Obat Jiwa CEO

Obat Jiwa CEO
"HAMPA"


__ADS_3

Kepulangan Aida kembali ke Indonesia sangat tidak membuat gadis ini nyaman. Ia harus hidup satu atap dengan madunya. Sarah yang mengetahui kalau Aida sudah sembuh, harus mengungsi ke kamar tamu dengan baby kembarnya. Aida yang merasa tersisihkan karena Raffi lebih condong perhatiannya kepada Sarah dengan berdalih, Sarah sudah memiliki bayi kembar yang tiap saat harus dibantu saat tengah malam.


Aida merasa sangat tidak berguna walaupun tubuh indah dan wajah cantiknya sedikitpun tidak berpengaruh pada perasaan Raffi. Jadilah Sarah dengan kesendiriannya, yang membuatnya dirinya makin jenuh untuk bertahan di apartemen Raffi. Satu-satu hiburannya adalah saling berkirim pesan dengan dokter Willy. Itupun harus menunggu dokter Willy sedang off dan sudah berada di apartemennya. Dalam kondisi seperti ini, ia memutuskan kembali bekerja. Ia kemudian menghubungi Malika apakah ia masih bisa kembali ke perusahaan sahabatnya itu.


"Assalamualaikum Malika!" aku sudah di Jakarta nih.


"Waalaikumuslam Aida, kapan kamu kembali ke Indonesia Aida?" tanya Malika yang belum tahu kalau sahabatnya itu sudah berada di Indonesia.


"Sudah seminggu ini, tapi aku merasa jenuh berada di apartemen, apakah boleh aku kembali bekerja di perusahaanmu." ucap Aida tanpa banyak basa-basi kepada Malika.


"Oh tentu saja, pasti papa senang sekali kamu bisa kembali ke sana, tapi ada yang ingin aku tawarkan pekerjaan lain untukmu.


"Apa itu Malika?"


"Tapi kita harus bertemu, karena ini sedikit rumit untuk menjelaskannya


kepadamu kalau hanya melalui telepon. Lagipula kepulanganmu juga harus dirayakan Aida." ucap Malika di sambut baik oleh Aida.


"Baiklah, kapan kamu siap, aku akan menemanimu. Kira-kira dimana kita bertemu?


"Bagaimana kalau besok pagi, mungkin sekitar jam sepuluh selepas anak-anakku pulang dari sekolah. Kita bertemu di kafe langganan kita.


"Baiklah Malika, terimakasih sebelumnya.


"Bye!"


Sambungan di akhiri, Malika sedikit curiga dengan kepulangan sahabatnya ini, sepertinya Aida tidak merasa nyaman berada di apartemennya karena kehadiran Sarah.


Keesokan harinya di mana, tempat pertemuan kedua sahabat ini akan melepaskan kerinduan mereka setelah sekian lama tak berjumpa. Aida yang datang terlebih dahulu memilih tempat favorit mereka yang biasa mereka tempati. Ada sedikit perubahan pada tempat itu, sekarang lebih terkesan berkelas menjadi tempat obrolan remaja maupun mereka yang sudah berkeluarga memilih tempat ini sebagai tempat yang menyenangkan untuk menghabiskan waktu senggang mereka di sini.


Tidak lama Malika pun datang, keduanya berpelukan sesaat, kemudian saling menanyakan kabar. Kerinduan tergambar jelas diwajah keduanya.


"Ya Allah Aida kamu makin cantik aja," puji Malika kepada sahabatnya ini.


"Kamu juga Malika, walaupun memiliki tiga anak tapi tidak kalah cantiknya dibandingkan aku yang belum turun mesin." ucap Aida lalu keduanya terbahak bersama.


"Ah kamu bisa saja, oh ya kamu sudah benar-benar sembuh?"


"Secara medis sudah tidak terdeteksi penyakitnya Malika, makanya aku berani pulang ke tanah air."


"Aida, aku tidak mengerti, mengapa kamu meminta Raffi menikah lagi sedangkan kamu masih memiliki harapan untuk sembuh. Dan sekarang kalian harus tinggal bersama satu atap dan itu sangat tidak masuk akal menurutku.


Apakah hatimu kuat ketika melihat Raffi bersama Sarah dan begitu pula Sarah melihat kalian berdua. Aku saja tidak bisa menerima sedikit pun kalau Rei berani melirik wanita lain, apa lagi kamu jelas-jelas keputusan bodohmu itu yang mau saja dimadu.


