
Tiga bulan kemudian, setelah kembali dari Jerman, Rei kembali ke aktifitasnya, mengurus lagi perusahaan maskapai penerbangan internasional miliknya di Jakarta. Dengan asistennya Raffi keduanya nampak serius membahas apa saja yang menjadi kendala dalam maskapai mereka, entah itu penumpang pesawatnya maupun fasilitas yang mengurangi minat penumpang yang lebih melirik maskapai penerbangan lain.
Rei meminta Rapat dadakan dengan semua pihak yang terlibat dalam maskapainya. Mereka harus mengulik satu persatu yang menjadi kendala dalam tingkat pelayanan maupun kenyamanan penumpang di dalam pesawat mereka. Rapat berjalan alot, kurang adanya transparansi dalam menyampaikan suatu masalah yang selalu dikeluhkan penumpang dari karyawannya. Rei sangat geram dengan ketidaknyamanan ini. Ia sangat mencurigai orang-orang yang sedang ingin mengkhianatinya.
"Ok, rapat kita tunda minggu depan, jika diantara kalian tidak bisa menemukan letak masalahnya, kalian akan saya depak dari perusahaan ini. Kali ini ancaman saya bukan lagi gertakan tapi kali ini akan saya buktikan dihadapan kalian. Terimakasih selamat siang, silahkan kembali ke tempat kalian." ucap Rei lantang dengan tatapan matanya yang tajam menatap karyawan yang tidak becus bekerja.
Ketika Rei sedang memeriksa kembali berkas-berkas yang diberikan oleh asisten Raffi, Rei melihat banyak sekali keganjalan dari laporan lapangan. Permainan orang dalam yang ingin ditangkapnya dengan bukti yang kuat tapi bingung dengan cara seperti apa. Seketika kegusarannya mulai menemukan jawaban, ia tahu siapa yang harus menyelesaikan penyelewengan dana perusahaan dalam bentuk laporan fiktif.
"Ah, ketemu kamu sayang, kamu hadir tepat waktu dalam pikiranku yang sudah makin kusut ini." ucap Rei sambil menekan nomor istrinya di ponselnya.
Belum sempat ia melakukan nada panggilan pada nomor Malika, terdengar nada panggilan dari dokter Riyanti Adam.
"Hallo selamat pagi tuan Rei!"
"Selamat pagi dokter!" ada yang bisa saya bantu?"
"Begini tuan Rei, ada permintaan dari nyonya Andien ingin bertemu dengan nona Malika karena ada sesuatu yang ia ingin sampaikan kepada nyonya Malika."
"Ada apa lagi dengan nenek sihir itu dengan istriku?"
"Maaf tuan, kelihatannya ini penting karena nyonya Andien hidupnya tidak akan lama lagi, apa salahnya memenuhi permintaannya terakhir. Lakukan ini demi kemanusiaan tuan Rei."
"Baiklah saya akan pulang dulu, saya harus bicara ini dengan Malika baik-baik karena tidak bisa melalui ponsel."
"Baiklah tuan saya menunggu anda dan nona Malika di rumah sakit.
Rei mengakhiri percakapannya lalu ia meninggalkan ruang kerjanya menemui istrinya. Setibanya di mansion ia melihat Malika sedang bermain dengan anak-anaknya. Rei juga masuk dalam permainan itu, si kembar melihat daddynya langsung memeluk daddynya. Ezra ikut-ikutan gelayutan dipundak Rei.
"Daddy, gendong Rania!"
"Daddy, Tania juga mau digendong!"
"Ezra juga Daddy!"
Malika yang melihat suaminya dikepung anak-anaknya tertawa geli karena Rei hampir gelagapan ditindih anak-anaknya.
"Ayo sayang, anak-anak mommy, entar daddy sakit lho kalau ditindih kaya gitu."
Anak-anaknya bangkit dan kembali berlari kejar-kejaran dalam kamar mereka.
"Ayo Ezra, ajak adik kembarnya main diluar dulu ya sayang, mommy dan daddy mau ngobrol dulu.
"Iya mommy." jawab Ezra.
