
Setelah baby kembar berusia empat bulan, Raffi memboyong keluarganya untuk berlibur ke negara Jerman, di mana pusat pembuatan pesawat jet milik perusahaan besar Reinaldi yang diwariskan oleh papinya tuan Romi.
Orangtua Malika juga ikut serta dalam rombongan itu, namun sayangnya Raffi tidak bisa membawa Aida ikut serta dalam perjalanan ini karena usia kandungan Aida yang masih muda, lebih rentan jika menempuh perjalanan jauh, yang memakan waktu yang sangat lama yaitu 12 jam 13 menit, sampai di kota Hamburg Jerman. Perbedaan waktu Indonesia dan Hamburg Jerman yaitu 6 jam.
Baby Ezra yang sangat senang bisa bermain berdua dengan daddynya sepanjang hari. Kerinduan anak seusianya pada figur seorang ayah akan berpengaruh besar perkembangan pada kejiwaan anak, apalagi Ezra adalah seorang anak laki-laki yang menjadikan figur ayah menjadi panutannya.
"Daddy bisa buat pesawat?"
"Daddy hanya bisa merancang sebuah pesawat, yang buat pesawatnya para staff daddy sayang."
"Bisa buat pesawat kecil untuk Ezra?"
"Sangat bisa sayang untuk putra ayah yang tampan dan sangat jenius ini," ucap Rei sambil menggelitik perut putranya.
"Geli daddy, jangan kelitikin Ezra...ha..ha..ha!"
"Baby Ezra kalau besar, mau jadi apa sayang?"
"Mau jadi seperti daddyyyy!" teriak Ezra membuat keluarganya yang di pesawat itu terkekeh."
"Emang Ezra bisa gambar pesawat?"
"Bisa daddy, emang daddy mau lihat Ezra gambar pesawat?"
"Hmm, daddy nggak percaya sama Ezra!" ucap Rei sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ezra sudah gambar daddy, gambarnya ada di tas Ezra. Tiap kali Ezra ingin menunjukkan ke daddy, tapi daddynya selalu pulangnya kemalaman. Saat Ezra bangun, daddy sudah hilang."
Ucapan Ezra spontan membuat Rei dan keluarganya berkaca-kaca. Anak sekecil ini sudah bisa menyampaikan keluhannya pada daddynya. Ezra kemudian bangun untuk mengambil tas ranselnya yang dibawanya serta. Ia kemudian mengeluarkan buku gambarnya yang dibelikan opanya saat mereka mengunjungi toko buku.
Buku gambar itu diberikan kepada daddynya. Rei membuka lembar pertama buku gambar itu dan ia sangat kaget halaman pertama itu sudah tertulis namanya.
"Untuk daddy Reinaldi"
Dengan perasaan berdebar dan penasaran, Rei membuka lagi halaman berikutnya, benar apa yang dikatakan putranya, kalau ia sudah bisa menggambar pesawat. Rei menatap Malika, kedua orangtuanya serta mertuanya.
"Sayang lihat ini, lihat ini sayang," ucap Rei memberikan buku gambar Ezra pada istrinya, Malika kemudian membukanya lembar demi lembar sambil membekap mulutnya seakan tidak percaya kalau Ezra selama ini sudah menggambar berbagai macam model pesawat dan terakhir menggambar wajah Malika dan Rei saling berhadapan sambil tersenyum mesra. Malika memberikan buku gambar itu pada mertua dan orangtuanya lalu ia bangkit menghamburkan pelukan pada putranya.
"Ya Allah putraku, aku tidak tahu kalau kamu sekeras itu menggambar pesawat dan orangtuamu juga nak. Maafkan mommy tidak pernah melihat hasil karyamu, mommy pikir itu hanya coretan biasa...hiks!..hiks!"
Rei juga ikut memeluk putra dan istrinya. Ezra hanya menunjukkan mimik sedihnya tapi tidak bisa menangis. Rei merasa sangat menyesal membiarkan anaknya telah menyimpan keinginannya untuk memamerkan hasil karyanya, tapi tidak sempat karena kesibukan nya pada pekerjaannya. Tuan Romi memanggil Rei. Rei mendekati papinya.
