
Malika sudah dipindahkan ke ruang perawatan VVIP, sudah tiga hari Malika belum sadar karena pengaruh obat penenang, namun babynya sudah mulai banyak perkembangan kesehatannya. Rena nampak senang melihat tuan babynya sudah mulai menggerakkan badannya terkadang tersenyum sendiri saat tidur, membuat Rena gemas dengan tingkah baby Ezra. Baby Ezra sengaja di satukan dengan ibunya supaya memudahkan Rena menjaganya.
"Hai tampan, kamu sudah sembuh ya sayang, doain bunda supaya cepat sembuh ya."
Tidak lama pintu dibuka seseorang tampaklah dokter Endra dan dua suster masuk ke ruang perawatan Malika.
"Selamat pagi bu!"
"Selamat pagi dokter!"
"Saya permisi mau lihat baby."
"Silahkan dokter!"
Rena memberikan ruang kepada dokter Endra yang sedang menghampiri baby Ezra. Dokter nampak tersenyum melihat baby membuka mata mungilnya dengan bibir sedikit monyong mengeluarkan sedikit lidahnya seakan sedang mencari sesuatu. Dokter Endra mendekatkan jari telunjuknya ke pipi baby,
"Oh kamu pingin n**en ya sayang, sebentar ya.
Dokter Endra melihat ke arah Rena, Rena yang mengerti kode dari dokter langsung mengambil susu botol yang sudah disiapkannya. Dokter Endra menggendong baby Ezra dengan sangat telaten kemudian memberikan susu formula itu ke mulut baby. Baby Ezra mengisapnya dengan sangat cepat karena kehausan.
"Eh, jagoan dady, minumnya pelan-pelan sayang nanti tersedak."
Rena dan dua orang suster heran dengan mulut setengah terbuka lalu saling menatap setelah mendengarkan ucapan dokter Endra pada babynya Malika.
"Ehm! sepertinya ada yang lagi jatuh cinta," singgung Rena pada dokter Endra.
"Kalau punya kesempatan kenapa tidak diambil iya kan sayang," balas dokter Endra sambil tersenyum pada baby Ezra.
Selang berapa waktu dokter Endra meletakkan lagi baby ke dalam pembaringan tempat tidur khusus bayi yang tersedia di rumah sakit itu. Baru saja menyelesaikan tugasnya terdengar pintu ruang kamar itu kembali terbuka, kali ini yang datang ibu mertua Malika beserta dokter kandungan yang merawat Malika.
"Selamat pagi dokter!"
"Selamat pagi nyonya!"
"Bagaimana perkembangan kesehatan cucu saya dokter, apakah saya bisa membawanya pulang tanpa ibunya?.
"Silahkan nyonya, justru itu lebih baik, suasana rumah lebih baik dari pada rumah sakit."
"Berarti kehadiran ibunya tidak begitu pentingkan dok?"
"Sangat penting nyonya, ikatan ibu dan anak tidak akan terlepas sampai kapanpun," ujar dokter Ana yang merupakan dokter kandungan yang merawat Malika.
Dokter Ana sangat kesal dengan ucapan sinis yang dilontarkan nyonya Andien barusan, walaupun hatinya tidak terima perlakuan keluarga pasien namun dia tetap profesional dalam menyikapi setiap tindakan keluarga pasien karena itu bagian dari profesional kinerjanya sebagai seorang dokter yang sudah mengambil sumpah.
"Maaf nyonya apa tidak sebaiknya kita tunggu nona muda siuman, kasihan nona muda kalau siuman tidak melihat babynya." pinta Rena mengiba pada ibu mertua Malika.
"Bukankah kamu tadi dengar sendiri penjelasan dokter Endra tentang kesehatan cucuku yang tidak baik kalau terlalu lama di rumah sakit."
__ADS_1
Dokter Endra yang tidak terlalu paham hubungan Malika dan mertuanya hanya memberikan ketegasannya pada keluarga pasien.
"Tidak apa nyonya silahkan anda membawa cucu anda pulang."
Nyonya Andien menatap Rena dengan senyum kemenangan. Setelah tidak ada urusan dokter Endra pamit meninggalkan ruang kamar Malika.
"Permisi nyonya saya pamit kembali ke tugas saya mengontrol pasien lainnya."
"Terimakasih dokter!"
Jawab Rena dan nyonya Andien bersamaan sambil setengah membungkukkan badan mereka menghormati dokter Endra. Sepeninggalnya dokter Endra dari ruang kamar Malika nyonya Andien menyerukan perintahnya pada Rena, meminta pelayan itu mempersiapkan baby Ezra dan koper pakaian baby untuk di bawa pulang ke mansionnya.