"Awalnya aku berpikir hidupku tidak lama lagi Malika, makanya aku meminta Raffi untuk menikah lagi sebelum aku meninggal, aku ingin melihatnya bahagia, dan itu membuat aku akan mati dalam keadaan tenang."


"Itu sama saja kamu menggali kuburanmu sendiri Aida, kamu memang belum dikubur, tapi hatimulah yang sudah terkubur duluan, nah, sekarang apakah kamu sudah bahagia?


"Yah, Malika aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, selain pasrah menerima nasibku."


"Makanya jangan bermain-main sama nasib, karena kita tidak tahu apa yang Allah gariskan untuk hidup kita, yang jelas, jangan mencoba mendahului ketetapan Allah atas hidup kita karena ajal itu rahasia Allah, yang sakit tidak harus berakhir dengan kematian dan tidak sedikit yang sehat yang harus meregang nyawa dengan cara kematian yang berbeda-beda."

__ADS_1


"Kamu kaya ustazah aja Malika, tahu semua hal-hal ghaib gitu."


"Belajar agama itu nggak harus di pesantren atau lembaga pendidikan Islam, kita berkewajiban untuk mempelajari agama kita selain sebagai memperluas wawasan, juga untuk lebih meningkatkan lagi iman kita, yah buat bekal nanti kalau suatu saat nanti kita sudah siap untuk pulang ke alam barzah.


"Weh, keren sobat gue ini, makin bijak aja sejak memiliki pangeran tampan si Rei."


"Itulah jodoh Aida, bukan dengan siapa lelaki yang akan mendekati mu, tetapi siapa yang akan menua bersama dengan kita nanti. Aku juga tidak menyangka ketika aku kehilangan mas Arie, Allah langsung mendatangkan Rei sebagai gantinya, kadang aku tidak bisa menerima dengan nalarku bagaimana takdir bisa merubah hidupku dalam sekejap. Mungkin saja suatu saat ada laki-laki yang menggantikan Raffi dalam hatimu Aida.


"Degg!"


Mendengar perkataan Malika tentang penggantian Raffi di hatinya dengan lelaki lain, membuat Aida cukup kaget dengan perkataan sahabatnya ini.


"Malika sejak kapan kamu jadi cenayang, tahu aja hidup orang." ucap Aida membatin.


Keduanya kembali terdiam, Malika memeriksa ponselnya sesat, karena kuatir anak-anaknya mencarinya. Ia kembali menyimpan ponselnya lalu beralih memperhatikan wajah sahabatnya Aida.


"Aida, kalau kamu butuh pekerjaan, aku ada pekerjaan untukmu semoga kamu suka, ini bukan perusahaan papaku yang kamu pernah bergabung di dalamnya tapi, ini perusahaan kosmetik yang pernah aku geluti dan kamu pun juga tahu tentang itu."


"Iya aku ingat Malika kamu pernah mengajakku ke sana, perusahaannya bergerak di dunia kaum hawa, produk kosmetik yang hampir semua wanita ingin memilikinya, lalu apa yang ingin kamu tawarkan kepadaku Malika, di perusahaan kosmetikmu itu."


"Kebetulan sekali bulan depan ada peluncuran produk baru, bukan saja sejenis untuk riasan wajah tapi ini tentang produk baru kita yang lebih berkecimpung pada tablet minum sebagai pengganti parfum, kamu tahukan kalau aku tidak bisa menggunakan parfum karena kulitku sangat sensitif pada barang mewah itu."


"Iya, aku tahu tentang kulitmu, dan aku senang mencium wangi tubuhmu, seperti ada aroma terapi yang tercium olehku."


"Nah, itu dia, aku menjadikan diriku sebagai bahan ujicoba dan itu berhasil."


"Maksudmu berhasil seperti apa Malika, jelaskan detailnya agar aku lebih paham apa yang menjadi tujuanmu memproduksi tablet tersebut."


"Ini bermula dari reaksi suamiku ketika kami lebih intim, ia pernah menanyakan parfum apa yang kupakai saat itu yang membuatnya lebih bergairah. Jadi dua fungsi dalam satu tablet, bermanfaat untuk para istri dan juga suami yang mencium aromanya sebagai bahan terapi untuk membakar birahi mereka."


"Ada apa Aida, apakah kamu menemukan suatu masalah dalam produk baruku ini?"


"Aku takut ada yang salah gunakan produk ini menjadi suatu bentuk kejahatan."