"Rei, jangan lagi meremehkan perasaan cucuku, lihatlah betapa dia sangat merindukanmu, kalian telah bersusah payah merebut dia dari nyonya Andien tapi setelah dia ada dihadapanmu, kamu malah mengabaikannya. Dan mulai sekarang, kamu harus meluangkan waktu kebersamaanmu dengan putramu. Keluarga lebih utama nak," ucap tuan Romi menasehati putranya.
"Iya papi, Rei akan mencoba untuk lebih banyak meluangkan waktu Rei untuk Ezra mulai sekarang."
Tuan Daniel hanya mengusap lembut pundak menantunya ini. Rei kembali menghampiri putranya dan ia memuji hasil karya putranya.
"Putra daddy sangat hebat ya, belum sekolah sudah hebat begini, bagaimana nanti kalau sudah sekolah pasti lebih hebat lagi."
"Daddy, Ezra sudah bisa baca, tulis dan hitung. Coba daddy tanya matematika kepada Ezra. Ezra pasti bisa menjawabnya dengan mudah."
Rei tidak menanyakan Ezra, tapi Rei menulis 10 soal matematika secara random untuk Ezra. Ezra mengambil alat tulis dan bukunya dari daddynya, dalam waktu lima manit Ezra sudah menyelesaikannya dan mengembalikan bukunya kepada daddynya. Rei memeriksa satu persatu jawaban soal yang Ezra kerjakan. Rei menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Wehh, bravo baby!" puji Rei yang tidak meragukan lagi kemampuan putranya.
Malika yang ikut melihat hasil kerja putranya, tersenyum bangga. Ternyata Ezra memiliki IQ di atas rata-rata. Malika mulai berpikir untuk perkembangan pendidikan anaknya, mungkin liburan kali ini kesempatan ia dan suaminya mengunjungi tempat perguruan tinggi di Jerman bagian psikotest untuk putranya.
"Sayang, apa tidak sebaiknya kita mengunjungi perguruan tinggi di Jerman untuk melakukan beberapa tes pada putra kita."
"Aku, juga berpikir seperti itu sayang, nanti kita bisa mengetahui kemampuan Ezra sampai tingkat mana dia mampu melakukan sesuatu dalam dunia pendidikan."
"Kami sebagai orang tua kalian hanya mendukung saja apapun yang kalian lakukan untuk cucu kami, bagaimana tuan Daniel menurutmu?"
"Tidak ada yang salah kalau kita mencoba mengetahuinya lebih awal, toh nggak ada yang dirugikan. Malah nanti di sana mereka akan memberi tahu langkah apa saja yang akan kita ambil dalam menindak lanjuti pendidikan Ezra yang akan Ezra tempuh nanti."
"Saya sependapat dengan papa dan papi, kami berdua setuju akan hal itu, iyakan sayang?" tanya Rei meminta pendapat istrinya.
"Ok, siapa takut, bagaimana Ezra, kamu siap sayang untuk belajar lebih pintar?"
"Ok, mommy!" ucap Ezra sambil menunjukkan dua jempolnya dengan kepalanya yang sedikit dimiringkan ke samping.
Semua memberikan tepuk tangan dan semangat untuk Ezra. Namun sayang momen berharga ini dilewatkan begitu saja oleh Raffi yang dari tadi sudah tidur mendengkur.
Perjalanan tinggal tiga jam lagi, kelihatan keluarga itu sudah mulai lelah menanti pesawat mereka tiba, Ezra yang sudah tertidur di kursinya, sedangkan Malika dan Rei memilih tidur di kamar dalam kabin pesawat jet pribadinya.
Pesawat masih terus bergerak menembus awan demi awan, melintasi negara demi negara. Pilot handal dan awaknya tetap fokus menjalankan pesawatnya, mereka sudah terlatih untuk tidak mudah lelah dalam menjalankan tugasnya sebagai pengemudi pesawat.
