
Waktu sepekan untuk cutinya telah berakhir, Raffi dan Aida bersiap untuk kembali ke tanah air. Pesawat jet milik bosnya sudah menanti mereka di bandara. Aida sangat senang dengan momen ini, baru kali ini ia menumpangi jet pribadi bersama sang kekasih yang sebelumnya ia selalu mendampingi Malika berpergian ke luar negeri maupun ke luar kota menggunakan jet pribadi milik tuan Daniel.
Raffi memperlakukan ratunya selembut mungkin, Aida berjalan melangkah naik ke tangga pesawat bak putri dongeng yang sedang di manjakan pangerannya. Setelah berada di dalam pesawat, Raffi meminta pramugari untuk menyiapkan minuman dan camilan untuk mereka. Aida mengamati interaksi Raffi dengan pramugari itu yang sepertinya sangat akrab dengan Raffi.
"Uhuk!..uhukk!"
Aida pura-pura batuk, hingga membuat Raffi membalikkan wajahnya.
"Kenapa sayang?"
"Tenggorokanku agak sakit sayang, boleh aku minta air mbak."
Pramugari cantik itu mengambil botol air mineral menyerahkannya pada Aida. Aida memberikannya pada Raffi untuk membuka tutup botol air mineral tersebut.
"Tolong bukakan tutupnya sayang," ucap Aida dengan suara yang mendayu-dayu manja di hadapan Raffi untuk membuat pramugari itu kesal.
Ternyata benar dugaan Aida, dari gestur tubuh pramugari yang bernama Ana itu tiba-tiba cemberut.
"Dasar cewek gatal, milik orang main embat aja," ucapnya membatin.
Raffi baru menyadari bahwa Aida sedang cemburu padanya. Melihat Aida yang terus memperhatikan wajah pramugari itu, Raffi memalingkan wajah gadisnya dengan dua tangannya untuk menatapnya.
"Apa kamu sedang cemburu sayang?"
"Apakah kamu selalu berpergian dengannya Raffi saat kamu bertugas mendampingi tuan Rei?"
"Tidak selalu sayang karena mereka selalu rolling shif."
"Adakah diantara mereka yang kamu sukai?"
"Aku hanya jatuh cinta sekali itupun hanya padamu Aida. Kecantikan wanita tidak selamanya bisa menaklukkan hati pria."
"Mengapa kamu tidak mencobanya Raffi, mungkin kamu bisa belajar mencintai mereka seiring berjalannya waktu."
"Jika iya, sudah dari dulu aku mengambil salah satu dari mereka untuk aku jadikan istri. Cintaku hanya kamu Aida tolong, jangan terus menyudutkanku sayang.
"Maafkan aku Raffi, ku mohon lain kali jangan biarkan aku melihatnya lagi saat aku bersamamu."
"Baiklah sayang aku janji akan memindahkannya ke pesawat komersil milik perusahaan tuan Rei."
Raffi mengajak Aida ke kamar pribadi yang ada di dalam pesawat itu. Raffi ingin menyampaikan keinginannya pada Aida.
"Sayang, jika kita sudah tiba di Indonesia, kita harus segera mengurus perlengkapan dokumen pribadi sebagai persyaratan untuk menikah. Aku ingin menikah secepatnya denganmu sayang dan satu hal lagi aku saat ini sedang membawa sesuatu untukmu.
"Apa sayang?"
"Test pack!"
"Sekarang kamu ke kamar mandi dan bawa cup ini sebagai wadah air seni milikmu."
"Ya ampun, mana mungkin aku hamil secepat ini sayang."
"Lakukan apa yang ku pinta Aida dan jangan protes!, kamu paham sayang?"
Aida mengambil testpack yang ada di tangan Raffi, dengan sedikit malas ia menuju ke kamar mandi lalu melakukan apa yang dipinta kekasihnya. Ia mengikuti petunjuk yang tertera dalam bungkusan testpack itu. Ditunggunya sekitar lima menit dan ia mengambil lagi kotak putih itu, betapa terkejutnya Aida, kalau dirinya benar-benar dalam keadaan hamil.
"Astaga!" ini tidak mungkin, ya Allah bagaimana ini. apakah aku harus senang atau sedih?
"Aida!" ketukan pintu dan panggilan Raffi menyadarkan lamunannya.
Ia keluar dengan wajah tertekuk tidak berani menatap wajah Raffi.