Mereka kemudian meninggalkan kamar orangtuanya dan main bersama oma dan opanya di taman.
"Sayang, mengapa pulang lebih awal?" tanya Malika heran pada suaminya.
"Mantan mertuamu nyonya Andien sedang sekarat sayang, ia ingin sekali bertemu denganmu, katanya ada yang ingin ia sampaikan kepadamu."
"Astagfirullah, jadi selama ini bunda sakit?" bukan meninggal setelah ia menyakiti putri kita Rania?" aku pikir dia jatuh dan langsung mati di tempat kejadian perkara saat itu juga." ucap Malika shock mengetahui kalau ibu mertuanya masih hidup.
"Maaf sayang, saat itu aku tidak ingin memberitahumu tentang keadaan nyonya Andien, dia memang jatuh, tapi bisa di selamatkan oleh team Damkar, lehernya patah dan juga kakinya, lehernya diberi penyangga sedangkan kakinya digips. Sudah setahun lebih dia tidak bisa sembuh dan keadaannya makin memprihatinkan. Jika kamu tahu tentang dia, kamu akan merasa terganggu sayang."
"Baiklah sebaiknya kita temui dia Rei, bagaimanapun juga dia tetap mertuaku, tidak ada kata mantan untuk mertua karena dia bagian dari orangtuanya almarhum mas Arie."
🌷🌷🌷
Di ruang inap pasien nyonya Andien, bukanlah pasien biasa. Nyonya Andien sebagai tersangka kasus kejahatannya yang ia lakukan kepada salah satu putri kembarnya Reinaldi dan Malika. Di luar kamarnya, ia dijaga ketat oleh dua polisi selama kurun waktu satu tahun lebih. Karena sakitnya yang parah, ia akhirnya dirawat dirumah sakit milik Reinaldi bukan rumah sakit milik almarhum putranya Arie.
Malika ditemani suaminya masuk ke kamar itu menemui nyonya Andien yang tergeletak tidak berdaya di atas brankar. Malika menyapa nyonya Andien tanpa ada rasa dendam sedikitpun diwajahnya. Dengan tegar ia menghadapi nyonya Andien.
__ADS_1
"Assalamualaikum bunda!"
"Waalaikumuslam Malika, kamu datang sayang, ucap nyonya Andien dengan nada suara yang putus-putus karena lidahnya sudah mulai kelu."
"Bunda, Malika sudah memaafkan bunda, bunda harus cepat sembuh ya." hibur Malika kepada nyonya Andien.
"Malika sayang, ada yang harus bunda sampaikan kepadamu nak, karena waktu bunda tidak lama lagi. Sebenarnya bunda sudah tahu kalau bukan kamu yang menyebabkan Arie meninggal...hiks..hiks..
"Bunda, cukup bunda, semua sudah berlalu, Malika sudah melupakan hal itu." ucap Malika lembut sambil membelai rambut ibu mertuanya."
"Malika sebenarnya, bunda tahu Ezra bukan putra Arie, dulu waktu bunda mengambil Ezra darimu, Ezra sempat dilarikan ke rumah sakit, tubuh anak itu membiru dan hampir tidak tertolong, anak itu mengalami gagal jantung. Bunda sangat ketakutan, buru-buru bunda bawa Ezra ke rumah sakit Arie, anak itu dirawat selama dua pekan, karena keadaannya kurang baik bunda membawanya ke Singapura, lagi-lagi dia hanya mendapatkan kemajuan sedikit saja, atas saran temannya bunda untuk bawa ia ke rumah sakit di negara Perancis, Ezra baru mulai membaik. Tapi dari orang kepercayaan bunda, kamu sedang melacak keberadaan Ezra, dengan liciknya, bunda meminta buat surat kematian palsu bahwa Ezra sudah meninggal. Diam-diam bunda melakukan tes DNA pada anakmu ternyata anakmu bukan cucuku, karena sudah kadung sayang pada Ezra bunda tidak ingin mengembalikan ia padamu nak,...hiks..hiks.
