
Waktu yang terus berjalan meski banyak sekali rintangan. Tapi waktu juga yang memberikan banyak pelajaran, penggalan pengelaman dan hikmah yang bisa kita ambil dari setiap peristiwa. Jika kamu ingin keluar dari zona yang tidak nyaman hanya kamu sendiri yang bisa melakukannya dan juga bisa menolong dirimu sendiri. Orang lain hanya mendukung dan mendoakan kebahagiaanmu.
Inilah yang sedang diperjuangkan Sarah yang ingin menolong dirinya sendiri. Gadis ini kembali dengan aktivitasnya, bergabung lagi di sanggar teater opera di tempat kelahirannya Wina Austria.
Orangtuanya tidak lagi kuatir dengan keadaan putrinya yang mulai semangat menapaki hidupnya kembali meskipun senyum diwajah putrinya belum nampak dihadapan mereka.
Kepulangan Sarah ke Wina tentu saja bukan karena rasa putus asanya pada cinta yang tak terbalas tapi karena mereka sudah menyelesaikan urusan mereka untuk perusahaan yang melibatkan orangtuanya yang ikut bergabung dalam mengembangkan perusahaan yang saat ini dibawah kekuasaan Alex tentunya milik Reinaldi.
Sudah satu bulan Sarah mengasah kemampuan teaternya di sanggar tersebut karena sebentar lagi akan ada pergelaran konser musik klasik yang didalamnya terlibat peran teater yang sedang di mainkan oleh Sarah.
Sarah sangat menjiwai perannya, karena di kisah itu, perannya sebagai kekasih yang tak dianggap persis seperti kehidupan yang sedang dijalankannya saat ini. Kecantikan Sarah yang begitu memukau yang menjadikan ia sebagai pemeran utama di kisah itu.
Tinggal satu minggu lagi acara itu akan digelar, drama opera kali ini melibatkan juga senior yang sudah melalang buana di setiap pementasan drama opera yang digelar di gedung teater yang sangat terkenal di Wina Austria.
Kegiatan positif yang Sarah lakukan sesaat membuat kesedihan yang saat ini sedang dialaminya makin berkurang. Tubuh kurusnya kembali berisi dan wajahnya yang makin cantik membawa pesona tersendiri untuk lawan jenisnya yang ada di teater tersebut.
Yah, memang hati tidak mudah untuk melupakan orang yang kita cintai, bukan berarti kita juga mudah menerima kehadiran cinta lain dalam kehidupan kita. Cinta itu bisa tumbuh dengan seiring waktu tapi tidak bagi Sarah, cinta itu tetap ada untuk seorang yang ada jauh beribu-ribu mil jaraknya dari negaranya, siapa lagi kalau bukan Raffi, lelaki tampan yang belum bisa membuatnya bisa move on tapi juga tidak bisa membuatnya mendapatkan kembali prianya itu.
🌷🌷🌷🌷
Di Jakarta, Raffi dan Rei kembali bersama setelah sekian lama mereka terpisah dengan urusan pekerjaan yang mengharuskan Rei berada di negara Jerman tempo hari.
Raffi kembali melayani bosnya ini dari mengatur jadwal meeting dan segala hal yang berhubungan dengan perusahaan maskapai penerbangan milik Reinaldi.
Tiba saat makan siang, Rei mengajak Raffi untuk makan siang di salah satu restoran di Jakarta. Kesempatan ini digunakan Raffi untuk menyampaikan niatnya setelah keduanya sedang makan siang bersama.
"Tuan, boleh saya berbicara hal yang pribadi dengan anda." ucap Raffi disela-sela menyantap makan siang.
Rei yang siap mendengarkan asistennya ini, hanya berdehem sambil menikmati sup daging yang ada di restoran tersebut. Raffi mengatur nafasnya dan posisinya supaya lebih siap mengatakan sesuatu pada Rei.