"Mana sayang?, apa hasilnya," tanya Raffi dengan ekspresi riang.
Aida menyerahkan testpack itu ke tangan Raffi dan Raffi segera melihatnya.
"Alhamdulillah kamu hamil sayang, berarti kita harus segera menikah sebelum perutmu kelihatan membuncit. Terimakasih Aida, aku mengikatmu dengan anak kita, muuuaachhh."
"Tolong jangan menyentuhku lagi Raffi sampai kamu benar-benar menikahiku."
"Iya sayang, aku akan melakukan apa yang kamu pinta, dan mulai sekarang kita harus menjaga buah cinta kita ini. Beritahu aku, apa saja keinginanmu aku akan turuti."
"Cukup luangkan lebih banyak waktu untuk kami Raffi, aku dan calon bayimu."
"Insya Allah sayang, aku akan mengurangi kesibukanku, nanti aku akan atur kembali jadwal tugasku supaya aku bisa bersama dengan kalian."
"Janji!"
"Janji sayang."
Keduanya berpelukan dengan mesra, Raffi mengecup bibi Aida lembut tanpa melibatkan lagi birahinya. Ia hanya memberikan kasih sayang pada Aida, calon istrinya dan calon ibu untuk anaknya yang saat sedang hamil.
"Terimakasih Aida, sudah mau membuka hatimu untukku."
"Aku yang harus berterimakasih Raffi, sudah mau menerima keadaanku."
"Cukup sayang, jangan menguak lagi lukamu yang baru aku obati, jangan libatkan masa lalumu dalam obrolan kita."
"Aku akan mengingatnya sayang apa yang menjadi keinginanmu."
"Doakan aku selalu sehat Aida untuk bisa memberikan kehidupan yang layak untukmu dan anak kita."
🌷🌷🌷🌷
Dalam waktu dua jam pesawat jet sudah mendarat sempurna di bandara milik pribadi Rei. Raffi yang turun lebih dulu sebelum Aida. Rupanya kepulangan mereka di sambut oleh hujan deras. Pramugari memberikan payung pada Raffi, tapi payung itu direbut oleh Aida sebelum sampai ke tangan Raffi.
Raffi hanya menahan tawanya melihat tingkah Aida yang sangat posesif terhadap dirinya.
"Pelan-pelan sayang, turunnya. Tangganya agak licin."
Keduanya sudah turun dan dibawah payung, keduanya mempercepat langkah mereka menuju tempat parkir mobil yang sengaja ditinggalkan Raffi dekat hanggar pesawat. Mobil langsung di nyalakan Raffi dari jauh.
"Sayang tunggu di sini aku ambil mobi dulu, biar kamu tidak usah lari-lari ditengah hujan karena jalan sedikit licin."
Aida mencari tempat berteduh yang sedikit menjauh dari percikan air hujan sambil melihat Raffi yang sedang berjalan di tempat parkir mobil. Raffi sudah berada di dalam mobil siap menjemput Aida.
Keduanya sudah berada dalam mobil dengan baju yang sedikit basah. Raffi mengambil jasnya yang slalu di gantung di dalam mobil, ia menutup tubuh Aida dengan jasnya. Mobil itu mulai bergerak meninggalkan bandara.
"Sayang, kamu tinggal apartemenku ya. Jangan kembali ke kos karena kondisimu dalam keadaan hamil muda. Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu sayang."
"Jangan terlalu posesif begitu Raffi, wanita hamil itu bukan orang yang lagi sakit, biasa aja deh."
"Turuti kata-kataku sayang!"
"Iya cintaku... ihh," ucap Aida sambil memencet hidung Rei gemas."
"Sayang, aku lagi nyetir, nanti kita bisa kecelakaan sayang."
"Kamu sudah mencelakai aku ko, nih buktinya." ucap Aida sambil menunjukkan perutnya yang masih rata."
Raffi terkekeh mendengar ucapan Aida yang meledak dirinya. Di remasnya paha Aida sedikit kencang.
"Aauu!" pekik Aida manja."
"Sayang jangan teriak manja gitu, adikku langsung bangun nih," goda Raffi, dengan memainkan kedua alisnya.
"Ihh, kamunya aja yang baper, aku biasa aja tuh."
Jalanan sedikit macet karena ada air yang tergenang di beberapa titik membuat kendaraan bergerak sedikit lebih pelan. Raffi melihat Aida sedang memperhatikan tukang nasi goreng yang ada di pinggir jalan sedang melayani para pelanggannya.