Berjalannya waktu, tiba-tiba kamu mengetahui keberadaan Ezra melalui Sarah sepupu suamimu, hal itu membuat bunda shock, bunda nggak terima kalau kamu merebut kembali putramu dari bunda. Kehilangan Ezra sama halnya bunda kehilangan Arie, itu sebabnya bunda nekat menculik putri kembarmu. Awalnya aku hanya ingin menakutimu, tapi melihat kamu sepertinya sangat bahagia dengan suamimu sekarang bunda makin sakit hati, dan tanpa di sangka pijakan kaki bunda tidak seimbang menyebabkan kami berdua jatuh.
"Bunda, tidak ada gunanya bunda mengakui semuanya, bunda cukup menyesali dan juga meminta ampunan Allah sebelum nyawa bunda dicabut dari raga bunda." ucap Malika yang nampak mulai kesal pada nyonya Andien.
"Bunda sangat menyesal nak, dan ada lagi yang harus kamu ketahui, ada surat untukmu Malika, surat terakhir yang ditinggalkan Arie untukmu sebelum kalian berangkat bulan madu ke Amerika. Surat itu, bunda temukan di dalam laci meja kerja Arie di rumah sakit miliknya setelah empat puluh hari kematian Arie. Tolong ambillah surat yang ada di tas milik bunda di atas meja itu sayang, lihatlah amplop putih yang tertulis namamu." pinta nyonya Andien kepada Malika.
Malika memeriksa tas hitam milik nyonya Andien, ia kemudian mengambil amplop putih yang memang benar tertuju untuknya. Tapi ketika ia ingin bicara lagi dengan nyonya Andien, ibunda dari almarhum suaminya Arie itu sudah menghembuskan nafasnya yang terakhir.
"Innalilahi wa innailaihi rojiuun." ucap Malika lalu mengusap mata nyonya Andien yang masih sedikit terbuka."
Rei memanggil suster jaga, dua orang suster beserta dokter memeriksa keadaan nyonya Andien, dan mereka mencatat waktu kematian nyonya Andien. Atas kebijakan Rei, ia meminta pihak rumah sakitnya mengurus prosesi pemakaman almarhumah nyonya Andien. Malika dan Rei mengabari orangtua mereka bahwa nyonya Andien sudah meninggal dunia. Mereka ingin mengantar jenazah nyonya Andien sampai ke peristirahatan terakhir.
🌷🌷🌷🌷
Usai pemakaman nyonya Andien, Malika masih kelihatan shock, Rei membiarkan istrinya melampiaskan kesedihannya dalam tangisannya. Malika tidak mengerti mengapa ibu mertuanya melakukan semua itu walaupun ia tahu Ezra bukan cucu kandungnya. Rei meninggalkan istrinya meratapi kesedihan atas kepergian nyonya Andien karena ia sendiri harus menyelesaikan pekerjaannya yang masih banyak permasalahan di perusahaannya.
Sepeninggalnya Rei ke perusahaannya. Malika mengambil surat yang dituliskan oleh almarhum Arie. Ia kemudian membuka surat itu dengan tangan yang gemetar. Surat itu kemudian dibacanya.
"MALIKA CINTAKU, CINTA PERTAMAKU, JIKA KAMU YANG MENEMUKAN SURAT INI, BERARTI AKU SUDAH TIDAK ADA LAGI DISAMPINGMU, TIDAK LAGI MENEMANIMU HINGGA SISA WAKTUMU.
SAYANG, MUNGKIN PERBUATANKU INI SALAH, AKU NEKAT MENIKAHIMU WALAUPUN AKU SUDAH TAHU HIDUPKU TIDAK AKAN LAMA LAGI, AKU EGOIS BUKAN?" MAAFKAN AKU SAYANG, SEBELUM KITA MENIKAH AKU SUDAH MENGETAHUI JIKA AKU MENGALAMI PENYAKIT JANTUNG KORONER, MUNGKIN BUNDAKU TIDAK MENGETAHUI INI, AKU SENGAJA TIDAK INGIN MEMBERI TAHUKAN RIWAYAT PENYAKITKU INI PADA KALIAN KARENA AKU TIDAK INGIN MATI DALAM KEADAAN SIA-SIA, AKU INGIN MATI DALAM PANGKUANMU SEBAGAI SUAMIMU, AKU INGIN HIDUPKU BERAKHIR DENGAN KEBAHAGIAAN BERSAMAMU. AKU MENCINTAIMU MALIKA, AKU TIDAK RELA KAMU BERSAMA ORANG LAIN SAAT AKU MASIH HIDUP.
