiba terharu mendapatkan banyak sekali nasehat dan doa dari istrinya hari ini.
__ADS_1
"Ya Allah, sayang kamu bukan hanya indah diluar tapi lebih indah dari dalam sini, hatimu begitu luas membuatku setiap saat harus bersyukur memilikimu. Terimakasih istriku. Keduanya berciuman sesaat dan Malika mengantarkan Rei sampai depan teras dan melihat mobil suaminya bergerak sampai mobil Rei hilang dari pandangan matanya.