"Begini tuan, ini ada hubungannya dengan sakitnya Aida. Istriku ingin aku menikah lagi karena ia merasa waktunya sudah tidak lama lagi, ia memaksaku menikah secepatnya sebelum ia meninggal dan ini permintaan terakhirnya. Aku sudah memikirkan ini berulangkali untuk memenuhi permintaan terakhir istriku. Aku hanya akan menikah dengan satu gadis. Aku sangat menyukai dan mencintainya selain istriku dan wanita itu adalah Sarah."
Rei langsung tersedak, ketika mendengar nama adik sepupunya itu disebut oleh Raffi.
"Apa??" tanya Rei sambil menyipitkan kelopak matanya menganggap sahabatnya ini sedang mengigau di siang bohong.
"Maaf tuan, saya hanya menyampaikan keinginan saya untuk melamar adik sepupu anda Sarah."
Dengan sedikit marah, Rei melabrak meja dan membentak Raffi yang sudah menekuk tengkuknya melihat jari jemarinya siap menunggu amukan Rei.
"Hmm!" kebetulan sekali Raffi kamu menyebutkan nama Sarah, kamu tahu apa yang terjadi pada Sarah selama ini?"
"Maaf tuan terakhir kali video call, saya langsung mematikan panggilannya dan memblokir nomor ponselnya supaya tidak berharap lebih pada saya. Emangnya ada apa tuan dengan Sarah?" tanya Raffi yang sudah mulai gemetar melihat wajah Rei yang sudah melotot padanya.
"Dia hampir mati bunuh diri karena kebodohanmu, saat terakhir kalian ngobrol dia membenamkan dirinya dalam bathtub yang sudah terpenuhi dengan air dan itu terjadi jam 4 subuh, berarti di sini sudah jam 10 pagi. Dan untungnya ibunya datang tepat waktu menyelamatkan nyawa putrinya dengan menariknya keluar."
Raffi yang mendengar cerita tentang Sarah dari mulut Rei begitu shock mengetahui gadis itu ingin mengakhiri hidupnya.
"Ya Allah, kenapa kamu begitu nekat sayang," ujarnya membatin.
"Dan sebelum kami kembali ke Indonesia, selama dua bulan dia dirawat dirumah sakit sebab melakukan aksi mogok makan dan minum hingga membuat tubuhnya kurus."
Raffi mulai memejamkan matanya, merasa sangat bersalah dengan Sarah. Harusnya dia tidak memberitahukan perasaan sukanya pada Sarah dan tidak pernah menyentuh tubuh gadis itu walaupun tidak sempat melakukan hubungan intim.
"Sekarang apakah kamu masih ingin mempermainkannya dengan memenuhi permintaan istrimu itu?"
"Tuan, saya tidak berniat mempermainkannya, tapi ini sungguh permintaan Aida, dia ingin saya secepatnya menikah sebelum ajal menjemputnya."
"Apakah kamu serius dengan ucapanmu menikahi Sarah."
"Iya tuan, untuk apa saya main-main, apa lagi Sarah adalah adik sepupumu sendiri."
"Baiklah, kalau memang kamu ingin menikahinya, bersiaplah untuk melamarnya di Wina dan menikahlah di sana."
"Terimakasih tuan, sudah mengijinkan aku untuk menikahi Sarah."
"Tunggu seminggu lagi, karena dia lagi ada pementasan drama opera di gedung teater yang terkenal di kota Wina."
"Berarti saya bisa beli tiket untuk acara pementasannya itu tuan?"
"Silahkan!" lakukan apa yang membuat adik sepupuku itu tersenyum lagi, aku hanya mendoakan kalian semoga bahagia." ucap Raffi yang merasa bahwa ini mungkin sudah takdir Sarah menjadi orang ketiga dalam pernikahan Raffi dan Aida.
"Baik tuan, saya janji tidak akan mengecewakan anda."
"Baiklah!" ayuk kita balik lagi ke perusahaan," ajak Rei yang sudah bangkit dari duduknya.
Kami berjalan beriringan menuju ke tempat parkir mobil, Raffi banyak bercerita tentang keadaan istrinya yang belum menunjukkan kemajuan dalam pengobatannya.