"Kita makan yuk sayang, kelihatan nasi gorengnya enak tuh," ajak Raffi yang sengaja menawarkan makanan yang dijual di pinggir jalan."
"Emang kamu suka makan dipinggir jalan Raffi?"
"Sesekali aja sayang kalau lagi pingin aja."
"Baiklah, kamu tahu aja kalau aku lagi kepingin makan nasi goreng."
"Tapi makannya di apartemen aja ya sayang, daripada disitu terlalu ramai."
"Keburu dingin Raffi kalau nunggu sampai Apartemen kamu."
"Ok, aku menepi mobilnya dulu ya."
Dengan di bantu tukang parkir, mobil Raffi di arahkan untuk mengikuti barisan mobil lainnya. Tukang parkir mendekati Raffi melindungi lelaki itu dari hujan yang masih rintik.
"Permisi tuan, saya akan antarkan tuan ke tempat nasi goreng."
"Terimakasih pak, saya punya payung sendiri."
Tukang parkir itu hanya mengangguk hormat lalu ia mulai membantu lagi mobil lain yang ikut parkir di samping mobil Raffi. Raffi membuka pintu mobil untuk Aida, dan keduanya mencari tempat di bawah tenda nasi goreng. Keduanya duduk sembari melihat menu nasi goreng.
"Kamu mau makan nasi goreng rasa apa sayang," tanya Aida kemudian.
"Aku ikut kamu aja sayang."
Aida memanggil salah satu pelayan memesan dua nasi goreng seafood dan dua botol air mineral.
Pelayan itu mencatat pesanan keduanya lalu mengantarkan ke koki nasi gorengnya. Tidak lama pesanan mereka datang, Raffi menyingkirkan beberapa perlengkapan yang tersedia di atas meja, memberi ruang pada pelayan itu untuk memudahkan ia meletakkan piring yang sudah berisi nasi goreng seafood. Aida begitu girang, karena makanan kesukaannya sudah datang.
"Apakah kamu sangat suka dengan nasi goreng sayang?"
"Iya Raffi, dari dulu aku senang makan nasi goreng khususnya nasi goreng seafood."
"Ayo kita makan sayang mumpung masih hangat."
Keduanya menyantap makan malam mereka dengan lahap sebelum sampai ke Apartemen Raffi. Aida yang belum pernah ke apartemen Raffi tidak paham arah mana yang akan di lalui Raffi. Sambil mengunyah nasi gorengnya Aida menanyakan tempat tinggal Raffi.
"Raffi, apakah apartemenmu masih jauh dari sini sayang?"
"Sedikit lagi sampai sayang, biasanya cepat sampai kalau dari bandara, ini karena hujan saja jadi jalanan kendaraan jadi tersendat."
__ADS_1
Aida mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka kemudian menghabiskan makanannya dan segera kembali ke mobil. Mobil Raffi kembali bergerak di bantu oleh abang tukang parkir, Raffi memberikannya tip yang lumayan besar. Melihat uang yang diberikan Raffi tukang parkir itu langsung mengangkat kedua tangannya ke atas untuk mengucapkan rasa syukurnya kepada Allah dan tidak lupa mendoakan keselamatan Raffi dan Aida.
"Hati-hati tuan dan nyonya, terimakasih." ucap abang parkir itu.
🌷🌷🌷
Setibanya mereka di apartemen, Raffi memasukkan dua kopernya ke dalam kamarnya. Aida merasa heran karena Raffi tidak memberitahukan kamar yang akan di tempatinya malah kamar utama milik Raffi.
"Raffi di mana kamar milikku?"
"Kamu tetap tidur di sini bersamaku dan kita tidak akan melakukan hubungan intim sampai kita menikah. Aku sudah terbiasa dengan harum tubuhmu jadi biarkan aku tetap tidur bersamamu."
Aida menghela nafas panjang, ia merasa curiga dengan kelakuan Raffi yang tidak mau menjaga jarak dengannya. Dari pada berdebat mending tidur, itu yang dipikirkannya. Pasti ujung-ujungnya bercinta. Aida pasrah, ia masuk ke kamar mandi ingin membersihkan tubuhnya sedangkan Raffi membuatkan susu cokelat hangat mereka berdua. Setelah mandi Aida merasakan tubuhnya sangat segar, ia yang sudah memakai kimono langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur milik Raffi. Apartemen Raffi tergolong mewah. Gajinya sebagai asisten Rei membuatnya mengumpulkan banyak pundi-pundi yang digunakannya untuk membeli semua kebutuhannya. Semua yang ia miliki hampir setara dengan milik Rei hanya saja ia belum bisa mewujudkan sebuah rumah mewah karena dirinya yang masih singel.