Tanggungjawab mereka yang berat ini, setara dengan gaji yang mereka terima ditambah bonus dan tunjangan lainnya yang menjadi penyemangat mereka menyenangkan keluarga mereka yang mereka tinggalkan di rumah.
Rei dan Malika tidak banyak aksi untuk ritual jasmani mereka sebab mereka juga butuh stamina yang optimal untuk melakukan kunjungan pada perusahaan mereka yang ada di Jerman.
🌷🌷🌷🌷
Setibanya mereka di negara Jerman, Alex dan asistennya Jack menjemput keluarga itu untuk dibawah ke kediaman tuan Romi yang ada di kota Hamburg Jerman. Raffi yang ingat sesuatu saat melintasi jalanan ibukota untuk berhenti di salah satu pusat perbelanjaan.
Ia meminta rombongan itu meneruskan perjalanan mereka ke mansion tuan Romi yang ada di negara tersebut. Rei yang tidak mengerti Raffi mau melakukan apa di tempat itu, memilih diam saja. Mungkin Raffi tidak begitu bersemangat karena istrinya tidak bisa menemaninya ke Hamburg Jerman. Raffi melangkah masuk ke toko buku itu, rupanya ia sedang mencari novel pesanan istrinya. Lama Raffi mengotak ngatik buku novel yang ada di deretan rak buku tersebut dan tidak di sengaja seorang gadis keserempet karpet hingga membuat tubuhnya hampir jatuh terhuyung ke belakang dan Raffi secara reflek menangkap tubuh gadis itu.
Ketika Raffi menahan supaya tubuh itu tidak sampai jatuh ke lantai entah bagaimana ceritanya Raffi mendaratkan ciumannya ke bibir gadis itu. Karena merasa bibirnya tersentuh oleh bibir Raffi, gadis itu melebarkan matanya kaget. Raffi buru-buru mengatur posisi tubuh gadis itu lalu meminta maaf.
"Sorry nona, saya tidak sengaja menyentuh bibir anda," ucap raffi gugup menatap gadis yang sangat cantik di hadapannya dengan menggunakan bahasa Jerman.
"Saya yang harus meminta maaf dan berterima kasih kepada anda, karena anda sudah mau menolong saya yang hampir jatuh ke lantai, untunglah anda ada di sini kalau tidak kepala pasti sudah terbentur di lantai," ucap gadis itu dengan wajah serius.
Ia kemudian menatap dalam wajah Raffi, demikian Raffi kepada gadis itu, entah kenapa hati mereka terus berdebar. Gadis itu memuji ketampanan dalam diamnya pada Raffi begitu juga dengan Raffi yang tidak membohongi dirinya bahwa gadis ini sangat cantik membuat hatinya kembang kempis memuji paras cantik gadis yang barusan ditolongnya.
Deringan ponsel gadis itu membuyarkan lamunannya menatap wajah tampan Raffi, ia segera berlari menjauh menerima panggilan itu dan tidak lupa berterima kasih kepada Raffi. Raffi yang hanya tersenyum melihat tingkah gadis itu, padahal dia baru saja ingin berkenalan dengan gadis itu. Raffi meneruskan pencariannya yang sempat tertunda karena sibuk membantu gadis itu.
Ia kembali membaca satu persatu buku yang ingin ia beli hingga akhirnya ia dihampiri oleh seorang pelayan toko menanyakan buku apa yang sedang Raffi cari. Raffi menyebutkan tiga judul buku novel pesanan istrinya. Pelayan itu paham lalu mengambil buku judul novel yang ada di bagian atas rak itu dengan menggunakan tangga kecil yang memang tersedia di tempat itu.
__ADS_1
Pelayan itu memberikannya kepada Raffi dan Raffi segera menuju ke kasir untuk membayarnya. Raffi keluar dari toko buku itu dengan membawa paper bag yang sudah berisi buku novel pesanan istrinya. Ia lalu menunggu taksi di sepanjang jalan itu untuk menuju kediaman rumah besar warisan orang tua tuan Romi.
