Obat Jiwa CEO

Obat Jiwa CEO
Ziarah Dan Membesuk Ayah Mertua


__ADS_3

Mobil Malika sudah terparkir di area pemakaman, pagi ini dia bersama keluarganya mengunjungi makam Arie. Malika memakai baju


gamis hitam dan jilbab yang berwarna senada dengan gamis nya, kaca mata hitam bertengger manis dihidungnya yang mancung, tidak ada riasan apapun diwajahnya.


Malika membawa sekeranjang kecil yang berisi berbagai macam kelopak kembang untuk ditaburkan di atas pusara suaminya, belum sampai makam Arie, Malika sudah mulai menangis, mamanya mengusap punggung Malika untuk memberikannya kekuatan putrinya.


"Assalamualaikum wahai ahli kubur," salam mereka bersamaan untuk memberi penghormatan pada orang yang sudah meninggal yang dikubur di makam itu termasuk almarhum Arie suami Malika.


Langkah mereka terhenti tepat di samping pusara Arie. Tangis Malika kembali pecah menyaksikan gundukan tanah merah milik suaminya, gadis malang itu memeluk nisan suaminya sambil menjerit pilu.


"Mas Arie, maafkan Malika sayang, Malika baru bisa mengunjungi mas Arie. "


"Hiks!....hiks!"


"Nak, ayo kita berdoa dulu untuk ketenangan Arie di alam kuburnya," ajak Tuan Daniel pada putrinya.


Malika menghentikan tangisannya dan mengusap wajahnya dengan tisu lalu mengambil posisi yang nyaman untuk memulai doanya.


Tuan Daniel mengawali doa dengan membaca surah Al-fatihah untuk ketenangan almarhum menantunya Arie, sedangkan istri dan putrinya mengamini doa tuan Daniel, setelah itu mereka menaburkan kembang di atas pusara Arie, lalu Malika menatap nisan yang bertuliskan nama suaminya.


"Mas, maafkan aku karena saat ini aku sedang mengandung anak dari laki-laki lain, apa yang ada dalam mimpiku adalah kebenaran. Mas, bagaimana nanti kalau keluarga mu tahu bahwa calon bayiku bukan cucu mereka, pasti aku akan mendapatkan cemoohan lagi dari keluargamu, apa yang harus aku lakukan kalau seandainya mereka mengetahuinya?, kemarin aku bertemu dengan bundamu, beliau menceritakan kalau ayahmu sedang sakit dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit milikmu, aku juga memeriksa kandunganku di rumah sakitmu. Mas, semenjak kau tiada, hidupku makin rumit, kalau bisa aku ingin mati bersamamu, setidaknya saat anak ini lahir, aku langsung mati supaya aku tidak lagi merasakan kesakitan dan kehinaan, Ini sangat berat bagiku, pasti tidak akan ada yang memaafkanku kalau sampai status bayiku ini terungkap.


Andai saja kamu tidak meninggal secepat ini, mungkin aku tidak akan pernah mengalami ujian yang datang silih berganti.


Aku tahu kamu tidak akan bisa mendengar suara hatiku, tapi dengan mendatangi makammu, aku bisa bercerita apa saja padamu tanpa suara, walaupun hanya suara batinku saja yang terucap namun aku sangat lega bisa curhat kepadamu," ucap Malika bermonolog.


"Malika sebaiknya kita cepat pulang, tidak baik kelamaan berada di sini karena kamu sedang hamil besar sayang," ajak nyonya Alea pada putrinya yang masih betah duduk diatas pusara suaminya.


Malika kembali berdiri dibantu mamanya yang menarik tangan putrinya, perutnya sudah mulai berat membuatnya sulit bergerak bebas.


"Mas, kami pulang dulu, nanti kalau dede sudah besar kami akan mengunjungimu lagi." pamit Malika.

__ADS_1


Keluarga Malika meninggalkan makam Arie dan kembali ke mobil mereka yang sudah ditunggu oleh asisten pribadi papa Malika.


Kendaraan mewah itu mulai bergerak meninggalkan pemakaman umum di daerah Jakarta Selatan.


🌷🌷🌷🌷


Tuan Daniel bersama keluarganya sudah berada di rumah sakit untuk membesuk besannya tuan Pramudia, mereka tidak lupa membawa bingkisan berupa buah segar dan kue kesukaan tuan Pramudia.


Di ruang inap kelas VVIP, terlihat nyonya Andien sedang menyuap makanan untuk suaminya yang masih terbaring lemah, tubuh lelaki paruh baya itu di pasangin selang infus, badannya kelihatan sangat kurus, wajahnya nampak pucat dan tirus dengan kelopak matanya terlihat cekung.


Sudah hampir sebulan lelaki tua ini hanya bolak-balik ke rumah sakit milik mendiang putranya, semenjak kematian putra tunggalnya tuan Pram sudah tidak lagi memiliki semangat hidup.