"Rena, persiapkan baby Ezra dan keperluannya, saya mau mengurus administrasinya."
"Maaf nyonya, administrasi untuk tuan baby dan nona muda sudah deposit sebelumnya, jadi nyonya cukup membawa pulang tuan baby saja."
"Baguslah, berarti saya tidak perlu repot mengurusnya lagi, berikan cucuku dan kamu antarkan koper baby ke mobilku."
"Maaf nyonya saya tidak ingin meninggalkan nona muda, saya kuatir nona muda siuman lalu mencari saya."
"Kamu ini mau melawan perintah saya!, pembantu nggak tahu diri!, kamu saya pecat!!"
"Maaf nyonya saya bekerja di rumah keluarga tuan Daniel dan saya hanya menjalankan perintah nona muda dan urusan pemecatan itu haknya nona muda Malika karena saya digaji oleh keluarganya bukan nyonya Andien."
"Kau!, berani sekali menghardikku, awas kamu ya setelah menantuku sadar, aku akan memintanya untuk menendangmu pergi mencari tempat lain untuk bekerja," ancam nyonya Andien sambil membawa baby dalam gendongannya dan menarik koper milik cucunya.
"Nona muda kumohon cepat bangun, putramu sudah dibawa oleh nenek sihir itu," ucap Rena yang duduk di samping brankar Malika dengan mata sudah berkaca-kaca."
🌷🌷🌷
Di depan lift nyonya Andien bersama seorang pria yang ingin memasuki lift, pria tampan itu memencet duluan pintu lift karena melihat nyonya Andien yang kerepotan membawa bayi dan koper. Tidak lama pintu lift terbuka dan mereka memasuki lift, pria itu kembali menutup lift dan bertanya pada nyonya Andien tujuannya ke lantai berapa supaya pria itu membantunya memencet angka yang tertera di dinding lift. Ketika lift turun ponsel nyonya Andien berdering karena kesulitan mengambil ponselnya didalam tasnya nyonya Andien meminta tolong pada pria didepannya.
"Maaf tuan bolehkah saya meminta tolong menggendong cucuku sebentar karena aku ingin menerima panggilan telepon," pinta nyonya Andien pada pria tampan tersebut.
"Dengan senang hati nyonya, berikan padaku cucumu," kata Pria tampan itu pada nyonya Andien sambil mengambil bayi yang ada dalam gendongan wanita paruh baya tersebut.
Nyonya Andien mengambil ponsel nya kemudian menjawab telepon dari seseorang. Pria itu sibuk menatap wajah bayi yang ada dalam gendongannya, lama juga pria itu menatap wajah bayi Malika dan hatinya bergetar melihat wajah itu persis seperti dirinya. Pria itu adalah Reinaldi pemilik rumah sakit dimana baby Ezra dirawat bersama ibunya. Baby Ezra membuka matanya dan menatap Rei seakan mengenali itu ayah kandungnya. Rei mengajak bayi itu ngobrol, mengajaknya bercanda, tidak diduga bayi itu tersenyum pada Rei, jantung Rei makin bergetar merasakan ada kedekatan dia dengan bayi ini. Pintu lift terbuka mereka sudah sampai pada lantai bawah arah parkir. Nyonya Andien menutup teleponnya dan meminta kembali cucunya pada Rei.
"Maaf tuan, berikan cucuku kami ingin pulang, sopirku sudah menjemputku," kata nyonya Andien pada Rei sambil mengambil cucunya dalam gendongan Rei.
Ketika Rei menyerahkan bayi itu pada nyonya Andien seketika bayi itu menangis kencang, nyonya Andien mencoba menimang-nimang cucunya supaya tangisan cucunya berhenti namun sayang tangis bayinya makin menjadi. Rei yang masih berada di situ merasa ada yang hilang saat bayi itu diserahkan lagi ke tangan neneknya apa lagi mendengar tangisan bayinya membuat hatinya merasakan sesuatu yang menghimpit dadanya entah apa yang dirasakan Rei dengan memberanikan diri Rei meminta bayi Malika lagi.
"Maaf nyonya, bolehkah saya membantu nyonya mendiamkannya?"
"Hah!, anda hanya orang asing mana mungkin cucuku akan diam jika bersamamu," kata nyonya Andien sinis pada Rei.
"Apa salahnya mencoba nyonya dari pada anda jadi tontonan orang dikiranya orang anda adalah penculik bayi apa lagi orang tua bayi ini tidak bersamanya nyonya."