"Aida, minum dulu susumu sayang, jangan tidur dulu supaya badanmu hangat.
"Aku sudah ngantuk Raffi," ucap Aida setengah mengantuk.
"Ayo, aku bantu kamu minum susunya."
Raffi mengangkat tubuh Aida setengah duduk dan membantu mendekatkan gelas susu ke mulut Aida. Aida hanya meneguknya setengah saja lalu memilih kembali tidur. Raffi meletakkan gelas di sisi tempat tidur di atas meja kemudian menarik selimut menutupi tubuh Aida yang sudah pulas. Raffi mengecup bibir kenyal Aida lalu tersenyum.
"Selamat datang di rumahmu nyonya Raffi, aku sangat mencintaimu.. selamat tidur sayang, semoga kita bertemu dalam mimpi."
Raffi memeluk Kekasihnya dan ikut
terlelap dalam mimpi yang indah yang telah menanti mereka untuk merenda hari esok.
🌷🌷🌷🌷
Seperti biasa jam tujuh pagi Raffi sudah menjemput Bosnya Rei. Tuan Romi yang sedang berolahraga di taman menghampiri Raffi.
"Selamat pagi tuan!"
"Selamat pagi Raffi!" kapan kamu pulang?
"Semalam tuan!"
"Sudah merencanakan untuk menikah."
"Sudah tuan, insya Allah minggu depan."
"Bagus!" itu baru gentleman. Persiapkan dengan matang termasuk stamina harus strong!" ucap tuan Romi menyemangati Raffi yang lebih tampak segar setelah bertemu Aida.
"Selamat pagi Raffi, apa kamu sudah bertemu Aida sapa Malika yang mengantar suaminya sampai ke muka pintu."
Rei yang melihat perubahan sikap dari Raffi hanya mengulum senyum lalu menyalami sahabatnya sekaligus asistennya itu.
"Bagaimana Raffi, apa semua sesuai rencana?"
"Sudah bos."
"Nah gitu dong."
"Raffi apakah Aida sedang berada di kostnya?"
"eeeh..itu nyonya ehhm!"
"Kenapa?, tanya Malika seraya mengedikkan pundaknya dengan dua tangan yang diangkat setengah sejajar siku.
Apa kamu sedang menyembunyikan Aida di apartemenmu Raffi?"
Raffi menelan salivanya, betapa bingung ia menjelaskan kepada Malika dan memberikan sedikit pengertian tentang keadaannya karena Malika termasuk wanita yang begitu kuat memegang prinsip.
"Kamu kenapa Raffi, ko sangat mencurigakan begitu!"
Dilihat dari gelagatnya Rei mengerti bahwa asistennya ini sedang menyembunyikan sesuatu. Dengan cepat ia mengalihkan perhatian istrinya supaya tidak lagi memberondong Raffi dengan berbagai pertanyaan.
"Raffi, aku ada janji dengan klien pagi ini, bisa kita lebih awal berangkatnya."
"Siap tuan!"
Raffi buru-buru membukakan pintu mobil untuk Rei kemudian ia masuk dan menutup pintu mobilnya.
"Kenapa kamu Raffi begitu ketakutan melihat istriku?
"Aida hamil tuan, aku memintanya untuk tinggal di apartemenku."
"Kenapa kamu tidak mengantar dia ke keluarganya Raffi, kenapa kamu malah membawanya ke apartemen mu sedangkan kalian belum menikah."
"Sekarang saya harus bagaimana tuan?"
"Jika kamu sangat mencintainya, kamu antar dia pulang, nanti orangtuaku yang akan menemanimu melamar Aida.
"Aku ingin secepatnya tuan menikahinya tanpa harus banyak. persiapan acara pernikahan mengikuti prosesi yang membosankan."
"Baiklah kalau kamu ingin secepatnya, ayo kita ke Bogor ke rumah orangtuanya, biar kita bisa langsung ke inti permasalahannya."
"Tapi tuan saya tidak mau keluarganya tahu kalau Aida sudah hamil duluan."
"Terimakasih tuan, jadi sekarang kita jadi ke Bogor tuan?"