"Tok!!...tok!!"


"Grepp!!"


Pintu kamar itu terbuka, tampaklah keluarga tuan Daniel masuk ke dalam ruangan itu disambut oleh nyonya Andien.


"Waalaikumusalam," balas nyonya Andien pada keluarga tuan Daniel yang tidak lain adalah besannya.


"Eh Malika, kamu juga datang sayang," ucap nyonya Andien pada Malika sambil memasang wajah ceria dan tersenyum pada keluarga besannya.


Mereka saling bersalaman dan berpelukan satu sama lain.


Tuan Pramudia tersenyum melihat ke arah perut Malika yang sudah membesar, air mata lelaki tua itu menetes merasa terharu. Malika menghampiri ayah mertuanya yang sedang sakit sembari menanyakan kabar ayah mertuanya.


"Bagaimana keadaanmu ayah?, apa sudah baikan?," tanya Malika pada ayah mertuanya, maafkan saya ayah, saya tidak tahu kalau ayah sedang sakit."


"Ayah yang harus meminta maaf nak, sudah menyia-nyiakanmu selama ini, ayah tidak tahu sekarang kamu sedang mengandung cucu ayah."


"Degg!!"

__ADS_1


Malika merasakan hatinya seperti teriris sembilu, mendengar pengakuan mertuanya pada status bayinya.


"Ya Allah, aku seperti orang yang paling jahat menyembunyikan kebenaran dari keluargaku, bagaimana kalau seandainya mereka tahu status anak ini."


"Malika apa yang sedang kamu lamunkan?, kalau lagi hamil nggak boleh memikirkan macam-macam, itu tidak baik untuk bayimu."


"Malika tidak melamun bunda, hanya ingat mas Arie, Malika kangen pada mas Arie, bunda, sampai sekarang Malika belum bisa melupakan mas Arie, " ucap Malika sedih kepada ibu mertuanya."


"Itu wajar nak, apalagi di masa kehamilanmu sekarang pasti sangat membutuhkan perhatian suami, yang paling penting kamu harus banyak beristirahat dan makan makanan yang mengandung banyak vitamin dan nutrisi, supaya pertumbuhan bayimu sehat."


"Baik bunda, terimakasih atas nasehatnya, ucap Malika sambil tertunduk sedih."


Tuan Daniel dan istrinya yang duduk di sofa di ruang kamar VVIP itu memperhatikan adegan haru antara putrinya dan besan mereka. Entah mengapa nyonya Alea masih ragu dengan kebaikan nyonya Andien pada putrinya. Mereka kembali berbincang-bincang dengan keluarga besannya, sedang kan Malika kembali sibuk dalam lamunannya. Setelah merasa cukup dengan pertemuan mereka dengan keluarga besannya tuan Daniel mengajak istri dan putrinya untuk pamit pulang.


"Tuan Pram dan nyonya Andien kami pamit pulang dulu, sepertinya Malika sudah mulai kelelahan, nanti tolong kabarkan perkembangan kesehatan tuan Pram, nyonya Andien."


"Terimakasih atas kunjungannya tuan Daniel, nyonya Alea dan kamu Malika, sekali lagi saya mohon maaf atas sikap keluarga saya yang sudah menyakiti nak Malika tempo hari, ucap tuan Pram dengan penyesalan yang mendalam.


"Jangan terlalu dipikirkan tuan Pram, semuanya sudah berlalu dan kami sudah melupakan kejadian saat itu, lagi pula kita sedang menunggu kehadiran cucu kita, semoga anda cepat sembuh dan bisa menggendong cucu anda, canda tuan Daniel menghibur besannya yang masih kelihatan lemah.


"Malika tolong kabarkan bunda kalau kamu sudah lahir ya nak, "pinta nyonya Andien sambil mencium dan mengusap perut menantunya."


"Tentu bunda, nanti mama yang akan mengabari bunda kalau Malika sudah melahirkan."


Semuanya kembali bersalaman dan berpelukan. Tuan Daniel dan keluarganya meninggalkan ruang rawat inap VVIP rumah sakit milik mendiang menantu mereka. Di sepanjang jalan pulang nyonya Alea masih memikirkan perubahan sikap nyonya Andien yang secara mendadak.


"Apakah nyonya Andien hanya berpura-pura baik karena kehamilan putriku?, atau ada niat terselubung dibalik kebaikan wanita gila itu, ya Allah lindungilah putriku dari mertuanya," ujarnya membatin.


"Mami ko bengong entar kesambet jin lho," goda Malika yang melihat mamanya menjadi murung usai menjenguk mertuanya.


"Tidak sayang, mama tidak apa-apa," ucap nyonya Alea yang tidak ingin melihat putrinya cemas.

__ADS_1


Mereka sudah sampai kembali ke mobil, mobil mewah itu bergerak meninggalkan rumah sakit.


__ADS_2