MALIKA, BERSAMA DENGAN SURAT INI, SEMUA ASETKU AKAN AKU WARISKAN KEPADAMU TERMASUK RUMAH SAKIT YANG AKU MILIKI. HIDUPLAH BAHAGIA SAYANG, KARENA KAMU PANTAS MENDAPATKANNYA. SELAMAT TINGGAL ISTRIKU, TERIMAKASIH SUDAH MENCINTAIKU SAMPAI AKHIR HAYATKU.
"CINTAMU, ARIE"
Air mata Malika tumpah ruah, ia meraung sendirian di kamarnya, Malika memeluk surat itu dan membenamkan wajahnya ke bantal.
"Mas Ariee!..hiks..hiks!.. kenapa kamu tega menjadikan diriku seperti seorang pembunuh, andai saja dari awal kamu jujur, mungkin aku tidak sesakit ini masss!" aaaa!..mas Arie, mengapa kamu menghukumku, jika memang kamu sangat mencintaiku. Mengapa kamu mengikatku menjadi istrimu pada akhirnya kamu tahu aku bakalan menjadi jandamu." rantap Malika dalam kepedihannya.
Lama Malika berbicara sendiri sambil menangis dalam kamarnya. Antara marah dan iba menumpuk dihatinya. Kenangan ia bersama almarhum Arie sangat indah. Arie tidak pernah memperlihatkan jika dirinya sedang sakit hingga akhirnya Malika menerima lamaran Arie dan menikah dengan lelaki pujaannya.
"Apakah aku harus membencimu mas Arie walaupun kamu telah tiada, apakah sifat egoismu itu yang membuatmu tidak bisa menyentuhku hingga kamu meregang nyawa?" kamu sangat naif mas, kamu yang menikahiku sedangkan lelaki lain yang mengambil bagian dari hakmu, suamiku adalah lelaki itu yang telah merenggut kesucianku di hari kamu telah dimakamkan.
Takdir hidupku sangat lucu bukan?" keegoisanmu telah menempatkanku pada persimpangan jalan kehidupan yang menyedihkan, karena semua terjadi berawal dari keegoisanmu. Karena kematianmu aku dihukum oleh bundamu, putraku dirampas dan dijauhkan dariku. Apakah ini yang kamu katakan bahwa kamu mencintaiku?" kamu hanya membuatku, kelihatan bodoh sampai akhir.
Aku tidak akan mengambil aset apapun yang kamu tinggalkan untukku, aku akan menyumbangkan semua ke yayasan pendidikan untuk anak-anak yang tidak mampu. Kamu sudah meninggalkan aku dengan lelaki yang tepat, saat ini ia lebih mencintaiku dan tidak begitu buruk walaupun ia sangat posesif padaku." ucap Malika lirih.
Surat itu kembali ia rapikan dan akan ia jadikan bukti bahwa ia sebagai ahli waris, walaupun pengacara Arie sudah mengetahui hal ini, karena keegoisan nyonya Andien membuat surat warisan itu tidak bisa diserahkan kepada pemiliknya yang sah yaitu Malika sebagai istri sah almarhum Arie.
🌷🌷🌷
Sekitar tiga bulan sejak meninggalkannya nyonya Andien, Malika meminta izin suaminya untuk mengalihkan semua aset Arie untuk kepentingan yayasan pendidikan bagi anak-anak yang berprestasi tapi tidak mampu secara finansial. Rei menyetujui permintaan istrinya, ia juga ingin mengantar istrinya menemui pengacara almarhum Arie.