🌷🌷🌷🌷
Setibanya Raffi di kediaman tuan Romi ia di sambut oleh Ezra yang berlari menghampirinya.
"Uncle Raffi, kenapa baru datang, tadi Ezra cari uncle."
"Oh sorry sayang, tadi uncle mencari buku novel."
"Oooh!, buku," jawab Ezra dengan so tahunya.
Ketika Raffi melangkah masuk menghampiri Rei, Raffi berpapasan lagi dengan gadis yang tadi ditolongnya. Manik mata mereka yang bertemu membawa arti sendiri untuk mereka, perasaan yang ganjil yang dirasakan oleh keduanya hingga Rei yang berada di situ menegur mereka.
"Hai Raffi!" kenalkan ini sepupuku Sarah dan Sarah ini adalah asistenku Raffi." ucap Raffi memperkenalkan keduanya.
Raffi dan Sarah bersalaman dan saling melempar senyum.
"Raffi!, ini sepupuku Sarah yang tinggal di kota Wina Austria. ia ke sini ingin menemui Ezra yang pernah ditolongnya dari cengkraman nyonya Andien yang merupakan mantan mertua istriku.
"Raffi!"
"Sarah!"
Keduanya berkenalan dan saling menyebutkan nama masing-masing. Raffi pamit kembali bermain bersama Ezra sedangkan Sarah membisikkan sesuatu kepada sepupunya Rei, Rei yang kaget dengan keinginan Sarah pada Raffi membuat Rei menyampaikan kebenaran kepada Raffi.
"Kak Rei, asistenmu itu sangat tampan, bolehkah aku mengenalnya lebih dekat karena aku sudah jatuh cinta padanya saat kami bertemu di toko buku tadi tanpa sengaja. Dia tampan sekali ka, Sarah sangat menyukainya.
" Sarah, maafkan kak Rei, mungkin kak Rei yang salah tidak memperkenalkan kalian lebih awal, karena sekarang dia sudah memiliki istri yang saat ini sedang hamil tiga bulan.
Deggg!"
Bagai di sambar petir disiang bolong, Sarah begitu kecewa mendengar status Raffi yang sudah menjadi suami orang lain. Ia menarik nafas berat, hatinya yang tiba-tiba merasakan sakit, padahal dia baru bertemu dengan Raffi.
"Ya Tuhan, kenapa hatiku sangat sakit seperti ini, seakan aku sudah memiliki hatinya sejak lama," gumamnya dalam hati.
Siang itu, keluarga besar tuan Romi dari berbagai negara berkumpul untuk menjamu tamu jauh dari Jakarta. Mereka sangat senang ketika keluarga mereka kembali menyatu dalam momen seperti ini. Malika tampak akrab dengan keluarga besar suaminya, kehadiran anak-anak Rei menjadi mainan tante-tante Rei yang sudah memiliki cucu tapi sudah tumbuh menjadi remaja. Keluarga itu membuat banyak makanan, walaupun banyak pelayan yang tinggal melayani mereka, tapi mereka menolak dan ingin melakukannya sendiri sambil bercengkrama.
Barbekyu adalah pilihan menu utama siang itu. Tempatnya di taman belakang mansion, mereka menggelar beberapa tikar plastik sebagai tempat duduk mereka.
Riuh canda memecah dalam kehangatan kasih sayang antar keluarga besar ini. Tuan Romi yang sudah lama tidak bertemu saudaranya setelah pernikahan Rei putranya sangat antusias dengan acara kumpul-kumpul ini.
Kini pria yang sudah memiliki tiga cucu ini sangat semangat bercerita tentang Ezra cucu pertamanya yang sangat jenius dengan ukuran anak usianya. Semua yang mendengar cerita tuan Romi berdecak kagum dan langsung menguji balita itu untuk menjawab pertanyaan mereka, baik itu matematika, IPA, IPS dan teknologi, anak itu menguasainya dengan baik.