"Iya lebih cepat lebih baik."
🌷🌷🌷
Kendaraan mewah itu kembali beralih ke arah jalan tol menuju kota Bogor, Rei segera menghubungi Malika menanyakan alamat orang tua Aida di Bogor.
"Hallo sayang!"
"Hallo daddy!"
"Sayang, apa aku boleh minta alamat rumah Aida."
"Kenapa Raffi tidak meminta sendiri pada Aida?"
"Ini kejutan untuk Aida sayang, please!"
"Baiklah nanti aku kirim alamatnya."
"Terimakasih cantik, muuacch!"
Sambungan ponsel dimatikan dan pesan dari Malika sudah diterima oleh Rei. Rei mengarahkan Raffi ke alamat yang akan mereka tuju. Perjalanan lebih cepat memasuki kota Bogor, karena Aida tinggal di kotanya, maka alamatnya mudah ditemukan.
"Itu alamatnya Raffi, no 21sesuai dengan alamat yang dikirim oleh istriku." ucap Rei sambil menunjuk salah satu pagar rumah yang tertulis angka 21.
"Ok, kita turun Raffi."
Keduanya melangkah mendekati pintu gerbang yang ada tombol bel rumah. Raffi memencet bel yang tersedia di pagar tersebut. Setelah beberapa kali dipencet, baru ada seorang pelayan yang keluar dari dalam rumah.
"Assalamualaikum bibi, maaf apa benar ini rumahnya bapak Abdul Muid."
"Waalaikumuslam tuan!"
"Benar tuan, maaf saya bicara dengan tuan siapa?" tanya pelayan itu yang tidak mau membukakan pintu pagarnya terdahulu."
"Saya Raffi, teman dekat nona Aida, ingin bertemu dengan pak Muid."
"Oh, silahkan masuk tuan!" ucap pelayan itu sambil mendorong pintu pagar yang di buka untuk Raffi dan Rei.
Pelayan itu kembali ke dalam menemui orangtua Aida menyampaikan jika ada tamu untuk mereka.
Dari dalam rumah, ibunya Aida keluar melihat tamu yang sedang berkunjung ke rumahnya. Ibu Aida tersenyum ramah.
"Silahkan duduk nak!"
Tidak lama, pak Muid juga keluar menemui tamunya yang sudah duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Pak Muid dan istrinya menatap wajah tampan kedua tamunya ini sedangkan ibunya Aida mengingat-ingat wajah yang pernah iya kenal sebelumnya.
"Mohon maaf, kalau tidak salah apakah anda suaminya neng Malika?" tanya ibunya Aida pada Rei yang sedang mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang tamu.
"Benar bu, perkenalkan nama saya Rei suami Malika, sahabat sekaligus bosnya Aida dan ini sahabat saya sekaligus asisten saya Raffi.
Keduanya bersalaman dengan kedua orangtua Aida yang usianya tidak jauh dari orangtua Malika. Kedua orangtua Aida menatap tajam Raffi yang kelihatan mulai gelisah dengan acara lamaran ini.
"Ada keperluan apa anak muda?" tanya ayahnya Aida kepada kedua tamunya yang sedang duduk di hadapannya."
"Maaf pak, kedatangan kami ke sini, ingin melamar putri bapak Aida untuk sahabat saya Raffi.
"Sejak kapan kalian dekat?, setahu saya belum punya teman dekat cowok selama ini," ucap ibu Aida.
"Mereka sudah lama kenal nyonya, cuman baru dekat setelah sebulan terakhir ini."
"Mengapa cuma kalian berdua yang datang, harusnya orang tua mu yang harus melamar putriku." ucap tuan Muid kepada Raffi dan Rei.
"Maaf ayah dan ibu, saya hanya anak yatim piatu dan saya tidak tahu kerabat saya selama saya tinggal di panti asuhan. Setelah saya dewasa saya kuliah bareng tuan Rei di Jerman dan hubungan kami menjadi dekat ketika Rei menawarkan saya menjadi asisten pribadi di perusahaan maskapai penerbangan internasional miliknya."
Orangtua Aida mendengar dengan seksama atas penjelasan Raffi mengenai jati dirinya. Kedua orang tua ini saling melempar pandangan seakan ingin meminta persetujuan dari ibunya Aida. Ibu Aida hanya mengedikkan pundaknya seolah mengatakan kepada suaminya
"Terserah bapak, ibu sih apa kata bapak."