"Raffi, aku sudah konsultasi dengan dokter yang di Amerika, mereka sudah pelajari kasus penyakitnya Aida setelah dokter Sunan mengirim file yang berisi riwayat penyakit Aida melalui email ke dokter yang akan menangani penyakitnya Aida di rumah sakit yang sudah direkomendasikan teman dokterku yang aku kenal di sana. Mereka adalah para dokter yang memiliki kompetensi di bidangnya dan sudah siap untuk menerima Aida di sana." ucap Rei ketika mobil mereka sedang melaju ke perusahaan.
"Baik tuan saya akan sampaikan berita gembira ini kepada Aida, semoga Aida masih memiliki semangat untuk sembuh."
"Yakinkan dia untuk sembuh, jangan biarkan dia menyerah sebelum kita berusaha yang terbaik untuknya."
"Baik tuan, terimakasih banyak atas kebaikan tuan!" ucap Raffi dengan menghembuskan nafas lega.
🌷🌷🌷
Di rumah sakit, Raffi yang selalu setia menjenguk istrinya selepas bekerja dengan membawa satu buket bunga mawar untuk Aida. Pintu dibukanya terlihat Aida sedang bersandar sambil makan buah yang disuapkan ibunya.
"Assalamualaikum!" ucapku seraya mengecup puncak kepala istriku lembut.
"Waalaikumuslam!" Aida tersenyum senang melihatku sudah berada dihadapannya."
__ADS_1
Ibunya pamit ijin sholat isya di mesjid di area rumah sakit, mungkin ibunya ingin memberikan ruang waktu untuk kami berdua bisa bersama. Aku menggenggam tangan istriku dan aku kecup punggung tangan yang terlihat kurus itu.
"Sayang, ada berita baik untukmu!" kataku sambil mengelus pipinya lembut.
"Berita apa sayang?"
Aku menceritakan apa yang disampaikan Rei tentang pengobatan lanjutan untuk Aida. Ia sangat senang mendengarnya dan aku lega tidak perlu meyakinkan istriku untuk membawanya berobat di Amerika, di mana Rei merekomendasikan rumah sakit yang tepat untuk merawat penyakit Aida.
"Sayang, aku mau berobat ke sana tapi kamu harus menikah dulu dengan seorang gadis, dengan gadis perawan ya sayang, bukan gadis abal-abal sepertiku," ucap Aida merendahkan dirinya sendiri.
"Sayang, jangan berkata seperti itu, wanita hanya dilihat bagaimana nilai ketakwaannya dihadapan Allah, bukan kepada manusia biasa. Aku mohon jangan merendahkan dirimu seperti itu!"
"Segeralah mencari gadismu Raffi, jangan terlalu lama menundanya kalau kamu ingin aku melanjutkan pengobatanku di Amerika."
"Aku sudah menemukannya dan itu saudara sepupunya Rei." ucap Raffi cepat sebelum istrinya terus mendesaknya.
"Oh ya, cepat sekali Raffi, apakah kamu sudah mengenalnya?"
"Iya sedikit," jawabku berbohong."
"Berarti bisa kalian menikah secepatnya?"
"Tunggu dua minggu lagi, sebab Sarah sedang berlatih untuk pergelaran drama opera di kota kelahirannya Wina Austria."
"Oh, namanya Sarah, pasti lebih cantik dariku, apa kamu punya fotonya?" tanya Aida dengan wajah berbinar menatapku.
"Tidak, aku hanya mengajukan permohonanmu yang ingin aku cepat menikah dan Rei menawarkan sepupunya untuk aku nikahi." ucap Raffi membohongi istrinya sebab sulit baginya untuk mengatakan hal yang sebenarnya.
"Tenang saja sayang, pasti dia menyukaimu karena kamu sangat tampan."
"Aku tersenyum malas, karena semuanya tidak mudah bagiku menjalani pernikahan dengan dua istri."
"Lamarlah dia secepatnya Raffi dan menikahlah dengan secepatnya karena aku ingin sekali melihat kalian menikah sebelum aku berangkat ke Amerika untuk melanjutkan pengobatanku."
"Baiklah nanti hari Jumat aku akan ke Wina untuk melamarnya usai pertunjukan teaternya nanti."