Kecanggihan teknologi pada ponsel ibunya yang sering di jadikan balita itu mengetahui segalanya tanpa diketahui oleh Malika yang menganggap putranya sibuk main game yang ada dalam aplikasi ponselnya. Rupanya anak itu membaca hal-hal yang sangat bermanfaat bagi nutrisi otaknya dengan menyerap semua informasi yang ia baca dalam ponsel ibunya.
Satu persatu pertanyaan keluarga opanya dijawab dengan lancar kecuali ada bagian tertentu yang sempat terhenti saat ia kembali loading pertanyaan itu dalam otaknya untuk menemukan jawaban dalan 30 detik. Salah satu sepupu Rei yang bernama Mark menggendong bayi montok itu karena saking kagum dan gemasnya mereka, apalagi Ezra fasih menggunakan bahasa Jerman sebab ia selalu berkomunikasi dengan opanya Romi menggunakan bahasa tersebut. Rei dan Malika yang duduk bersebelahan saling berpelukan ketika pujian untuk putra mereka juga melibatkan mereka didalamnya. Rei sesaat mengecup bibir istrinya didepan kelurga besarnya.
"Rei, tante bawa pulang putramu ya," ucap tante Louise yang gemas dengan Ezra.
Siang itu Ezra yang menjadi objek hiburan untuk keluarga besar itu. Pujian demi pujian yang tak akan pernah habis dilontarkan untuk Ezra.
"Raffi, kamu tidak usah sungkan begitu kepadaku karena aku tidak memintamu menikahiku. Aku sadar diri kalau kamu sudah memiliki istri, tapi aku tidak bisa membohongi hatiku kalau aku sangat mencintaimu sejak kita pertama bertemu, apalagi kamu orang pertama yang menyentuh bibirku yang masih virgin. Aku rela memberikan bibirku padamu untuk pertama kali diusiaku sekarang ini.
"Berarti kamu masih perawan di usiamu dan di negaramu yang bebas melakukan apa saja karena tidak mengenal hal tabu?"
"Benar katamu Raffi, dunia barat tidak terikat dengan norma-norma agama kecuali orang yang sudah fanatik dengan agamanya dan kamu tahukan keluargaku dari papaku termasuk aku beragama Islam. Walaupun agama kami minoritas di sini tidak menyurutkan niat kami untuk tetap memegang hal-hal yang sudah diatur oleh islam. Tapi aku tidak bisa mengusai diriku barusan karena nekat mencium bibirmu.
"Tidak apa-apa Sarah, jujur aku menyukainya, tapi istriku di sana sedang hamil muda. Aku mohon pengertianmu Sarah. Seandainya kita lebih awal bertemu mungkin aku akan memilih menikah dengan mu Sarah," tutur Raffi tulus pada sarah tanpa ada gombal sedikitpun.
Keduanya kembali saling melu**t bibir mereka dan tanpa sadar tangan Raffi, meremas gundukan bulat di dada Sarah, membuat Sarah mengerang nikmat.
"Akkhh, Raffi!" hentikan ini sayang, jangan sentuh yang ini." tolak Sarah.
"Maafkan saya Sarah, karena sudah lancang menyentuhmu."
Untungnya mereka menyudahi ciuman gila mereka karena Rei datang tepat keduanya sudah duduk berjauhan.
"Oh rupanya kalian di sini, ayo kita makan bersama," ajak Rei pada Raffi dan Sarah yang sempat kaget dengan kedatangan Rei.
Keduanya saling memandang dan mengulum senyum, seakan merasa bersyukur, perbuatan mereka tadi tidak dilihat oleh Rei.
Raffi dan Sarah sudah ikut membaur bersama yang lainnya dan makan bersama, keluarga besar mereka tidak menyadari bahwa dua makhluk muda ini baru datang, setelah hal indah buat mereka berdua yang sudah mereka lewatkan siang ini. Malika yang sibuk dengan si kembar juga tidak tahu bahwa Sarah diam-diam menyukai Raffi suami sahabatnya.