"Nak Raffi, apakah Aida menyukaimu."
"Kami sudah sepakat untuk menikah secepatnya pak, karena pekerjaan kami berdua yang memiliki jadwal yang cukup padat dan sulit mendapatkan liburan yang cukup untuk mengatur pernikahan yang memakan waktu lama. Saya hanya butuh restu bapak dan ibu untuk bisa menikahi Aida secepatnya. Dan saya mengajak tuan Raffi untuk meminang putri bapak dan ibu tanpa sepengetahuan Aida untuk memberikan kejutan untuknya bahwa saya serius ingin menikahinya." ucap Raffi dengan penuh keyakinan kepada orangtua gadis yang sangat dicintainya.
Tuan Abdul Muid menarik nafas halus mendengar kemantapan hati Raffi untuk meminang putrinya. Lalu ia kembali berkata kepada Raffi agar menyiapkan diri jika keduanya siap melangkah ke jenjang yang lebih jauh.
"Baik nak Raffi, bapak yakin kamu orang baik, pasti kamu akan memperlakukan putri bapak dan ibu dengan lebih baik, dengan ini, bismillahirrahmanirrahim, saya sebagai ayah kandung Aida menerima pinangan Anda nak Raffi, bagaimana dengan ibu, apakah setuju kita menerima Raffi menjadi menantu kita?" tanya tuan Muid kepada istrinya yang sudah senyum-senyum sendiri menatap wajah tampan Raffi.
"Ibu sangat setuju ayah, ibu yakin pilihan Aida tidak salah."
"Alhamdulillah, terimakasih ayah ibu," ucap Raffi haru.
__ADS_1
Rei bernafas lega, kedatangannya ke Bogor menemani asistennya Raffi pagi ini tidak sia-sia.
"Saya akan membawa kedua orang tua saya tuan untuk melamar Aida secara resmi." ucap Rei yang ingin menunjukkan partisipasinya pada acara lamaran dadakan ini.
"Kapan nak Raffi merencanakan pernikahan ini?"
"Kalau bisa minggu depan pak karena waktu saya tidak banyak."
"Baiklah ayah akan urus semuanya, semoga dilancarkan segala sesuatunya oleh Allah."
"Aaamiin." semua mengucapkan kalimat permohonan terkabulnya doa bersamaan.
"Kalau begitu kami permisi dulu tuan, untuk kembali lagi ke perusahaan." pamit Rei kepada kedua orang tua Aida.
"Oh silahkan nak!"
Kedua sahabat ini bangkit dari tempat duduk mereka lalu menyalami tangan orang tua Aida secara takzim. Keduanya meninggalkan kediaman Aida kembali ke mobil yang terparkir di depan pagar rumah Aida. Kedua orang tua Aida mengantarkan Rei dan Raffi ke mobil lalu melambaikan tangan kepada keduanya setelah mobil itu mulai bergerak meninggalkan orang tua Aida yang masih berdiri menatap mobil itu hilang dari pandangan mata mereka.
Sepeninggalnya Raffi dan Rei dari kediaman Aida, ibu Aida merasa sangat bahagia, tak henti-hentinya ia memuji ketampanan calon mantunya itu.
"Ayah, kelihatannya nak Raffi itu santun ya ayah dan wajahnya juga sangat tampan, beruntung banget putriku Aida mendapatkan calon suami sebaik nak Raffi.
"Iya ibu, jangan menilai orang dari kulitnya saja, kadang kita harus memperhatikan seseorang yang dibesarkan dengan pendidikan belum tentu orang itu akan menjadi lebih baik, tapi ketika dibesarkan dengan didikan yang baik kelihatan sekali hasil didikan itu menjadi orang yang terdidik budi pekertinya seperti nak Raffi, kita doakan saja semoga putri kita bahagia bersama dengannya." ucap tuan Muid bijak menyikapi kondisi Raffi yang sudah sebatang kara.
"Ibu hubungi putri kita dulu ayah."
"Minta Aida pulang ibu sebelum hari pernikahannya, karena waktu pernikahan mereka dipercepat."
Ibu Aida menghubungi ponsel putrinya, terdengar nada panggilan dalam hitungan tiga kali nyanyian panggilan dari ponsel putrinya. Aida yang sedang duduk menonton film di dalam kamar Raffi meraih ponselnya. Terlihat di layar ponselnya nama ibu, Aida menggeser gambar hijau lalu menempelkan ponsel itu pada kupingnya.
