
🔴🔴🔴
Sudah dua hari Malika mengurung diri di kamarnya, waktunya hanya dihabiskan dengan melamun, rasanya kini dunianya sudah runtuh, kalau tidak memikirkan calon babynya ingin rasanya dia mengakhiri hidupnya. Malam makin larut namun matanya sulit untuk terpejam ditambah lagi perutnya yang semakin membesar membuatnya sulit untuk tidur, sekilas dirinya melamunkan wajah lelaki yang ingin dilupakannya tapi wajah itu enggan pergi meninggalkan pikirannya, Malika merindukan sosok ayah bayinya, ketidakpastian keadaan orang tuanya membuatnya membutuhkan sosok pria yang bernama Reinaldi.
"Haruskah aku menghubunginya?, hanya dia satu-satunya yang bisa aku andalkan saat ini, tidak!, laki-laki brengsek itu tidak boleh tahu kalau aku mengandung putranya, biarkan saja seperti ini, tanpa dia aku juga bisa membesarkan putraku," ucap Malika bermonolog sambil mengelus perut buncitnya.
Tanpa diduga bayinya menendang perut Malika berkali-kali, kadang tubuh babynya lebih condong ke kanan atau ke kiri seakan sedang meliukkan tubuhnya dalam perut Malika.
"Baby protes ya, karena bunda nggak mau ketemu ayah?," tanya Malika pada babynya yang diajak bicara oleh Malika setiap saat dan selalu mendapat respon dari babynya.
Tidak lama rasa kantuknya mulai menyapa matanya, memintanya untuk segera terpejam, akhirnya Malika tertidur mengembara ke alam mimpi menembus nirwana.
🌷🌷🌷
Di depan gerbang mansion terjadi tembak menembak, para penjaga keamanan Malika dengan sigap melumpuhkan para penjahat yang menyerang mereka.
Dari dalam mansion, kepala pelayan Rena mengintip dari kamarnya, betapa shocknya Rena melihat gerombolan penjahat yang mulai merangsak masuk ke halaman mansion milik tuannya.
Rena segera berlari menuju kamar nona mudanya.
Rena memencet bel kamar Malika yang sengaja didesain seperti pintu kamar hotel, dan dikamar itu dipasang alat kedap suara yang membuat kamar nona mudanya tidak bisa mendengar keributan di luar, karena Malika belum juga bangun Rena menggunakan kunci cadangan yang selalu disiapkannya jika terjadi sesuatu dengan nona mudanya. Rena berhasil masuk ke kamar Malika.
"Nona!!..bangun!"
"Ada apa sih bi, Malika ngantuk."
"Nona, rumah kita diserang oleh gerombolan penjahat."
Seketika Malika langsung bangkit dari tidurnya, dipaksakan matanya untuk terbuka melihat kepala pelayannya.
"Apa?, kita diserang sama penjahat?," tanya Malika yang sangat sock mendengar penuturan kepala pelayannya itu.
__ADS_1
"Iya nona, sebaiknya cepat selamatkan diri nona muda."
"Ya Allah bagaimana ini?," tanya Malika yang sudah sangat panik.
"Ayo, bik bantu aku, kita ke pintu rahasia, ambil koper yang sudah aku siapkan di kamar ganti dan ambil makanan dan minuman yang ada di kulkas bik"
Dengan sigap kepala pelayan itu segera mempersiapkan semua yang diperintahkan oleh nona mudanya dengan tubuh yang masih gemetar.
"Sudah siap semua nona, kita harus ke mana karena di luar sudah tidak aman?"
"Bibi ikut saya ya, ayo bibi."
Malika mengajak Rena masuk ke walk -in closet miliknya.
"Nona, kita akan tertangkap kalau bersembunyi di sini."
Malika tidak menggubris keluhan Rena, dirinya sibuk mengambil ponsel yang ada didalam ranselnya.
Rena hanya menatap bengong lemari pakaian itu bisa terbuka seperti pintu gerbang yang dipencet dengan tombol kendali.
"Waah.. anda hebat nona," puji Rena yang baru mengetahui pintu rahasia ini."
Di luar sana para penjahat sudah mengepung kediaman tuan Daniel, salah satu penjahat menanyakan keberadaan Malika kepada pelayan lelaki yang sudah tua, dengan menginjak tubuhnya sambil menodongkan senjata itu ke pria malang itu.