🌷🌷🌷🌷🌷
Nun jauh di sana di kota Jakarta, Aida yang memilih sendirian di apartemen menjalani hari-harinya tanpa suami yang saat ini sedang berada di Jerman. Sudah tiga hari ini suaminya berada di Jerman mengikuti keluarga bosnya Rei berlibur dan juga menghadiri acara penting. Entah mengapa Aida merasakan tubuhnya sangat tidak enak, padahal di kehamilannya ini ia tidak merasakan mual tapi hanya merasa sangat pusing akhir-akhir ini.
Aida mencoba menghubungi taksi untuk menjemputnya, karena dia ingin ke rumah sakit segera mungkin. Tidak lama taksi sudah meneleponnya lagi mengabarkan bahwa dia sudah ada di depan apartemennya. Tapi Aida meminta sopir itu masuk ke tempat parkir apartemen di lantai delapan. Sopir taksi itu menuruti apa maunya Aida. Ia kembali menggerakkan mobilnya menuju lantai delapan dan di sana sudah berdiri Aida yang sudah menunggunya.
Sopir taksi itu turun dari mobilnya membantu membukakan pintu mobil untuk Aida. Sopir taksi itu sudah menjalani mobilnya lagi menuju rumah sakit yang sudah diberitahukan sebelumnya saat Aida memesan taksi tadi.
Setibanya di rumah sakit milik Rei, Aida yang langsung bertemu dengan dokter Ryanti atas rekomendasi Malika yang meminta dokter itu menangani Aida selama masa kehamilannya.
Aida berjalan perlahan menuju ruangan dokter spesialis kandungan milik dokter Ryanti. Akhirnya ia sudah sampai di depan ruangan tersebut. Raut wajahnya yang sedikit pucat dan tubuhnya yang sangat lemah membuatnya bertahan untuk bisa bertemu dengan dokter Ryanti.
Tidak lama giliran Aida yang sekarang sudah duduk di hadapan dokter Riyanti yang sedang melayani konsultasi kehamilan Aida.
"Maaf mbak Aida, apakah ada keluhan selama masa kehamilan?"
"Ini dokter, akhir-akhir ini saya sangat merasakan pusing."
"Apakah anda sedang mengkonsumsi obat lain selain obat yang saya berikan."
"Saya tidak berani dokter untuk minum obat-obatan lain selain diresepkan langsung oleh dokter.
"Baiklah kalau begitu kita coba melakukannya USG ya mbak Aida.
Aida yang bangkit dari duduknya langsung oleng karena tidak kuat menahan pusing membuat dokter dan suster kaget dan untungnya suster tersebut spontan menahan tubuh Aida yang limbung.
__ADS_1
Dokter Riyanti meminta perawat lain untuk membantu mengangkat tubuh Aida ke atas brangkar yang ada di ruangannya.
Dengan cekatan para perawat itu membantu mengangkat tubuh Aida yang pingsan itu ke atas brankar. Dokter Riyanti memeriksa keadaan Aida dan ia merasa curiga dengan apa yang saat ini ia temukan, tapi ia tidak ingin memastikan tanpa mengetahui kejelasan penyakit Aida tanpa ada tindakan pemeriksaan yang lebih mendetail.
Dokter Riyanti segera menghubungi dokter spesialis Neurologi untuk menangani pasien nya. Suster dan perawat mendorong brangkar itu ke ruang pemeriksaan penyakit dalam. Dokter spesialis lainnya sudah siap menyambut pasien Aida dan langsung melakukan pemeriksaan lanjutan. Sekitar setengah jam dokter memeriksa tubuh pasien dan di ketahui Aida mengidap kanker otak stadium tiga.
Dokter Riyanti sangat shock mendengar penjelasan dari dokter spesialis Neurologi itu, yang merupakan teman sejawatnya. Diskusi antara dokter pun terjadi di ruang berbeda setelah pasien Aida di tangani. Pasien Aida masih berada di ruangan itu dengan tubuh yang sudah di penuhi alat-alat medis untuk menolongnya melewati masa kritisnya.
Setelah diskusi alot yang dilakukan oleh para dokter yang menangani pasien Aida, akhirnya mereka mengambil keputusan untuk melakukan aborsi supaya pengobatan Aida bisa dilanjutkan.