"Hallo assalamualaikum ibu!"
"Waalaikumuslam nak, apa kabarmu nak!"
"Baik ibu, apakah ayah dan ibu sehat?"
"Alhamdulillah kami semuanya sehat nak."
"Begini sayang, tadi kekasihmu Raffi bertandang ke rumah kita bersama bosnya suaminya neng Malika."
"Apa?
mereka ke rumah kita bu, sepagi ini?"
"Iya sayang, Raffi menyampaikan niatnya untuk melamarmu dan ayah sama ibu setuju dengan pilihanmu nak, jadi ibu minta kamu pulang ke Bogor karena pernikahan kalian akan dipercepat karena kesibukan kalian yang begitu padat, itu permintaan calon suamimu nak.
"Ko Raffi nggak bilang apa-apa sama Aida bakalan mau pinang Aida hari ini."
"Katanya ingin memberikan kejutan untukmu sayang."
"Astaga Raffi, ada-ada saja kerjanya."
"Apakah kamu sudah siap menikah dengan calon suamimu sayang?"
"Kami sudah membicarakan ini sebelumnya bu tentang pernikahan kami, kalau begitu Aida siap-siap dulu ya bu, nanti sore Aida pulang ke rumah."
"Baik sayang, ibu dan ayah menunggumu, lagian ibu sangat kangen dengan kamu, ibu akan meminta kakakmu yang ada di malang untuk pulang juga."
"Baik ibu terimakasih banyak sudah mau menerima Raffi jadi suami Aida."
"Oh ya sayang, kamu makan apa?, biar ibu masakin untukmu.
"Aida lagi pingin makan daging gepuk dan sup ikan gurame."
"Apa cuma itu saja sayang?"
"Yang lain terserah ibu saja, Aida akan memakan semua masakan ibu."
"Baiklah sayang, ibu mau ke pasar dulu untuk menyambut kepulangan mu."
"Ibu, boleh nggak nanti yang ngantar Aida pulang ke Bogor Raffi?"
"Boleh sayang, justru itu yang ibu mau, dia yang harus memastikan sendiri kamu aman sampai ke rumahmu dengan selamat.
"Alhamdulillah, terimakasih ya ibu."
"Assalamualaikum ibu!"
"Waalaikumuslam sayang, hati-hati nanti di jalan."
🌷🌷🌷
Setibanya di perusahaan, Raffi dan Rei ke ruang kerja mereka masing-masing. Keduanya fokus pada pekerjaan yang sedang menanti mereka. Raffi mengatur ulang jadwal tugasnya yang selama sepekan ini ia tinggalkan. Betapa semangatnya Raffi saat jari jemarinya bermain di atas keyboard komputer layar datar miliknya. Rona kebahagiaan tergambar jelas di wajahnya setelah mendapatkan lampu hijau dari sang mertua sedangkan di ruang berbeda Rei juga sebagai sahabat dan bosnya Raffi ikut merasakan kebahagiaan yang sama dengan asisten Raffi.
Sambil berdendang Rei menyelesaikan tugas-tugasnya dengan sangat teliti, tidak ada kendala yang begitu besar dari pekerjaannya selama ditinggal Raffi keluar negeri. Rei mengerjakannya sesuai apa yang telah terjadwalkan oleh asistennya.
Raffi yang sudah menata ulang jadwalnya terkejut dengan deringan ponselnya sendiri, ia melihat nama kekasihnya di layar ponsel itu tertulis "my queen" sambil tersenyum Raffi menggeser tanda hijau itu dan menjawab panggilan dari Aida.
"Hallo sayang!"
"Hallo Raffi!"
"Apakah ada masalah sayang?"
"Sangat bermasalah!"
"Apa!" apa yang terjadi padamu Aida," ucap Raffi yang terlonjak kaget dari kursi kerjanya."
"Mengapa nggak bilang kalau pagi ini kalian berdua ke rumahku di Bogor?"
"Ya Allah, Aida! kamu bikin aku jantungan aja sayang!"
"Emang kamu lagi mikirin apa tentangku."
"Oh, tidak memikirkan apa-apa, aku nggak ingin membayangkan sesuatu yang buruk terjadi padamu sayang."
"Sekarang jawab pertanyaanku, mengapa tidak mengabarkan aku kalau kalian ke Bogor?"