"Heh!!, dimana kamar nona muda mu, tunjukkan!!, kalau tidak kepalamu akan aku ledakkan dengan senjata ini."
"Aaa..ampun tuan, kamar nona muda di sana, tolong jangan tembak saya, ujar lelaki tua itu sambil menunjukkan ke arah pintu nona mudanya.
Setelah mendapatkan jawaban dari pelayan lelaki tua itu, penjahat itu tidak segan-segan menembak kepala lelaki itu, darah segar dari kepala lelaki malang itu mengucur deras ke lantai marmer putih.
🌷🌷🌷
__ADS_1
Pintu rahasia yang didesain seperti rak gantung pakaian nona mudanya itu, kembali rapat seperti semula setelah keduanya sudah berada di dalam lift, saat lift ditutup penjahat sudah berada di depan pintu kamar Malika, pintu itu di tembak berkali-kali dengan senjata kedap suara, pintu kamar Malika terbuka, lima orang penjahat berhasil masuk, mereka menggeledah semua area di kamar itu dan terakhir dikamar ruang ganti pakaian milik Malika yang sengaja tidak dikunci oleh Malika supaya tidak ketahuan para penjahat.
"Sial!!, di mana si ja***g itu bersembunyi?, kita harus temukan dia," kata pemimpin penjahat itu pada bawahannya, akhirnya mereka keluar setelah tidak menemukan gadis yang mereka cari.
Kamar Malika sudah luluh lantah tidak beraturan karena digasak oleh para penjahat.
Beberapa pelayan dan penjaga keamanan Malika tewas tertembak karena berusaha melawan dan juga ingin kabur. Setiap ruangan dalam mansion keadaannya juga hancur berantakan dengan ceceran darah yang keluar dari tubuh beberapa pelayan di mansion itu, pelayan yang masih hidup digelandang oleh penjahat ke mobil mereka untuk dibawah ke markas bos mereka.
Lift yang sedang membawa keduanya sudah sampai di dalam bunker milik keluarga Malika, keduanya masuk ke ruang yang ditata begitu rapi dengan fasilitas yang cukup memadai, ada satu set sofa duduk, sofa bed, tv, kulkas, dapur kecil yang dilengkapi peralatan masak, ada juga ruang kerja khusus yang penuh dengan layar komputer dan perangkat pelengkap lainnya, maklumlah malika seorang gadis jenius yang mengusai dunia Cyber IT.
"Letakkan koperku di lemari itu bik tapi jangan membukanya, masukkan semua makanan yang tadi kita bawah ke dalam kulkas," titah Malika pada kepala pelayan Rena.
Rena yang masih takjub dengan pemandangan kamar bunker milik nona mudanya tidak mendengar perintah Malika.
"Bi, sudah cukup rasa kagumnya entar kesambet lho, kita harus nyusun rencana berikutnya, karena sekarang masih jam tiga pagi."
"Oh iya non, maafkan bibi dari tadi bengong tidak mendengarkan perintah non," ucap Rena sambil menarik koper dorong milik Malika ke lemari yang ditunjuk nona mudanya.
"Alhamdulillah bibi kita aman disini, tapi kita nggak tahu nasib para pelayan di atas sana bibi," ucap Malika yang langsung menangis karena cemas memikirkan nasib dirinya dan para pelayannya.
Tiba-tiba perut Malika mengalami kontraksi hebat, Malika memegang perutnya sambil meringis kesakitan.
"Aaak...aduh!!..sakit bik."
"Ya ampun non, apakah kamu mengalami kontraksi," tanya Rena panik melihat kondisi Malika.
"Ayo non, baring di sini dulu dan tarik nafas dan hembuskan perlahan," ujar Rena sambil membimbing Malika ke sofa bed untuk berbaring.
Malika menyandarkan tubuhnya dan mengatur nafasnya, kontraksi itupun hilang dan beberapa menit kemudian datang lagi.
"Ya Allah tolong aku dan bayiku, baby jangan sekarang baby kita masih di bunker ibu tidak bisa kabur dari sini nak, akhirnya tangis Malika pecah karena hatinya sangat kesal dengan keadaan yang selalu terus menyiksanya.
__ADS_1
"Aaaakkkk!!..bibi tolong aku!!