"Dokter apakah sebaiknya kita langsung mengabarkan walinya," tanya dokter Sunan."
"Sebaiknya tunggu pasien siuman dan meminta keputusannya juga," pinta dokter Riyanti.
Akhirnya dokter Ryanti meminta empat orang perawat mendorong brangkar ke ruang inap pasien kelas VVIP. Setibanya di ruang VVIP, dokter menghubungi keluarga pasien yang ada di Bogor karena dokter Riyanti mengetahuinya keluarga Aida.
Dokter Riyanti menjelaskan keadaan Aida yang sendirian di rumah sakit tapi tidak menjelaskan kebenaran penyakitnya. Keluarga Aida sangat kuatir dan merencanakan untuk mengunjungi Aida di rumah sakit milik Rei, bos dari menantunya Raffi.
🌷🌷🌷
Hari ke lima di Hamburg Jerman. Raffi yang sudah melupakan istrinya di Jakarta, lebih memilih berselingkuh dengan Sarah. Keduanya selalu memanfaatkan momen sepi untuk bisa berdua. Saling berciuman kembali terjadi, Raffi yang masih dalam suasana pengantin baru dan jauh dari istrinya membuatnya merindukan sentuhan wanita lain yaitu Sarah. Keadaan rumah yang sepi karena keluarga lain sedang mengujungi tempat-tempat bersejarah yang ada di kota tersebut.
Raffi yang sudah tidak bisa mengontrol birahinya, menyerang Sarah, keduanya sudah polos mulai melakukan adegan panas. Raffi yang melihat tubuh polos Sarah begitu tergiur dengan pemandangan indah di depan matanya ini. Tubuh Sarah yang sangat seksi dengan tinggi 180cm bermata biru dan berambut panjang dan berwarna pirang.
Diakui Raffi kalau Sarah lebih cantik dari istrinya Aida. Entah mengapa baru kali ini Raffi tergoda dengan dua wanita dalam hidupnya, walaupun sebelumnya Raffi sering bertemu dengan gadis-gadis cantik yang selalu menggodanya namun sedikitpun Raffi sulit untuk tertarik pada mereka. Hanya pada Aida dan Sarah yang bisa menaklukkan hati nya.
Sarah hanya mend**h ketika Raffi sudah menyentuh bukit kembarnya yang awalnya gadis ini menolak untuk tidak boleh Raffi melakukannya. Karena pesona raffi yang sudah meruntuhkan imannya membuat Sarah pasrah menyerahkan tubuhnya walaupun dia tahu Raffi sudah memiliki istri.
Ciuman dari wajah kemudian beralih pada bagian leher dan berakhir dengan memilin menggunakan lidahnya pada daging bulat berwarna pink yang ada diujung bukit kembar Sarah. Pa***ra Sarah yang kelihatan lebih menonjol dan besar membuat Raffi sudah sangat ingin memetiknya dengan lidahnya yang halus, membuat tubuh Sarah bergerak-gerak seperti cacing kepanasan.
Tidak puas melahap bukit Sarah, Raffi beralih melebarkan paha Sarah dan melihat lembah nikmat milik Sarah. Karena Sarah mengaku dirinya masih perawan membuat Raffi penasaran dengan gadis ini.
Ia tidak langsung mengulum dua bibir bagian bawah sarah yang nampak menutupi celah nikmat itu, tapi dengan posisi duduk ia menarik paha Sarah yang sedang berbaring itu, kemudian ia memangkunya seperti posisi orang yang sedang membaca buku. Sarah yang bingung dengan ulah Raffi menanyakan lelaki tampan itu yang tidak langsung menyentuhnya malah memperhatikan miliknya yang di lebarkan oleh jari jemari Raffi.
"Raffi, apa yang sedang kamu lihat sayang?"
"Tentu saja melihat milikmu, bukankah kamu mengaku dirimu masih vi*gin?
"Apakah kamu meragukanku?"
"Aku sangat percaya padamu, hanya saja aku ingin melihat milikmu yang masih perawan dan yang sudah tidak perawan."