"Itu tadi cuma niat yang spontan aja sayang pingin kenalan dengan calon mertua aku aja, emang nggak boleh?"
Aida tersenyum mendengar jawaban lugas dari calon suaminya ini, tahu-tahu ia sangat merindukan kekasihnya Raffi."
"Hallo Aida, apa kamu masih di situ sayang?.
"Iya Raffi, tadi ibuku meneleponku memintaku nanti sore aku harus pulang ke Bogor karena minggu depan kita akan menikah."
"Ko cepat banget sayang, baru semalam kita tidur berdua di apartemenku, sekarang kamu harus pulang." ucap Raffi terdengar sedih di kuping Aida.
"Kalau rindunya tersimpan lama rasanya lebih nikmat."
"Tapi aku sudah terbiasa dengan kehadiranmu disisiku, hilang sesaat rasanya gimana gitu."
"Bersabarlah sayang, aku akan menjadi milikmu selamanya."
"Tapi aku merindukan babyku yang ada di dalam rahimmu sayang."
"Hmmm!" modus.
"Percayalah aku kangen, boleh nggak sayang kita berc*nta dulu sebelum kamu pulang ke Bogor?"
"Tidak boleh atau pernikahan kita batal!"
"Jangan-jangan, baiklah aku meminta maaf telah memaksamu."
"Tolong hari ini pulang lebih cepat karena orang tuaku sudah menunggu kita dan ibu sudah memasak makanan yang banyak untuk menyambut kita.
"Orangtuamu baik sekali sayang, terimakasih ya!"
"Dengan senang hati Raffi!" jangan lupa cepat pulang ya."
"Siap ratuku, hari ini aku akan skip pekerjaanku...he..he..!"
"Sampai nanti Raffi, bye sayang!"
"Muaaachh!"
Sambungan ponsel itu terputus dengan kecupan terakhir yang dilayangkan Raffi untuk Aida lewat ponselnya. Keduanya menempelkan ponselnya ke dada mereka lalu menatap foto masing-masing yang sekarang sudah menjadi profil di layar ponsel mereka.
🌷🌷🌷
Setelah mengantar bosnya pulang Raffi membeli seikat buket bunga mawar merah dan putih untuk Aida, tidak lupa ia mencari perhiasan yang ada di salah satu Mall di Jakarta. Raffi membelikan dua gelang emas yang sangat cantik. Setelah mendapatkannya Raffi langsung menuju apartemennya.
Setibanya di Apartemen, Raffi di sambut oleh ratunya, keduanya berpelukan mesra. Raffi memberikan seikat buket bunga yang sudah dibelinya untuk Aida.
Aida menerima dan mencium harum wangi dari kelopak mawar merah putih itu. Ia kembali mengalungkan tangannya dileher sang kekasih, ciumannya kembali dilayangkan, keduanya saling memagut bibir sampai puas dan melepaskannya setelah itu. Raffi memberikan lagi satu kotak perhiasan untuk Aida. Aida membuka kotak itu lalu menatap wajah Raffi.
"Sayang ini indah sekali, terimakasih Raffi."
"Sini sayang, aku pakaikan untukmu."
Aida menjulurkan tangannya untuk dipakaikan gelang emas bermata berlian oleh Raffi. Ketika melihat satu kotak lagi yang ada di dalam paper bag, memancing Aida untuk bertanya kotak yang satunya.
"Sayang, satu kotak lagi untuk siapa?"
"Untuk ibumu sayang, aku ingin berterima kasih kepada beliau yang sudah melahirkan calon istriku yang sangat cantik ini dan gelang ini aku belikan untukmu sebagai bentuk syukur aku kepada Allah, karena kamu sedang mengandung anakku."
Mendengar penuturan Raffi, air mata Aida langsung luruh karena haru. Ia memeluk lagi kekasihnya dengan terisak ia mengatakan rasa cintanya pada Raffi.
"Terimakasih Raffi aku telah menemukan pangeranku yang sangat baik hatinya yang juga tulus mencintaiku dan keluargaku..
"Sama-sama cintaku, sekarang bersiaplah aku akan mengantarmu pulang ke Bogor.
__ADS_1
"Aku sudah menyiapkan semuanya Raffi, kita tinggal berangkat saja.
Aida dan Raffi berangkat ke Bogor sekitar pukul lima sore, keduanya sedang melewati jalan bebas hambatan menuju kota Bogor, rumah calon mertua Raffi.