"Itu sudah kami pikirkan Aida, produk ini tidak akan dijual bebas seperti obat minum yang ada di kosmetik lainnya, seperti obat minum untuk menjaga kulit tetap elastis dan membantu pencegahan penuaan dini. Semua ada syarat pembelinya, jika ada resiko kejahatan di dalamnya berarti itu diluar wewenang kita sebagai pemilik produk."


"Syukurlah kalau semua teratasi dengan baik, setidaknya kita bisa mendobrak pasar dalam memasarankannya, apakah ada iklan yang akan menjadi brand baru untuk produk ini Malika?"


"itu sudah otomatis Aida, karena setiap produk pasti ada iklan untuk penjualannya. Tanpa itu perusahaan tidak bisa bergerak sendiri."


"Baiklah, aku sudah paham dengan produk barumu itu, sekarang apa peranku dalam dunia baru ini.


"Aku akan mengangkatmu sebagai direktur utama, karena direktur sebelumnya sudah risen karena ikut suaminya ke Paris Perancis."


"Ok siapa takut, aku akan berusaha untuk belajar mengenali perusahaan kosmetik milikmu."


Setelah di rasanya cukup mereka akhirnya berpisah, keduanya mengendarai mobil mereka masing-masing, pertemuan itu memang berlangsung seru, banyak sekali hal yang mereka bahas hari itu, Malika memang jenius, bisa disebut wanita ini bisa melakukan hal apapun yang bermanfaat untuk orang banyak.


Didukung dengan harta berlimpah, paras yang cantik, memiliki otak yang jenius ditambah lagi suami yang tampan, setia dan sama tajirnya bahkan lebih tajir dari Malika. Bisa dikatakan hidup Malika sangat sempurna, mungkin semua wanita berharap yang sama, namun permainan takdir tidak semua berakhir bahagia. Kadang kala kita dihadapkan pada suatu pilihan sulit, seperti pernah dirasakan oleh Malika bukan berarti dukungan kemewahan akan membebaskan dirinya dari setiap ujian.


Bukankah Allah adil, menempatkan semuanya sesuai porsi keimanan seseorang. Jika ingin hidup, kamu harus siap diuji karena tidak ada satu manusia pun yang akan luput dari kata ujian, tidak dilihat dari mana dan bagaimana dia dilahirkan di bumi ini, entah dia kaya, miskin, rupawan atau buruk rupa, semua akan menjalani ujian itu, kalau tidak mau diuji, pilihannya hanya satu yaitu kematian.

__ADS_1


Tapi ujian itu bukan suatu bentuk hukuman untukmu, tapi lebih tepatnya, Allah ingin menempa dirimu apakah engkau layak menjadi hamba-Nya yang bertakwa. Di bab ini, tidak semua manusia lulus untuk mencapai tingkat keberhasilan, kadang manusia cenderung melarikan diri mereka pada hal-hal yang tidak dapat termaafkan, bunuh diri adalah contoh kongkritnya.


Dosa yang paling besar yang di alami oleh manusia adalah putus asa atas rahmat Allah. Dosa yang tidak bisa diampuni oleh Allah.


,


🌷🌷🌷🌷


Aida tidak langsung pulang ke apartemennya tapi ia menghabiskan waktunya berada di bioskop, menonton film yang pemerannya merupakan idolanya. Ia membiarkan ponselnya berbunyi berkali-kali karena ia yakin itu dari suaminya. Jika itu dari dokter Willy, itu tidak mungkin karena mereka sudah sepakat hari ini tidak bisa berkomunikasi karena sang kekasih sedang melakukan operasi untuk tiga orang pasien hari ini.


Dengan pop korn di tangannya serta minuman soda dingin sebagai teman nontonnya, Aida serius menatap layar lebar itu karena filmnya juga drama romansa cinta yang hampir sama dengan jalan cerita hidupnya. Sama-sama terabaikan oleh sang suami karena lebih memilih wanita lain.


Tidak lama ponsel itu berdering lagi, kali ini Raffi mengirim pesan dengan kata-kata manis untuk memintanya cepat pulang.


"Assalamualaikum, kamu dimana sayang?" pulanglah, aku menantimu di pembaringan kita.


Bukannya dibalas tapi Aida malah mematikan ponselnya. Di apartemen Raffi menahan geramnya karena tingkah Aida makin hari makin menjauhi dirinya, entah apa yang terjadi dengan gadis itu Raffi sendiri tidak mengetahuinya.