"Apakah istrimu sudah tidak vir*in lagi saat kamu menikahinya?"
"Degg!!"
Pertanyaan sarah membuat Raffi shock.
"Masih virgin, tapi aku saat itu langsung melakukannya karena tidak kuat menahan birahiku di malam pertama kami," ucap Raffi berbohong. Makanya aku pingin melihat milikmu sebelum kita melakukannya."
"Apakah hanya aku dan istrimu saja yang pernah kamu sentuh?"
"Iya Aida dan kamu yang baru aku sentuh, selama ini aku tidak tertarik dengan wanita manapun walaupun mereka sangat cantik dan seksi."
"Baiklah, lihatlah milikku dan bedakan milik aku dengan milik istrimu."
Raffi kembali mengamati milik Sarah yang sangat ranum dan segar, kulit yang putih bersih dengan tonjolan daging kecil berwarna putih kemerah-merahan menggodanya untuk bermain liar di cela sempit yang belum terbuka karena ada selaput darah yang menutupi jalur sempit itu.
"Sarah boleh aku menyentuh milikmu sayang?"
Sarah hanya mengangguk ketika Raffi memasukkan jarinya ke dalam sana dan Sarah terpekik walaupun itu cuma jari Raffi tapi itu sangat sakit.
"Kenapa sayang, apakah sangat sakit?"
"Maaf sayang, tapi mau aku jilatin dulu supaya tidak sakit saat aku memasukkan juniorku nanti?"
Sarah melirik punya Raffi yang sudah tegak menjulang tinggi, mungkin kalau di genggamnya jari-jarinya tidak akan bertemu.
"Lakukan sayang, aku sangat menginginkanmu."
Lidahnya Raffi sudah menari-nari di dicelah yang masih tersegel milik Sarah. Sarah yang baru pertama kali melakukannya dengan Raffi merasakan sensasi yang luar biasa ini. Saat kuliah Ia sering melihat temannya yang sering melakukan dengan pacarnya di depannya tanpa merasa malu padanya.
Sedikitpun Sarah tidak merasa tergoda dengan adegan ranjang teman-temannya itu. Itulah mengapa mereka sangat segan pada Sarah terutama cowok-cowok yang tidak berani macam-macam dengan Sarah. Dan Sarah merasakan keuntungan dengan sikapnya terlalu dingin pada teman-temannya.
Lama Rei bermain-main dengan milik Sarah membuat gadis ini sudah mengeluarkan ca**n ci*tanya.
"Sssttt..akkh Raffi, masukin sayang ke milikku, aku sangat ingin merasakan milikmu, pinta Sarah manja pada Raffi yang masih doyan mengisap daging kecil yang menonjol di atas lembah nikmat milik Sarah.
Karena pinta Sarah yang terus merengek memaksanya untuk melakukan penyatuan, tiba-tiba terdengar bunyi ponsel miliknya yang lupa di matikannya. Takut kalau itu dari Rei bosnya, Raffi menyambar ponselnya dan mata menyipit melihat yang menelepon nomor dari rumah sakit Rei.
Raffi mengangkat ponselnya menjawab panggilan itu.
" Selamat siang tuan Raffi!"
"Selamat siang dokter Riyanti!"
"Tuan apakah anda bisa pulang lebih cepat hari ini?"
"Emang ada apa dokter?"
"Ini tentang istri anda, keadaannya sangat memburuk dan kami butuh anda sebagai walinya untuk segera pulang ke Jakarta.
"Degg!"
Raffi terpana dan tubuhnya langsung gemetar mendengar istrinya lagi sakit. Raffi memungut pakaiannya dan memakainya buru-buru lalu mengecup bibir kenyal milik Sarah.
"Maaf Sarah, aku harus pulang karena istriku lagi sakit dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit. Ketahuilah sayang, aku sangat mencintaimu Sarah tapi maafkan aku tidak bisa menjadi milikmu."
Setelah itu Raffi keluar meninggalkan sarah seorang diri dalam keadaan tubuh masih bu**il
__ADS_1