Semua berkas yang sudah disiapkan pengacara itu untuk ditandatangani oleh Malika. Pengacara itu melaksanakan semua perintah Malika dan laporan dari hasil penyerahan kekuasaan atas aset milik Arie untuk yayasan pendidikan dikembalikan kepada Malika.
"Sayang, mengapa kamu menyerahkan semua aset Arie untuk badan amal, bukankah dia ingin itu menjadi milikmu?" tanya Rei yang penasaran dengan tindakan istrinya.
"Aku tidak kekurangan harta selama ini bukan?" jadi untuk apa aku menjadi serakah dengan harta orang lain, yang seharusnya bisa aku amalkan untuk kepentingan orang yang lebih membutuhkan harta itu. Harta sesungguhnya adalah dimana aku sangat nyaman berada dalam kasih sayang darimu suamiku Reinaldi." ucap Malika sambil tersenyum kepada Rei, walaupun masih kelihatan getir dari senyuman itu.
__ADS_1
Rei memeluk istrinya, ia sangat bersyukur mendapatkan Malika yang menjadi obat jiwanya.
"Arie, siapapun kamu, aku sangat berterimakasih kepadamu karena sudah menjaga jodohku sampai akhir hidupmu. Takdir telah mempertemukan aku dengan Malika secepatnya, tanpa harus menghitung hari untuk mendapatkannya." ucap Rei dalam hatinya.
Walaupun semua sudah dibereskan warisan Arie untuk badan amal, Malika masih belum move on, karena isi surat Arie. Entah mengapa ia merasa hidupnya dipermainkan oleh Arie. Malika wanita yang sangat sensitif dengan hal-hal yang menyangkut dengan kehormatannya. Ia bisa berlarut-larut memendam kekecewaannya kepada orang lain. Mungkin ini adalah dendam atau sebuah perasaan yang tidak mampu ia gambarkan dengan ungkapan kata, yang jelas ia masih merasa sangat sakit, tertipu dengan seorang lelaki egois yang mengikatnya dalam janji pernikahan.
Tapi sepintar-pintarnya Malika menyembunyikan perasaannya, Rei tahu bahwa istrinya masih menyimpan kesedihannya. Ini semua berimbas pada keselarasan hubungannya dengan Malika diatas pembaringan. Malika menjadi lebih dingin, ia seolah tidak menikmati percintaan dengan suaminya. Rei seperti bercinta dengan patung hidup dan itu sangat menganggu pikirannya.
"Malika, apakah kamu masih mencintainya?" tanya Rei usai mereka melakukan hubungan suami istri.
"Mengapa tiba-tiba menanyakan itu Rei, apa ada yang menganggu pikiranmu?" tanya Malika polos pada suaminya.
"Apakah kamu tidak merasakannya bahwa aku sangat terganggu dengan keadaanmu yang masih belum move on semenjak kamu mendapatkan surat terakhir dari almarhum Arie. Kalau bukan kamu sangat mencintainya lalu ada apa denganmu?"
"Rei, bagaimana rasanya, saat kamu mengetahui orang yang kamu cintai membohongimu sampai akhir hayatnya karena ingin memiliki dirimu?" tanya Malika pada suaminya.
"Tentu saja aku sangat kecewa padanya."
"Begitulah yang aku rasakan saat ini pada almarhum mas Arie yang telah membohongiku hanya untuk memilikiku."
"Apakah ada yang berubah dengan perasaan kecewamu itu Malika setelah ia sudah meninggal?"
"Entahlah, aku hanya butuh waktu untuk memulihkan kembali perasaanku agar tidak terperosok jauh dalam lembah kesedihan. Awalnya aku sangat ketakutan dan merasa bersalah tidak memberikan haknya di malam pertama kami. Tapi setelah mengetahui keegoisannya dari surat terakhirnya untukku, disitulah aku menjadi kecewa padanya."
"Apa maksudmu sayang, aku tidak mengerti apa yang kamu katakan."
"Sebentar sayang, aku mengambil surat terakhir almarhum mas Arie."