🌷🌷🌷
Di Wina Austria.
Berbekal tiket pertunjukan teaternya Sarah, Raffi memasuki gedung teater itu, ingin menyaksikan pementasan Sarah diatas panggung. Raffi berada di tempat duduk VVIP sekelas dengan para pejabat-pejabat tinggi di sana yang sudah menempati kursi-kursinya yang ada dalam gedung teater itu.
Setelah menunggu beberapa saat, pertunjukan pun dimulai, Raffi menantikan pertunjukan pementasan yang akan diperankan oleh kekasihnya dengan debaran hati yang terus berdentum yang dirasakannya di dadanya yang bidang. Tidak lama gadis itu sudah keluar dengan baju ala cinderella dengan mahkota indah yang menghiasi kepalanya.
"Astaga!" Sarah kamu cantik sekali sayang," gumam Raffi dalam hati.
Sarah memang sangat cantik, dengan balutan gaun indah seperti putri raja yang berjalan anggun sambil memainkan perannya. Raffi mengikuti semua dialog yang disampaikan oleh Sarah dengan lawan mainnya.
Raffi mengikutinya setiap alur ceritanya, menghayati peran Sarah yang sangat menyentuh dengan dialognya. Entah kapan air mata itu turun dari pelupuk mata Raffi, yang jelas Raffi sudah terbawa dengan peran dari drama yang sedang dimainkan oleh kekasih gelapnya itu.
Hingga pentas drama panggung itu berakhir dengan happy ending, Raffi menunggu semua penonton meninggalkan tempatnya setelah itu baru Raffi turun dari tempat duduknya lalu ia menanyakan salah satu petugas jaga di teater itu yang menggunakan seragam yang sama. Raffi menanyakan ruang ganti para pemain teater. Petugas itu bukan hanya menunjukkan tempatnya tapi juga mengantarkan Raffi yang ke tempat yang ia cari.
Lama Raffi menunggu diruang ganti baju untuk para pemeran wanita. Banyak teman Sarah yang sudah meninggalkan ruangan itu satu persatu. Raffi sudah sangat gelisah mengapa Sarah belum muncul juga dari dalam ruang ganti itu. Karena terlalu lama Raffi nekat masuk ke ruang ganti itu dengan melirik kanan dan kiri melihat keadaan sekitarnya, kuatir ada yang melihatnya masuk ke ruang ganti wanita tersebut.
Raffi berjalan mengendap-endap dengan debaran jantung yang hampir mau copot. Tidak lama terdengar suara wanita yang sedang menangis terisak. Raffi memperhatikan seorang gadis yang duduk membelakangi arahnya Raffi berdiri, rupanya itu adalah Sarah yang sedang menangis menatap layar ponselnya. Saat Raffi ingin mendekati tubuh Sarah, terdengar Sarah berkata-kata sendirian.
"Raffi, aku merindukanmu sayang, aku tidak bisa melupakanmu...hiks..hiks!
Mengapa kita dipertemukan dengan cara yang menyakitkan, kenapa aku harus mengenalmu dan berani mencintaimu padahal jelas-jelas kamu milik orang lain.
"Raffiii,...aaaa!..aaa..hiks!"
"Aku mencintaimu sayang."
"Aku juga mencintaimu gadisku," ucap Raffi yang langsung memeluk Sarah erat.
"Raffi!" pekik Sarah ketika Raffi memeluknya dari belakang.
Sarah melepaskan pelukan Raffi dan menjauhi lelaki yang sudah menyiksanya dengan kerinduan itu.
"Mengapa kamu ke sini, apa yang kamu inginkan dariku," ucap Sarah yang berubah sinis dan memalingkan wajahnya dari Raffi.
"Sayang aku datang untuk menikahimu." ucap Raffi yang tidak ingin basa basi dengan Sarah.
"Cih!" kamu mau menipuku lagi, setelah kamu ingin menyingkirkanku sebagai pengganggu rumah tanggamu." ucap Sarah menarik kopernya meninggalkan ruang ganti itu.