Padahal ia sudah berusaha adil kepada kedua istrinya itu. Film pun berakhir, Aida akhirnya pulang, dengan langkah perlahan, ia menuju mobilnya, rasanya apapun yang dilakukannya tidak lagi bermakna, semuanya terasa hampa. Hatinya tidak lagi merasakan kebahagiaan itu ada untuknya. Ia teringat lagi perkataan dokter Willy.


"Jika kamu tidak bisa menemukan kebahagiaan disana kembalilah kedalam pelukanku."


Aida kembali terisak, bulir air matanya mengalir deras membasuh lukanya yang cukup dalam sehingga terlalu sulit untuk mengobatinya.


"Dokter Willy, sedang apa kamu di sana sayang, tahukah kamu, aku sangat merindukanmu saat ini. Aku sangat kesepian sayang." ucapnya dengan terus terisak.


🌷🌷🌷


Tibalah di apartemen Raffi, Raffi yang sudah berada dikamarnya menyambut Aida dengan penuh kesabaran. Ia dengan lembut menyambut istri pertamanya itu.


"Kamu sudah pulang sayang, sini aku pijitin kalau kamu lelah." ucap Raffi dengan penuh rayuan.


"Aku ingin tidur Raffi." ucap Aida langsung merebahkan tubuhnya disamping suaminya."


"Ganti baju dulu Aida, jangan langsung tidur seperti ini, kalau begitu aku bantu bukain bajumu ya." ucap Raffi yang tidak ditanggapi Aida.


Raffi kemudian melucuti baju Aida, sedangkan Aida membiarkan suaminya melakukan apapun atas dirinya. Raffi yang sudah tidak bisa menahan dirinya mulai mencium setiap jengkal tubuh istrinya, dari ujung kaki hingga tepat di bagian kewanitaan istrinya. Aida menikmati sentuhan itu karena ia juga menginginkannya. Tapi ketika penyatuan itu terjadi, tiba-tiba wajah dokter Willy sekelebat datang dalam pikiran Aida.


Dipikirannya hanya melihat Raffi sebagai kekasih yang sangat dirindukannya, Aida bermain dengan imajinasi liarnya walaupun itu suaminya sendiri tapi dipikirannya hanyalah dokter Willy, Aida lebih bersemangat hingga permainan itu menciptakan suara-suara erotis yang makin menggoda. Raffi merasakan kembali tubuh istrinya yang lebih berbeda dengan permainan yang cukup membuatnya kewalahan melayani Aida, ini sangat nikmat, Aida makin pintar menyenangkan miliknya, hingga akhirnya keduanya berteriak bersama karena mencapai puncak kenikmatan yang tiada tara.


Tapi sayang, Raffi hanya memanfaatkan tubuh Aida, setelah itu ia meninggalkan Aida dan memilih tidur dengan Sarah. Otomatis, Aida begitu berang dan memaki Raffi yang hanya ingin mendapatkan kepuasan dari tubuhnya.


"Mengapa kamu meniduriku kalau pada akhirnya kamu memilih tidur dengan Sarah, kenapa tidak sekalian berc*mbu dengannya dan tidur dikamarnya?" teriak Aida menggema dalam ruangan itu.


"Maaf sayang, Sarah sedang haid jadi ia tidak bisa melayaniku, makanya aku mendatangimu."


"Kamu brengsek Raffi, kamu hanya memanfaatkan tubuhku, keluar kamu dari kamarku dan aku mau minta cerai darimu."


"Apa?" cerai, jangan mimpi kamu Aida, aku tidak akan pernah menceraikanmu, suka atau tidak, kamu tetap bersama denganku juga Sarah. Bukankah ini yang kamu mau, mengapa kamu malah sekarang berbalik protes?" jika aku tidur dengan Sarah, itu karena ia punya bayiku yang harus aku urus juga.


Sekarang tidurlah jangan merajuk lagi." ucap Raffi hendak mengecup lagi bibir Aida, tapi sebelum wajah suaminya sampai ke bibirnya dengan spontan Aida menampar pipi suaminya.

__ADS_1


"Jangan coba-coba menyentuhku, karena aku tidak sudi lagi bercumbu denganmu." teriak Aida hingga kedengaran oleh Sarah.


Penolakan Aida, menjadi kabar gembira untuk Sarah. Gadis ini tersenyum senang karena Raffi sepenuhnya akan menjadi miliknya.


__ADS_2