__ADS_1
Nyonya Andien berpikir sesaat membenarkan perkataan pria tampan itu lalu dengan berat hati nyonya Andien kembali menyerahkan cucunya dalam gendongan Rei, seketika bayi itu langsung diam dan tidak menangis lagi. Nyonya Andien sangat heran atas perubahan suasana hati cucunya yang begitu mudah tenang dalam dekapan pria asing yang baru ditemuinya.
"Astaga kenapa keduanya nampak akrab?, ada apa dengan pria ini sampai cucuku lebih senang dalam gendongannya dari pada aku neneknya, perasaan tadi belum ketemu orang ini semuanya tampak biasa saja kenapa setelah minta tolong sesaat saja pada pria ini malah jadi aneh sikap cucuku," gumam nyonya Andien dalam hatinya sambil berpikir tentang pria tersebut.
"Maaf tuan apakah anda karyawan rumah sakit ini?"
"Saya pemilik rumah sakit ini nyonya," ucap Rei tanpa ada keangkuhan dalam perkataannya hanya untuk meyakinkan keluarga pasien.
"Mengapa bayi ini dibawa pulang nyonya dan ke mana orangtuanya," tanya Rei yang sangat penasaran dengan orangtua si baby.
"Oh itu....
Kata-kata nyonya Andien terhenti ketika sopir pribadinya menghentikan mobil tepat di depan nyonya Andien dan Rei. Nyonya Andien buru-buru pamit kepada Rei dan meminta cucunya kembali namun Rei meminta nyonya Andien masuk ke mobil duluan supaya Rei mudah menyerahkan bayi yang masih dalam gendongannya kepangkuan neneknya. Nyonya Andien mengikuti permintaan Rei, mertua Malika menghenyakkan tubuhnya lalu membuka tangannya meraih cucunya dari tangan Rei tapi Rei memohon pada nyonya Andien untuk mengizinkan mencium bayi yang sudah mencuri hatinya dalam waktu singkat.
"Nyonya bolehkah aku mencium cucumu?"
"Silahkan tuan!
Apakah anda belum menikah!"
Rei hanya mencium bayi tersebut dan menyerahkan bayi itu ke tangan nyonya Andien sambil tersenyum tanpa menjawab pertanyaan nyonya Andien mengenai kehidupan pribadinya.
"Selamat jalan baby semoga kita bisa bertemu lagi," ucap Rei lalu menutup pintu mobil milik nyonya Andien.
Kaca mobil belakang terbuka, nyonya Andien mengucapkan terimakasih kepada Rei yang tidak menyadari bahwa bayi yang dianggap cucunya milik lelaki tampan yang barusan bertemunya di depan pintu lift rumah sakit.
Mobil mewah itu berlalu pergi meninggalkan Rei yang masih berdiri mematung menatap mobil itu pergi. Entah mengapa hatinya sangat sedih setelah mobil itu makin menjauh membawa baby yang sempat digendongnya.
🌷🌷🌷
Di lantai tiga rumah sakit di mana kamar VVIP yang ditempati Malika terjadi kekacauan. Malika yang mulai siuman mengerjapkan matanya sambil mencari sosok Rena kepala pelayannya. Rena yang menyadari nona mudanya sudah sadar tersenyum senang tapi dirinya terhentak saat Malika menanyakan keberadaan babynya.
"Alhamdulillah nona muda sudah siuman, apa nyonya sudah baikan atau nyonya mau minum?," tawar Rena kepada Malika yang masih menatap ke arah tempat tidur bayi.
"Bibi di mana putraku?"
"Maaf nona muda, tuan baby di bawa pulang duluan oleh nyonya Andien karena tuan baby sudah sembuh dan dokter Endra mengizinkan tuan baby boleh dibawa pulang oleh nyonya Andien," jelas Malika yang sudah panas dingin tubuhnya menatap Malika yang tampak shock mengetahui keberadaan putranya.
"Apa!!
"Kenapa dokter Endra seenaknya aja mengizinkan babyku dibawa mertuaku, apa hak dokter itu dengan urusan hidup pasien.
Aku harus bertemu dengan dokter itu segera, panggilkan dokter itu bibi!!," bentak Malika yang sudah sangat gusar pada dokter Endra.
"Baik nona muda, tolong anda tenang karena baru pulih saya akan memanggilkan dokter Endra sekarang juga."
Pikiran Malika makin kacau memikirkan reaksi nyonya Andien jika mengetahui bayinya bukan cucu kandungnya.
__ADS_1
"Ya Allah, tolong aku, lindungi putraku, tutuplah aibku, kasihanilah kami, karena ini bukan mauku melahirkan bayi yang bukan darah daging suamiku," pinta Malika menghantarkan doa dengan berkata lirih pada Tuhan-nya Allah SWT.