Gadis itu berjalan cepat meninggalkan Raffi yang masih mematung ditempatnya berdiri. Raffi mengejar lagi Sarah yang sudah jauh meninggalkannya. Raffi mengejar sampai arah parkir mobil yang masih terlihat sosok Sarah yang sudah membuka kap belakang mobilnya untuk menaruh koper miliknya.
"Sarah, tunggu sayang, aku tidak sedang gombal padamu bahwa aku benar-benar ingin menikahimu. Aku melakukannya atas ijin istriku." ucap Raffi terus meyakinkan Sarah yang sedang menutup kap bagasi mobilnya dengan sangat kencang, membuat Raffi terlonjak kaget sambil memegang dadanya.
"Kamu kira aku ban serep yang bisa dengan mudahnya kamu menggantikanku saat istrimu tidak bisa melayanimu?"
"Mengapa kamu menuduhku seperti itu Sarah?"
"Bukankah kamu datang ke sini karena permintaan istrimu?
Jika bukan dia yang memintamu menikahiku, apakah kamu berani nekat menikahiku?"
"Sarah bisakah kita bicara ini baik-baik?, bukankah kamu masih mencintaiku dan tidak bisa melupakanku?"
"Mencintai bukan harus memiliki bukan?" itukan yang biasa dikatakan orang lain?"
"Apakah kamu lebih perduli dengan penilaian orang lain dari pada keinginanmu sendiri?.
__ADS_1
Apakah pendapat mereka bisa membuatmu bahagia?
Punya hak apa mereka atas hidupmu?" ucap Raffi yang sudah geram dengan penolakan Sarah.
"Setidaknya aku tidak disebut perebut suami orang ( pelakor)."
"Baiklah kalau itu yang menjadi sudut pandangmu tentang cinta, silahkan kamu hidup dengan penilaian orang lain jika itu bisa membuatmu bahagia.
Selamat malam Sarah!" ucap Raffi yang meninggalkan Sarah di tempat parkiran dan menghampiri mobilnya yang tidak jauh dari mobil Sarah.
Mobil Raffi yang meninggalkan duluan tempat parkir gedung teater
sedangkan Sarah yang sudah masuk kedalam mobilnya hanya membenamkan wajahnya sambil memegang setir mobil. Mungkin merasa menyesal atau tidak atas tindakannya yang sudah menolak Raffi. Ia kemudian mengemudikan mobilnya meninggalkan gedung teater tempatnya berkarya seni opera yang baru saja ia mainkan.
Raffi tidak serta-merta meninggalkan Sarah dan pergi begitu saja, ia sengaja keluar duluan dari parkiran itu dan menunggu disekitar jalan raya depan gedung teater itu. Raffi terus mengikuti mobil Sarah sampai di kediaman Sarah, tapi kali ini Raffi tidak ingin menganggu Sarah, ia ingin menguji cinta Sarah sampai dimana gadis itu bertahan.
🌷🌷🌷🌷
Hari ketiga Raffi memberanikan diri bertandang ke rumah Sarah. Kebetulan orangtua Sarah berada di rumah, hanya Sarah saja yang tidak nampak batang hidungnya. Entah ke mana gadis itu pergi, tapi buat orangtuanya itu lebih baik daripada Sarah terus menerus mengurung diri di dalam kamarnya.
Raffi yang sudah berada di rumah Sarah di sambut baik oleh tuan David dan nyonya Koni. Orangtua Sarah mengajak Raffi yang malam itu terlihat berpakaian normal membawa lelaki itu ke ruang keluarga karena mereka menganggap Raffi sudah seperti anak layaknya perlakuan mereka pada Rei.
"Ada apa nak Raffi bertandang ke rumah kami?" tanya tuan David kepada Raffi yang sudah duduk dengan tenang sambil melirik ke arah dalam berharap ada Sarah.
"Maaf tuan kedatangan saya ke sini untuk meminang Sarah menjadi istri saya." ucap Raffi langsung ke tujuan kedatangannya.
"Bukankah kamu sudah memiliki istri Raffi?"