Malika mengambil surat terakhir dari almarhum Arie untuknya, lalu ia menyerahkan kepada suaminya. Rei membaca isi surat itu yang ia pikir itu hanya surat wasiat saja bukan hal yang perlu dipermasalahkan. Setelah Rei membaca surat itu ia menatap wajah istrinya. Lalu ia mengecup lagi bibir sensual Malika.
"Sayang, apa yang membuatmu kecewa, kalau pada akhirnya kebohongannya menjadi suatu keberuntungan untukku. Ia meninggalkanmu tanpa menyentuhmu sama sekali, justru aku yang mendapatkannya walau tanpa ijinmu."
"Tapi ia telah membuat hidupku seperti dalam neraka Rei, aku dikejar rasa bersalah, belum lagi almarhum ibunya terus menyalakan aku atas kepergian putranya dan aku dicampakkan di negara orang lain. Dan ditemukan olehmu dalam keadaan pingsan.
Kamu memanfaatkan keadaanku yang tidak berdaya saat itu. Ini semua mengembalikan aku kepada kenyataan pahit atau mimpi buruk yang ingin aku lupakan.
Jiwaku sakit Rei mendapatkan perlakuan kalian berdua yang tidak sesuai dengan keinginanku, kalau aku bisa memutar waktu kembali, aku ingin diperlakukan layaknya seorang wanita terhormat, apakah kamu sulit mengerti perasaanku yang telah kamu hancurkan harga diriku, dan untuk mantan suamiku saja tidak sama sekali menyentuhku bahkan bibirku tidak pernah diciumnya setelah kami menikah baru ia berani menyetuhku.
Tidakkah kau tahu betapa aku sangat menghargai tubuhku, aku ingin menyerahkannya dalam momen berharga yaitu ikatan halal bukan ikatan yang hanya mengutamakan syahwat demi alasan apapun." hardik Malika dengan kata-kata kasar membuat Rei seketika terpekik.
"Malikaa!" cukup!"
"Jika kamu menyesali semua yang telah terjadi antara kita berdua, baiklah, mungkin kamu ingin membebaskan diri dariku silahkan, kamu bisa mengajukan gugatan cerai padaku, kalau itu bisa menghentikan sakit hatimu dan juga membuat dirimu puas, pergilah dari sini dan jangan pernah membawa anak-anakku bersamamu."
"Kamu ingin mengusirku dari rumahmu Rei?" teriak Malika pada suaminya.
"Jika bisa, aku juga ingin mengusir mu dari hidupku bahkan hatiku, bukankah itu yang kamu inginkan sayang?" sungut Rei kesal kepada istrinya.
Setelah itu Rei meninggalkan istrinya berlalu ke kamar mandi, ia ingin membersihkan dirinya. Di kamar mandi Rei hanya menangis karena telah berkata-kata kasar pada istrinya, ia menjadi tidak sabaran kepada Malika, jauh berbeda ketika ia belum menikahi istrinya itu.
"Ya Allah ke mana kesabaranku selama ini untuk istriku, mengapa aku jadi sangat kasar padanya hari ini."
Sekitar 20 menit Rei ada di dalam kamar mandi untuk mendinginkan kepalanya yang terasa panas. setelah membersihkan diri, ia kemudian berwudhu untuk melakukan sholat malam. Ketika ia keluar dari kamar mandi ia melihat tempat tidurnya sudah kosong, ia memeriksa di kamar ganti tetap saja tidak ada istrinya. Rei segera keluar dari kamarnya dan mencari di sekitar mansion, semua ruangan telah ia cari tetap saja Rei tidak menemukan istrinya. Rei mulai panik, ia berlari keluar, tapi ia berpapasan dengan satpam mansion.
"Tuan, apakah anda sedang mencari nyonya muda?"
"Iya, apakah kamu melihatnya?"
"Saya melihat nyonya muda keluar membawa mobil hitam miliknya dan meninggalkan tempat ini."
"Terimakasih!" ucap Rei singkat tanpa menjelaskan kepada satpam mansionnya.
__ADS_1
"Ya Allah Malika mengapa cepat sekali kamu pergi padahal aku hanya sedang marah padamu bukan benar-benar mengusirmu sayang." ucap Rei menyesali perkataannya tadi pada istrinya.