"Justru saya ke sini atas permintaan istri saya tuan, karena ini adalah permintaan dia yang terakhir.
"Apakah separah itu penyakit yang di derita istrimu?"
"Begitulah tuan!" ucap Raffi sedih.
"Kami sebagai orangtua bagaimana anaknya saja Raffi, kalau Sarah memang mencintaimu, lanjutkan saja."
Dari ruang tamu terdengar suara derap langkah sepatu, Sarah yang baru pulang begitu kaget melihat Raffi sudah berada dirumahnya. Gadis itu terus berjalan menaiki anak tangga menuju lantai atas, langsung masuk ke kamarnya. Tak lama terdengar bunyi pintu kamar ditutup dengan kencang membuat Raffi dan kedua orangtuanya hanya mengelus dada.
"Raffi, silahkan kejar cintamu, kalau kamu tidak jinakkan ia sekarang kapan lagi, ayuk sana!" titah tuan David dengan menggerakkan lehernya sedikit ke kanan menyuruh Raffi ke kamar Sarah.
"Bolehkah tuan?"
"Aku merestui hubungan kalian."
Mendapatkan lampu hijau dari tuan David, Raffi bergegas ke kamar Sarah. Tanpa mengetuk pintu Raffi membuka knop pintu itu memasuki kamar Sarah. Rupanya Sarah sudah membenamkan wajahnya di bantal dan menumpahkan air matanya disana. Raffi mendekati gadisnya yang lagi ngambek. Raffi menaiki kasur itu dan ikut berbaring disebelah Sarah yang masih tidur tengkurap menghadap wajahnya ke bantal.
"Sarah, maafkan aku sayang, jika kesalahan tempo hari membuatmu sangat kecewa." ucap Raffi membelai rambut Sarah lembut.
Merasa tidak ada respon dari Sarah, Raffi merangkul badan Sarah dengan menindih tubuh Sarah dari atas. Sarah yang merasa sesak nafasnya mengangkat tubuhnya sehingga tubuh Raffi jatuh ke sampingnya. Pandangan manik mereka bertemu. Ketika Sarah ingin bangun, Raffi menarik tubuh Sarah menjatuhkan tubuh gadis itu ke atas dadanya hingga posisi Sarah di atas tubuh Raffi membuat wajah Sarah sejajar dengan wajah Raffi.
Raffi meraup wajah Sarah dan ******** bibir kenyal itu dengan penuh kerinduan. Sarah tidak bisa bergerak dalam pelukan Raffi yang sangat kuat pada tubuhnya. Sarah membuka mulutnya membiarkan lidah Raffi masuk untuk menemui lidahnya. Saling hisap mulai terjadi, mengecap dan mengigit dengan lembut setiap ruas bibir mereka.
"Sayang aku merindukanmu sentuhan dan lidahmu yang selalu membelit lidahku, kamu sangat handal saat berciuman, padahal kamu baru melakukannya denganku." ucap Raffi setelah keduanya sudah melepaskan pagutan mereka.
Raffi tidak berani melakukannya yang lebih jauh dengan kebebasan yang di berikan oleh tuan David padanya. Ia hanya ingin melakukan ciuman sekedar untuk melepaskan rindu pada Sarah yang sudah membuatnya rela membagi cintanya dengan gadis ini.
"Kenapa kamu memaksaku untuk menikah denganku, kenapa bukan wanita lain saja yang harus kamu nikahi kalau kamu ingin mewujudkan impian istrimu?"
"Apakah kamu rela aku bersama dengan gadis lainnya jika kamu juga menginginkanku?" goda Raffi membuat Sarah jadi keki.
"Alasan!" bisa-bisanya kamu menggodaku seperti itui." ucap Sarah sambil mencebikkan bibirnya.
"Bersiaplah sayang, kita akan menikah dalam dua hari."
"Apa!" secepat ini?"
"Itu lebih baik, karena aku tidak sabar merasakan hartamu yang masih tersegel itu," ucap Raffi nakal sembari menyentuh diantara tulang paha Sarah.
"Dasar mesum, kamu mencintaiku karena ini?"
"Semuanya Sarah, tentangmu yang aku cintai, jangan menolakku lagi kecuali kamu ingin membuatku gila," ucap Raffi memeluk lagi tubuh Sarah."
🌷🌷🌷
Hari pernikahan Raffi dan Sarah yang berlangsung di mesjid besar Islam Center Wina, mesjid ini menjadi tempat sholat umat Islam yang ada di kota tersebut dan pusat kajian Islam yang sangat terkenal di Wina. Di dampingi keluarga besar, Raffi dan Sarah siap untuk melangkah ke jenjang kehidupan pernikahan yang telah menanti mereka ke depannya. Raffi dengan lancar mengucapkan ijab kabul untuk kedua kalinya menikahi wanita yang berbeda. Tangis haru orangtua Sarah dan kedua mempelai mewarnai hari pernikahan tersebut. Rasa bahagia Sarah yang selama empat bulan ini membuatnya menanti kesempatan untuk mendapatkan lelaki pujaannya tercapai sudah. Raffi dan Sarah memilih kota London Inggris sebagai tempat bulan madu mereka. Keduanya berangkat ke London dengan menggunakan pesawat jet pribadi yang akan membawa mereka ke kota tersebut.
Setibanya mereka di hotel mewah The Langham London merupakan hotel untuk para pejabat dan keluarga kerajaan yang sering menggunakan hotel tersebut untuk menginap.
Hotel yang terkenal di London dengan pesona dan karakternya yang khas ini dibuka pada tahun 1865 sebagai hotel mewah pertama di Eropa, dan telah mengakomodasi keluarga kerajaan, pejabat asing, serta selebritas dalam kemewahan selama lebih dari 150 tahun.
Kini hotel ini menjadi pilihan Raffi dan Sarah untuk bulan madu mereka. Di kamar hotel ini Raffi yang selama perjalanan hanya menghayal dengan imajinasi liarnya yang tersusun rapi di otaknya untuk bisa mewujudkannya di atas kasur yang berukuran king size ini.
Raffi yang langsung menanggalkan baju Sarah setelah sampai dikamar hotel. Baju yang dipakai Sarah dibuka Raffi secara brutal dengan nafas yang memburu mencari tempat-tempat nikmat yang ada ditubuh gadis ini. Tubuh Sarah yang sudah ada di atas kasur tanpa sehelai benangpun siap menerima serangan dari tubuh raffi yang juga sama polos dengan dirinya.
Ritual bulan madu yang diawali dengan ciuman panas dari bibir dan lidah mereka saling bergulat dalam rongga mulut sampai nafas mereka yang tidak lagi teratur karena tercampur birahi yang meronta di dalam sana. Bibir Rafi yang sekarang beralih ke bagian leher jenjang Sarah dengan memberikan setiap kecupannya. Ia memberikan hak kepemilikan disana dengan meninggalkan noda merah. Ciuman dan gigitan kecil menjaring di area bukit kembar dengan ukuran lumayan besar yang pernah disentuh oleh tangan kekar Raffi.
Lidah Raffi yang terus bermain di area tersebut sambil tangannya yang satu meremas dan mempelitir dengan dua jarinya di pu*ng bukit yang satunya. Desa**n Sarah yang lebih menikmati momen ini terasa beda dengan pertama kali ia melakukan dengan sang kekasih. Pria tampan yang sekarang ini sudah sah menjadi suaminya.
Halalnya suatu hubungan akan berimbas pada kenikmatan dalam bercinta, hatimu seakan ikhlas menerima setiap sentuhan dari sang suami begitu juga istri pada suami, benda yang sama, tapi rasa kelezatan jauh lebih nikmat ketimbang melakukan dengan syahwat yang didominasi oleh bisikan setan.
Raffi yang tidak lagi takut untuk menggauli istri keduanya ini merasakan kenyamanan dalam setiap sentuhan yang ia berikan untuk istrinya tercinta.
"Ahhhkk... sssst!" desa**n itu terdengar lirih melahirkan melodi indah menaungi kamar pengantin mereka kini dan..??
__ADS_1